Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Kecupan sayang.


__ADS_3

Andi menepikan mobilnya ketika melihat sebuah rumah makan Padang yang terbilang sederhana. Arya turun dari mobil, bagaimana pun sebagai istri Mirna mengikuti langkah suaminya, saat pria itu telah membukakan pintu mobil untuknya.


Arya menarik sebuah kursi sebelum mempersilahkan wanita itu duduk. ia pun menarik sebuah kursi kemudian duduk berhadapan dengan istrinya.


"Maaf hanya bisa mengajak kamu makan di tempat sederhana seperti ini" Ucap Arya segan merasa tidak enak mengajak seorang anak dari pengusaha ternama makan di sebuah rumah makan sederhana.


Sebenarnya Arya bisa saja menerima black card pemberian ayahnya untuk mencukupi kebutuhannya serta istri tercinta, namun sebagai pria yang sudah menikah Arya bertekad untuk menghidupi wanitanya dengan hasil jerih payahnya sendiri. itu sebabnya ia sengaja menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan mereka, sebelum ia mulai bekerja di perusahaan ayahnya. menikah dengan modal dari ayahnya saja sudah cukup buat Arya,ia tidak ingin menghidupi istrinya dengan fasilitas dari ayahnya lagi.


"Tidak masalah." sahut Mirna, tanpa sadar sebuah senyum terukir di wajah cantiknya, Arya pun ikut tersenyum saat melihat wajah cantik itu mengeluarkan aura kecantikan alami, saat tersenyum padanya.


Setelah dua porsi makanan khas Padang tersaji di meja, keduanya pun mulai makan hingga dua porsi makanan itu pun tandas.


Setelah membayar dua porsi makanan yang menjadi menu makan siang mereka hari ini, Arya pun menuju meja kasir untuk membayar, sebelum keduanya kembali ke mobil.


Arya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah ayah mertuanya, dimana mereka tinggal sudah beberapa hari terakhir setelah resmi menjadi sepasang suami istri.


Setibanya di rumah, Arya membukakan pintu mobil untuk istrinya, sebelum ia hendak kembali membuka pintu mobil.


"Kamu mau pergi kemana??." pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut wanita itu, saat melihat suaminya hendak kembali membuka pintu mobil.


"Aku mau ke kantor ayah, mulai hari ini aku akan bekerja di kantor ayah setelah kembali dari kampus." sahut Arya yang kini hendak masuk ke mobil.


"Bagaimana bisa kamu bekerja sementara kamu harus segera menyelesaikan skripsi." protes Mirna, sementara Arya langsung tersenyum mendengar kalimat istrinya, dari nada bicara wanita itu terdengar jelas jika ia khawatir.


Arya tersenyum melihat raut wajah Mirna yang menurutnya begitu menggemaskan, saat mengkhawatirkan soalnya skripsinya. saking gemasnya Arya sampai mencubit manja hidung mancung istrinya.


"Ingat ya Bu dosen cantik, selain harus menyelesaikan skripsi, mahasiswa mu ini juga harus bekerja, karena ada seorang istri yang harus aku nafkahi dari hasil keringatku sendiri." entah kenapa hati Mirna begitu tersentuh saat mendengar kalimat pria yang selalu di sebutnya dengan embel embel bocah tersebut. Mirna memang sering menyebut Arya dengan embel embel bocah, namun itu di lakukan Mirna di belakang Arya, sebab ia juga tidak berani mengatakannya di depan pria itu langsung, apalagi setelah mereka sah menjadi pasangan suami istri.


Setelah berpikir sejenak Mirna pun menggangguk, karena baginya percuma juga harus berdebat dengan pria itu, sudah pasti ia juga yang akan kalah.

__ADS_1


"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, aku tidak mungkin bisa mencegahnya lagi." sahut Mirna.


"Begitu dong, itu baru nyonya Arya!!." ucap pria itu dengan senyum menggoda.


Cup


Seketika jantung Mirna seakan ingin melompat dari tempatnya,saat Arya mengecup lembut puncak kepalanya.


"Aku berangkat ya." pamit pria itu sebelum membuka pintu mobilnya.


"Hemt." sahut Mirna singkat, sebab saat ini detak jantungnya semakin tak beraturan.


Mirna pun menyaksikan mobil Suaminya yang perlahan menghilang dari balik gerbang.


"Aku rasa saat ini jantungku memang sedang bermasalah." Mirna menepuk nepuk dadanya berharap debaran di sana sedikit berkurang.


Mirna berjalan menuju kamarnya tiba tiba saat baru saja beberapa langkah, suara ayahnya membuat wanita itu menoleh.


"Apa suami kamu belum pulang??." tanya pria paruh baya itu pada putri semata wayangnya.


"Tadi Arya sudah pulang bersama Mirna ayah, tapi sekarang pergi lagi. katanya mulai hari ini Arya akan bekerja di perusahaan ayahnya." jawab Mirna, yang kini berjalan menghampiri ayahnya yang tengah duduk di Sofa.


"Ayah bangga sama suami kamu nak, sekalipun ayah menawarkan posisi CEO di perusahaan ayah padanya, tapi nak Arya lebih memilih menjadi pegawai biasa di perusahaan ayahnya. katanya ingin memberi nafkah istrinya dari hasil jerih payah yang sesuai dengan kemampuannya saat ini. ayah tidak bisa memaksakan kehendak padanya, sebagai mertua, ayah harus bisa menerima dan menghargai keputusannya. karena dulu ayah juga melakukan hal yang sama saat menikah dengan ibu kamu, ayah lebih memilih membangun perusahaan sendiri dari nol daripada menerima tawaran dari kakek kamu untuk meneruskan perusahaan miliknya." mendengar penjelasan ayahnya yang panjang kali lebar, semakin membuat Mirna sadar jika selama ini ia telah salah dengan mengatai suaminya itu bocah, bagaimana tidak, pemikiran Arya ternyata sangat dewasa.


Meski begitu Mirna tetap saja khawatir Arya tidak bisa menyelesaikan skripsinya dengan sempurna, karena harus membagi waktunya untuk bekerja.


"Kamu tidak perlu khawatir nak, ayah yakin nak Arya adalah pria yang bertanggung jawab, sebagai istri ayah berharap kamu mendukung sepenuhnya keputusan suami kamu!!." Ayahnya nampak menasehati putrinya, dan Mirna pun menggangguk paham, sebelum ia pamit ke kamar.


"Ayah Mirna ke kamar dulu, Mirna sudah gerah ingin mandi." pamit wanita itu pada ayahnya

__ADS_1


"Iya nak, ayah juga akan segera kembali ke kantor, karena sebentar lagi akan ada rapat penting dengan dewan direksi." sahut ayahnya sembari memasukkan beberapa berkas penting ke dalam tas kerjanya.


***


Arya yang kini telah berada di kantor ayahnya, nampak sibuk di hari pertamanya sebagai pegawai baru.


Sebenarnya ayahnya juga menawarkan posisi yang strategis untuk putranya itu, namun dengan alasan belum menguasai sepenuhnya, Arya menolak tawaran ayahnya sebagai CEO di perusahaan tersebut.


Sudah hampir seharian Arya berkutat dengan beberapa berkas di meja kerjanya, tidak sedikit pegawai wanita yang berada satu ruangan dengannya mencuri pandang ke arah pria muda tersebut.


Salah satunya Anita, salah satu pegawai wanita yang sudah tiga tahun bekerja di perusahaan ayahnya itu, terus berusaha mencari perhatian Arya. berbagai alasan di gunakan Anita hanya untuk sekedar bisa mengobrol dengan pria tampan itu.


Mungkin karena Anita sendiri tidak mengetahui jika Arya adalah putra dari pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, apalagi Anita juga tidak mengetahui jika pria itu sudah tak sendiri lagi.


Seperti saat ini, Anita menawarkan Arya untuk sekedar minum kopi bersama, di cafe yang letaknya tidak jauh dari perusahaan.


"Pak Arya kebetulan saya mau minum kopi, apa pak Arya tidak mau ikut sekalian!!." dengan gaya di buat manja, gadis itu mengajak Arya ikut bersama dengannya.


"Maaf nona Anita, tapi saya masih harus segera menyelesaikan pekerjaan saya." untuk sesaat Arya mengalihkan perhatiannya dari berkas di hadapannya, untuk menjawab tawaran gadis bernama Anita itu.


"Pekerjaannya kan bisa di lanjutkan lagi setelah minum kopi!!." dengan lancangnya Anita menutup berkas yang di pegang Arya.


Seketika tatapan kurang bersahabat nampak di wajah pria itu, saat gadis bernama Anita berani bersikap demikian.


"Maaf nona, tapi saya tetap harus segera menyelesaikan pekerjaan saya, agar bisa segera pulang. karena ada seorang istri yang tengah menungguku di rumah." dengan tatapan dingin Arya menjawab tawaran yang terkesan memaksa dari gadis itu, sementara Anita hanya tersenyum seakan tidak percaya dengan ucapan pria itu. karena menurutnya pria semuda Arya tidak mungkin sudah menikah, hanya karena ingin menolaknya makanya pria itu sengaja berkata demikian.


"Baiklah pak Arya, jika anda memang tidak bisa ikut sekarang, kita bisa minum kopi bersama di lain waktu." dengan nada bicara di buat mendayu, gadis itu beranjak meninggalkan meja kerja Arya, sementara Arya hanya bisa menggeleng, seakan geli akan sikap gadis itu.


"Apa semua gadis jaman sekarang bersikap genit seperti itu, aku pikir gadis tipe seperti itu hanya ada di dalam sinetron, ternyata di dunia nyata juga ada." ucap Arya bergidik geli teringat sikap Anita tadi.

__ADS_1


__ADS_2