
Tidak terasa hari pernikahan Rania dan Andi besok akan segera di laksanakan, sebagai saudara sepupu tentunya Al Rasyad juga ikut membantu dalam persiapan tersebut. seperti hari ini Al ikut bersama Abangnya Kheano, untuk mengecek persiapan resepsi yang akan di laksanakan di salah satu hotel ternama di kota Jakarta.
Hari ini Al menemani Kheano dengan menyetir menuju hotel, sebagai saudara sepupu tentunya Al juga ikut bahagia karena sebentar lagi saudari perempuannya yang terkenal tomboi akan segera melepas masa lajang.
Kheano yang kini duduk di samping kemudi nampak tersenyum, sambil melirik ke arah Al yang kini tengah fokus menatap jalanan.
"Apa ada yang aneh bang??." tanya Al saat menyadari jika sejak tadi Kheano sesekali tersenyum ke arahnya.
"Tidak ada, Abang hanya merasa lucu saja melihat kamu." kalimat Kheano mampu membuat Al menoleh pada Abang sepupunya tersebut.
"Memangnya Al badut sampai Abang bilang Al lucu." sahut Al dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.
"Kamu bahkan lebih lucu dari badut." bukannya mengerti, Al malah memicing bingung dengan kalimat Kheano.
"Bagaimana tidak lucu coba, pria yang memiliki wajah tampan seperti kamu, sampai sekarang bahkan belum pernah memiliki kekasih sama sekali." Kalimat Kheano membuat Al ikut tersenyum, sebelum menimpali kalimat Abang sepupunya itu.
"Bukannya belum memiliki kekasih sih bang, lebih tepatnya belum ketemu sama gadis yang tepat aja." ujar Al di sisa senyumnya.
"Jangan terlalu banyak memilih Al, takutnya kamu malah jadi seperti sahabat Abang si Andi lagi, nggak pernah mau punya pacar, sekalinya jatuh cinta malah jatuh cinta sama cewek bar bar dan tomboi kayak si Rania." ujar Kheano kemudian tergelak mengingat sikap tomboi serta sedikit bar bar adiknya, begitu pun dengan Al Rasyad pria itu juga nampak tergelak bersama Abang sepupunya, sampai dia tidak menyadari jika ada sebuah sepeda motor yang menyalip dari arah belakang mobil yang dikendarainya.
"Bruk." Al baru tersadar saat seorang pengendara sepeda motor terjatuh akibat menyenggol mobil yang di kendarai pria itu.
Al langsung menginjak Rem secara mendadak, saat menyadari hal itu.
"Astaga." Ujar Al setelah mematikan mesin mobil kemudian turun dari mobil dan di ikuti oleh Kheano yang juga ikut turun dari mobil, untuk memastikan apa yang terjadi pada pengendara sepeda motor yang tak sengaja menyenggol mobilnya tersebut.
"Aaaarrrrgggttttt." ringis seorang gadis saat menyadari siku serta lututnya berdarah akibat terseret di aspal.
"Maaf aku tidak sengaja" Al nampak membantu seorang gadis yang kini tengah tertimpa motor yang dikendarainya.
Wajah Al nampak panik, saat melihat siku serta lutut gadis itu berdarah akibat terseret di aspal.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." tanpa berpikir panjang Al menggendong tubuh wanita itu ala bridal style menuju mobil, sementara Kheano yang melihat wajah gadis itu seperti tidak asing.
__ADS_1
"Sisil, iya kamu Sisil kan sahabat Alisya??." mendengar namanya di sebutkan, Gadis itu pun segera membuka matanya yang sejak tadi dipejamnya, akibat takut melihat darah yang mengalir di lutut serta sikunya.
Gadis itu beberapa saat nampak membuka mata, sebelum kembali memejamkan matanya, pingsan akibat melihat darah segar yang terus mengalir di lututnya. Sisil termasuk gadis yang takut melihat darah, itu sebabnya ia pingsan.
Menyadari gadis yang kini berada di gendongannya pingsan, Al semakin panik di buatnya. sehingga Al segera memasukkan tubuh gadis itu ke dalam mobil, kini giliran Kheano yang menyetir karena Al nampak menemani gadis itu di bangku belakang.
Tiara yang kini kembali ke ruang IGD, tidak sengaja melihat mobil Kheano di depan ruangan instalasi gawat darurat.
Tiara segera bergegas menghampiri mobil Kheano dengan di ikuti oleh beberapa perawat IGD, karena sudah pasti mobil Kheano tengah mengantarkan pasien. sebab hanya mobil yang sedang mengantar pasien saja yang boleh masuk sampai ke depan ruang IGD.
"Apa yang terjadi Khe, bukannya gadis ini Sisil temannya Alisya??." Saat hendak membantu pasien Tiara bertanya pada adik iparnya.
"Iya, gadis ini Sisil temannya Alisya, Tadi Sisil nggak sengaja menyenggol mobilku saat hendak menyalip dari arah belakang.
"Arght." gadis itu akhirnya sadar dari pingsan, terbukti saat mereka mendengar suara ringisan gadis itu.
"Jangan takut, siku serta lutut kamu hanya sedikit mengalami luka gores, kami akan segera membersihkan luka kamu." kata Tiara untuk menenangkan, saat Sisil sudah di dorong masuk ke ruang tindakan akibat kecelakaan. sementara Al serta Kheano menunggu di depan, karena petugas medis tidak mengizinkan keduanya ikut masuk.
"Sakit Kak Ara." Sisil memanggil Kakak dari sahabatnya tersebut dengan panggilan akrabnya, sehingga membuat Tiara tersenyum tipis padanya sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan luka gores di lutut gadis itu.
"Lagian, udah tahu cengeng pake balap balap segala naik motornya, beginikan jadinya." jawaban Tiara yang di sertai senyum tipis tersebut, sontak membuat Sisil menatap dongkol ke arah Al dari dinding kaca.
"Lagian tuh cowok nyetirnya nggak hati hati." bukan Sisil namanya kalau tidak mengeluarkan kalimat pembelaan.
"Siapapun yang salah, kalau sudah begini tetap saja kamu yang terluka. jadi lain kali jika mengendarai sepeda motor itu harus lebih hati hati lagi, untung saja kaki kamu nggak patah, coba kalau sampai patah bisa setahun lebih kamu duduk di kursi roda." Tiara sengaja menakut nakuti gadis itu, agar lain kali lebih berhati hati saat berkendara.
"Iya kak, maksud saya baik dokter." Tiara pun kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, saat melihat tingkah dari salah satu sahabat adiknya tersebut yang menurutnya lucu.
Selesai membersihkan serta mengobati luka Sisil, Tiara segera keluar menemui Al serta adik iparnya, Kheano.
"Bagaimana keadaan gadis itu dok??." tanya Al dengan wajah panik, biar bagaimanapun Al tetap merasa bersalah meski pada kenyataannya ini bukannya murni kesalahannya.
"Gadis itu hanya mengalami luka gores di siku serta lututnya dan kami sudah membersihkan serta mengobati lukanya, saya juga sudah membuatkan resep untuknya agar lukanya tidak infeksi. setelah menebus obat di apotek, Sisil sudah boleh pulang namun gadis itu belum di perbolehkan untuk kembali mengendarai motornya sampai lukanya benar benar kering." Al nampak mengangguk saat mendengar penjelasan dari Tiara selaku dokter.
__ADS_1
"Baik dok." jawab Al Rasyad, sebelum menembus obat di apotek lalu menemui gadis itu setelah mendapat izin dari dokter. sementara Kheano yang tadi meminta salah satu sopir pribadi keluarganya untuk menjemputnya, kini telah melanjutkan perjalanan menuju hotel untuk mengecek persiapan resepsi pernikahan Rania.
"Saya akan mengantarmu pulang." mendengar kalimat pria itu membuat Sisil menatap dongkol ke arah Al Rasyad.
"Ini semua karena kamu, karena kamu juga aku jadi nggak di terima kerja." Sisil nampak mempersalahkan Al, saat pihak hotel mengirim pesan penolakan padanya, karena tak hadir di hari pertamanya bekerja.
"Hei,,, seharusnya saya yang marah sama kamu, karena ulah ugal ugalan kamu saya jadi batal menemani Abang sepupu saya." timpal Al yang tidak terima dengan tuduhan gadis itu.
Saking paniknya Al sampai tidak mengindahkan perkataan Kheano tadi yang mengatakan jika Sisil merupakan salah satu sahabat istrinya, namun tiba tiba ingatan Al kembali ke masa SMA dulu, di mana saat ia hendak mencari keberadaan Alisya, Al Rasyad malam bertemu dengan dua orang gadis di kelas Alisya, dan salah satu dari gadis tersebut tak lain adalah gadis yang saat ini duduk di ranjang rumah sakit tersebut.
"Sebentar, kamu bukannya temannya Alisya??." tanya Al memastikan dan gadis itu pun nampak mengangguk malas.
"Ya udah, sekarang kamu mau saya anterin pulng nggak nih??." kembali Al bertanya pada Sisil yang kini menunjukkan raut wajah dongkol, mungkin karena gadis itu baru saja menerima pesan penolakan atau Lebih tepatnya pemecatan di hari pertamanya, akibat tak datang.
"Nggak perlu aku bisa pulang sendiri." Sisil yang keras kepala berusaha berdiri namun saat hendak melangkah gadis itu terlihat terhuyung ke depan akibat luka di lututnya. sehingga membuat gadis itu hampir saja terjerembab ke lantai, kalau saja Al tidak dengan sigap menahan tubuh Sisil.
Akibatnya Secara tidak sengaja bibir Sisil menyentuh pipi Al Rasyad, sehingga membuat keduanya jadi salah tingkah sendiri. sebelum Al nampak berdehem untuk menghilangkan kecanggungan di antara keduanya.
"Ehem."~Al.
"Saya akan tetap akan mengantarmu pulang sebagai bentuk tanggung jawabku, meski kecelakaan itu bukan sepenuhnya menjadi kesalahan saya." ujar Al sebelum membantu Memapah tubuh Sisil, sementara Sisil yang merasa tidak kuat untuk melangkah sendiri akhirnya tak lagi menolak tawaran pria itu, dan akhirnya Al Rasyad mengantarkan nya sampai ke rumah.
Setibanya di rumah gadis itu, Al kembali memapah tubuh Sisil hingga ke dalam rumah.
"Kemana kedua orang tua serta saudaramu??." Al bertanya karena saat melihat rumah tersebut sepi, tak ada orang lain selain mereka berdua.
"Saya anak tunggal, sementara ayah dan ibu telah meninggal dunia sejak saya duduk di bangku SMP." jawaban gadis itu sontak membuat Al Rasyad terdiam untuk beberapa saat.
"Apa itu artinya kamu tinggal di rumah ini seorang diri??." lanjut tanya Al hati hati agar tidak menyinggung perasaan gadis itu, dan Sisil pun kembali mengangguk.
Seketika Al semakin merasa bersalah.
"Jika dia tinggal seorang diri otomatis gadis ini juga harus menghidupi dirinya seorang diri, lalu bagaimana dia bisa bekerja jika dalam kondisi seperti ini??." dalam hati Al Rasyad semakin merasa bersalah pada Sisil.
__ADS_1
"Kamu boleh pergi sekarang, btw thanks sudah nganterin saya pulang." kata Sisil yang merasa hari ini merupakan hari tersial dalam hidupnya. bagaikan sudah terjatuh tertimpa tangga pula, bagaimana tidak, hari ini ia mengalami kecelakaan dan secara bersamaan hari ini juga ia tak jadi di terima di tempatnya bekerja akibat tak datang di hari pertamanya Bekerja.