Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Kedatangan dokter Adam 1.


__ADS_3

Usai mandi dokter Ferdi keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan sebuah handuk yang dililitkan di pinggangnya, hal itu sontak membuat Tiara mengalihkan pandangan ke sembarang arah, malu sebab belum terbiasa.


"Maaf tadi mas lupa membawa pakaian ganti." ucap Ferdi saat melihat raut wajah istrinya yang malu melihatnya bertelanjang dada.


Dengan segera Ferdi mengambil sebuah baju kaos yang pagi tadi di ambilnya dari rumahnya, kemudian mengenakannya.


Tiara pun mulai berani memandang ke arah pria itu saat telah mengenakan kaosnya.


"Mas, apa hari ini kita jadi pindah ke rumahnya mas??." tanya Tiara mengingat ajakan suami itu, sebelum mereka kembali dari kampung di mana keduanya di paksa menikah.


"Jika kamu belum siap pindah ke rumah mas, mas juga nggak masalah jika harus tinggal di sini untuk sementara waktu, sampai kamu siap pindah ke rumahnya mas." Tiara merasa terharu dengan sikap suaminya yang begitu pengertian, namun bagaimanapun ia tetap harus patuh pada suami, salah satunya dengan ikut pindah ke rumah pria itu. Tiara tahu suaminya tersebut ingin agar ia segera ikut dengannya, namun terpaksa berkata demikian karena tidak ingin memaksanya.


"Nggak masalah jika mas ingin kita segera tinggal di rumahnya mas, lagi pula sekarang Tiara sudah menjadi istri mas, sudah sepantasnya Tiara ikut bersama dengan mas." jawaban istrinya membuat Dokter Ferdi tersenyum bangga pada gadis itu, meski pernikahan mereka terkesan dadakan namun gadis itu begitu bijak menyikapi suatu hal.


"Terima kasih kamu sudah mengerti." sahut Ferdi sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya, sementara Tiara pun mengangguk.


Ferdi mengambil sebuah celana puntung tak lupa dengan pakaian dalamnya, kemudian mengenakan di kamar mandi, tidak ingin istrinya tersebut berpikir yang tidak tidak, jika ia mengenakan di depan gadis itu, meski keduanya telah sah menjadi pasangan suami istri.


Setelah mengenakan celananya Ferdi keluar dari kamar mandi lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, lalu pria itu menepuk sisi yang kosong di sebelahnya, berharap gadis itu ikut berbaring bersamanya.


"Sini!!." ucap Ferdi sembari menepuk sisi kosong di sebelahnya, sementara gadis yang di panggil masih diam mematung menatap ke arahnya.


Melihat raut wajah Tiara membuat dokter Ferdi tersenyum, sebelum kembali berujar.


"Rebahan doang kok, mas janji nggak Bakalan macam macam, kecuali _." pria itu tak menuntaskan kalimatnya saat istrinya segera menyela.


"Kecuali apa mas??." Tiara yang tadinya hendak beranjak naik ke tempat tidur, seketika menghentikan langkahnya.


"Kecuali kalau kamu yang minta." jawab pria itu sebelum tersenyum pada istrinya.

__ADS_1


Melihat istrinya belum juga melanjutkan langkahnya membuat dokter Ferdi kembali berujar.


"Iya janji, nggak bakal macam macam." lanjut dokter Ferdi.


Akhirnya Tiara melanjutkan langkahnya, lalu berbaring di samping suaminya, meski sedikit kikuk namun Tiara mencoba menetralisir perasaannya yang mulai kemana mana.


Bukannya tidak mau di sentuh oleh pria itu, namun Tiara tidak ingin keduanya bercinta hanya karena hawa nafsu semata, bukan karena adanya cinta dari sang suami untuk dirinya. Tiara juga tidak ingin melahirkan seorang anak, yang hadir tanpa rasa cinta ayahnya pada sang bunda. karena sampai detik ini Tiara berpikir jika pria yang sudah menikahinya tersebut masih mencintai wanita lain, seperti pengakuan pria itu tempo hari.


Mungkin karena lelah, Tiara terlelap dengan pulasnya, sampai tidak menyadari saat tangan kekar milik suaminya mulia melilit perutnya.


"Kamu cantik sekali, bahkan saat tidur pun kamu masih nampak begitu cantik, wajah gadis SMA ku dulu sama sekali tidak berubah, selalu membuatku terus merindu." dalam hati Ferdi seraya menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga dengan hati hati, agar tidak menggangu tidurnya.


Puas menatap wajah cantik istrinya, Ferdi pun ikut terlelap, hingga pukul setengah empat sore. Ferdi yang lebih dulu terjaga, membangunkan istrinya untuk segera melaksanakan sholat ashar.


Usai sholat ashar berjamaah, Tiara membuka pintu saat ada yang mengetuk.


"Iya ada apa Bun." sahut Tiara saat melihat bundanya berdiri di depan pintu dengan raut wajah tak bersahabat.


"Di depan ada pria yang mengaku rekan kerja kamu." ucap bundanya dengan wajah tak bersahabat, sebab tidak begitu suka jika ada seorang pria yang mencari putrinya, yang kini telah berstatus istri dari seorang pria.


Tiara menoleh ke arah suaminya seolah tengah meminta izin.


"Apa mas boleh ikut bersama denganmu untuk menemui pria itu??." bukannya menjawab pria itu malah balik bertanya, Tiara pun mengangguk yakin.


Tiara keluar untuk menemui tamu yang di maksud bundanya tadi.


Saat hendak keluar, Ternyata tamu yang di maksud bundanya adalah dokter Adam, salah satu dokter yang juga bertugas di rumah sakit yang sama dengannya dan juga sang suami.


Tiara merasa kurang nyaman saat pria itu bertamu ke rumahnya, bukan karena sombong atau semacamnya, namun Tiara merasa tak nyaman sebab dokter Adam pernah mengungkapkan isi hatinya pada Tiara. namun dengan alasan mencintai orang lain, Tiara pun menolak pria yang beberapa Minggu lalu tersebut meminta dirinya untuk menjadi kekasihnya.

__ADS_1


Bukan hanya dokter Ferdi yang terkejut dengan kehadiran pria itu begitu pun sebaliknya, dokter Adam juga tak kalah terkejutnya saat melihat keberadaan seniornya itu di rumah Tiara.


"Selamat sore Dokter." sapa Tiara saat berhadapan dengan pria itu.


"Selamat sore dokter Tiara." sahut Dokter Adam, sesekali pria itu melirik ke arah dokter Ferdi yang kini berdiri berdampingan dengan Tiara.


"Selamat sore Dokter." dokter Ferdi ikut menyapa, pria yang beberapa Minggu lalu itu menyatakan perasaannya pada gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.


"Sore dokter." meski begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepala pria itu, namun iya tetap berusaha bersikap biasa di depan keduanya.


"Silahkan duduk dokter!!." Tiara mempersilahkan pria itu untuk kembali duduk, dan ia dan suaminya pun ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan dokter Adam.


"Terima kasih." ucap dokter Adam sebelum kembali duduk.


Dari tatapannya, nampak jelas pria itu begitu penasaran dengan kehadiran dokter Ferdi di kediaman orang tua Tiara. apalagi keduanya datang menemuinya di ruang tamu secara bersamaan.


"Tumben dokter mampir ke sini??." pertanyaan Tiara membuat dokter Adam jadi salah tingkah, apalagi menurutnya saat ini ada orang lain di antara mereka.


"Kebetulan tadi saya ada urusan di dekat sini, sekalian mampir." jawab dokter Adam beralasan, padahal sebenarnya ia sengaja bertamu ke rumah itu untuk menemui gadis yang sudah beberapa bulan terakhir mengisi relung hatinya, yang kosong sejak meninggalnya calon istrinya tiga tahun yang lalu.


Beredar kabar di rumah sakit jika gadis itu memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, dan tidak ingin melanjutkan tugasnya di salah satu perkampungan.


Kabar yang beredar di kalangan rumah sakit tempat mereka bekerja, jika dokter Tiara memutuskan untuk berhenti melanjutkan tugasnya di sebuah perkampungan, dimana ia sebenarnya di tugaskan sampai beberapa bulan ke depan, namun tidak ada yang tahu apa alasan sampai Tiara memutuskan berhenti.


Bahkan kabar tentang pernikahan Tiara dan Ferdi, tak satu pun rekan kerja mereka yang tahu, selain kepala rumah sakit.


Dengan alasan ingin bertanya apa alasan Tiara memutuskan berhenti melanjutkan tugasnya di sana, agar bisa bertamu ke rumah orang tua Tiara.


Namun di luar dugaan, dokter Adam malah terkejut saat melihat keberadaan salah satu dokter, yang juga merupakan seniornya di kampus dulu ada di rumah gadis pujaan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2