
Meski ikut merasa prihatin dengan kondisi Regina saat ini yang harus di rawat di rumah sakit, namun setelah berpikir jika ini mungkin sudah menjadi balasan bagi seseorang yang tega menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, Kheano pun tidak terlalu ambil pusing lagi dengan kejadian yang di alami Regina.
Kheano bahkan sangat menikmati kebersamaannya dengan ayah mertuanya, hari ini Kheano banyak bercerita tentang kondisi perusahaan yang baru beberapa tahun dirintisnya kepada ayah dari istrinya tersebut.
Begitu pun dengan menantu barunya, meski tidak memiliki profesi yang sama dengannya, namun tuan Rendi tidak kalah bangganya kepada menantunya tersebut. ketiganya nampak berbagi cerita dan pengalaman, sebagai dokter yang setiap hari bergelut dengan aktivitas rumah sakit, namun dokter Ferdi begitu bersemangat kala ayah mertua serta adik iparnya tersebut bercerita tentang bidang bisnis, begitu pun sebaliknya.
"Ayah bahagia bisa mendapatkan menantu seperti kalian, ayah tidak menuntut kalian untuk memberi kebahagiaan pada anak ayah berupa kemewahan, tapi ayah berharap kalian bisa menjadi imam yang baik serta membimbing istri kalian ke jalan yang diridhoi Allah."sebagai pria yang lebih dulu merasakan manis pahitnya kehidupan, Tuan Rendi nampak memberikan wejangan pada kedua menantunya.
Sama seperti yang Ayah mertua, kedua menantunya tersebut merasa bersyukur bisa menikahi putri dari pria luar biasa seperti ayah mertuanya tersebut.
"Insya Allah, ayah." sahut keduanya hampir bersamaan.
"Dokter Ferdi, jika kamu ingin membawa istri kamu untuk tinggal bersama di rumah kamu, ayah tidak bisa melarangnya, karena saat ini Tiara sudah menjadi hak dan tanggung jawab kamu." dokter Ferdi merasa terharu dengan ucapan ayah mertuanya, namun dokter Ferdi merasa sedikit tidak nyaman saat ayah mertuanya tersebut masih memanggilnya dengan embel embel dokter di depan namanya, karena bagaimanapun saat ini ia sudah menjadi menantu pria itu.
"Maaf sebelumnya ayah, bukannya Ferdi lancang atau tidak senang, tetapi sebaiknya ayah memanggil Ferdi dengan nama saja, tidak perlu ada tambahan kata dokter di depannya." ucap Ferdi dengan hati hati, agar niat baiknya tersebut tidak menyinggung perasaan ayah dari istrinya itu.
"Karena bagaimanapun sekarang Ferdi sudah menjadi menantu ayah, Ferdi ingin ayah memanggil Ferdi sama seperti ayah memanggil Tiara, dengan sebutan nama saja!." lanjut pria berusia tiga puluh enam tahun tersebut, Tuan Ferdi pun tersenyum padanya.
"Baiklah nak, jika kamu tidak keberatan." sahut ayahnya Tiara dengan senyuman hangat, sementara dokter Ferdi merasa begitu nyaman dengan panggilan ayah mertuanya, bagaimana tidak, sudah sejak lama ia merindukan kasih sayang seorang ayah. dokter Ferdi sudah menjadi yatim piatu saat dirinya masih kecil, untungnya dokter Ferdi memiliki tuan Handoko sebagai paman yang begitu menyayangi dirinya layaknya putra kandung sendiri.
"Tentu saja Ferdi tidak keberatan ayah, justru Ferdi merasa senang jika ayah memanggil Ferdi dengan sebutan nama saja." sahut Pria itu.
Di tengah obrolan ketiga pria dewasa tersebut tiba tiba gadis kecil buah hati Kheano dan Alisya berlari ke arah ketiganya, dengan Tiara yang berjalan di belakang gadis itu.
"Kesya jangan lari lari nanti jatuh!!." Ucap Tiara saat melihat keponakannya itu berlari ke arah kakeknya.
Namun gadis itu tidak mengindahkan ucapan tantenya, hingga kakinya tersandung dan gadis itupun terjatuh, sehingga membuat semua yang ada di sana beranjak menghampiri gadis kecil itu karena panik.
"Tante bilang juga apa Kesya.". Tiara langsung menggendong tubuh mungil keponakannya, nampak jelas kekhawatiran di wajah Tiara, takut keponakannya itu kenapa Napa.
__ADS_1
Tiara memeriksa hampir seluruh bagian tubuh keponakannya tersebut, untuk memastikan jika tidak ada sesuatu yang serius yang terjadi akibat insiden yang sebenarnya terbilang kecil itu.
"Kesya nggak papa tante, Tante sayang banget ya sama Kesya, sampai khawatir banget??." ucapan gadis kecil membuat ketiga pria dewasa tersebut langsung mengulum senyum.
"Kamu jangan nakut nakutin Tante,Kesya, udah jangan lari lari lagi!! kamu mau Tante di pecat bunda kamu sebagai kakak karena nggak bisa jagain putrinya dengan baik." ucapan Tiara pun memancing gelak tawa kedua pria tersebut, hanya dokter Ferdi yang tersenyum tipis, saat melihat istrinya tersebut begitu menyayangi keponakannya tersebut.
Sampai dokter Ferdi berpikir, sedangkan keponakannya saja begitu di sayangi oleh gadis itu, apalagi jika anak yang lahir dari rahimnya sendiri. mengingat itu, pemikiran dokter Ferdi sebagai pria dewasa pun mulai mengarah sana( ingin segera memiliki keturunan). meski ia sendiri masih ragu untuk meminta haknya sebagai suami, sebagai pria sejati pantang baginya untuk memaksa seorang wanita, meski wanita itu sudah sah menjadi istrinya. bagi pria itu, ia ingin melakukannya atas dasar suka sama suka, bukannya karena terpaksa.
Meski begitu sebagai pria normal dokter Ferdi ingin terus berusaha memancing istrinya ke arah sana, untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu, jika istrinya tersebut masih belum siap maka pria itu tidak akan memaksa, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menunggu sampai gadis itu siap memberikan haknya sebagai seorang suami. apalagi dokter Ferdi mengingat, jika gadis itu sempat menolak keras saat warga ingin menikahkan mereka.
"Kenapa nak??." tiba tiba suara ayah mertuanya membuyarkan lamunan Ferdi.
"Nggak papa ayah, Ferdi cuma teringat pasien Ferdi." sahut pria itu beralasan, lalu tersenyum kikuk berharap raut wajahnya saat ini tidak nampak berbohong, karena tidak mungkin Juga kalau ia berterus terang pada ayah mertuanya tersebut, jika ia sedang melamun tentang istrinya sendiri.
Mengingat saat ini waktunya makan siang, bunda telah selesai menata makanan di meja dengan di bantu Alisya, sementara Tiara bertugas menjaga keponakannya.
Siang ini bunda memasak begitu banyak menu makan siang, masakan yang di buat Bundanya adalah makanan andalan keluarga ini.
Bundanya menyendok nasi serta lauk pauk ke piring suaminya, dengan di ikuti oleh Alisya yang juga kini melayani sang suami dengan melakukan hal yang sama dengan bundanya. meski masih sedikit kikuk namun Tiara juga ikut melakukan hal yang sama dengan bunda serta adiknya.
Tiara semakin kikuk, saat suaminya terus menatapnya dengan tersenyum manis, sehingga membuat jantung Tiara seperti ingin meloncat dari tempatnya, saat senyuman dari pria yang begitu di kaguminya tersebut terus tertuju ke arahnya.
"Mas mau yang ini nggak??." Tiara sengaja menunjuk ke arah salah satu menu di meja, untuk mengalihkan perhatian pria itu padanya, namun sayang usaha Tiara sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Iya boleh." jawab pria itu tanpa menoleh sama sekali ke arah menu yang di tunjuk Tiara, karena fokusnya masih tertuju pada gadis itu.
"Mas Ferdi ngapain sih melihat aku sampai segitunya, apa dia berniat membunuhku??." dalam hati Tiara, karena semakin pria itu menatapnya seraya menampilkan senyum manisnya, semakin membuat jantungnya berdegup tak menentu.
Sampai dengan suara ayah mertuanya membuat Dokter Ferdi mengalihkan pandangan ke sembarang arah karena malu, bahkan ia sampai mengelus tengkuknya guna mengusir salah tingkah.
__ADS_1
"Dulu juga sewaktu ayah pengantin baru sama bunda kamu, serasa dunia milik berdua yang lain pada ngontrak." ucapan ayah mertuanya yang di sertai uluman senyum itulah yang membuat Ferdi merasa malu malu, sebab ia merasa kalimat itu di tujukan untuknya.
Sementara ayah mertuanya langsung tersenyum melihat tingkah menantu yang biasanya selalu berwibawa di tempatnya bekerja, kini malah salah tingkah. melihat dari sikap pria itu terhadap putrinya, tuan Rendi yakin jika menantunya tersebut mencintai putrinya.
Senyum di wajah pria paruh baya tersebut tiba tiba memudar saat melihat putri bungsunya seperti ingin memuntahkan isi perutnya.
"Kamu kenapa nak??." tanya ayahnya pada Alisya.
"Ini yah, bunda menaruh sop udang di piring Ica.".jawab Alisya, saat merasakan perutnya seperti di kocok kocok saat melihat sop udang yang baru saja disendokkan bunda ke dalam piringnya.
"Tapi ini masakan kesukaan kamu loh Ca??." bundanya merasa heran saat putri bungsunya tersebut, malah tidak suka dengan menu yang biasanya selalu menjadi masakan kesukaannya.
"Ya udah sayang, kalau kamu nggak suka, biar kakak ganti dengan yang baru." timpal Kheano yang duduk di samping istrinya. bukannya menjawab, Alisya malah nampak menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Karena sudah tidak tahan dengan perutnya yang terus bergejolak, Alisya pun segera berlari ke dapur. khawatir dengan kondisi istrinya, Kheano pun mengikuti langkah istrinya. sementara yang lainnya menatap heran dengan perubahan sikap Alisya.
Saat di dapur Alisya memuntahkan semua isi perutnya, sampai membuat Kheano yang kini mengusap tengkuknya merasa khawatir.
"Apa tidak sebaiknya kita ke dokter saja sayang, kakak takut terjadi sesuatu sama kamu, kamu hampir memuntahkan semua isi perut kamu sayang." ucap Kheano dengan raut wajah khawatir bukan main.
"Nggak perlu kak, paling juga cuma masuk angin, entar juga baikkan." sahut Alisya dengan wajahnya yang nampak pucat.
"Tapi sayang_." Kheano tidak sempat menyelesaikan kalimatnya saat Tiara ikut menyusul ke dapur.
"Kamu kenapa dek, apa sebaiknya kita segera ke rumah sakit sekarang!!." ucap Tiara yang tak kalah paniknya.
"Nggak perlu kak, entar juga baikkan." lagi lagi menolak untuk di antarkan ke rumah sakit.
Karena adiknya tersebut kekeh menolak untuk ke rumah sakit, Tiara pun teringat suaminya.
__ADS_1
"Kalau gitu kamu biar mas Ferdi saja yang memeriksa kondisi kamu!!." titah Tiara mengingat suaminya adalah seniornya, pasti lebih tahu dengan kondisi adiknya saat ini, di banding dirinya.
Kheano pun memapah Alisya menuju kamar, sementara Tiara segera meminta suaminya untuk memeriksa kondisi Alisnya, karena khawatir terjadi sesuatu pada adik satu satunya tersebut.