
Pagi hari tepat pukul delapan pagi Arya telah bersiap menghadiri acara wisuda, ia akan berangkat dengan di dampingi ayah serta istrinya. hari ini Arya merencanakan sesuatu yang Mirna sendiri tidak mengetahuinya.
Meski semalam sempat dongkol dengan sikap suaminya, namun Mirna tetap mempersiapkan semua keperluan sang suami, termasuk menyiapkan pakaian yang di gunakan Arya untuk wisuda.
Wajah Arya nampak berseri seri mengingat sebentar lagi ia akan segera bergelar sarjana.
Bukan hanya ayah serta istrinya yang datang ke acara wisuda pria itu, tanpa sepengetahuan Arya ketiga sahabatnya Kheano, Andi serta Bobi juga ikut meluangkan waktu khusus untuk menghadiri wisuda dari sahabat mereka tersebut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit, akhirnya mobil yang di kendarai Arya memasuki gerbang kampus, di mana nampak mahasiswa seangkatan dengannya hadir dengan di dampingi kedua orang tua serta kerabat.
Arya turun dari mobil begitupun dengan ayahnya, sementara Mirna masih duduk diam di dalam mobil, hingga beberapa saat kemudian Arya membuka pintu mobil karena melihat istrinya belum juga Turun.
"Kenapa tidak turun sayang??." tanya Arya saat membuka pintu mobil.
"Tapi di sini banyak orang, bagaimana jika mereka mengetahui tentang hubungan kita??." mendengar pertanyaan wanita itu bukannya membuat Arya panik, justru pria itu malah tersenyum.
"Bagus dong, biar kita nggak main kucing kucingan lagi, sudah saatnya seisi kampus tahu kalau kamu itu milikku." jawaban Arya membuat Mirna melongo.
"Kamu yakin??." tanya Mirna lagi.
"Kalau aku nggak yakin, aku tidak mungkin mengajakmu ikut denganku hari ini." sahut Arya dengan santainya, kemudian mengulurkan tangannya pada sang istri, kemudian Mirna pun menyambut uluran tangan Arya lalu turun dari mobil. tidak sedikit mata yang menatap heran ke arah keduanya, saat wanita yang mendapat gelar dosen cantik dari mahasiswanya tersebut, berjalan berdampingan dengan salah satu mahasiswa di sana, apalagi posisinya dosen cantik tersebut bergandengan tangan dengan pria itu.
Bahkan tidak sedikit yang berbisik saat melihat kedekatan keduanya, mengingat saat di kampus keduanya seperti Tom dan Jerry, apalagi sudah menjadi rahasia umum jika Bu dosen cantik bahkan sering memberi tugas dua kali lipat pada Arya, jika merasa kesal dengan tingkah pria itu saat mengikuti kelasnya.
"Tumben banget Bu dosen cantik akur sama tuh mahasiswa tengil??." salah seorang mahasiswi berbisik bisik pada salah satu temannya.
"Iya yah, biasanya juga Bu dosen cantik selalu di buat kesal sama tingkah tuh cowok." sahut mahasiswi yang kebetulan sekelas dengan Arya.
"Bukannya Bu dosen pernah mengakui kalau beliau sudah menikah, apa suaminya nggak marah kalau ngeliat Bu dosen gandengan tangan kayak gitu sama mahasiswanya??." timpal salah satu mahasiswa yang juga sekelas dengan Arya.
"Ngapain pada bergosip sih, Lo pada mau nggak jadi wisuda karena ketahuan bergunjing tentang salah satu dosen." ledek salah satu mahasiswa lainnya kemudian berlalu meninggalkan ketiganya dengan senyum seringai.
"Sialan Lo." umpat ketiganya sebelum kembali melangkah menuju gedung wisuda.
Beberapa saat kemudian, hampir semua mahasiswa dan mahasiswi yang akan segera di wisuda memenuhi gedung yang telah di persiapkan untuk proses wisuda. hampir semua rekan-rekannya di dampingi oleh ayah dan ibunda tercinta, hal itu membuat Arya teringat dengan alrm bundanya. tanpa terasa pria yang selalu tampak cool tersebut tiba tiba menitihkan air mata.
__ADS_1
Ini kali pertama bagi Mirna menyaksikan suaminya tersebut menitihkan air mata, bahkan saat pernikahan mereka berlangsung ia tidak melihat air mata itu. Mirna bisa menebak jika pria itu merindukan sosok ibunya, sebab sejak tadi pria itu Terus menatap ke arah rekan seangkatannya yang kini di dampingi oleh orang tua yang lengkap.
"Jangan bersedih aku mengerti dengan perasaan kamu, karena aku juga pernah ada di posisi kamu saat ini. percayalah saat ini di surga ada seorang ibu yang merasa bangga pada putranya, meski beliau tidak bisa lagi mendampingimu di sini." Dengan lembut Mirna menghibur hati Arya seraya mengelus punggung pria itu.
"Terima kasih." ucap Arya dan Mirna pun tersenyum tipis.
Hampir semua prosesi wisuda selesai, hingga tiba saatnya pengumuman lulusan terbaik untuk tahun ini dalam bidang akuntansi bisnis.
Mata Mirna berkaca kaca saat nama suaminya di nyatakan sebagai lulusan terbaik tahun ini, ia sungguh tidak menyangka jika pria itu akan menepati janjinya, yang saat itu di sangka Mirna hanya sebuah candaan.
Saat di persilahkan oleh MC untuk naik ke atas panggung untuk memberi sepatah dua patah kata, Arya dengan penuh wibawa segera beranjak menuju panggung.
Saat di panggung Arya secara spesial mengucapkan terima kasih untuk seseorang yang telah memberinya semangat untuk bisa mendapat gelar lulusan terbaik tahun ini.
Tiba tiba Mirna merasa semua mata tertuju padanya saat Arya menunjuk ke arahnya serta menyebutkan statusnya di depan ratusan pasang mata.
"Terima kasih untuk ayah serta istri saya tercinta karena telah memberikan saya semangat yang luar biasa, hingga saya bisa mendapatkan gelar lulusan terbaik di bidang akuntansi bisnis untuk tahun ini." seketika hampir semua mata memandang ke arah wanita yang mereka gelar Bu dosen cantik tersebut, ketika Arya yang kini mendapat gelar lulusan terbaik tahun ini menunjuk ke arahnya.
Meski banyak orang di sana, namun hampir semua mahasiswa dan mahasiswi bisa menebak jika yang di maksud Arya adalah Bu Mirna, sebab saat ini Bu Mirna duduk bersebelahan dengan ayahnya Arya.
"Apa sih kelebihannya sih anak tengil itu, sampai bisa mendapatkan hati Bu Mirna??." lanjut pria itu, sampai salah satu temannya mendengar ucapannya meski mahasiswa tersebut bergumam lirih.
"Pake nanya lagi Lo, udah jelas jelas tuh anak berdiri di sana sebagai lulusan terbaik." salah satu teman dari mahasiswa tadi menggeleng mendengar pertanyaan bodoh salah satu temannya.
"Sebenarnya Lo itu teman gue apa teman sih anak tengil itu sih??." ucapnya kesal.
"Ya teman Lo lah, habis Lo pake nanya sesuatu yang jawabannya udah jelas jelas di depan mata." jawab temannya tadi.
Setelah beberapa jam kemudian semua proses wisuda pun selesai. saat hendak keluar dari gedung tersebut nampak ketiga Sahabatnya telah menunggu di luar. Arya sempat terkejut melihat kehadiran ketiga sahabatnya, mengingat ia tidak mengabari ketiga sahabatnya tentang wisudanya hari ini.
Sebelum menghampiri ketiga Sahabatnya, Arya menatap ke arah istrinya seolah tengah bertanya, bagaimana bisa ketiga Sahabatnya hadir di sana.
"Aku yang memberitahu mereka." ucap Mirna seolah mengerti dengan maksud tatapan suaminya dan Arya pun tersenyum pada Mirna, tanpa di sangka wanita itu sebelumnya. sebelum melangkah menghampiri ketiga sahabatnya, Arya mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya.
"Cup."
__ADS_1
"Cie...cie...cie... pengantin baru." ucap salah satu mahasiswi yang terbilang cukup dekat Mirna.
"Apaan sih." sahut Mirna malu sebab merasa salah satu mahasiswi yang baru saja bergelar sarjana tersebut sengaja menggodanya.
"Btw selamat ya Bu atas pernikahannya." ucap gadis itu, sebelum Arya memanggil istrinya.
"Ayo sayang!!." panggilan Arya pada Bu Mirna semakin membuat gadis tadi tersebut tersenyum, sementara wajah Mirna sudah merah merona menahan malu.
"Kalau begitu ibu pamit." ucap Mirna kemudian beranjak menyusul langkah Arya.
Keduanya pun menghampiri ketiga sahabat Arya.
"Selamat ya Arya atas gelar barunya, semoga ilmunya berkah bisa bermanfaat bagi orang banyak." Kheano memberi selamat pada sahabatnya tersebut.
"Selamat ya bro, akhirnya berakhir juga gelar Lo sebagai mahasiswa abadi." Bobi pun ikut memberikan selamat pada salah satu Sahabatnya itu.
"Thanks bro, kalian sudah meluangkan waktu datang ke sini." ucap Arya terharu.
"Gelar suami sudah, gelar sarjana juga sudah barusan, gelar ayah kapan bro??." ucapan Andi dengan nada menggoda untuk mencairkan suasana haru.
"Bentar lagi Khe bakal nambah anak, masa Lo belum nyusul juga sih Ar??." belum sempat Arya bersuara, Bobi kembali menimpali dengan ucapan berbunyi skakmat.
"Apaan sih, baru juga gue terharu dengan kedatangan kalian, eh udah pake ngeledek lagi." sahut Arya.
Ingin memberi waktu pada suaminya bersama dengan ketiga sahabatnya, Mirna pun pamit ke ruangan dosen dengan alasan mengambil sesuatu.
Setelah melihat istrinya lumayan menjauh dari mereka, Arya pun menabok lengan Bobi dan Andi.
"Sialan Lo semua, nggak lihat apa wajah bini gue udah malu setengah mati tadi." ucap Arya kesal dengan tingkah kedua sahabatnya.
Bukannya merasa kedua sahabatnya tersebut malah tersenyum.
"Sepertinya ada yang takut tidur di luar nih." ledek Bobi.
Ketiganya pun kembali tertawa begitupun dengan Arya yang akhirnya ikut tersenyum seraya menggeleng melihat tingkah kedua sahabatnya, yang sikapnya lebih santai di banding Kheano.
__ADS_1