Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Kecurigaan.


__ADS_3

Di rumah, selain mempersiapkan keperluan wisuda suaminya, Mirna sesekali kepikiran dengan sikap Arya beberapa hari terakhir ini.


Sejak menghadiri acara pernikahan Abang sepupunya dengan salah satu mantan siswanya, Mirna merasa sikap suaminya aneh. bagaimana tidak, saat menginap di hotel malam itu sebelum kembali ke Jakarta, Arya bahkan menginginkan Mirna seutuhnya. dalam artian ingin meminta haknya sebagai seorang suami. namun saat Mirna mulai menyiapkan diri, bahkan wanita itu sengaja berbelanja beberapa pakaian khusus dinas malam istri, Arya bahkan sama sekali tidak bereaksi.


Mirna sengaja memilih beberapa lingerie dengan warna dan motif berbeda, untuk menyenangkan mata Suaminya, namun di luar dugaan Mirna, Arya malah tidak seantusias sebelumnya. sehingga terlintas di pikiran wanita itu sesuatu yang membuatnya sendiri bergidik ngeri.


"Apa jangan jangan Arya suka dengan sesama jenis lagi??." gumam Mirna yang kini bergidik ngeri kala membayangkan hal yang tidak tidak, karena perubahan sikap suaminya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Arya serendah itu." dengan cepat Mirna menepis pikiran yang tidak tidak tentang suaminya.


"Untuk memastikan kecurigaanku, apa sebaiknya aku saja yang lebih dulu menggodanya??. tapi jika aku yang mulai menggodanya, apa tidak nampak seperti wanita murahan di depan Arya??." Mirna merasa dilema, sampai beberapa menit kemudian ia yakin dengan keputusannya.


"Nggak papa deh murahan di depan suami sendiri." lanjut gumam Mirna setelah yakin dengan keputusannya ingin melihat reaksi suaminya.


Berbeda dengan malam sebelum,Mirna yang selalu merasa ketakutan saat Arya membahas ke arah yang lebih intim, namun malam ini Mirna malah kepikiran untuk memancing reaksi suaminya Tersebut.


Tiga puluh menit kemudian Mirna mendengar suara deru mesin mobil, ia pun segera mengintip dari balik jendela untuk memastikan jika itu memang mobil Suaminya.


Mirna sengaja tidak menyambut Arya di depan seperti biasanya, sebab saat ini ia hanya mengenakan lingerie berwarna merah hati yang terbuat dari bahan satin yang begitu lembut lagi menggoda. lingerie dengan potongan yang memperlihatkan bagian dadanya serta panjang di atas paha, hal itu semakin membuat wanita itu nampak cantik dan menggoda.


"Ceklek." suara pintu kamar terbuka membuat jantung Mirna semakin berdegup kencang, rasa malu dan penasaran bergabung menjadi satu di benaknya. malu berpakaian kurang bahan seperti itu di depan suaminya tanpa di minta, namun di sisi lain ia juga penasaran bagaimana sikap suaminya saat melihatnya mengenakan pakaian kurang bahan seperti itu.


Untuk beberapa saat Arya menatap lekat ke arah istrinya yang kini tengah berdiri di dekat jendela kamar dengan mengenakan pakaian yang begitu menggoda iman, sebelum ia kembali memalingkan pandangannya ke sembarang arah.

__ADS_1


Sementara Mirna segera menghampiri Arya, setelah mengambil tas kerja dari tangan pria itu lalu menyimpannya di atas nakas, Mirna kembali menghampiri Arya untuk membantu pria itu untuk membantu membuka kancing kemejanya.


Bukan hanya Mirna yang merasa jantungnya tidak bisa di ajak kompromi, namun Arya pun sama. apalagi saat jemari lentik istrinya tidak sengaja menyentuh dada bidangnya.


Saat membuka kancing kemeja bagian bawah Arya, Mirna sedikit menunduk, hal itu sontak membuat suaminya tersebut bisa melihat dengan jelas dua buah gunung kembar yang nampak begitu menggoda di balik lingerie seksi yang kini melekat pada tubuh Mirna.


Dengan susah payah Arya menelan salivanya, saat pemandangan itu sungguh menggoda, apalagi Arya pria normal. pria normal mana yang tidak tergoda ketika melihat aset berharga dari seorang wanita, apalagi wanita itu telah sah menjadi istrinya.


Setelah berhasil membantu melepaskan kemeja suaminya, pertanyaan Mirna selanjutnya membuat mata Arya membulat sempurna.


"Apa perlu aku bantu??." tanya wanita cantik itu, saat melihat suaminya hendak membuka membuka tali pinggangnya.


"Hah??." ucap Arya memastikan kalau ia tidak salah dengar.


Arya menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan untuk menetralisir perasaannya saat ini, sebelum kembali berucap.


"Tidak perlu sayang, aku bisa sendiri." jawab Arya lembut agar tidak menyinggung perasaan istrinya, sebelum pria itu berlalu ke kamar mandi.


"Memalukan sekali." gumam Mirna lirih, saat Arya sudah menghilang di balik pintu kamar mandi, saat mengingat penolakan suaminya barusan.


Mirna tidak merasa tersinggung sebab Arya menolak bantuan dengan lembut, namun begitu sebagai perempuan Mirna tetap merasa malu.


Meskipun merasa malu bukan main, namun tidak menyurutkan niat wanita itu untuk melanjutkan misinya, Mirna ingin memastikan kecurigaannya terhadap sang suami.

__ADS_1


Di balik pintu kamar mandi Arya bersandar sembari memejamkan matanya, kepalanya berdenyut kala mengingat pemandangan indah tadi.


"Aku harus bersabar sampai tiba saatnya aku menikmati sesuatu yang telah menjadi hak mutlak bagiku." gumam Arya seraya kembali membuka matanya.


"Maaf sayang." lanjut gumam Arya sebelum melanjutkan langkahnya menghidupkan shower, lalu menikmati kucuran air berharap bisa meringankan sakit kepalanya, akibat menahan sesuatu di dalam dada.


Kali ini Arya sengaja berlama lama di kamar mandi, ia tidak ingin kembali tergoda dengan kemol*kan tubuh istrinya, yang jelas jelas begitu menggoda iman. apalagi saat ini tubuh wanita cantik itu hanya di balut pakaian tipis. saking tipisnya, sampai Arya bisa melihat dengan jelas pakaian dalam istrinya yang juga berwarna merah hati.


Mengingat itu membuat tubuh Arya kembali memanas, sehingga butuh waktu sekitar satu jam untuk dirinya berada di kamar mandi. meski berlama lama di kamar mandi, Arya tidak melakukan sesuatu yang akan menghilangkan keperjakaannya.


Setelah kurang lebih satu jam kemudian Arya keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan sebuah handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Saat baru saja keluar, nampak Mirna yang sudah terlelap di atas ranjang, tanpa mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya.


Tidak ingin kembali berlama lama di kamar mandi karena pemandangan itu, Arya pun segera menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut sebatas dada.


"Good night baby, sweet dream." ucap Arya kemudian mengecup lembut kening istrinya, sebelum ia mengenakan piyamanya lalu ikut berbaring di samping Mirna.


Mungkin karena lelah menunggu Arya di kamar mandi yang begitu lama, sehingga Mirna pun tidak sadar sampai terlelap sampai ia kembali terjaga saat pukul lima pagi, di saat Hendak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Meski sedikit dongkol namun Mirna tetap membangunkan suaminya dengan lembut, untuk segera bersih bersih lalu melaksanakan shalat Subuh.


Setelah membangunkan Arya, Mirna pun segera berlalu ke kamar mandi. Arya tahu betul jika istrinya itu sedang kesal, namun bukannya marah, Arya malah tersenyum melihat tingkah istrinya yang menurutnya menggemaskan jika sedang ngambek seperti saat ini.

__ADS_1


"Jika sudah saatnya tiba, apa kamu tetap seantusias ini melayaniku??." Arya bermonolog, karena pria itu tahu betul apa yang membuat istrinya tersebut ngambek pagi pagi buta begini.


__ADS_2