
Pagi ini Mirna yang tengah mengajar kepikiran dengan kondisi ayahnya, karena sebelum berangkat ke sekolah pagi tadi bi Atun mengabarkan padanya jika sampai dengan pagi ini, ayahnya belum juga makan walau sedikit pun.
Setelah jam mengajarnya usai Mirna segera meninggalkan SMA Nusa bangsa menuju kediaman ayahnya.
Saat melihat raut wajah bi Atun, bisa di pastikan bahwa ayahnya itu masih belum menyentuh makanannya.
"Seperti biasa bi, siapkan makanan lalu antar ke kamar ayah." seru Mirna sebelum menapaki anak tangga menuju kamar utama.
Saat masuk ke kamar ayahnya tidak bisa di pungkiri Mirna sangat sedih melihat kondisi ayahnya yang terlihat lebih pucat dari kemarin.
Sebenarnya Mirna sangat menyayangi ayahnya tersebut, apalagi semenjak ibu kandungnya meninggal saat ia masih berusia empat tahun, ayahnya memutuskan untuk tidak menikah lagi dan fokus merawatnya seorang diri.
Namun karena ayahnya terus menentang cita citanya menjadi seorang pendidik, Mirna pun memutuskan untuk keluar dari rumah ayahnya lalu menetap di sebuah apartemen yang di hadiahkan padanya saat ia berulang tahun yang tujuh belas tahun beberapa tahun yang lalu oleh sang ayah.
"Apa ayah tidak lelah bersikap kekanak Kanakan seperti ini??." ucap Mirna yang sebenarnya tahu jika saat ini ayahnya sengaja mogok makan agar dirinya menyerah dan menerima salah satu dari permintaannya.
"Apa kamu juga tidak lelah terus menentang dan menolak permintaan ayahmu ini." mendengar ayahnya yang bukan menjawab malah balik bertanya membuat Mirna menghela napas berat.
"Ayah, bukankah Mirna anak ayah satu satunya, tapi mengapa sejak dulu ayah selalu menentang keinginan Mirna?? apa ayah tidak sayang lagi sama Mirna." ucap Mirna yang kini duduk di tepi ranjang ayahnya.
"Justru ayah melakukan semua ini karena ayah sangat menyayangi kamu, ayah ingin kamu meneruskan ayah mengelola perusahaan kita agar masa depan kamu lebih baik. karena gajih sebagai seorang pendidik tidak bisa menjamin masa depan kamu." tegas ayahnya.
Tiba tiba ketukan dari balik pintu membuatnya keduanya berhenti berdebat.
"Masuk bi!!" seru Mirna yang bisa menebak jika yang tengah berada di balik pintu adalah Bi Atun, yang hendak membawakan makanan untuk sang ayah.
__ADS_1
"Ini makanan untuk tuan besar Nona." kata bi Atun saat menaruh nampan di atas sebuah nacas.
"Terima kasih bi." ucap Mirna pada bi Atun yang hendak berlalu meninggalkan kamar utama.
"Tidak perlu berterima kasih Nona, itu sudah tugas bibi." ucap Bi Atun sebelum benar benar berlalu meninggalkan kamar utama yang di tempati tuan besarnya.
"Sebaiknya ayah makan dulu!!." kata Mirna seraya menyendok bubur lalu mengarahkan pada mulut ayahnya.
"Mirna janji setelah ayah makan, Mirna akan menuruti salah satu permintaan ayah." ucap Mirna yang akhirnya menyerah juga, dan bersedia menerima salah satu permintaan dari ayahnya.
Sebenarnya bukan gajih yang membuat ayahnya sangat menentang keputusan Mirna menjadi seorang pendidik, melainkan suatu kejadian yang membuat ayahnya trauma dengan profesi pendidik. karena belum siap mengatakan apa yang sebenarnya menjadi alasan mengapa ia terus menentang putrinya tersebut, maka dengan terpaksa ayahnya menjadikan gajih kecil seorang pendidik sebagai alasan menengah keputusan putrinya.
Mungkin karena bahagia putrinya bersedia mengabulkan satu permintaannya atau karena memang sudah sangat lapar karena sudah beberapa hari sengaja mogok makan, sehingga tidak butuh waktu lama semangkok bubur ayam tandas di makan oleh ayahnya Mirna.
"Mirna akan menikah dengan pria pilihan ayah." ucap Mirna.
"Baiklah." jawab ayahnya sembari menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan, ayahnya sungguh tidak menyangka jika putrinya tersebut lebih memilih menikah dengan pria pilihannya yang baru akan lulus SMA, di banding meninggalkan profesinya sebagai seorang pendidik.
"Malam ini ayah akan membuat janji dengan tuan Pradika untuk mengajak serta putranya untuk makan malam bersama dengan kita." merasa rencana ayahnya terlalu cepat apalagi mulai besok siswanya akan segera ujian akhir, Mirna pun meminta ayahnya untuk mengundurkan rencana makan malam itu.
"Ayah boleh Mirna minta kelonggaran waktu sampai Minggu depan, soalnya mulai besok hingga seminggu ke depan Mirna akan sibuk karena siswa Mirna akan melaksanakan ujian akhir ayah." dengan wajah memelas Mirna mengatakan hal itu pada ayahnya.
"Baiklah." sahut ayahnya yang sebenarnya tidak tega memberi pilihan seperti itu pada putri kesayangannya, namun tidak ada pilihan lain lagi baginya. jika Mirna tidak mau melanjutkan mengelola perusahaan setidaknya pria yang akan menjadi suaminya bisa menggantikan mengelola perusahaan, begitulah pikir ayahnya Mirna saat ini, meski ia sendiri belum tahu pasti jika calon suami pilihannya tersebut tidak keberatan.
Mirna yang sudah berada di dapur segera mencuci mangkok bekas bubur ayahnya.
__ADS_1
"Tidak ada salahnya jika aku harus menikah dengan bocah pilihan ayah itu, setidaknya aku masih bisa melanjutkan mimpiku menjadi seorang dosen." Mirna yang kini mencuci mangkok bekas bubur ayahnya melamun, sampai ia tidak menyadari saat bi Atun memanggil namanya.
"Non...non Mirna kenapa, dari tadi bi Atun lihat asyik melamun."akhirnya teguran terakhir bi Atun membuyarkan lamunan Mirna.
"ee... enggak kok bi???." sahut Mirna yang baru saja sadar dari lamunannya.
Mirna terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, mengingat saat ini ia tinggal sendiri tanpa ART di apartemennya. Meski bi Atun melarangnya untuk mencuci mangkok bekas ayahnya, Mirna tetap bersikeras mencucinya sendiri dengan berbagai macam alasan.
Mengingat sekarang sudah pukul delapan malam,Mirna pamit pada ayahnya untuk kembali ke apartemen.
"Ayah, Mirna mau kembali ke apartemen, besok usai mengawasi anak anak ujian Mirna kesini lagi." ucap Mirna yang hendak mencium punggung tangan ayahnya.
"Kapan kamu akan kembali tinggal di sini bersama ayah?? apa kamu tidak kasian pada ayahmu yang sudah tua ini nak??." sebenarnya Mirna tidak tega meninggalkan ayahnya, namun ia harus tetap kembali ke apartemen mengingat semua berkas serta pakaian kerjanya semua ada di apartemen, akhirnya malam ini Mirna memutuskan untuk tetap kembali ke apartemen.
"Nanti kalau Mirna sudah menikah dengan pria pilihan ayah itu, Mirna janji akan kembali tinggal bersama ayah di rumah ini." ucap Mirna yang berjanji pada ayahnya.
"Kamu janji??" kembali tanya ayahnya untuk menyakinkan, lalu di jawab anggukan oleh Mirna.
"Iya Mirna janji ayah." lagi jawab Mirna, saat melihat ayahnya seperti tidak puas saat dirinya hanya mengangguk.
"Mirna pergi sekarang ayah." ucap Mirna sebelum benar benar berlalu meninggalkan kamar ayahnya menuju mobilnya yang di parkir di halaman depan.
Saat telah duduk di balik kemudi Mirna memejamkan matanya perlahan sembari menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan seolah sedang memberi semangat pada diri sendiri.
"Aku harus bisa melewati semua ini, mungkin ini semua adalah ujian bagiku dalam menggapai mimpi serta cita citaku." gumam Mirna setelah kembali membuka matanya, kemudian menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan rumah mewah ayahnya.
__ADS_1