Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Mengetahui kebenaran.


__ADS_3

Saat menginap di rumah mertua, Kheano yang selalu bangun untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim berjamaah bersama dengan keluarga istrinya, dengan di pimpin oleh ayahnya Alisya sebagai imam.


Usai sholat subuh Alisya membantu bundanya membuat sarapan, sementara Kheano duduk di teras belakang bersama ayah mertuanya.


Meski sedikit kikuk, Kheano yang baru pertama kali ngobrol hanya berdua saja dengan ayah mertuanya tersebut mencoba membiasakan diri.


"Apa setelah lulus nanti kamu tetap akan melanjutkan kuliah di luar negeri??" tanya ayah mertuanya pada Kheano.


"Rencananya begitu ayah." jawab Kheano tidak enak hati, karena jika harus melanjutkan kuliah di luar negeri tentu saja ia akan berpisah lama dengan sang istri.


"Menjadi seorang suami bukan hanya bagaimana kita menjaga diri saat berada dekat dengan pasangan, namun bagaimana caranya kita menjaga hati untuk pasangan kita walaupun terpisah jarak yang jauh." sebagai pria yang sudah merasakan manis pahitnya kehidupan berumah tangga, ayah mertuanya tersebut memberikan petuah pada menantunya.


"Iya ayah." jawab Kheano yakin.


Sebagai seorang mertua tuan Rendi merasa kasian pada putrinya jika harus berpisah jauh dengan waktu yang cukup lama dengan sang suami, namun sebagai pria dewasa tuan Rendi juga paham dengan niat menantunya yang ingin menempuh pendidikan demi masa depan keluarga kecilnya.


Obrolan kedua pria berbeda generasi tersebut terhenti saat Alisya tiba dengan membawa dua cangkir teh serta camilan.


"Ini tehnya ayah...kakak..." ucap Alisya setelah menyajikan dua cangkir teh lengkap dengan sepiring kue buatan sang bunda ke atas meja.


"Terima kasih sayang,,,, duduk sini nak!!." ucap ayahnya lalu meminta putrinya untuk duduk di kursi yang berada di samping kirinya, sementara Kheano duduk di bangku sebelah kanan dengan meja sebagai perantara.


Sebelum melanjutkan obrolan dengan kedua anak serta menantunya, tuan Rendi mengambil sebuah cangkir teh miliknya begitu pun dengan Kheano.


"Kalian harus cepat menyelesaikan sekolah, biar ayah cepat dapat cucu dari kalian!!."ucapan ayah mertuanya membuat Kheano yang kini menyesap tehnya tersedak.

__ADS_1


"Uhuk ..uhuk ..uhukk...." Kheano tersedak saat mendengar ucapan ayah mertuanya, sementara Alisya yang wajahnya mulai merah merona karena malu, hanya bisa diam menunduk saat mendengar ayahnya membahas cucu.


"Kamu nggak papa Khe??" selidik ayah mertuanya sembari menatap ke arah Kheano.


"Nggak papa kok yah, tehnya terlalu panas." sahut Kheano beralasan.


"Ya sudah sebaiknya kalian siap siap berangkat ke sekolah, sekarang sudah pukul enam pagi." ucap Tuan Rendi kemudian, meski masih ingin ngobrol ngobrol dengan anak serta menantunya itu, namun ia juga harus mengerti sebab keduanya harus segera melakukan rutinitas sekolah.


"Baik ayah." jawab Alisya serta Kheano hampir bersamaan. lalu keduanya pun berlalu ke kamar untuk bersiap ke sekolah.


"Maaf atas ucapan ayah tadi kak." ucap Alisya merasa tidak enak pada Kheano atas ucapan ayahnya tadi, saat keduanya sudah berada di dalam kamar Alisya.


"Tidak masalah, lagian wajar jika seorang ayah mengharapkan seorang cucu dari putrinya." jawab Kheano dengan raut wajah datar seperti biasanya.


Alisya masih bertanya tanya dalam hati bagaimana perasaan Kheano sebenarnya padanya, sebab setiap kali bicara padanya Kheano selalu bersikap datar bahkan terkesan dingin.


"Jika kamu ingin mengenakan seragam itu, mendingan nggak usah berangkat ke sekolah!!." cetus Kheano saat melihat Alisya mengeluarkan sepasang seragam sekolah yang dulu pernah ditegurnya karena panjang roknya di atas lutut.


"Tapi kak hanya ini seragam yang tersisa di lemari Alisya, semua seragam Alisya ada di rumah kakak, termasuk seragam yang di belikan kak Al buat Alisya waktu itu." ucap Alisya tanpa sadar mengatakan sesuatu yang membuat Kheano tersentak.


"Bagaimana bisa Al membelikan seragam sekolah buat kamu??" tanya Kheano dengan tatapan menyelidik.


"Oh ...waktu itu saat Alisya mau bayar ke kasir Mall, ternyata dompet Alisya ketinggalan di mobil, pada saat itu kak Al yang juga berbelanja di Mall yang sama membayar belanjaan Alisya. mungkin kak Al kasian kali Ama Alisya saat itu, sampai mau bayarin belanjaan Alisya." jawab Alisya jujur tanpa menutup nutupi sesuatu dari suaminya.


"Tapi waktu itu Alisya juga nggak tahu kalau kak Al, adik sepupunya kak Khe." lanjut ucap Alisya kemudian kembali mencari cari siapa tahu ada seragam sekolahnya yang lain di lemarinya.

__ADS_1


Sementara Kheano yang hendak mengenakan seragam sekolahnya kembali mencoba mencerna ucapan istrinya serta mengingat kembali ucapan adik sepupunya Al sebulan yang lalu.


"Al pernah bilang jika ia pernah membelikan sebuah seragam pada seorang gadis tempo hari di Mall, dan Alisya juga bilang jika Al lah yang membayarkan belanjaannya saat dompetnya ketinggalan di mobil tempo hari. Al juga pernah bilang jika ia jatuh cinta pada gadis itu sejak pandangan pertama, apa mungkin jika gadis yang di maksud Al itu adalah Alisya." batin Kheano mencoba mencerna semuanya.


"Aku harus tanyakan langsung hal ini pada Al Rasyad." lanjut batin Kheano.


"Alhamdulillah... ternyata masih ada sepasang seragam yang lain kak." ucap Alisya riang, saat mendapat sepasang seragam dengan size M di lemari pakaiannya.


Sementara Kheano segera membuyarkan lamunannya, saat mendengar suara istrinya.


Kheano segera melangkah menuju ruang ganti yang berada di kamar Alisya, sementara Alisya menunggu suaminya usai mengenakan seragam sekolah lalu ia pun mengenakan seragam sekolah di ruang ganti. sementara Kheano duduk di tepi ranjang sembari terus memikirkan semua kalimat istrinya tadi tentang adik sepupunya.


Usia bersiap Kheano segera mengemudikan mobilnya menuju sekolah usai sarapan bersama dengan keluarga istrinya, termasuk Tiara, yang saat ini ikut berangkat bersama dengan keduanya.


Alisya yang kini duduk di samping suaminya yang tengah fokus mengemudi, di buat heran dengan perubahan sikap suaminya. walau sebelumnya Kheano juga tidak banyak bicara saat keduanya berangkat bersama, namun kali ini Kheano benar benar tidak berbicara sepatah kata pun, hingga mobil yang di kemudikan pria itu memasuki gerbang sekolah.


"Kak Khe kenapa sejak tadi diam saja??" batin Alisya ketika hendak membuka pintu mobil.


"Tunggu...!! ini uang jajan buat kamu." Kheano Kembali memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada Alisya, mengingat Alisya adalah istrinya itu artinya Alisya adalah tanggung jawabnya. makanya setiap hendak turun dari mobil setibanya di sekolah, Kheano selalu memberikan uang jajan untuk istrinya tersebut.


"Ini kebanyakan kak, soalnya uang yang Kakak kasi kemarin masih ada" jawab Alisya yang hanya mengambil satu lembar uang pemberian suaminya.


"Ambil saja, jika butuh sesuatu katakan padaku, jangan meminta pada orang lain." ucap Kheano sengaja menyindir Alisya, soal seragam sekolah pembelian Al yang tidak lain adik sepupunya. meski kejadian itu sebelum mereka menikah, namun entah kenapa Kheano kesal mengingatnya. mungkin karena Al pernah cerita padanya jika adik sepupunya tersebut jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis yang ternyata adalah istrinya.


"Melihat raut wajah Kheano yang tak ingin di bantah, Alisya pun mengambil uang tersebut lalu mencium punggung tangan suaminya sebelum turun dari mobil kemudian berjalan menuju kelasnya, sementara Tiara lebih dulu turun dari mobil adik iparnya tersebut di banding Alisya.

__ADS_1


Sementara Kheano, segera mengirim pesan pada Al setelah kepergian Alisya.


"Al, jam istirahat kelas Abang tunggu di danau buatan yang berada di belakang sekolah!!" Kheano mengirim sebuah pesan melalui aplikasi hijau miliknya pada Al Rasyad.


__ADS_2