
Waktu kini telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, baik sahabat Kheano maupun Alisnya telah pulang ke rumah masing masing.
Usai memastikan jika putrinya telah terlelap Alisya pun kembali ke kamar, di mana nampak Kheano tengah tidur terlentang di bawah selimut dengan kondisi bertel*njang dada.
"Kakak ngapain sih kayak gitu??." ucap Alisya yang masih malu malu saat melihat suaminya dalam kondisi seperti ini, meski ini bukan kali pertama ia melihat bentuk tubuh atletis suaminya.
"Tidur, emangnya mau ngapain lagi."jawab Kheano sontak membuat Alisya memutar bola mata malas.
"Iya Alisya Tahu Kakak mau tidur, lagian siapa juga yang bilang kalau Kakak mau main bola. yang Alisya maksud, ngapain kakak tidur bertel*njang dada seperti itu??." kalimat Alisya sontak membuat Kheano menatap genit ke arahnya.
"Kayaknya seru juga main bola malam malam begini sayang!!." ucap Kheano dengan maksud tertentu sembari mengedipkan sebelah matanya pada Alisya.
"Genit banget sih." ucap Alisya saat melihat suaminya menatap penuh damba padanya.
Kheano menepuk bagian tempat tidur yang kosong sembari memanggil istrinya itu dengan sorot mata. meski masih malu malu Alisya tetap menuruti suaminya untuk segera naik ke tempat tidur, sebelum mengganti piyamanya dengan sebuah dres mini dengan potongan pendek di bagian dada.
Mata Kheano tertuju pada dua buah benda kenyal milik Alisya yang tergambar jelas di balik dres mini yang terbuat dari bahan yang lumayan tipis tersebut.
Meski bukan untuk pertama kalinya bagi pria itu menikmati benda kenyal kesukaannya, namun raut penasaran serta mendamba tidak sedikit pun luntur dari sorot matanya.
Kheano yang kini telah merubah posisinya duduk, sementara Alisya yang menyadari jika wajah suaminya semakin mendekat itu pun perlahan menutup kedua matanya.
Tubuh Alisya nampak menegang saat merasakan lembutnya bibir Kheano yang kini mulia menyentuh bibirnya. Jantung Alisya semakin tak menentu saat pria itu mulai meletakkan tangannya di atas pahanya.
Kheano Bukan hanya meletakan tangannya begitu saja di sana, namun jemarinya itu mulai aktif menjelajah.
"Arrgthh." Alisya mengerang saat jemari pria itu menyentuh area sensitifnya.
Suara istrinya yang terdengar ***** di indera pendengarannya, membuat sesuatu di bawah tubuh Kheano semakin menegang.
Hingga malam ini kembali menjadi malam yang panjang bagi keduanya. tak nampak lagi raut wajah malu malu di wajah Alisya, saat ia mulai mengimbangi permainan suaminya, hal itu semakin membuat Kheano tak mampu lagi menahan gejolak birah*nya.
Sampai Kheano pun melepas semua kain yang kini menutupi bagian tubuh istrinya lalu membuangnya ke sembarang arah, sebelum ia ikut melepaskan celana boks*r yang kini ia kenakan.
Adegan dewasa pun kembali terjadi di antara kedua anak Manusia yang kini tak lagi menyembunyikan perasaan satu sama lain. sampai beberapa saat kemudian Kheano nampak terkulai lemas di atas tubuh polos istrinya, sebelum Kheano menjatuhkan tubuhnya dari tubuh Alisya dan berbaring di sebelah wanita itu.
"Thank you baby." ucap Kheano lalu memberi kecupan sayang di kening istrinya, sebelum merebahkan tubuhnya di samping Alisya.
Alisya pun hanya bisa mengangguk malu malu, saat teringat bagaimana tadi ia ikut nakal mengimbangi permainan ganas suaminya. Alisya bahkan tidak percaya, jika ia bisa dengan nakalnya mengimbangi permainan suaminya.
__ADS_1
Sementara Kheano menahan senyum di bibirnya saat melihat wajah istrinya yang nampak malu malu, padahal saat peperangan terjadi tadi, raut wajah malu sama sekali tidak nampak di wajah cantik itu.
Mungkin saking malunya saat mengingat bagaimana sikap nakalnya tadi, membuat Alisya merubah posisinya membelakangi Kheano.
Kheano yang bisa mengerti dengan sikap istrinya, sama sekali tidak membahas tentang pergulatan mereka tadi, ia malah melingkarkan tangannya di perut istrinya.
Posisi Kheano kini berbaring menyamping dengan memeluk tubuh Alisya dari belakang.
"Sayang kapan kamu hadir di perut bunda, ayah ingin merasakan bagaimana menjadi suami siaga, yang bisa menjaga kalian sejak kamu masih berada dalam kandungan." ucap Kheano lembut sembari mengelus lembut perut rata Alisya.
Mendengar ucapan suaminya yang penuh harap membuat Alisya merasa bersalah. bagaimana tidak, sejak kepulangan Kheano dari luar negeri, Alisya sengaja mengkonsumsi pil penunda kehamilan untuk berjaga jaga.
"Sayang, apa kamu tidak keberatan jika kakak menginginkan anak lagi darimu??." Alisya berbalik pada suaminya, saat mendengar pertanyaan penuh harap dari pria itu.
Alisya hanya diam tak mampu berkata kata, namun dalam hati Alisya hanya bisa berjanji pada diri sendiri, bahwa ia tidak akan mengkonsumsi pil pencegah kehamilan itu lagi.
Alisya hanya bisa diam seraya merebahkan kepalanya pada dada bidang Kheano.
"Maafin Alisya kak, tapi Alisya janji nggak akan minum pil itu lagi." dalam hati Alisya yang kini menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya, hingga Alisya pun terlelap di dalam hangatnya dekapan suaminya, begitupun dengan Kheano yang ikut terlelap.
***
Arya terus teringat akan jawaban dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Bang Ferdi adalah salah satu pria spesial dalam hidup saya, bang Ferdi juga pria yang sabar, beliau selalu ada di saat saya sedih maupun senang." jawaban Mirna saat di rumah Kheano tadi terus berputar putar di ingatan Arya.
"Dia bahkan terang terangan memuji pria lain di depanku, memangnya dia anggap apa aku ini??." Arya bergumam kesal.
"Rupanya dia ingin mempermainkan aku, jangan pikir aku lebih muda tiga tahun darinya, lalu dia bisa mempermainkan perasaanku begitu saja." lanjut gumam Arya sembari memikirkan cara untuk membuat Mirna segera melupakan sosok dokter Ferdi.
"Kita lihat saja nanti dosen cantik, apa kamu masih punya nyali memuji pria lain saat sudah menjadi istriku." dengan seringai Arya kembali bermonolog, usai satu rencana melintas di pikirannya.
***
Keesokan harinya di kampus Mirna menarik lengan Arya dan membawa pria itu jauh dari keramaian.
"Apa maksud kamu dengan mempercepat hari pernikahan kita??." tukas Mirna dengan tatapan serius.
"Memangnya di mana salahnya, bukannya mensegerakan sesuatu yang baik itu bagus" jawab Arya dengan entengnya.
__ADS_1
"Aku sudah memberi kesempatan untuk kamu membatalkan perjodohan ini, namun kamu menolak. mengapa sekarang kamu malah nampak kesal, saat saya ingin pernikahan kita di percepat. atau jangan jangan kamu masih memiliki hubungan yang belum selesai dengan pria lain??." kalimat Arya sontak memancing emosi Mirna.
"Jangan sembarangan kamu kalau ngomong, saya bukan wanita murahan yang bisa menebar cinta pada setiap laki laki." jawab Mirna yang merasa tersinggung dengan kalimat Arya.
"Kalau begitu untuk apa lagi menunda pernikahan kita??." Arya kembali menjawab dengan entengnya, meski mendapat tatapan sengit dari wanita itu.
Mirna yang tidak ingin semakin terpancing emosi, segera berlalu meninggalkan Arya yang berdiri bersekedap dada.
Flashback On
Semalam saat satu ide melintas di pikirannya, Arya langsung menemui ayahnya yang masih sibuk di ruang kerjanya.
Arya segera membuka handle pintu ruang kerja ayahnya, tanpa mengetuk lebih dulu.
"Ayah, ada yang ingin Arya bicarakan pada ayah." ucap Arya saat masih berdiri di ambang pintu.
"Masuklah, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan dengan ayah malam malam begini??." tukas ayahnya saat melihat wajah anaknya nampak serius.
"Duduk dulu." seru ayahnya, Arya pun duduk di kursi yang berada di depan meja kerja ayahnya.
"Ada apa??." tanya ayahnya lagi.
"Ayah aku ingin pernikahanku dengan Mirna segera di langsungkan secepatnya, bila perlu besok." Mendengar permintaan putranya membuat ayahnya Arya mengeryit heran.
"Memangnya kamu pikir Mirna itu anak kucing bisa main langsung nikah aja besok, ayah harus membicarakan ini dulu dengan ayahnya Mirna." tukas ayahnya.
"Tidak perlu terlalu mewah ayah, sekedar acara ijab qobul pun Arya tidak masalah." lanjut Arya dengan wajah penuh harap.
"Baiklah, akan ayah bicarakan dengan ayahnya Mirna tentang permintaan kamu nak." jawab Ayahnya sebelum Arya keluar dari ruang kerja.
Sebelum benar benar beranjak dari ruang kerja ayahnya, Arya kembali berujar.
"Arya juga ingin ayah memberikan tempat yang kosong di perusahaan ayah untuk Arya bekerja." pinta Arya sebelum benar benar menghilang di balik pintu.
"Ternyata putra kesayanganku benar benar sudah dewasa sekarang." dalam hati ayahnya, yang kini mengulum senyum bahagia di sudut bibirnya.
Awalnya ayahnya Arya juga merasa tidak enak saat mengatakan permintaan putranya pada rekan kerjanya itu, khawatir rekan kerjanya tersebut merasa tersinggung. karena sebelumnya kedua belah pihak telah sepakat dengan keputusan pernikahan Mirna dan Arya yang akan di langsungkan dua bulan mendatang.
Namun di luar dugaan ayahnya Arya, tuan Handoko sama sekali tidak keberatan saat ia menyampaikan permintaan dari putranya.
__ADS_1
Berbeda dengan Arya yang begitu menginginkan pernikahan mereka di percepat, Mirna malah nampak kesal saat mendengar ayahnya mengatakan jika pernikahannya akan di langsungkan dua hari lagi. dan yang semakin membuat Mirna kesal adalah, saat ayahnya mengatakan jika itu permintaan langsung dari Arya, selaku calon suami Mirna.