
Waktu kini telah menunjukkan pukul dua belas malam, sepasang pengantin dadakan tersebut nampak Tengah menikmati semangkuk mie instan.
Sembari menikmati semangkuk mie instan buatan pertama dari sang istri, dokter Ferdi membuka obrolan di antara keduanya.
"Kata dokter Adam kamu menolaknya karena sudah ada seseorang yang mengisi hati kamu." ucap dokter Ferdi saat teringat akan ucapan salah satu rekan sejawatnya, yang pernah mengakui perasaannya pada Tiara namun di tolak oleh gadis itu, dengan alasan sudah ada seseorang yang mengisi hatinya.
Sementara Tiara terbelalak saat mendengar kalimat yang di ucapkan pria yang kini berstatus suaminya, untung saja ia tidak sampai tersedak saat mendengar kalimat pria itu.
"Memangnya siapa pria yang di maksud dokter Adam??." bukannya menjawab Tiara malah balik bertanya, sehingga membuat pria itu tersenyum meski sedikit terpaksa. Tiara bertanya demikian, sebab berpikir jika dokter Ferdi sudah mengetahui tentang sosok pria yang selama ini di kaguminya.
"Kenapa malah bertanya pada saya, kan kamu yang tahu." sahut dokter Ferdi.
"Jika tidak ingin, maka tidak perlu di jawab!." meski merasa sakit saat tahu gadis itu telah jatuh cinta pada seorang pria, namun dokter Ferdi tetap berusaha bersikap tenang di depan Tiara.
"Seandainya kamu tahu jika pria itu adalah kamu, mungkin kamu malah akan menghindari aku." dalam hati Tiara, yang merasa dirinya begitu menyedihkan.
Usai menandaskan mie instan di mangkuk masing masing, dokter Ferdi segera kembali ke kamar, sementara Tiara segera mencuci mangkok bekas makan keduanya, sebelum menyusul suaminya ke kamar.
"Ceklek." Tiara membuka pintu kamar, di sana nampak dokter Ferdi tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.
"Maaf tidak membantu mencuci mangkok, soalnya saya harus mengurus data salah satu pasien." ucap pria itu saat melihat Tiara baru saja masuk.
"Tidak masalah, lagi pula itu sudah menjadi tugas saya sebagai istri." tanpa sadar Tiara mengatakan dirinya sebagai istri, sontak membuat dokter Ferdi beralih dari laptopnya dan menatap lekat ke arahnya.
"Terima kasih sudah menjadi istri yang baik." ucap pria itu tulus seraya menarik sudut bibirnya ke atas, sehingga membuat Tiara malu karena baru menyadari kata katanya tadi.
"Aduh ngomong apa sih aku, nih bibir kadang kadang nggak bisa di ajak kompromi." batin Tiara, saat menyadari kalimatnya tadi.
__ADS_1
Tidak ingin semakin di buat malu dengan kalimatnya tadi, Tiara pun segera naik ke tempat tidur lalu menutup hampir seluruh bagian tubuhnya dengan selimut.
Tiara yang kini tengah berbaring, berpikir untuk segera meninggalkan kampung itu besok pagi, ia tidak ingin melanjutkan tugasnya di sana, karena menurutnya akan sulit baginya untuk berkomunikasi dengan warga yang tidak mau mendengar penjelasan dari orang lain. dari pada kejadian seperti malam ini terulang lagi, Tiara memutuskan untuk di gantikan oleh dokter lain di kampung itu. lelah dengan memikirkan rencana besok, membuat Tiara terlelap dalam mimpinya. sampai ia tidak menyadari saat suaminya ikut naik dan tidur dengan berbagi selimut dengannya.
Hingga jam lima pagi saat hendak melakukan kewajiban sebagai hamba Tuhan, Tiara terkejut saat merasakan sesuatu yang terasa berat menindih perutnya. saat hendak berteriak saking terkejutnya, tiba tiba ingatan Tiara akan pria itu yang melafazkan kalimat ijab qobul, membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
Saat hendak menurunkan tangan kekar itu dari perutnya, tiba tiba pria itu membuka matanya.
"Kamu sudah bangun??." ucap Ferdi dengan suara berat khas orang Bangun tidur.
"Iya, aku mau sholat subuh." sahut Tiara, membuat Ferdi kembali mengerjapkan matanya, sementara Tiara segera turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Seketika langkah Tiara terhenti, saat mendengar kalimat dari pria yang semalam seranjang dengannya tersebut.
"Sekarang sudah jam lima takut waktu subuh keburu habis, mandi bareng mau nggak??." kalimat pria itu membuat langkah Tiara terhenti lalu menoleh dengan tatapan sengit.
"Mas jangan aneh aneh deh." sahut Tiara, yang jantungnya kini berdegup kencang saat mendengar pria itu mengatakan hal semacam itu dengan Santainya.
"Namanya juga usaha." lanjut dokter Ferdi lirih, namun masih terdengar sayup di telinga Tiara yang hendak melangkah ke kamar mandi.
"Mas ngomong apa barusan??." ujar gadis itu, memastikan apa yang baru saja di dengarnya.
"Enggak, mas nggak ngomong apa apa." jawab Dokter Ferdi lalu ikut turun dari tempat tidur.
Setelah Tiara usai mandi, dokter Ferdi pun menggantikan posisi Tiara di kamar mandi untuk bersih bersih karena hendak sholat, kali ini pria itu tak lagi sholat sendiri melainkan kini ia harus mengimami seorang gadis yang telah berstatus istri baginya.
Setelah bersiap keduanya pun sholat subuh berjamaah, dengan merdunya pria itu melantunkan ayat ayat suci Alquran, sehingga membuat Tiara yang kini menjadi makmum merasa tidak salah jika selama ini dirinya menaruh hati pada pria itu.
__ADS_1
Selesai sholat Tiara mencium punggung tangan suaminya, secara spontan Dokter Ferdi mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala Tiara yang di lapisi mukena putih.meski sempat terkejut dengan sikap manis suaminya, namun Tiara tidak menunjukkan penolakan. usai mencium puncak kepala gadis itu, dengan lembut dokter Ferdi mengusap kepala Tiara. tanpa sepengetahuan gadis itu dokter Ferdi mengucapkan doa, seraya mengelus lembut puncak kepalanya.
"Jadilah istri untuk anak anakku." dalam hati pria itu saat mengelus lembut puncak kepala istrinya. sementara Tiara hanynampak diam sama sekali tidak menolak perlakuan manis pria itu, gadis itu malah terkesan menikmati sikap manis dari pria yang sejak lama di kaguminya tersebut.
"Mas pagi ini aku berencana kembali ke kota, aku tidak ingin melanjutkan tugasku di sini, aku akan meminta pihak rumah sakit untuk mengantikan posisiku dengan dokter lain. aku tidak ingin lagi bertugas di sini." Tiara mengutarakan niatnya pada suaminya.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu mas tidak bisa mencegahnya, sebagai suami mas hanya bisa mendukung apapun yang sudah menjadi keputusan kamu." Tiara semakin kagum pada pria itu, saat mendengar kata katanya yang begitu bijak.
"Memangnya Mas nggak marah apa dengan sikap semena mena orang kampung sini??." pertanyaan gadis itu membuat dokter Ferdi malah tersenyum.
"Sebenarnya mas juga kesal karena sudah di tuduh berbuat senonoh, tapi di sisi lain mas juga bersyukur, karena secara tidak langsung warga kampung sini sudah membantu mas mencari istri." jawaban pria itu membuat Tiara perlahan mencerna kalimat pria itu.
"Memangnya Mas nggak nyesel nikahin Tiara??." kembali tanya gadis itu saat belum juga berhasil mencerna ucapan suaminya.
"Mas tidak pernah menyesali setiap keputusan yang telah mas ambil." jawaban pria itu membuat Tiara kembali teringat akan ucapan pria itu tempo hari, saat keduanya tengah makan siang bersama.
"Bukannya mas menaruh hati pada seorang gadis." ucap gadis itu yang tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya saat bertutur.
Sementara Dokter Ferdi pun langsung tersenyum, kala teringat akan ucapannya pada gadis itu tempo hari.
"Oh itu, memangnya kamu nggak mau tahu siapa gadis itu??." masih dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya, dokter Ferdi kembali berujar.
"Nggak perlu." sahut Tiara dengan wajah dongkol, sementara dokter Ferdi langsung mencubit gemas hidung mancung istrinya itu.
"Yakin nggak mau tahu??." dengan nada menggoda dokter Ferdi kembali berujar.
"Nggak usah, nggak perlu." jawab Tiara yang kini beranjak hendak membuka mukenah nya.
__ADS_1
"Dasar suami nggak punya hati, masa iya mau bilang nama gadis lain di depan istrinya." dalam hati Tiara dongkol, sementara dokter Ferdi ikut beranjak dari duduknya lalu memeluk gadis itu dari belakang.
"Kenapa kamu nggak mau tahu, sementara mas justru ingin sekali mengetahui, siapa sebenarnya pria beruntung yang kini mengisi hati kamu." ucap pria itu saat memeluk istrinya dari belakang.