
Saat berada di perjalanan pulang usai mengantar Andi kembali ke apartemennya, Kheano melihat seorang wanita yang tengah di ganggu oleh beberapa orang berandal jalanan.
Wanita itu berusaha untuk melawan namun salah satu berandalan tersebut menggenggam tangan wanita itu, sehingga membuat wanita itu berteriak karena tak mampu melawan tenaga dari berandalan tersebut.
Dengan mengepal kedua tangannya Kheano segera turun dari mobil, apalagi dari kejauhan Kheano seperti tidak asing dengan sosok wanita itu walaupun posisinya membelakangi Kheano.
"Bug." bogem mentah melayang ke wajah salah satu berandalan tersebut sehingga berandalan yang lain ikut mengeroyok Kheano. tapi bukan Kheano namanya kalau bisa dengan mudah di lumpuhkan oleh berandalan jalanan, karena dulunya Kheano mengikuti latihan bela diri.
Namun karena lawan yang tidak sepadan lima lawan satu, sehingga Kheano tidak bisa menghindari saat sebuah pisau yang di arahkan oleh salah satu berandalan tersebut ke arahnya, sehingga benda tajam tersebut mengenai lengan Kheano saat ia berusaha menangkisnya.
"Arrgthh." Kheano sempat meringis saat pisau tersebut menggores lengannya.
"Kakak." teriak wanita yang ternyata adalah Alisya tersebut.
Alisya yang histeris kemudian berlari ke arah suaminya.
Meski terluka tidak membuat Kheano menyerah begitu saja, ia kembali menghajar para berandalan yang berjumlah lima orang tersebut hingga babak belur sebelum melarikan diri satu persatu.
"Kak lengan kakak berdarah." ucap Alisya panik lalu berinisiatif mencari sesuatu untuk bisa menutup luka suaminya untuk sementara.
Alisya berlari untuk mencari sesuatu di mobil Kheano dan ia menemukan sebuah sapu tangan milik Kheano.
Alisya segera berlari kembali ke arah Kheano lalu mengikat lengan suaminya yang mengeluarkan darah segar tersebut dengan sapu tangan.
"Kakak kenapa bisa ada di sini??." tanya Alisya saat mengikat lengan Kheano dengan sebuah sapu tangan.
Bukannya menjawab Kheano malah menatap tajam ke arah istrinya.
"Apa kamu bilang, kenapa aku bisa ada di sini. seharusnya saya yang tanya, kenapa kamu bisa melintas di jalanan yang sepi malam malam begini, bagaimana kalau tadi saya tidak lewat di sini??." jawab Kheano masih dengan tatapan tajam saking kesalnya, mengingat kecerobohan istrinya yang melintas di jalanan sepi di jam segini.
"Tadi susu Kesya habis, jadi aku ke supermarket untuk membeli susunya Kesya. saat di perjalanan ban mobilku bocor." sahut Alisya seraya menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kejadian tadi tersebut.
"Kamu kan bisa menghubungi aku kalau susu Kesya habis, tidak harus keluar sendirian malam malam begini Alisya. aku tidak habis pikir Alisya, apa yang bisa terjadi sama kamu kalau saya tadi tidak melewati jalan ini." ucap Kheano menyesalkan tindakan istrinya yang memilih jalan sepi dengan alasan biar lebih cepat tiba di rumah.
Setelah beberapa menit lengan Kheano tak lagi mengeluarkan darah sebab sudah terikat oleh sebuah sapu tangan.
"Ayo pulang, biar montir yang menjemput mobil kamu!!." Kheano meraih tangan Alisya sebelum melangkah ke mobilnya.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, aku tidak mau luka kamu infeksi." sahut Alisya di sela langkahnya menuju mobil Kheano.
Kheano tersenyum kecut saat mendengar Alisya kembali memanggilnya dengan sebutan kamu, padahal tadi hatinya sudah berbunga bunga saat Alisya memanggilnya dengan sebutan kakak seperti dulu. namun ia tidak memperlihatkannya di depan Alisya, ia tetap bersikap seolah tidak terjadi apa apa dengan hatinya.
__ADS_1
Seperti biasa Kheano selalu membukakan pintu mobil untuk Alisya, namun Alisya menolak untuk duduk di sisi kiri saat pintu mobil terbuka, ia malah meminta Kheano yang masuk untuk duduk di samping kemudi.
Kheano yang tidak mengerti, bertanya dengan raut wajahnya serta menautkan kedua alisnya menatap Alisya.
"Biar aku yang menyetir." jawab Alisya yang mengerti dengan pertanyaan yang ada di kepala Kheano.
"Tidak perlu, luka kecil seperti ini tidak membuatku lupa cara menyetir." tolak Kheano.
"Sudah jangan bandel kenapa sih!!." Alisya memaksa Kheano untuk masuk ke mobil.
Kalau sudah ibu negara memaksa Kheano tak lagi bisa membantah. Kheano pun menuruti perintah permaisurinya itu, untuk duduk manis di samping kemudi.
Setelah memastikan Kheano duduk dengan aman dan nyaman, Alisya segera mengitari mobil lalu duduk di balik kemudi. Alisya menjalankan mobil menuju rumah sakit, meski Kheano menolak Alisya tetap bersikeras untuk kerumah sakit untuk mengobati luka di lengan suaminya.
"Ternyata kamu khawatir juga sama aku." ucap Kheano lirih namun masih terdengar jelas oleh Alisya.
Kheano berkata Demikian saat mobil yang di kendarai Alisya bukannya menuju rumah, tapi malah menuju arah ke sebuah rumah sakit.
"Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi pada orang yang telah menolongku. btw thanks sudah menolongku tadi." sahut Alisya, tanpa melirik ke arah Kheano.
"Tidak perlu berterima kasih, karena jika terjadi dengan orang lain pun, aku akan tetap melakukan hal yang sama." ucapan Kheano sontak memancing lirikan Alisya.
"Jadi kalau korbannya tadi wanita lain bukannya aku, kamu akan tetap berkorban sejauh itu??." pertanyaan bernada sinis keluar dari mulut Alisya.
"Tergantung apanya,,,,?? oh ...kalau wanitanya cantik kamu tolongin, terus kalau nggak cantik kamu biarin gitu aja??.Ternyata semua laki laki itu memang memandang wanita dari segi fisik." sahut Alisya yang memaknai ucapan Kheano demikian.
"Aku nggak ngomong gitu." sahut Kheano sembari menahan senyum, karena merasa Alisya sudah terjebak dengan kalimatnya sendiri.
"Kenapa, kamu cemburu??." lanjut tanya Kheano dengan senyum tipis di bibirnya, sakit tipisnya senyum Kheano sampai Alisya sendiri tidak menyadarinya.
"Aku hanya menerka sifat lelaki, lagi pula untuk apa saya harus cemburu." jawab Alisya yang kembali bersikap biasa, walau sebenarnya hatinya panas kala mendengar ucapan Kheano tadi. padahal jika di telasih ucapan Kheano hanya sebatas " kalau itu sih tergantung." sudah membuat hatinya panas, apalagi kalau lebih dari itu mungkin kepala Alisya sudah mendidih.
"Ternyata istriku ini memiliki gengsi yang cukup tinggi." batin Kheano tersenyum girang, karena secara tidak langsung berhasil membuat Alisya cemburu. jika cemburu itu artinya ada rasa cinta di hati sang istri untuk dirinya.
Tiga puluh menit kemudian mobil Kheano yang di kemudikan oleh Alisya tiba di sebuah rumah sakit.
Alisya turun dari mobil lalu mengitari mobil hendak membuka pintu untuk suaminya, namun Alisya terlambat Kheano lebih dulu membuka sendiri pintu mobil lalu turun.
"Tidak perlu berlebihan istriku sayang tanganku cuma terluka bukannya lumpuh, jadi kalau hanya untuk membuka pintu mobil aku masih sanggup." ucap Kheano sembari mengedipkan sebelah matanya sengaja menggoda, saat tatapan Alisya seakan tidak suka waktu ia membuka pintu mobil sendiri.
Luka di lengan Kheano segera di bersihkan lalu dokter meresepkan antibiotik untuk Kheano agar lukanya tidak infeksi serta vitamin untuk mempercepat proses penyembuhan luka di lengannya.
__ADS_1
"Lukanya tidak terlalu dalam, ini saya meresepkan obat serta vitamin. jangan lupa di minum tiga kali sehari setelah makan!!." ucap dokter usai memeriksa serta mengobati luka Kheano.
"Baik dok." bukannya Kheano yang menjawab melainkan Alisya.
Melihat ada seorang gadis yang begitu perhatian pada pasangannya membuat dokter itu tersenyum.
"Anda sangat beruntung tuan karena memiliki kekasih seperti gadis ini, selain cantik kekasih anda juga sangat perhatian pada anda." ucap dokter itu dengan senyum, pada Kheano.
"Dia bukan pacar saya dok, tapi dia ibu dari anak saya. namanya Alisya kami menikah sejak tiga tahun yang lalu." sahut Kheano membalas senyuman dokter tersebut seraya mengklarifikasi status Alisya.
Sementara Alisya langsung beralih menatap Kheano saat pria itu menjelaskan status mereka pada sang dokter, meski menurut Alisya itu juga tidak terlalu penting bagi dokter tersebut.
"Maafkan saya, saya tidak menyangka kalau kalian adalah pasangan suami-istri, sebab kalian masih sama sama muda." ucap dokter tampan tersebut.
"Nggak papa dok, kalau begitu kami pamit dulu." ucap Kheano sebelum berlalu.
Alisya kembali menyetir mobil Kheano sampai ke rumah.
Saat sampai di rumah Kheano yang merasa gerah tersebut ingin segera mandi, namun ia merasa kesulitan sebab lengannya di perban.
"Boleh saya bantu??." ucap Alisya saat melihat Kheano kesulitan membuka kaos dalamnya.
"Kalau kamu tidak keberatan sih dengan senang hati." sahut Kheano sengaja tidak melihat ke arah Alisya.
Alisya pun segera mendekat lalu membantu membuka kaos yang di kenakan Kheano, namun usia membantu membuka kaos dalam Kheano mata Alisya membulat sempurna saat sorot mata Kheano menuju ke resleting celana jeans miliknya.
"Itu juga??." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Alisya.
"Masa iya saya harus mandi mengenakan celana." sahut Kheano sembari menahan senyumnya saat melihat raut wajah Alisya yang menurutnya sangat menggemaskan saat bertanya.
Dengan berat hati Alisya pun perlahan mendekatkan tangannya ke arah resleting celana Kheano.
"Awas, jangan sampai salah pegang, kalau salah pegang nanti kamu sendiri yang repot." ucap Kheano sengaja menggoda istrinya.
"Jadi di bantu nggak nih??." cetus Alisya mulai kesal karena menyadari sikap suaminya tersebut yang sengaja berkata demikian untuk membuatnya malu.
Meski sedikit kikuk akhirnya Alisya berhasil membantu Kheano membuka celana jens yang tadi di kenakannya.
"Sudah, cepetan sana mandi!!." seru Alisya seraya memalingkan wajahnya ke Sembarang arah, sebab saat ini tubuh Kheano hanya di balut sebuah bokser.
Kheano tersenyum melihat tingkah istrinya yang malu malu, meski mereka sudah pernah melakukan hubungan suami istri sebelumnya.
__ADS_1
"Ternyata benar kata pepatah, di balik musibah pasti ada hikmah." dalam hati Kheano tersenyum penuh kemenangan.