
Usai menunaikan ibadah sholat subuh keduanya kembali melanjutkan tidur, berhubung semalam keduanya benar-benar kurang tidur akibat aktivitas dewasa.
Saat jam delapan pagi Arya mengerjakan matanya saat mendengar ponselnya berdering.
Arya segera menjauh dari Mirna yang nampak masih terlelap di bawah selimut, untuk menerima panggilan yang ternyata dari ayahnya.
"Assalamualaikum,,,ayah." ucap Arya saat menerima panggilan dari ayahnya.
"Waallaikumsalam,,,Arya saat ini ayah sedang berada di puncak ayah akan mengunjungi Vila kita, mungkin ayah akan pulang besok, karena rencananya ayah akan menginap beberapa hari di Vila." ucapan ayahnya membuat Arya menganga. bagaimana tidak, ia yang lupa memberi tahu ayahnya jika ia membawa istrinya untuk bulan madu di vila mereka yang terletak di puncak.
"Ada apa nak, apa kamu baik baik saja??." tanya ayahnya saat putranya tersebut belum juga menjawabnya.
Baru saja hendak mengatakan pada ayahnya jika saat ini ia dan istri pun sedang berada di vila mereka yang terletak di puncak, namun sayang mobil yang di kendarai sopir pribadi ayahnya telah memasuki area Vila.
"Arya." Ayahnya yang masih meletakkan ponsel di telinganya tersebut terkejut saat melihat keberadaan putranya yang berdiri di depan Vila.
Arya berjalan mendekati mobil ayahnya yang baru saja memasuki area Vila.
"Bagaimana bisa kamu ada di sini, bagaimana dengan istri kamu, apa dia tahu jika kamu ke sini??." baru juga turun dari mobil, ayahnya sudah mencecar Arya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Istri Arya tahu ayah_" belum juga Arya menyelesaikan kalimatnya ayahnya yang nampak kesal, akibat menyangka jika Arya meninggalkan istrinya di Jakarta, sementara ia malah menginap di tempat itu.
"Bagaimana bisa kamu membiarkan istri kamu di Jakarta sementara kamu asyik asyik di sini. jika kalian sedang bertengkar sebaiknya kamu selesaikan baik baik, bukannya malah lari dari masalah." nada bicara ayahnya Arya mulai meninggi, sebab pria paruh baya tersebut menyangka jika putra serta menantunya tersebut sedang bertengkar, itu sebabnya ia menemukan Arya di Vila mereka yang letaknya di puncak itu.
Baru saja Arya hendak menjelaskan pada ayahnya jika ia tidak sedang bertengkar dengan istrinya, bahkan ia datang ke tempat itu bersama dengan sang istri untuk berbulan madu. tiba tiba Arya mendengar suara istrinya yang baru saja keluar.
__ADS_1
"Ayah." Mirna menyapa ayah mertuanya.
Tadi saat baru saja membuka matanya, Mirna mendengar suara ribut ribut dari luar, itu sebabnya wanita itu segera keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.
"Kenapa nggak masuk ayah, di luar masih sangat dingin!!." ucap Mirna mengingat di daerah puncak udaranya masih sangat dingin jika di jam segini.
"Mirna." Ayahnya Arya baru bisa bernafas lega saat melihat menantu perempuannya tersebut, emosi pria paruh baya tersebut tiba tiba berubah menjadi sebuah senyuman yang terukir di wajahnya.
Mirna pun segera kembali ke dalam dengan di ikuti oleh suami serta ayah mertuanya.
"Maafkan ayah karena sudah salah paham dan memarahi kamu nak." kata ayahnya yang tidak pernah malu mengucapkan kata maaf jika bersalah, termasuk jika pada anaknya sendiri.
"Tidak masalah ayah." sahut Arya yang kini melangkah masuk.
"Ayah bisa aja." jawab Arya malu malu.
Ayahnya begitu pengertian pada putra serta menantunya tersebut mengingat ia pun pernah merasakan muda, dan pernah merasakan di posisi keduanya yang baru merasakan hangatnya sebuah pernikahan.
Tuan Hartono bisa menebak jika putranya tersebut sengaja mengajak istrinya untuk berbulan madu, karena sejak melihat raut wajah menantunya tadi, tuan Hartono bisa menebak hal itu. meski Arya tidak bercerita namun sebagai seorang pria dewasa tuan Hartono tahu betul apa yang terjadi sesuatu di antara sepasang pengantin baru tersebut, mengingat wajah Mirna yang tadi nampak pucat seperti sedang kelelahan.
"Tuan besar, kenapa nggak mengabari kalau mau datang, biar bibi masakan makanan kesukaannya tuan besar.".ucap Bi Irma saat menyambut kedatangan tuan besarnya.
"Nggak perlu repot-repot Bi, lagian kalau saya tahu jika anak serta menantu saya lagi ke sini untuk berbulan madu, mungkin saya tidak akan datang ke sini, biar tidak menggangu proses pembuatan cucu saya Bi." jawaban Tuan Hartono sengaja menggoda putranya, yang kini tengah berdiri berdampingan dengannya sementara menantunya di dapur untuk membuatkan secangkir teh manis untuk suami serta ayah mertuanya.
Tadinya bi Irma ingin menawarkan diri untuk membuatkan teh namun Mirna menolaknya dengan lembut, lalu mengatakan pada Bi Irma jika saat ini ayah mertuanya baru saja tiba.
__ADS_1
Setelah membuat dua cangkir teh manis, Mirna segera keluar dari dapur dengan membawa sebuah nampan yang berisikan dua cangkir teh serta sepiring camilan untuk suami serta ayah mertuanya.
"Silahkan di minum ayah,,,mas,,,." ucap Mirna setelah menyajikannya di meja.
"Terima kasih nak." sahut ayah mertuanya.
"Terima kasih sayang." ucap Arya dengan seulas senyum di bibirnya tatkala tatapan keduanya bertemu.
"Sama sama." sahut Mirna sebelum ikut bergabung dengan keduanya, sementara Bu Irma sudah kembali ke dapur untuk membuat masakan kesukaan tuan besarnya.
"Arya, karena kamu belum siap menggantikan posisi ayah di Perusahaan, ayah ingin kamu memegang kendali atas pembangunan konveksi yang akan ayah bangun di daerah perkampungan warga tempo hari." usul ayahnya, meski sempat menolak namun akhirnya Arya bersedia menerima usulan ayahnya ketika merasa iba dengan ayahnya yang sudah nampak kelelahan mengurus anak perusahaan miliknya seorang diri.
"Baiklah ayah, Arya bersedia tapi dengan satu syarat." Arya menerima tawaran ayahnya namun ia mengajukan syarat.
"Syarat apa yang kamu ingin ajukan pada ayahmu sendiri nak??." tanya ayahnya, meski begitu ia sudah senang karena pada akhirnya putranya tersebut mau memegang salah satu anak perusahaannya.
"Arya tidak ingin siapapun pegawai ayah yang tahu jika Arya adalah putra ayah, karena Arya ingin bekerja secara profesional tanpa ada pegawai yang sengaja mencari cari muka karena mengetahui status Arya sebenarnya." ayahnya tersenyum saat mendengar syarat yang di ajukan putranya tersebut.
"Baiklah jika itu keinginan kamu, ayah tidak keberatan." sahut Ayahnya lalu tersenyum bangga pada putranya, begitu pun dengan Mirna yang kini tersenyum bangga pada sang suami.
Di mana mana anak orang kaya akan menjadikan nama besar orang tuanya untuk bisa menggapai sesuatu dengan cepat, namun berbeda dengan suaminya yang ingin menggapai kesuksesan tanpa embel embel nama besar ayahnya.
"Siang nanti ayah akan segera kembali ke Jakarta, ayah tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian. Dan satu harapan ayah, semoga sepulangnya kalian dari sini ayah bisa mendengar kabar baik." ucap ayahnya di sela menyesap secangkir teh spesial buatan menantu.
"Arya juga berharap begitu ayah, ayah doakan saja semoga Mirna segera mengandung buah hati kami." jawab Arya yang paham dengan maksud ucapan ayahnya, sementara Mirna hanya bisa tersenyum kikuk, karena malu saat ayah mertuanya membahas tentang cucu.
__ADS_1