Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Mie instan.


__ADS_3

Di sebuah rumah Yang hanya berukuran lima kali tujuh meter, di mana Tiara sudah menginap selama beberapa hari terakhir selama di tugaskan di kampung tersebut, kini dua orang insan memulai hidup bersama sebagai sepasang suami istri.


Malam ini di rumah itu hanya ada keduanya, di mana kedua orang tua Tiara, adiknya, Alisya serta suami telah kembali ke kota, Alisya takut jika Kesya akan mencari keberadaannya, itu sebabnya Alisya dan Kheano memutuskan untuk kembali malam ini juga, begitu pun dengan kedua orangtuanya.


Sudah beberapa malam terakhir Tiara menginap seorang diri di kamar ini, namun serasa mimpi, malam ini ada seorang pria yang kini ada bersamanya. Tiara nampak duduk di sisi ranjang, sementara Dokter Ferdi duduk di sebuah kursi yang juga masih berada di kamar tersebut.


Keduanya nampak diam, sampai beberapa saat kemudian dokter Ferdi yang merasa gerah menanyakan keberadaan handuk, pada gadis cantik yang kini sah menjadi istrinya.


"Apa aku boleh meminjam handuk??." tanya dokter Ferdi yang hendak ke kamar mandi.


"Tentu." jawab Tiara.


Tiara segera beranjak menuju sebuah lemari yang berukuran satu badan, di mana ia menyimpan perlengkapannya. Tiara mengambil sebuah handuk yang belum pernah di pakai lalu menyerahkannya pada pria itu.


"Ini." ucap Tiara sembari menyerahkan handuk bersih pada dokter Ferdi.


"Terima kasih."ucap dokter Ferdi saat menerima handuk dari tangan Tiara, kemudian melangkah menuju kamar mandi, saat hendak membuka handle pintu kamar mandi, dokter Ferdi kembali menoleh ke arah Tiara.


"Maaf sudah merepotkanmu." kembali ucap dokter Ferdi sebelum melanjutkan langkahnya, lalu menghilang di balik pintu. melihat raut wajah datar yang di perlihatkan pria yang baru beberapa waktu yang lalu sah menjadi suaminya, membuat hati Tiara terasa sesak, seakan asupan oksigen yang dihelanya saat ini tidak mencukupi asupan oksigen yang di butuhkan paru parunya.


"Aku juga minta maaf sebab secara tidak langsung telah menjerumuskan anda ke dalam situasi seperti saat ini." Tiara bermonolog, seolah sedang membalas ucapan maaf dari dokter Ferdi.


Selesai dengan aktivitas mandinya, dokter Ferdi keluar dari kamar mandi masih dengan menggunakan pakaian yang tadi digunakannya, mengingat dokter Ferdi rencananya hanya memberikan penyuluhan selama sehari makanya ia tidak membawa baju cadangan, saat hendak menuju kampung tersebut siang tadi.


Saat keluar dari kamar mandi dokter Ferdi tidak menemukan keberadaan Tiara di kamar, nanti setelah beberapa saat kemudian terdengar seseorang membuka handle pintu dari arah luar. ternyata itu adalah Tiara, yang membawa sebuah kantong kresek di tangannya.


"Ceklek." dokter Ferdi menoleh saat mendengar seseorang membuka handle pintu.


Tiara melangkah mendekat ke arah suaminya yang tengah mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil di depan cermin.


"Ini."~tiara.

__ADS_1


"Apa itu??." tanya dokter Ferdi saat Tiara menyerahkan sebuah kresek padanya.


"Pasti tidak nyaman jika kembali mengenakan pakaian yang sudah seharian dokter kenakan, ini ada sepasang pakaian pria, tadi saya meminta pak Udin untuk membelinya di pasar malam. maaf jika pakaiannya tidak sesuai dengan selera dokter, mengingat ini di perkampungan jadi pak Udin hanya bisa membeli di pasar malam." ucap Tiara yang kemudian menundukkan kepalanya karena merasa tidak enak dengan pria itu.


"Tidak masalah, terima kasih sudah peduli sama saya." ucap Dokter Ferdi setelah menerima kantong kresek dari tangan Tiara.


"Ada apa??." tanya dokter Ferdi saat melihat Tiara belum beranjak dari posisinya, seakan hendak mengatakan sesuatu.


"Dokter saya_"ucap Tiara yang menggantung kalimatnya.


Entah kenapa jantung dokter Ferdi berdebar kencang, saat Tiara malah menggantungkan kalimatnya.


"Katakanlah!!" titah dokter Ferdi seraya mengangkat wajah Tiara dengan telunjuknya, karena sejak tadi gadis itu terus menunduk, seakan takut bertatapan dengan matanya.


"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan!!." kembali ucap dokter Ferdi.


"Maafkan saya karena telah mempermalukan serta menyeret dokter ke dalam situasi seperti ini, maaf karena saya juga anda harus terpaksa menikahi saya." ucap gadis itu dengan wajah bersalah.


Seulas senyum terukir di bibir pria tampan itu, saat mendengar kalimat Tiara.


"Ngomong ngomong saya lapar, apa di sini ada makanan??." tanya dokter Ferdi guna mengalihkan perhatian gadis itu, agar tidak merasa bersalah terus menerus.


Tiara baru sadar jika sejak tiba di kampung ini siang tadi, dokter Ferdi bahkan belum mengisi perutnya sama sekali.


"Astaga, aku sampai lupa, di kulkas hanya ada mi instan, apa dokter tidak keberatan jika hanya makan mie instan??." tanya Tiara, dokter Ferdi pun mengangguk dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya, dan itu semakin menambah ketampanan pria itu.


"Baiklah, tunggu sebentar saya buatkan mie instan untuk dokter!!!." ucap Tiara lalu beranjak keluar dari kamar yang bisa di bilang sangat sederhana tersebut.


Tiara malah di buat heran saat pria itu malah mengekor di belakangnya, saat ia menuju dapur.


"Dokter tunggu saja di kamar, nanti saya panggil kalau mie nya sudah matang!" ucap Tiara, namun pria tetap kekeh mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Memangnya salah jika ingin menemani istri memasak??." kalimat dokter Ferdi yang menyematkan kata istri, membuat Tiara sulit menelan salivanya.


Jantung Tiara berdebar tak menentu saat pria itu mengakuinya sebagai istri, hingga saat tengah mengiris sawi tidak sengaja ia malah melukai tangannya sendiri.


"Awrgt." ringis Tiara, saat pisau dapur melukai jarinya, hingga darah segar nampak membasahi jemarinya.


Dokter Ferdi yang menyadari itu segera memasukan jari Tiara ke mulutnya. dengan sigap dokter Ferdi mengisap jari gadis itu, sampai jari Tiara tak lagi mengeluarkan darah.


Sementara Tiara menjadi salah tingkah dengan sikap dokter Ferdi yang menurutnya begitu perhatian.


"Ingat Tiara, ada seseorang yang kini mengisi hati dokter Ferdi, jangan sampai lupa Tiara, dia menikahimu karena keadaan." dalam hati Tiara, segera menyadarkan dirinya agar tidak terbuai dengan sikap manis pria yang telah sah menjadi imam dalam rumah tangganya.


"sakit banget ya??." tanya pria itu dengan wajah khawatir.


"Udah nggak sakit dok." jawab Alisya sekenanya.


Tiara semakin salah tingkah saat pria itu bukannya menjauh darinya, malah semakin mendekatkan wajahnya ke arah Tiara. sehingga membuat Tiara mundur selangkah, namun untuk langkah selanjutnya punggung gadis itu membentur meja kompor, sehingga gadis itu mentok dengan posisi terduduk di sisi meja.


Dokter Ferdi menatap lekat wajah gadis itu, sehingga membuat Tiara yang tak lagi bisa menghindar hanya bisa sedikit menundukkan wajahnya.


"Di sini bukan rumah sakit, bisa manggilnya nggak usah pake kata dokter?? Ucap dokter Ferdi,yang wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajah Tiara.


Gadis itu segera menengadah, agar bisa menatap pria itu, sehingga keduanya pun kini bersitatap.


"Terus saya harus panggil apa??." mendengar kepolosan gadis itu membuat dokter Ferdi tersenyum lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari gadis itu.


"Terserah kamu saja, sayang juga nggak masalah." ucap dokter Ferdi, yang kini melangkah menuju kulkas untuk mengambil dua bungkus mie instan, sementara Tiara di buat terbelalak saat mendengar kata sayang dari pria itu.


"Saya cuma bercanda.!!." ucap dokter Ferdi saat menutup kembali kulkas, lalu melangkah mendekat ke arah Tiara, lalu memberi dua bungkus mie instan pada gadis itu.


"Kamu boleh panggil mas atau Abang!!." lanjut dokter Ferdi dengan seulas senyum manis senantiasa menghiasi wajah tampannya.

__ADS_1


"Iya ma_s." mendengar gadis itu mulai memanggilnya dengan sebutan mas, membuat dokter Ferdi tersenyum lebar, meski panggilan itu masih terdengar terbata bata.


"Gitu dong!!." ucap pria itu dengan manisnya, sehingga membuat Tiara semakin takut lupa diri, jika pria itu telah mencintai seorang gadis.


__ADS_2