
Malam pengantin yang harusnya menjadi malam paling indah bagi pasangan suami istri, kini harus di lalui Arya dengan perasaan dongkol. bagaimana tidak, hangatnya ranjang pengantin hanya sebuah harapan semata bagi Arya karena terpaksa harus menyelesaikan begitu banyak tugas dari dosen yang tak lain adalah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Sepertinya gadis ini memang sengaja ingin mengerjai aku." dalam hati Arya dongkol melirik istrinya yang kini tengah duduk bersandar di bahu ranjang. sebelum ia kembali fokus dengan begitu banyak tugas yang harus di kumpulkan besok.
Mirna menahan senyum saat melihat wajah pria itu yang nampak dongkol, terbukti saat ia melihat Arya beberapa kali mengacak rambutnya frustrasi.
"Emang enak." dalam hati Mirna sembari menggigit bibir bawahnya menahan senyum.
Mirna sengaja mencari alasan untuk menghindari suaminya, karena tidak mungkin secara terang terangan ia menolak Arya. sebab jika ia menolak itu hanya akan membuat harga dirinya sebagai wanita yang selalu mengatai suaminya itu bocah akan jatuh di hadapan pria itu.
Sehari sebelum pernikahan mereka di langsungkan Mirna sengaja mengirim begitu banyak tugas pada mahasiswanya tersebut melalui email, yang tidak masuk di akal Arya adalah wanita itu meminta tugas yang di beri nya segera di selesaikan dalam kurun waktu dua kali dua puluh empat jam, dan itu tepatnya besok.
"Baiklah, sepertinya kamu memang ingin bermain main dulu denganku baby"batin Arya, sementara Mirna merasa pria itu tengah memikirkan sesuatu, saat melihat Arya tersenyum penuh arti saat melirik padanya.
"Berhubung malam ini kamu harus segera menyelesaikan tugas kampus, maka aku akan tidur lebih dulu. good night ..." dari nada suaranya, Arya semakin yakin jika istrinya tersebut sengaja mengerjai dirinya dengan memberikan begitu banyak tugas demi menghindari kontak fisik di malam pertama mereka.
Dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya, Mirna mulai berbaring di bawah selimut putih. Mirna bisa menebak dengan kemampuan yang di miliki pria itu, maka tugas yang diberikannya baru akan terselesaikan minimal besok pagi.
Menurut Mirna hanya itu cara satu satunya untuk menghindari pria yang kini telah sah menjadi suaminya itu di malam pertama mereka. namun tanpa sepengetahuan gadis itu, Arya yang sejak tadi memperhatikan gerak geriknya itu pun menarik ke atas sudut bibirnya.
"Kita lihat, sampai di mana kamu bisa menghindariku baby." Arya tersenyum nakal, sebelum kembali menyelesaikan tugasnya dengan sungguh sungguh.
Sebenarnya Arya bukanlah pria bodoh, hanya saja sebelumnya ia sedikit malas dalam hal mengerjakan tugas kampusnya, sehingga malam ini ia kerahkan semua isi kepalanya agar segera menuntaskan semua tugas yang sengaja di buat sang istri untuk menghindari malam pertama mereka.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, Mirna terbangun saat tenggorokannya terasa kering. namun saat hendak bangkit dari tidurnya, Mirna merasa ada sesuatu yang terasa berat menindih perutnya. seketika kesadaran Mirna terkumpul sepenuhnya, saat menyadari benda yang kini melingkar di perutnya adalah tangan seseorang yang tidak lain adalah suaminya, Arya.
Mirna segera menepis lengan suaminya yang kini melingkar di perutnya, sebelum ia benar benar bangkit dari posisi tidurnya.
"Kamu ngapain sih di sini??." Arya segera mengerjapkan matanya kala suara lengkingan Mirna mengganggu tidurnya.
"Memangnya kamu tidak bisa lihat aku sedang tidur." Sahut Arya dengan suara berat khas bangun tidur.
"Semua orang juga tahu kalau kamu lagi tidur, maksud aku ngapain kamu tidur di sini??" mendengar kalimat gadis itu membuat Arya segera membuka matanya dengan sempurna, namun masih tetap dengan posisi tidurnya.
"Maksud aku ngapain kamu tidur di sini, sementara kamu harus segera menyelesaikan tugas kampus yang akan di serahkan besok." Mirna mencoba mengklarifikasi ucapannya, tidak ingin pria itu tersinggung dengan ucapannya lalu mengadukannya pada sang ayah. meski Arya sama sekali tidak berpikir sejauh itu, karena bagaimanapun kini gadis itu sudah menjadi istrinya, tidak mungkin menjelekkan istrinya di depan orang lain, meski ayahnya sendiri.
"Aku sudah menyelesaikan semua tugasnya." sahut Arya.
"Tidak mungkin, aku sengaja memberikan begitu banyak tugas untuknya, mana mungkin sudah selesai dalam kurun waktu lima jam." dalam hati Mirna, sementara Arya yang bisa menebak keraguan di wajah istrinya berdengus.
"Kalau kamu tidak percaya silahkan periksa saja sendiri!!." ucap Arya, Mirna pun segera turun dari ranjang menuju meja sofa yang juga berada di dalam kamarnya.
Mata Mirna membulat sempurna, ia bahkan kesulitan menelan salivanya saat memastikan ucapan Arya ternyata benar adanya, semua tugas yang diberikannya pada pria itu telah terselesaikan, bahkan dengan hasil yang nyaris sempurna.
"Bagaimana bisa begini??." batin Mirna kelabakan saat melihat hasil dari pekerjaan mahasiswa sekaligus suaminya itu.
Arya ikut turun dari ranjang, ia berjalan ke arah istrinya yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"Berhubung semua tugas kampus sudah selesai, Sepertinya aku sudah bisa menyelesaikan tugasku yang lain." ucap Arya lembut tepat di belakang telinga Mirna, sampai gadis itu dapat merasakan hembusan nafas Arya. apalagi pria itu mulai meletakkan tangannya di bahu Mirna, hal itu membuat bulu kuduk Mirna merinding.
"Ya tuhan, apa malam ini aku harus berakhir di tangan bocah ini." batin Mirna dengan tubuh mulai bergetar ketakutan, namun sebagai wanita dewasa ia juga gengsi untuk mengatakan pada pria itu, jika saat ini ia belum siap bahkan ketakutan menghadapi malam pertama mereka.
"Bagaimana istriku sayang, apa kamu sudah siap menjadi istriku sepenuhnya??." Arya mulia mengendus aroma tubuh Mirna sebelum memberi kecupan di tengkuk gadis itu.
Mirna mengusap tengkuknya untuk menetralisir perasaan takutnya agar tak nampak di depan pria itu.
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku tidak siap??." dengan terpaksa Mirna berucap demikian untuk mempertahankan gengsinya sebagai wanita dewasa yang selalu mengatai suaminya bocah.
Arya menarik ke atas sudut bibirnya saat menyadari jika istrinya itu tengah ketakutan, terbukti saat menyentuh tangan gadis itu yang terasa sangat dingin, di tambah lagi dengan kakinya yang mulai gemetar.
"Aku akui sebagai dosen kamu memang sangat pintar baby, tapi sayangnya kamu sama sekali tidak berbakat dalam berbohong." dalam hati Arya yang kembali menarik sudut bibirnya ke atas, karena posisinya membelakangi sang suami maka Mirna tidak bisa melihat ekspresi dari pria tersebut.
"Tapi sepertinya aku harus minta maaf padamu, karena tidak bisa melakukan tugasku sebagai suami malam ini sebab aku sangat lelah sekali." sembari menahan senyum Arya terpaksa bertutur demikian, karena ia yakin saat ini gadis itu belum siap, hanya saja demi mempertahankan gengsinya sebagai wanita dewasa, ia berkata demikian. karena bagi Mirna sebagai wanita dewasa gengsi jika harus mengakui bahwa dirinya takut saat mengahadapi malam pertama, apalagi pada pria yang selalu dikatainya dengan embel embel bocah.
Bagai mendapat angin surga saat Mirna mendengar kalimat penolakan dari Arya, Mirna pun mengulum senyum untuk beberapa saat, sebelum kembali bersikap seolah ia kecewa dengan penolakan dari pria itu.
"Yaaaah,,,,padahal sejak tadi aku sudah menunggu sampai ketiduran, tapi nggak papa deh kalau kamunya belum siap." ucap Mirna yang berpura pura memperlihatkan wajah kecewa, sebelum secepat kilat beranjak naik ke ranjang lalu menyelimuti tubuhnya sebatas leher.
Sementara Arya hanya bisa menggeleng sembari menarik sudut bibirnya ke atas, melihat tingkah istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Aku memang sudah tidak sabar ingin menikmati hangatnya ranjang pengantin bersamamu baby ,namun aku juga tidak tega saat melihatmu ketakutan seperti tadi." dalam hati Arya sebelum ikut naik ke ranjang.
__ADS_1