Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Mencari cincin pernikahan 1.


__ADS_3

Hari ini Andi sengaja meminta izin pada sahabat sekaligus atasannya, Kheano, untuk tak masuk kantor karena harus menemani calon istrinya, untuk mencari sepasang cincin pernikahan yang akan di gunakan dua Minggu mendatang.


Mata Andi tak berkedip sedikitpun saat memandang ke arah Rania yang baru saja tiba di teras depan untuk menghampiri dirinya.


Penampilan gadis itu sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya, sehingga membuat siapapun yang memandang gadis itu di buat heran sekaligus kagum, tak terkecuali calon suaminya,Andi. Andi nampak memperhatikan penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Jangan menatapku seperti itu!! aku juga tahu kali, kalau aku terlihat aneh dengan pakaian seperti ini. kalau bukan karena mama yang minta, aku juga nggak bakalan mengenakan dres seperti ini." cetus Rania saat pria itu terus menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.


"Siapa bilang kamu terlihat aneh." sahut Andi dengan senyum tipisnya.


"Jika tidak karena aneh, terus ngapain kamu ngeliatin aku sampai segitunya??." lanjut cetus Rania sembari memperbaiki cara berdirinya, sebab saat ini ia tengah mengenakan high heels. aksesoris wanita yang hampir tidak pernah di sentuhnya sebelumnya.


"Karena kamu terlihat cantik banget dengan penampilan seperti ini." jawaban Andi dengan tatapan manis membuat Rania jadi salah tingkah, namun dengan cepat gadis itu menepis perasaan tersebut. dengan segera berjalan menuju mobil Andi, sementara pria itu masih berdiri dengan posisi memasukan sebelah tangannya di saku celananya.


"Apa kamu mau terus berdiri di situ??." Rania nampak bertanya, saat pria itu belum juga beranjak sedikit pun. mendengar ucapan Rania membuat Andi lantas tersenyum sebelum menyusul langkah gadis itu.


Kemudian keduanya berlalu meninggalkan kediaman orang tua Rania dengan menggunakan mobil Andi.


"Kamu sudah sarapan??." Andi nampak bertanya pada gadis yang kini duduk di samping kemudi, dan gadis itu menjawab dengan gelengan.


"Kalau gitu kita mampir sarapan dulu sebelum mencari cincin pernikahan, kebetulan aku juga belum sarapan karena terburu buru takut calon istriku kelamaan menunggu." mendengar pria itu mengakuinya sebagai calon istri membuat jantung Rania kembali tak beraturan. untung saja ponsel ponsel Andi berdering sehingga Rania bisa bernapas lega, tidak perlu khawatir jika calon suaminya tersebut mendengar suara degup jantungnya yang kini berdegup lebih cepat dari biasanya.


Rania beralih menatap jalanan dari kaca jendela mobil, saat Andi menerima panggilan dari seorang kolega bisnis dengan menggunakan airphone blulut miliknya.


Jujur Rania di buat kagum pada Andi, saat pria itu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asing.

__ADS_1


"Boleh juga nih calon ayahnya anak anak gue." dalam hati Rania saat mendengar Pria itu berkomunikasi dengan bahasa asing.


Usai mematikan sambungan telepon, Andi yang melirik ke arah Rania nampak heran saat melihat gadis itu senyum senyum sendiri.


"Kamu kenapa??." ucapan Andi membuyarkan lamunan gadis itu.


"Hah,,,, enggak kok nggak papa." jawab Rania gelagapan saat tersadar dari lamunannya.


Sesaat kemudian Rania melontarkan pertanyaan yang membuat Andi mengeryit heran.


"Kamu yakin ingin menikahi gadis sepertiku??." pertanyaan Rania membuat Andi heran sekaligus bingung.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, jika aku tidak yakin mana mungkin aku nekat melamar kamu Rania, apalagi kita sama sekali tidak menjalin hubungan spesial. asal kamu tahu Ran, bukan sedikit keberanian yang harus aku kumpulkan, agar bisa melamar anak gadis dari seorang pengusaha ternama seperti dirimu. perasaan khawatir dan takut menyatu dalam pikiranku, takut lamaranku tak di terima oleh kedua orang tuamu karena aku hanyalah seorang pemuda biasa, yang mencari nafkah di perusahaan kakakmu" entah kenapa jawaban pria itu membuat Rania merasa terharu sekaligus merasa beruntung, karena Tuhan telah memberikan untuknya salah satu makhluknya yang baik untuk menjadi imam dalam rumah tangganya kelak.


"Tapi bagaimana kalau aku belum bisa mengurus rumah tangga dengan baik, belum bisa menjadi istri yang sesuai dengan harapan kamu??." pertanyaan Rania membuat pria itu tersenyum, sebelum kembali menjawab pertanyaan dari calon istrinya tersebut.


"Kamu mungkin boleh meragukan kemampuanku dalam memasak dan berdandan, namun untuk masalah kesetiaan kamu tidak meragukan itu. aku bukan tipe wanita yang suka berkhianat, lagi pula kamu pria pertama dan satu-satunya yang pernah dekat denganku." jawab Rania dengan penuh keyakinan, sementara Andi nampak mengusap lembut puncak kepala gadis itu saat mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan Rania.


"Itulah mengapa aku sampai jatuh hati padamu Raniaku sayang." dalam hati Andi masih dengan mengusap lembut puncak kepala gadis itu.


Keakraban kini mulai tercipta di antara keduanya, sampai mobil yang di kendarai Andi tiba di sebuah Mall terbesar di kota tersebut.


Andi segera turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Rania.


"Terima kasih." ucap Rania saat pria itu membuka pintu mobil untuknya.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih, karena aku akan sering melakukan hal seperti ini jika kita telah menikah nanti." jawab pria itu sebelum keduanya melangkah masuk ke dalam mall.


Saat masuk ke dalam mall, Andi segera mengajak Rania memasuki toko sepatu wanita, sehingga membuat gadis itu mengeryit heran.


"Mau ngapain kita di toko sepatu, bukannya kita kesini untuk mencari cincin pernikahan??." bukannya menjawab Andi malah melangkah mencari sebuah sepatu wanita, setelah memperhatikan hils yang kini di kenakan Rania.


"Saya mau yang ini mbak." kata Andi saat mengambil sebuah sepatu wanita dengan tipe teplek tentunya yang harganya tak becanda.


"Tentu saja, silahkan tuan." jawab pelayan toko sepatu dengan sopan.


Andi kembali melangkah menghampiri Rania yang masih berdiri tak jauh darinya.


Pria itu nampak berjongkok kemudian hendak melepaskan hils yang kini di kenakan Rania.


"Apa yang kamu lakukan??." tegur Rania, tak menyangka pria itu bahkan menyentuh kakinya, untuk melepaskan high heels yang kini di kenakannya.


"Aku bisa sendiri." lanjut Rania merasa tak enak, namun Karena pria itu tetap kekeh, akhirnya Rania pun pasrah kemudian menurut dengan mengangkat sedikit kakinya secara bergantian.


"Lain kali tidak perlu mengenakan sesuatu yang membuatmu tak nyaman, hanya karena ingin menyenangkan hati orang lain. karena sesungguhnya jika seseorang mencintai kita dengan tulus, dia tidak akan tega melihat pasangannya merasakan sesuatu yang membuatnya tak nyaman." ujar Andi usai mengganti high heels yang di kenakan gadis itu dengan sebuah sepatu tanpa heels.


"Terima kasih." jawab wanita itu dengan pandangan terus tertuju pada calon suaminya.


"Lain kali tidak perlu memperlakukan aku seperti ini, karena jika kak Kheano sampai tahu bisa di rajam aku, karena sudah memperlakukan sahabatnya dengan sesuka hati." jawaban polos Rania membuat Andi lantas kembali mengukir senyum manis di wajah tampannya seraya berkata.


"Kheano memang sahabatku, tapi kakakmu tidak berhak melarangku melakukan suatu hal untuk menyenangkan calon istriku." kata kata Andi sungguh membuat Rania seperti ingin melayang di udara, kalau saja dia punya sayap mungkin gadis itu sudah terbang ke awan akibat kata kata manis yang di lontarkan calon suaminya tersebut.

__ADS_1


"Baru tau calon suami aku tuh pintar ngegombal juga ternyata." kalimat Rania membuat Andi lantas kembali tersenyum saat kembali dari posisi sebelumnya.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku mau membayar sepatunya dulu, entar di kira kita mau nyolong lagi." kata Andi di sisa senyumnya, sebelum melangkah menuju meja kasir untuk membayar sepatu yang kini telah di kenakan Rania, sebelum keduanya melanjutkan langkahnya untuk mencari tempat sarapan. sebelum berlanjut ke toko perhiasan yang juga masih berada di mall yang sama.


__ADS_2