
Di ruang operasi nampak seorang dokter pria tengah memimpin operasi pada pasien patah tulang atau yang lebih di kenal dengan istilah fraktur dalam ilmu kedokteran.
Dokter Ferdi terpaksa tidak bisa menghadiri pernikahan adik sepupunya, karena harus melakukan operasi pada pasien yang mengalami kecelakaan.
Meski tidak dapat menghadiri pernikahan Mirna namun Ferdi tetap memberi selamat pada adik sepupunya, lewat sebuah pesan di aplikasi hijau miliknya, sebelum mempersiapkan diri untuk operasi.
"Selamat atas pernikahan kamu baby girl, maaf Abang tidak bisa hadir di saat saat bahagia kamu." bunyi pesan yang di kirim Ferdi pada Mirna.
Beberapa saat setelah mengirim sebuah pesan pada adik sepupunya, kini Ferdi yang telah mengenakan Scrub Suits hendak memasuki kamar operasi.
Sebagai dokter umum hari ini Tiara bertugas sebagai asisten dokter spesialis ortopedi, yang tidak lain adalah pria yang sejak lama di kaguminya.
Melihat kemahiran dokter Ferdi dalam menggunakan alat alat operasi membuat Tiara semakin mengagumi pria itu, apalagi saat peluh mulai membasahi dahinya dokter Ferdi semakin terlihat seksi di mata Tiara.
Dengan sopan salah satu perawat yang bertugas di ruangan operasi, mengusap sedikit peluh di dahi dokter Ferdi dengan sebuah tisu, saat pria itu menunjuk ke arah dahinya yang mulai di basahi keringat meski suhu ruangan cukup dingin. ingin rasanya Tiara menggantikan posisi perawat itu, namun ia tidak mungkin melakukannya sebab itu bukan tugasnya.
"Dr Tiara, terus awasi detak jantung pasien!!." ucap dokter Ferdi pada Tiara selaku dr pendamping.
"Baik dok." jawab Tiara lalu memastikan kondisi jantung pasien dari alat monitor.
Operasi kali ini memakan waktu selama dua jam, mengingat pasien fraktur pada tulang paha.
Dokter Ferdi nampak keluar dari ruangan tersebut, usia melakukan operasi bersama dengan Tiara selaku asisten dokter spesialis.
Dokter Ferdi yang kini masih di dampingi Tiara melintas di koridor rumah sakit, menuju ruang kerjanya, sebelum menuju bangsal untuk memeriksa kondisi pasien lainnya pasca operasi.
Dokter Ferdi mampir ke ruangan untuk mengambil ponselnya yang tadi di letakan di laci, usai mengirim pesan pada adik sepupunya Mirna, sebelum ia menuju ruang operasi.
Usai mengambil ponselnya dokter Ferdi berjalan menuju ruang perawatan pasien, dengan Tiara yang masih setia mengekor di belakangnya, serta dua orang perawat.
"Selamat pagi." ucap dokter dengan senyum ramah, hampir semua pasiennya kagum pada keramahan pria tampan tersebut.
"Selamat pagi dok." sahut salah satu pasien yang telah di operasi dokter Ferdi tiga hari yang lalu.
Dokter Ferdi menerima sebuah map yang berisikan rekam medik pasien dari seorang perawat yang tadi ikut bersamanya.
"Kondisi bapak semakin baik, hasil observasi pasca operasi juga semakin tidak ada masalah, hari ini bapak sudah boleh pulang, tapi jangan lupa untuk kontrol tepat waktu!!." terang dokter Ferdi pada salah satu pasiennya tersebut.
"Dokter Tiara." panggil dokter Ferdi pada gadis yang kini berada di belakangnya.
"Iya dok." sahut Tiara, yang kini maju selangkah.
Dokter Ferdi menjelaskan tentang suatu kondisi pasien pada Tiara sambil sesekali melihat tulisan di buku reka medik pasien, Tiara menggangguk paham saat mendengar penjelasan dari pria itu.
Saking seriusnya memberi penjelasan, Dokter Ferdi maupun Tiara sampai tidak menyadari jika saat ini posisi keduanya sudah begitu dekat.
__ADS_1
Sampai suara pasiennya membuat dokter Ferdi maupun Tiara baru menyadari posisi keduanya.
"Pacar dokter cantik sekali." Sebagai masyarakat awam apalagi di usia menginjak kepala lima, bapak tersebut bahkan tidak berpikir jauh sebelum mengeluarkan kata kata.
Dokter Ferdi dan Tiara hanya bisa menganga mendengar ucapan bapak tersebut. untuk sesaat keduanya saling pandang, sebelum Tiara yang merasa tidak enak pada dokter Ferdi itu pun, menjelaskan kesalahan pahaman si bapak.
"Maaf pak saya bukan kekasihnya dokter Ferdi, saya hanya dokter umum yang bertugas sebagai asisten dokter Ferdi." jelas Tiara, merasa tidak enak hati, takut dokter Ferdi keberatan saat di sangka kekasihnya. dokter Ferdi hanya bisa mengangguk perlahan sembari melirik ke arah Tiara, sementara dua orang perawat yang ikut bersama keduanya, hanya bisa menggigit bibir bawah menahan senyum, melihat tingkah kedua Dokter yang terkenal masih jomblo di lingkungan kerja tersebut.
"Maaf dok, saya sudah lancang." pria paruh baya tersebut meminta maaf, seolah menyesali pertanyaannya tadi.
"Tidak masalah pak, tidak perlu minta maaf." jawab dokter Ferdi dengan ramah,. sementara Tiara hanya mengulum senyum kikuk.
Setelah melakukan pemeriksaan pada semua pasien, Dokter Ferdi kembali ke ruangannya, masih dengan Tiara yang setia mengekor di belakangnya, sementara kedua perawat tadi kembali melanjutkan tugasnya masing masing.
Seperti biasa sebelum kembali ke ruangannya Tiara harus melintas di depan ruangan dokter Ferdi.
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini." ucap Dokter Ferdi.
"Harusnya saya yang berterima kasih dok, karena sudah di izinkan menjadi asisten anda." jawab Tiara Formal, meski keduanya bertetangga namun mengingat saat ini mereka berada di lingkungan kerja, Tiara harus bersikap sopan dan formal pada pria itu.
Dokter Ferdi tersenyum tipis mendengar ucapan gadis itu.
Kini keduanya sudah berada di depan ruangan dokter Ferdi, saat hendak membuka pintu dokter Ferdi kembali menoleh ke arah Tiara yang hendak melanjutkan langkahnya.
"Apa kamu tidak keberatan jika saya mengajak kamu makan siang bersama." kalimat dokter Ferdi membuat Tiara segera menghentikan langkahnya sebelum menoleh.
"Maksud dokter saya!!." Tiara balik bertanya sembari menunjuk dirinya sendiri, saat memastikan tidak ada orang lain di sana selain ia dan pria tampan tersebut.
"Memangnya ada orang lain di sini selain kita berdua??." ucapan dari pria tampan yang disertai senyuman manis tersebut membuat Tiara jadi salah tingkah.
"Baik dok, saya tidak keberatan." jawab Tiara beberapa saat kemudian, seolah tengah menimbang nimbang ajakan dokter tampan itu, padahal dalam hati ingin rasanya ia berteriak secepatnya "Aku mau, mau banget malah." namun tentu itu hanya terbersit dalam hati Tiara, karena sebagai wanita ia tidak ingin terlihat seperti wanita gampangan di mata pria idamannya itu.
"Kalau begitu saya pamit Dok." Saking senangnya Tiara sampai lupa bertanya pada pria itu di mana mereka akan makan siang. sementara dokter Ferdi terus memperhatikan gadis itu sampai menghilang dari pandangan, baru kemudian ia masuk ke dalam ruangannya.
Begitu sampai di ruangannya, Tiara yang baru saja duduk di kursinya itu langsung menyadari kebodohannya.
"Bodoh banget sih gue, kenapa tadi gue nggak nanya bakal makan siang di restoran mana." gumam Tiara menepuk jidatnya.
"Kenapa sih nih Otak nggak bisa bekerja dengan sempurna saat di depan dokter Ferdi??." Tiara mengumpat dirinya sendiri.
Tidak ingin pekerjaan terbengkalai akibat terus memikirkan kebodohannya, Tiara segera melanjutkan pekerjaannya sampai waktu menunjukkan pukul dua belas siang.
Setelah selesai merapikan pekerjaan, Tiara segera keluar, saat hendak menutup kembali pintu, Tiara terkejut saat melihat dokter Ferdi yang kini tengah bersandar di dinding dengan bersekedap dada, tidak jauh dari pintu ruangannya.
"Dokter." Tiara tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.
__ADS_1
Sementara dokter Ferdi masih seperti biasa, terlihat penuh wibawa.
"Bagaimana, bisa pergi sekarang??." ucap pria tampan tersebut, Tiara pun mengangguk.
Sudah hampir setengah tahun Tiara bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit yang sama dengan dokter Ferdi, saat ia di nyatakan lulus sebagai dokter dengan nilai terbaik dari salah satu universitas kedokteran di tanah air.
Karena restoran yang di tuju terbilang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah sakit, hanya butuh waktu lima belas menit mobil yang di kemudikan Dokter Ferdi tiba di restoran.
Selama berada di mobil tadi, keduanya lebih banyak diam hanya sesekali dokter Ferdi yang memulai obrolan seperlunya.
Setelah di persilahkan pelayan pada sebuah meja yang kosong, dokter Ferdi segera melihat lihat buku menu yang tersedia di atas meja.
"Kamu mau pesan apa??." tanya pria itu pada Tiara.
"Terserah dokter saja!!." Dokter Ferdi tersenyum kala mendengar jawaban Tiara.
"Ya udah kalau gitu." ucap dokter Ferdi pasrah, baginya bukan tentang menu makanan, tapi makan bersama dengan siapa itu yang penting bagi pria tampan itu saat ini.
"Apa benar kata orang, semua gadis kalau di tanya mau pesan apa jawabannya terserah." dalam hati Dokter Ferdi sembari menarik naik sudut bibirnya.
"Pesan ini dua Porsi sama minumnya es teh dua sama es jeruk juga dua." ucap dokter Ferdi seraya menunjuk ke arah tulisan menu pada pelayan restoran.
"Baik tuan." jawab pelayan setelah mencatat pesanan Ferdi.
Sembari menunggu pesanannya, pria itu membuka obrolan, Mengingat sejak tadi tidak banyak obrolan di antara keduanya. karena tidak punya topik, dokter Ferdi pun menjadikan pernikahan adik sepupunya sebagai topik obrolan.
"Sebenarnya hari ini adalah hari pernikahan adik sepupu saya, tapi karena alasan pekerjaan saya terpaksa tidak bisa hadir ." mendengar ucapan pria itu membuat Tiara menatap ke arah pria itu.
"Jadi hari ini hari pernikahan adik sepupu dokter." Tiara merasa kagum pada pria tersebut, sebab Demi menjujung tinggi profesionalitas sebagai dokter, ia bahkan harus absen di acara terpenting salah satu anggota keluarganya.
"Hemt." sahut dokter Ferdi sembari menyesap es teh yang baru saja di hidangkan pelayan resto.
"Kalau dokter sendiri, mengapa sampai saat ini belum juga mencari pendamping hidup??." pertanyaan Tiara sontak membuat Dokter Ferdi yang masih menyesap es teh miliknya tersedak.
"Uhuk,,,uhuk,,,,uhuk,,,,." dokter Ferdi batuk karena kaget dengan pertanyaan Tiara, sementara Tiara langsung merasa tidak enak.
"Maaf dok, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan dokter." ucap Tiara dengan raut wajah sungguh sungguh, sebelum menundukkan kepala merasa bersalah.
"Anda tidak perlu minta maaf dokter." jawab Dokter Ferdi kemudian, sementara Tiara masih merasa tidak enak hati karena pertanyaannya tadi.
Setelah diam sejenak akhirnya dokter Ferdi kembali bercerita.
"Sebenarnya sudah sejak lama saya mengagumi seorang gadis, tapi sampai saat ini saya belum berani mengungkapkan perasaan saya pada gadis itu." Hati Tiara terasa begitu nyeri saat mendengar pria yang sudah sejak lama di idamkannya memiliki perasaan khusus pada wanita lain, meski begitu Tiara tetap berusaha bersikap biasa di depan dokter Ferdi.
"Pasti gadis itu sangat beruntung bisa di sukai pria mapan seperti dokter, tapi mengapa tidak mengungkapkan perasaan dokter pada gadis itu??." Tiara melanjutkan obrolan seolah saat ini ia baik baik saja.
__ADS_1
"Saya belum siap menerima penolakan, itu sebabnya saya belum berani mengungkapkan perasaan saya pada gadis itu. apalagi usia saya dengan gadis itu terpaut lumayan jauh." lanjut terang dokter Ferdi.
Tiara hanya mengangguk mendengar penjelasan pria tampan itu, sampai pesanan mereka tiba. setelah menghabiskan makanan masing masing, keduanya memutuskan kembali ke rumah sakit.