Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Aku tetap ingin melamarmu.


__ADS_3

"Tut,,,Tut,,,,Tut,,,," Kheano sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya, saat panggilan dari Andi terputus begitu saja.


"Ada apa kak??." tanya Alisya dengan tatapan menyelidik, saat mobil yang di kendarai Kheano baru beberapa saat tiba di rumah.


"Kakak juga tidak tahu, tapi yang membuat kakak bingung Andi tiba tiba bilang kalau dia ingin melamar Rania." Jawab Kheano, yang kini tengah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara sahabat dan adiknya tersebut setelah kepergiannya.


"Kakak tidak perlu terlalu khawatir dengan Rania, bagaimana pun Rania sudah dewasa dia bahkan lebih tua setahun dari Alisya, jadi wajar saja jika keduanya menjalin hubungan spesial kemudian memikirkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius." Ucap Alisya mencoba menenangkan suaminya yang kini Tengah terlihat diam, masih dengan duduk di balik kemudi, meski mobil yang di kendarainya sudah sejak beberapa saat tadi tiba di rumah.


"Justru Itu yang menjadi pertanyaan di benak kakak Alisya, setahu kakak selama ini Andi tidak pernah menjalin hubungan dengan Rania, lalu mengapa sekarang tiba tiba Andi menghubungi kakak dan mengatakan ingin melamar Rania." Ucap Kheano, sesuatu yang kini mengganjal di pikirannya.


"Memangnya kak Andi nggak pernah ngomong, kalau dia pacaran sama Rania atau semacamnya gitu??." pertanyaan Alisya di jawab gelengan oleh Kheano.


"Apa mungkin kak Andi sengaja menyembunyikan hubungannya dengan Rania dari kakak??." lanjut tanya Alisya yang juga penasaran dengan hubungan Andi dan Rania.


"Apa mungkin mereka pacaran diam diam, sementara jika bertemu saja mereka tidak pernah akur." ujar Kheano, kala teringat bagaimana Andi dan Rania bak Tom and Jerry jika bertemu.


"Kalau gitu, kenapa Kak Andi tiba tiba ingin melamar Rania??." kini bukan hanya Kheano yang di buat heran, Alisya pun sama, saat mengetahui hal itu dari suaminya.


"Apa mereka terlanjur melakukan sesuatu di luar batas wajar??." tiba tiba Kheano berpikir negatif.


"Kakak nggak boleh berpikir sejauh itu, sebaiknya kita tanya dulu sama Kak Andi, mengapa tiba tiba ia ingin melamar Rania!!." ucap Alisya. sebagai kakak ipar Rania, yang sudah mengenal gadis itu cukup lama, Alisya yakin jika Adik iparnya tersebut tidak mungkin melakukan sesuatu yang di larang dalam agama. menurutnya Rania adalah gadis baik baik, bahkan selama mengenal gadis itu tak sekalipun Alisya melihat adik iparnya tersebut dekat dengan lawan jenisnya.


Seketika Kheano dan Alisya menghentikan obrolan saat Kesya yang tengah di gendong oleh Neni memanggil keduanya bergantian.


"Ayah,,,bunda,,,." gadis kecil itu nampak merindukan sosok orang tuanya, padahal baru juga di tinggal beberapa saat.

__ADS_1


Alisya pun segera turun dari mobil, saat mendengar suara putrinya memanggil.


"Anak bunda udah pulang rupanya, maaf ya nak tadi bunda nggak sempat menjemput Kesya di sekolah." ucap Alisnya yang kini hendak meraih tubuh putrinya dari gendongan Neni nya.


"Sini sayang sama ayah!!." Gadis kecil itu pun tak jadi di gendong oleh Bundanya, saat ayahnya nampak mendahului Sang bunda meraih tubuh mungilnya.


***


Di tempat yang berbeda Andi yang kini nampak duduk di balik kemudi enggan kembali menghidupkan mesin mobil, saat Rania masih tetap kekeh menolaknya.


"Kenapa kamu begitu keras kepala Rania, apa susahnya menerima lamaranku lalu kita menikah??." ucapan Andi malah mendapat tatapan tajam, dari gadis yang kini duduk di sampingnya.


"Apa hanya karena merasa bersalah lalu kamu ingin menikahi aku, jika hanya karena itu maka kamu tidak perlu khawatir, lagi pula kejadian tadi tidak membuatku hamil." jawab Rania dengan nada ketus, mungkin karena sudah lelah menangis, sehingga kini tak nampak lagi air mata yang membasahi wajah cantiknya.


"Kamu benar benar keras kepala Rania, apa aku harus benar benar menghamilimu terlebih dahulu, baru kamu mau menerima lamaran dariku??." mendengar kalimat Andi membuat Rania malah semakin meradang, sampai tak sadar memukul lengan pria itu dengan sekuat tenaga. namun meski melakukannya dengan sekuat tenaga, tak membuat pria bertubuh tegap tinggi tersebut merasa kesakitan.


"Kamu yang jahat, sebab kamu berpikir serendah itu terhadapku Rania??." seperti biasa, wajah Andi masih nampak datar saat berucap, maka tidak heran jika Rania berpikir demikian tentang niatnya.


"Setuju atau tidak aku akan tetap melamar kamu." mendengar kalimat Andi yang berbau ancaman membuat Rania berdecak kesal.


"Sekalipun kamu datang ke rumah orang tuaku, aku tetap tidak akan menikah dengan pria menyebalkan seperti dirimu." tegas Rania penuh penekanan, namun bukan Andi namanya kalau menyerah begitu saja.


"Bagaimana jika ku katakan pada Khe jika kamu tengah mengandung anakku, apa kamu yakin tetap bisa menolak lamaranku??." mendengar kembali ancaman pria itu membuat Rania kepikiran. bagaimana tidak, pria itu merupakan orang kepercayaan kakaknya, mana mungkin Kheano tidak percaya dengan ucapannya.


"Kamu benar benar jahat, berapa kali harus ku katakan padamu, aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak mencintaiku." sekali lagi tegas Rania dengan nada yang mulai meninggi.

__ADS_1


Mendengar itu Andi langsung menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan.


"Cinta pasti akan tumbuh dengan sendirinya, jika kita sudah Menikah nanti. apalagi jika pernikahan kita telah di karuniai seorang malaikat kecil." mendengar jawaban Andi membuat bola mata Rania nyaris membulat sempurna, bagaimana tidak, sudah jelas jelas ia menolak namun pria itu malah membayangkan sebuah pernikahan yang di karuniai seorang malaikat kecil.


"Kamu tidak perlu khawatir tentang cinta Rania, karena aku sudah sejak lama menyimpan perasaan padamu. di saat pertama kali aku mengecup keningmu, malam harinya aku bahkan tak bisa memejamkan mataku." tentunya itu hanya ada dalam hati Andi, pria itu tak mengutarakannya pada gadis pujaannya, karena menurutnya sudah pasti gadis itu tidak akan percaya dengan ucapannya.


Andi termasuk pria yang kaku jika soal wanita, pria itu bahkan tidak pandai merayu. jadi tidak heran, jika di saat seperti ini bukannya merayu, justru malah sebuah ancaman yang keluar dari mulutnya.


Beberapa saat kemudian tanpa mendengar lagi ocehan Rania, Andi kembali menghidupkan mesin mobil. kemudian perlahan menginjak pedal gas, hingga mobil yang dikendarainya membelah padatnya jalanan ibu kota.


Mungkin karena sudah lelah kini Rania nampak diam, sehingga membuat Andi yang sekilas melirik padanya menarik sudut bibirnya. sementara Rania yang menyadari itu segera meraih sebotol air mineral, untuk di minum guna mendinginkan suasana hatinya saat ini.


"Malam ini aku akan mengajak kedua orang tuaku untuk melamarmu." mendengar kalimat Andi, hampir saja Rania menyemburkan air dari mulutnya saking kagetnya.


Sampai Rania berpikir tidak ada gunanya berdebat dengan pria itu, mungkin dengan sedikit melunak, Andi akan berubah pikiran.


"Pak Andi yang ganteng dan baik hati, sebaiknya anda kembali berpikir lagi tentang niat anda. bukannya saya tidak ingin menerima lamaran anda, tapi anda terlalu baik untuk saya." Ucap Rania dengan nada selembut mungkin, untuk melunakkan hati pria itu agar mau membatalkan niatnya. namun semua seakan sia sia, bukannya berniat membatalkan niatnya untuk melamar Rania, Andi malah nampak tersenyum pada gadis itu seraya berkata.


"Jika kamu sendiri menyadari bahwa saya ini ganteng, lalu mengapa kamu masih kekeh menolak lamaran dari saya?." jawaban Narsis dari Andi sungguh tidak sesuai dengan harapan Rania, sehingga gadis itu nampak berdengus, seperti putus asa.


"Sekarang terserah anda saja, saya harap anda tidak menyesal menikahi wanita seperti saya, karena saya wanita malas, tidak pandai memasak, tidak pandai bersih bersih, saya juga tidak pandai mengurus rumah. semoga anda tidak menyesal lahir batin menikahi saya." jawab Rania pasrah sembari mengatakan hal hal buruk tentang dirinya sendiri.


"Semua itu tidak masalah bagi saya, asal kamu mau melahirkan anak anak saya itu sudah cukup bagiku." lagi lagi mendengar Jawaban Andi membuat Rania menghela nafas berat lalu menghembusnya kasar, kemudian berbicara dalam hati.


"Nih cowok ngapain sih dari tadi ngomongin masalah anak melulu, kayaknya nih cowok Udah ngebet banget punya anak." dalam hati Rania seraya melirik ke arah Andi, sementara Andi yang menyadari lirikan gadis itu langsung tersenyum lalu berkata.

__ADS_1


"Jangan ngeliatin saya terus, nanti kamu malah jatuh cinta lagi sama saya." ucap Andi di sisa senyumannya, sementara Rania kembali berdetak kesal.


__ADS_2