
Setibanya di restoran Kheano yang di temani Andi tersebut tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria yang tak lain adalah tuan Marcelino, ayahnya Regina. entah apa yang di lakukan pria itu di sana Kheano sendiri tidak tahu, namun yang jelas pria itu bahkan tidak berani menyapa Kheano lebih dulu.
Sementara Kheano yang sadar jika pria itu jauh lebih tua darinya, bahkan tuan Marcelino hampir sebaya dengan papanya, maka ia pun berbesar hati menyapa lebih dulu.
"Selamat siang tuan Marcelino." Tuan Marcelino tidak menyangka seorang pria muda yang bahkan pernah mendapat perlakuan kurang menyenangkan darinya tersebut masih Sudi menyapanya.
"Selamat siang tuan Kheano Setiawan Admaja." dari raut wajahnya, nampak jelas pria paruh baya tersebut salah tingkah sebab malu saat menjawab sapaan Kheano. apalagi saat ini berita tentang pemerkosaan putrinya telah menyebar di kalangan pengusaha, sebagai salah satu pengusaha muda yang namanya tengah melambung tinggi, menurut tuan Marcelino sudah pasti Kheano sudah mendengar musibah yang menimpa putrinya, Regina.
"Bagaimana kabar anda tuan??." lanjut Kheano basa basi.
"Seperti yang anda lihat tuan, kabar baik." jawab pria itu sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Saya juga ingin meminta maaf atas perbuatan kurang menyenangkan yang pernah saya lakukan pada anda tempo hari." mendengar permintaan maaf yang terdengar tulus dari tuan Marcelino, membuat Kheano kemudian mengulum senyum seraya berkata.
"Tidak perlu di bahas lagi tuan, lagi pula saya sudah melupakannya. hanya saja sebagai seorang pria yang sudah beristri, saya berharap Regina tidak lagi melakukan sesuatu yang akan berdampak pada dirinya sendiri, jika terus berharap pada sesuatu yang jawabannya ia sendiri sudah tahu, tidak akan mungkin." Kheano sengaja bertutur demikian, untuk mengingatkan pada pria itu agar lebih menasehati putri kesayangannya. sebab Kheano sangat yakin jika dalang di balik penculikan dirinya tempo hari adalah Regina, sampai kejadian senjata makan tuan menimpa gadis itu. secara tidak langsung Kheano ingin menyampaikan pada pria itu, jika musibah yang terjadi pada putrinya, tidak lain akibat dari keegoisannya sendiri.
Sementara tuan Marcelino yang mengerti jika maksud ucapan Kheano tentang putrinya langsung tersenyum kecut, namun ia tidak sepenuhnya paham jika maksud Kheano ada hubungannya dengan musibah pemerkosaan yang di alami putrinya. tuan Marcelino hanya menyangka jika Kheano sudah tahu jika saat itu ia melakukan sesuatu yang kurang menyenangkan pada Kheano, demi putrinya.
"Baik tuan, sekali lagi saya minta maaf atas semuanya. semoga hubungan kita bisa kembali baik seperti semula." ucap tuan Marcelino lalu mendapat anggukan dari Kheano.
__ADS_1
"Baiklah tuan Kheano, saya pamit dulu masih ada yang harus saya selesaikan." pamit tuan Marcelino beberapa saat kemudian, sementara Kheano pun mempersilahkan sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya.
Andi yang sejak tadi hanya diam menyaksikan keduanya, kini mulai buka suara.
"Aku rasa kejadian yang menimpa Regina adalah suatu bentuk karma, karena dia terus berusaha mengejar pria yang sudah berstatus suami orang. dasar wanita nggak tahu malu." ucap Andi kemudian mengumpat Regina di akhir kalimatnya.
"Tidak baik berkata seperti itu di saat seseorang mendapatkan musibah." sahut Kheano yang kini selangkah di depan Andi.
"Habisnya gue kesal banget kalau teringat Sikap Regina sama Lo." lanjut Andi dengan bahasa santai namun saat Kheano menoleh dengan tatapan tajam Andi segera meralat kalimatnya.
"Habisnya saya kesal dengan sikapnya pada anda." setelah Andi meralat kalimatnya, dengan bahasa formal Kheano pun tersenyum. bukannya Kheano Merasa keberatan saat sahabatnya tersebut berbicara dengan bahasa santai padanya, namun Kheano sadar jika saat ini mereka kembali berkutat dengan pekerjaan, apalagi mengingat seseorang yang tengah menunggu kedatangan keduanya telah nampak dari kejauhan.
Seperti biasa Kheano selalu di sambut dengan baik oleh rekan kerjanya, termasuk Mr Ahong, salah satu pengusaha yang berkewarganegaraan China tersebut.
Saat hendak kembali ke perusahaan, Kheano tidak sengaja melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya.
"Itukan mobil Rania." Kheano berjalan menghampiri mobil yang sama persis dengan mobil Rania untuk memastikan. setelah mendekati mobil tersebut, Kheano yakin jika itu memang mobil adiknya. namun yang membuat Kheano bertanya tanya, sedang apa adiknya di sebuah hotel, mengingat mobil tersebut terparkir di area parkiran hotel.
"Sedang apa kamu di sini Khe, bukannya mobil kamu di parkir di sebelah _" Andi tidak menyelesaikan kalimatnya saat mobil yang kini menjadi pusat perhatian Kheano adalah milik Rania, adiknya Kheano.
__ADS_1
"Bukankah ini mobil milik Rania." mendengar ucapan Andi, membuat Kheano menatap ke arah Andi, sementara Andi yang paham dengan arti tatapan Kheano langsung bersuara.
"Aku akan mencari informasi dari resepsionis tentang keberadaan Rania." ucap Andi sebelum berlalu menuju meja resepsionis, begitupun dengan Kheano yang langsung menyusul langkah Andi.
"Maaf nona apa anda seorang wanita atas nama Rania Saraswati memesan tempat di hotel ini??." tanya Andi dengan ramah.
"Maaf tuan, kami tidak bisa memberikan informasi tentang pengunjung di sini, karena itu sudah menjadi peraturan di hotel ini." mendengar seorang wanita yang bertugas di meja resepsionis tersebut membuat rahang Kheano semakin mengeras.
"Saya tidak ingin melanggar peraturan di hotel ini, tapi jika kalian tetap berseri keras untuk menutup nutupi maka jangan salahkan saya berbuat sesuatu yang bisa merugikan hotel ini." dengan raut wajah menahan emosi Kheano mengatakan kalimat yang membuat pegawai resepsionis hotel tersebut ketakutan, apalagi mereka sangat mengenal sosok Kheano Setiawan Admaja, pengusaha muda yang tidak bisa di pandang sebelah mata, apalagi mereka tahu jika Kheano merupakan putra dari pengusaha ternama bernama Reza Admaja.
"Baiklah tuan, kami akan memberikan informasi tentang pengunjung atas nama Rania Saraswati, tapi kami mohon jangan melakukan sesuatu yang merugikan hotel kami." sahut Salah satu dari resepsionis yang lainnya.
"Tunggu apa lagi, cepat berikan!!." cetus Kheano yang sudah tak sabar.
"Ini tuan, kamar yang di pesan adik anda nomor 126." ucap pegawai resepsionis seraya memberikan sebuah cart pada Kheano.
Tak butuh waktu lama setelah Kheano menyambar cart tersebut dari tangan wanita itu, Kheano segera berlalu menuju kamar hotel yang di maksud. sementara resepsionis tadi meminta pada salah satu pegawai pria untuk mengikuti langkah Kheano dan Andi.
Setelah merasa salah satu pintu kamar hotel tersebut tertulis dengan nomor 126, tanpa aba aba Kheano langsung membuka pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Kheano saat pintu kamar terbuka, dua orang wanita yang sedang asyik duduk di tempat tidur sembari menyaksikan sebuah drama. apalagi saat pintu terbuka bukannya marah, salah satu dari wanita itu malah bergelayut manja di lengan Kheano.
"Apa yang kalian lakukan di sini??." tanya Kheano pada kedua wanita itu, sementara Andi yang berdiri di belakang Kheano hanya bisa menggigit bibirnya menahan tawa.