
Setelah selesai memberi materi di kelas Arya, Mirna yang tak ada kelas mengajar lagi segera kembali ke rumah, sementara Arya masih harus belajar dengan mata kuliah yang berbeda.
Setelah dari kampus Arya menuju perusahaan ayahnya, sebab tadi ia mendapat pesan dari Ayahnya. di satu sisi Arya ingin segera kembali ke rumah untuk menemui sang istri, namun di sisi lain ia juga harus memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang pegawai, meski pimpinan dari perusahaan tempatnya bekerja adalah ayahnya sendiri.
"Maaf tuan, apa anda memanggil saya??" ucap Arya pada pimpinan, meski pimpinan adalah ayah kandungnya namun Arya tetap bersikap formal, mengingat saat ini mereka tengah berada di lingkungan kerja.
"Hari ini ada peninjauan lokasi pembangunan, berhubung pegawai yang ditugaskan sedang berhalangan, maka dari itu kamu yang akan menggantikan. kamu akan pergi meninjau lokasi bersama dengan nona Anita." Titah ayahnya selaku pimpinan perusahaan. ingin rasanya Arya menolak, mengingat yang akan pergi bersamanya adalah nona Anita yang terkenal dengan sikap centilnya. namun sebagai pegawai di sana, Arya tidak bisa mwnolak sehingga mau tidak mau Arya pun terpaksa menerima perintah tersebut.
"Baiklah tuan." jawab Arya dengan terpaksa.
"Lokasinya berada di pinggir kota, kemungkinan kalian akan kembali malam, jika kalian berangkat jam segini." ucap Pria paruh baya tersebut seraya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul setengah dua.
Arya pun mengangguk patuh, sebelum berlalu meninggalkan ruangan pimpinan.
"Kalau begitu saya permisi, saya akan mempersiapkan berkas yang di perlukan." ucap Arya sebelum beranjak.
Arya yang berangkat menuju lokasi bersama dengan rekan kerjanya yang bernama Anita tersebut, sengaja mengajak salah satu driver kantor agar mereka tidak hanya berdua di dalam mobil.
Wajah Anita yang tadinya begitu sumringah saat mengetahui jika yang akan pergi bersamanya adalah Arya, kini berubah pias saat tahu jika mereka pergi tak hanya berdua, melainkan ada pak Joko yang bertugas sebagai driver.
"Ngapain juga pak Joko pake acara ikut segala, bikin kesal aja deh." dalam hati Anita sembari menatap pak Joko dari kaca.
"Apa ada yang bisa saya bantu nona??." tanya pak Joko, saat menyadari jika sejak tadi Anita terus menatapnya dengan tatapan kurang senang.
__ADS_1
"Nggak ada kok pak." jawab Anita sembari memalingkan pandangannya dari spion yang berada di depan driver.
Sementara Arya tetap terlihat tenang di samping pak Joko. Arya sengaja memilih duduk di samping pak Joko, untuk menghindari gadis itu.
Selama di perjalanan Arya lebih banyak diam, hanya sesekali ia bicara pada pak Joko maupun Anita jika penting.
pukul empat sore mobil yang di kemudikan pak Joko tiba di tujuan, Arya segera turun dari mobil dan menatap sebuah lahan kosong yang berukuran kurang lebih dua hektar yang akan segera di bangun konveksi oleh perusahaan ayahnya.
Ayahnya sengaja membangun konveksi di tengah perkampungan warga, agar bisa sekalian memberi lapangan pekerjaan untuk warga setempat.
Saat tiba, ketiganya sudah di sambut oleh perangkat desa setempat serta beberapa pihak yang berurusan langsung dengan warga mengenai pembelian lokasi tersebut.
"Selamat datang tuan muda, senang bisa berjumpa lagi dengan anda di sini." ucap salah satu perangkat desa yang kenal dengan sosok Arya sebagai putra dari pimpinan perusahaan. sementara mata Anita memicing heran saat pria itu memanggil Arya dengan sebutan tuan muda.
"Maaf pak, saya hadir di sini sebagai utusan perusahaan tempat saya bekerja untuk meninjau lokasi sebelum di lakukan pembangunan." ucap Arya.
"Baik pak Arya." Pria tadi sudah meralat ucapannya, sehingga Anita pun tidak lagi berpikir macam macam tentang panggilan tuan muda yang di sematkan pria tadi pada Arya.
Hampir empat jam mereka membahas tentang rencana pembayaran lokasi serta rencana pembangunan yang akan di lakukan oleh kontraktor handal kepercayaan perusahaan ayahnya.
"Terima kasih sudah meluangkan waktunya bapak bapak, semoga pembangunan konveksi di lokasi ini akan membawa berkah untuk semua dan juga untuk warga sekitar."Arya berdiri lalu sedikit menunduk tanda hormat, meski hampir semua yang ada di tempat itu kecuali Anita yang mengetahui jika ia adalah putra tunggal dari pemilik perusahaan yang akan membangun konveksi di lokasi tersebut, Arya tetap menunduk hormat sebab hampir semua yang ada di sana lebih tua di banding dirinya.
"Tidak perlu berterima kasih pak Arya, sebab ini sudah menjadi tugas kami, untuk mendukung pembangunan yang akan membawa dampak positif di kampung kami." jawab salah satu dari perangkat desa setempat seraya berdiri lalu di ikuti oleh yang lainnya, mereka pun bersalaman sebelum Arya beranjak meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Kini waktu menunjukkan pukul tujuh malam, saat mobil yang di kendarai pak Joko mulia meninggalkan lokasi. meski saat ini gerimis mulai membasahi bumi, namun Arya tetap memutuskan kembali malam ini juga.
Saat di perjalanan Anita mengeluhkan tasnya yang ketinggalan di tempat tadi, meski sedikit kesal namun Arya tetap meminta pak Joko untuk kembali putar balik.
"Apa yang terjadi di sana, kenapa banyak orang berkumpul??." ucap Arya saat mobil yang di kemudikan pak Joko melintas di kantor perangkat desa setempat.
"Pak sebaiknya kita mampir sebentar!!." titah Arya yang menyangka jika warga yang berkumpul di kantor perangkat desa ada hubungannya dengan pembangunan konveksi yang akan di bangun oleh perusahaan ayahnya.
"Baik pak Arya." jawab pak Joko patuh.
Mobil yang di kemudikan pak Joko pun tiba di halaman kantor perangkat desa. Arya pun segera turun dari mobil, sementara Anita berdengus kesal risih jika harus berdesak desakan dengan warga kampung, apalagi saat ini di luar sedang gerimis.
"Maaf pak, ada apa ramai ramai??." tanya Arya pada salah seorang warga saat dirinya baru saja turun dari mobil.
"Itu pak, ada dokter perempuan yang baru beberapa hari di tugaskan ke desa ini kedapatan berdua duaan dengan seorang pria." mendengar Jawaban dari salah satu warga tersebut membuat Arya bisa bernapas lega, sebab bisa di pastikan penyebab berkumpulnya warga bukan karena pembangunan konveksi yang akan di lakukan oleh perusahaan ayahnya, namun karena hal lain.
Namun begitu Arya tetap melanjutkan langkahnya, memasuki kantor perangkat desa.
Betapa terkejutnya Arya saat melihat dua orang yang tidak asing baginya yang tengah di adili di kantor perangkat desa, dengan di saksikan oleh begitu banyak pasang mata, yang sengaja memberikan kalimat kalimat menyudutkan keduanya.
"Bang Ferdi...Tiara...." ucap Arya saat melihat sosok kedua orang tersebut.
Ferdi dan Tiara segera menoleh saat mendengar nama mereka di sebut oleh seseorang.
__ADS_1
"Arya." jawab keduanya hampir bersamaan.
"Kebetulan sekali kamu ada di sini Arya, tolong kamu jelaskan pada mereka kalau Abang ini bukan seperti yang mereka tuduhkan!!." Ferdi berdiri menghampiri Arya,.begitu pun dengan Tiara.