Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Makan malam dengan calon istri.


__ADS_3

Keesokan harinya seperti biasa Arya kembali melakukan rutinitasnya di kampus, bedanya hari ini Arya sudah kembali ke rumah ayahnya tak lagi menginap di rumah teman sekampusnya.


Pagi ini Bu Mirna kembali mengajar di kelas Arya untuk sesi pelajaran pertama.


Entah kenapa sejak dulu masih SMA, Bu Mirna masih menjadi seorang guru dan kini telah menjadi dosennya, untuk kali pertama Arya merasa kikuk bahkan hanya sekedar melihat wajah dosen muda yang kini masih berusia dua puluh empat tahun tersebut Arya merasa tak seperti biasanya.


"Selamat pagi anak anak." sapa Bu Mirna saat baru saja tiba di kelas Arya.


"Pagi Bu dosen cantik." sahut beberapa mahasiswa yang biasa menyematkan kata cantik di belakang nama Mirna, meski demikian Mirna sama sekali tidak marah. ia hanya tersenyum seraya menggeleng dengan tingkah beberapa mahasiswanya tersebut.


"Baiklah untuk hari ini kita akan melanjutkan tema kita kemarin, silahkan di buka tugas yang ibu berikan kemarin karena ibu ingin memeriksanya!!." ucap Mirna yang kini berdiri di depan para mahasiswanya.


"Baik bu." sahut mahasiswa serentak.


Dengan mengenakan kemeja biru langit di padukan dengan rok berwarna hitam yang panjangnya selutut serta tatanan rambut sebahu yang di biarkan terurai rapi, di tambah lagi dengan sebuah high heels yang berwarna hitam yang memperlihatkan kaki jenjang Mirna yang berwarna putih mulus membuat Mirna terlihat semakin cantik dan berwibawa.


Mirna mulai berjalan mengelilingi satu persatu mahasiswanya, sampai ia tiba di bangku Arya.


"Mana tugas kamu??" tanya Mirna dengan tatapan seperti datar biasanya saat ia mengajar.


"Maaf Bu, saya belum menyelesaikan tugas dari Bu Mirna." sahut Arya mencoba tetap tenang di depan dosennya tersebut.


"Memangnya apa yang kamu kerjakan di rumah, sampai tidak menyelesaikan tugas yang saya berikan??." Tanya Bu Mirna dengan tatapan datar seperti biasa.


"Maaf Bu,,,,,Semalam saya ada acara keluarga yang tidak bisa di tunda, sehingga saya belum menyelesaikan tugas dari Bu Mirna." mendengar jawaban Arya tidak membuat Bu Mirna tinggal diam.


"Apapun alasan kamu, saya tidak bisa membenarkan tindakan kamu yang secara sengaja melalaikan tugas dari dosen." Kata Mirna lalu melangkah meninggalkan bangku Arya.


Mirna sejenak menghentikan langkahnya, lalu kembali menoleh ke arah Arya.


"Sebagai hukuman saya akan memberikan tugas tambahan untuk kamu." ucap Mirna sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


"Gila nih perempuan, udah tahu semalam gue makan malam bareng dia sama bokapnya, mana sempat gue ngerjain tugas." batin Arya teringat kejadian semalam.


Flashback on.


Semalam saat Kheano serta Andi pamit dari club malam tersebut, Arya kembali mencerna satu persatu kalimat Kheano.


Setelah mencerna ucapan Kheano yang menurutnya ada benarnya, Arya kembali menerima sebuah pesan dari aplikasi hijau miliknya.


"Bokap Lo sudah berbuat banyak buat Lo sebagai anak, bahkan Bokap Lo harus membesarkan Elo sebagai singel parents sejak nyokap Lo meninggal. enggak mudah menjadi ayah sekaligus ibu untuk membesarkan seorang anak Ar, nggak ada salahnya jika sekarang giliran Lo yang membalas semua pengorbanan bokap Lo dengan menuruti keinginan beliau. gue ngomong kayak gini bukannya gue sok tahu Ar, gua ngomong gini karena gue pernah ada di posisi Lo sekarang." pesan yang masuk di aplikasi hijau milik Arya ternyata berasal dari Kheano.


Setelah membaca pesan dari Kheano, Arya semakin yakin dengan niatnya kembali ke rumah untuk menuruti keinginan ayahnya. namun di akhir kalimat Kheano, Arya sedikit bingung saat sahabatnya tersebut mengatakan jika dirinya sendiri pernah berada di posisinya saat ini.


Namun begitu Arya tidak terlalu peduli dengan kalimat terakhir dari Kheano, ia hanya fokus pada tindakan selanjutnya yang akan ia lakukan. yaitu kembali ke rumah dan meminta maaf pada ayahnya, serta berusaha menerima takdir untuk menuruti perintah ayahnya.

__ADS_1


Arya segera berlalu dari club tersebut menuju rumah dengan menggunakan motornya.


Saat tiba di rumah Arya sama sekali tidak melihat keberadaan ayahnya, sudah sampai ke semua sudut ruangan Arya mencari namun ia tidak juga menemukan keberadaan ayahnya.


Setibanya di dapur Arya bertanya pada salah satu ART yang bekerja di rumahnya.


"Bi, ayah kemana, sejak tadi Arya cariin nggak ada??." tanya Arya.


"Den Arya sudah pulang??." bukannya menjawab bibi malah balik bertanya.


"Kalau sudah ada di sini artinya sudah pulang kali bi." sahut Arya bete dengan pertanyaan salah satu ART nya tersebut yang sengaja melontarkan sindiran untuknya.


"Oh iya maaf den, itu den tuan besar tadi pamit, katanya mau makan malam dengan sahabat sekaligus rekan kerjanya den." terang Bibi.


"Apa rekan kerja yang di maksud ayah adalah ayah dari gadis yang akan ayah jodohkan denganku??" dalam hati Arya bertanya tanya.


"Aden kenapa, kok malah melamun sih??." tegur Bibi saat melihat Arya malah diam melamun.


"Bibi tahu nggak ayah janjian di restoran mana??." lanjut tanya Arya.


"Kalau nggak salah sih den di restoran XXX, soalnya tadi bibi nggak sengaja dengar saat tuan besar teleponan dengan seseorang." terang Bibi.


"Ya udah kalau gitu Arya nyusul ayah dulu ya Bi." ucap Arya sebelum berlalu dengan terburu buru.


Arya memacu motornya menuju sebuah restoran bintang lima untuk menyusul ayahnya, Arya kini hanya mengenakan sebuah kaos berwarna putih dengan celana jens hitam serta sepatu dengan warna senada dengan bajunya. meski mengenakan pakaian santai tidak mengurangi ketampanannya.


Kini Arya tiba di restoran XXX yang tadi di katakan ART nya, usai memarkirkan motornya Arya segera memasuki restoran tersebut.


Untuk beberapa saat Arya menyapu pandangan ke dalam restoran guna mencari keberadaan ayahnya. sampai ia menemukan seseorang yang tengah duduk bersama dengan seorang pria yang usianya sepantaran dengan sang ayah.


Saat hendak melanjutkan langkahnya, tiba tiba seseorang tidak sengaja menabraknya dari arah samping.


"Bu Mirna." ucap Arya, saat mengetahui jika wanita yang tadi tidak sengaja menabrak dirinya adalah salah satu dosen cantik di kampusnya.


"Arya" ucap Bu Mirna.


"Maaf saya tadi buru buru makanya tidak fokus saat berjalan." ucap Bu Mirna yang kini ingin ke toilet.


"Nggak papa kok Bu." sahut Arya yang kini mengukir senyum di wajah tampannya.


"Ngomong ngomong kamu kesini sendiri, memangnya kemana teman teman kamu, tumben nggak bareng??." tanya Bu Mirna sembari menatap ke arah belakang Arya mencari keberadaan ketiga sahabat yang dulu selalu bersama dengannya kemanapun.


"Mereka nggak ikut Bu, soalnya lagi bareng bokap." sahut Arya.


"Ya udah kalau gitu ibu ke toilet dulu." pamit Bu Mirna sebelum berlalu, sementara Arya pun melanjutkan langkahnya menuju meja ayahnya.

__ADS_1


"Maaf, Arya terlambat." ucapan Arya mengejutkan ayahnya, ayahnya sama sekali tidak menyangka jika putranya tersebut akan datang, mengingat sudah seminggu terakhir putranya tersebut minggat dari rumah karena sengaja menolak perjodohan darinya.


"Tidak apa apa nak, ayah juga baru saja tiba." sahut ayahnya yang kini berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa apa di depan calon besannya.


"O iya Sampai lupa, perkenalkan tuan Handoko, ini Arya kusuma putraku satu satunya." ayahnya Arya memperkenalkan putranya.


"Arya om." ucap Arya di iringi senyum ramah lalu menyalami tangan tuan Handoko. begitu juga dengan tuan Handoko yang membalas senyuman ramah Arya.


"Silahkan duduk nak!!." kini tuan Handoko mempersilahkan Arya untuk duduk di kursi yang berada di depannya berdampingan dengan ayahnya.


"Terima kasih om." sahut Arya lalu menarik sebuah kursi sebelum menduduki nya.


Beberapa saat kemudian.


"Lama banget sih nak ke toilet." ucap tuan Handoko saat putrinya usai dari toilet.


"Maaf ayah." mendengar suara tak asing dari wanita tersebut membuat Arya yang tadinya sedikit menunduk, segera menengadahkan wajahnya menatap wanita itu.


"Bu Mirna....Arya....." ucap keduanya hampir bersamaan.


"Kalian sudah saling kenal??." tanya tuan Handoko pada putri serta calon menantunya tersebut.


"Arya salah satu mahasiswa di kampus tempat Mirna mengajar ayah." jawab Mirna yang bisa menebak jika pria tengil itu adalah pria yang di maksud ayahnya yang akan di jodohkan dengannya.


"Bu Mirna dosen di kampus Arya om." Arya ikut menjawab.


Mirna pun perlahan kembali duduk di kursinya yang tepat berhadapan dengan Arya.


"Baguslah nak kalau kalian sudah saling mengenal satu sama lain, jadi tidak sulit untuk kalian menikah dan menjalankan rumah tangga kedepannya." ucap pak Handoko dan di sambut senyum hangat oleh ayahnya Arya.


"Ya tuhan....Bagaimana bisa aku harus menikah dengan mahasiswaku sendiri." dalam hati Mirna yang berharap ini hanya mimpi.


"Bagaimana Bu Mirna setuju dengan perjodohan ini sedangkan dirinya sudah memiliki kekasih." batin Arya teringat saat ia kecelakaan tiga tahun lalu, Arya menyangka jika dokter Ferdi adalah kekasih dari wanita yang akrab disapanya Bu Mirna tersebut.


Usai makan malam dan Setelah melewati sesi obrolan panjang kali lebar serta sepakat jika pernikahan kedua anak mereka akan di laksanakan dua bulan mendatang, maka kedua pria paruh baya tersebut pamit untuk kembali ke rumah masing masing bersama anak mereka.


Flashback Of.


"Arya...Arya jika masih ingin melamun silahkan keluar dari kelas saya!!." suara dosen sekaligus calon istrinya tersebut membuyarkan lamunan Arya.


"Maaf Bu, saya ingin belajar." sahut Arya sopan.


Namun raut wajah yang di tampilkan Arya berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini.


"Sepertinya nih perempuan sengaja mengintimidasi gue." batin Arya dongkol dengan perubahan sikap Mirna padanya.

__ADS_1


__ADS_2