
"Sayang ini hadiah dari mama." ucap Kheano seraya memberikan sebuah kotak segi empat yang berukuran sedang.
"Apa ini??." tanya Alisya saat menerima kotak tersebut dari suaminya.
"Aku juga nggak tahu, soalnya mama juga nggak bilang isinya apa." kata Khe yang kini sudah duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya.
"Entar aja bukanya, kasian kalau yang lain kelamaan nungguin kita di meja makan." sahut Alisya usai mengoleskan skincare di wajahnya.
Walau sudah memiliki wajah yang cantik serta putih mulus, Alisya tetap rutin menggunakan skincare untuk merawat kecantikan wajahnya.
Kheano berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekat ke arah Alisya, yang kini masih duduk di depan meja rias.
Kheano mengambil sisir yang tadinya terletak di atas meja rias kemudian mulai menyisir lembut rambut Alisya usai di keringkan tersebut.
Alisya sempat terkejut di perlakukan manis seperti itu oleh sang suami.
"Biar Alisya aja kak." Alisya mulai membiasakan diri untuk kembali memanggil suaminya dengan sebutan kakak.
"Nggak papa sayang, membantu istri kan pahala." sahut Kheano di sela aktivitasnya menyisir lembut rambut hitam panjang Milik istrinya.
Untuk beberapa saat suasana hening. sesekali Kheano menatap wajah istrinya dari pantulan cermin meja hias, begitupun dengan Alisya. sampai dengan tatapan keduanya bertemu.
Hingga Kheano kembali berucap memecah keheningan di antara keduanya.
"Alisya, aku minta padamu jangan pernah lagi ucapkan kata ingin berpisah dariku, karena aku tidak sanggup hidup tanpa kamu dan anak kita." ucap Kheano dengan tatapan sendu pada Alisya. padahal sejak Kheano mengancam akan memisahkannya dari kesya, Alisya tak lagi pernah mengucapkan kata pisah atau pun cerai pada Kheano.
Usai merapikan rambut Alisya Kheano meletakkan kedua tangannya di bahu Alisya lalu kembali menatap lembut wajah cantik istrinya melalui pantulan kaca.
"Aku sangat beruntung bisa menjadikan kamu istri serta ibu dari anakku sayang." ucapan Kheano yang berbau pujian tersebut mampu membuat Alisya salah tingkah dan malu malu, sampai hal itu membuat Alisya memalingkan wajahnya ke Sembarang arah karena salah tingkah.
Beberapa saat kemudian Alisya berdiri dari duduknya karena tidak ingin Kheano mendengar detak jantungnya yang semakin tidak karuan,sebab posisi mereka saat ini terbilang sangat dekat.
"Sebaiknya kita segera turun untuk makan malam, takut Kesya udah nyariin." ucap Alisya sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Sebentar sayang!!." Meski Kheano menarik pelan lengannya, namun karena tidak siap tubuh Alisya pun mentok ke meja rias. lalu dengan lembut Kheano menyampirkan anak rambut Alisya ke belakang telinga, sehingga Kheano bisa lebih leluasa memandangi wajah cantik istrinya tersebut.
__ADS_1
Wajah keduanya begitu dekat hanya tersisa beberapa centimeter jarak di antara keduanya.
Jantung Alisya semakin tidak bisa di ajak kompromi, begitupun dengan Kheano yang jantungnya juga berdegup kencang dalam posisi tersebut.
Perlahan Alisya mulia memejamkan matanya, saat melihat Kheano semakin mendekatkan wajahnya.
Sementara Kheano tersenyum saat melihat ekspresi istrinya tersebut, yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Cup." Seketika mata Alisya terbuka sempurna saat merasakan kecupan Kheano di keningnya, entah kenapa ada rasa kecewa di hatinya saat Kheano hanya mengecup keningnya.
"Ayo." Ucap Kheano di saat raut bingung masih tergambar jelas di wajah Alisya.
"baik." sahut Alisya masih dengan wajah bingungnya.
"Memangnya aku berharap dia melakukan apa??." batin Alisya yang segera menyadarkan dirinya dari rasa yang tidak menentu di hatinya.
Seolah tahu apa yang ada di pikiran istrinya, Kheano pun tersenyum di sela langkah keduanya yang hendak keluar dari kamar menuju meja makan.
"Maaf sayang, bukannya ingin membuat kamu kecewa, tapi jika kakak melakukannya sekarang, bisa di pastikan kita akan melewati makan malam." dalam hati Kheano seraya mengukir senyum tipis di sudut bibirnya.
"Ayah...bunda...." suara lengking Kesya yang kini lebih dulu berada di meja makan bersama opa dan Oma nya, terdengar saat melihat kedua orangtuanya berjalan menuruni anak tangga.
Setibanya di depan meja makan Kheano menarik sebuah kursi untuk istrinya,lalu kembali menarik kursi lainnya yang berada di samping Alisya untuknya.
"Makasih kak." ucap Alisya saat Kheano menarikan sebuah kursi untuknya.
"Sama sama sayang." Kheano tersenyum melihat istrinya
Kheano baru menyadari ternyata membahagiakan istri itu tidak selalu harus dengan materi, sebuah perhatian kecil saja sudah membuat istri tersenyum bahagia. meski selama ini Kheano selalu melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami, meski di luar negeri namun ia rutin mengirimkan uang bulanan yang tidak sedikit ke rekening istrinya.
Di sela makan malam sesekali keluarga tersebut mengobrol santai, kegiatan seharian pun bisa jadi topik obrolan santai di dalam keluarga tersebut. sampai mamanya Kheano bertanya tentang kotak hadiah yang tadi di titipkannya pada putranya saat menantu kesayangan tengah mandi.
"Gimana Ca, kamu suka dengan hadiah dari mama??." tanya Mamanya Kheano pada menantunya.
"Suka ma,Suka banget." sahut Alisya padahal ia sendiri belum membuka kotak hadiah tersebut. Alisya bukannya ingin membohongi mama mertuanya, namun Alisya berkata demikian agar mama mertuanya tersebut tidak kecewa, jika tahu ia bahkan belum membuka kado darinya.
__ADS_1
"Gimana warnanya cantik kan, mama sengaja pilih warna yang paling cocok di kulit kamu." lanjut ucap mamanya Kheano sembari tersenyum manis.
"Iya ma, Ica suka banget dengan warnanya." sahut Alisya sedikit gugup takut ketahuan bohong.
"Jangan lupa, hadiah mama langsung di pake ya!!." ucap mamanya Kheano seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Alisya.
"Pasti ma." sahut Alisya yakin meski ia sendiri belum tahu apa sebenarnya hadiah dari mama mertuanya.
"Memangnya apa hadiah dari mama, aku jadi penasaran?? tapi apapun itu, aku harus tetap menggunakannya dengan baik. soalnya aku udah janji sama mama." dalam hati Alisya di sela mengunyah makanannya.
Sementara Kheano serta papanya hanya tersenyum menyaksikan obrolan kedua wanita tersebut.
Selesai makan malam Alisya menidurkan Kesya setelah istirahat beberapa menit, sementara Kheano bersama ayahnya membahas masalah pekerjaan di ruang kerja ayahnya. meski Kheano tidak bekerja di perusahaan papanya, ia tetap meminta pendapat papanya mengenai kondisi perusahaan yang baru beberapa tahun didirikan nya tersebut.
Kurang lebih enam puluh menit perbincangan serius di antara kedua pria beda generasi tersebut pun usai. Kheano kembali ke kamarnya, begitupun dengan papanya, mengingat sekarang sudah pukul sepuluh malam.
Saat membuka pintu kamar Kheano di buat heran saat melihat Alisya menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya dengan selimut, sampai tersisa ujung kepala yang tak tertutup selimut.
Namun Kheano tidak membahas mengapa Alisya sampai menyelimuti tubuhnya sampai dengan demikian.
Bukannya langsung istirahat Kheano malah duduk di sofa lalu membuka laptop miliknya.
Sudah hampir jam dua belas malam Kheano masih setia menatap layar laptop, sampai fokus Kheano teralihkan saat mendengar Alisya berguling ke sana kemari di atas tempat tidur dengan selimut tebal membungkus tubuhnya.
"Kak Khe kenapa nggak tidur tidur juga sih, mana gue udah kebelet banget lagi." dalam hati Alisya yang sejak tadi menahan pipis.
Kheano meletakkan laptopnya di atas meja lalu berjalan mendekati ranjang.
"Kamu kenapa sayang, kamu sakit??." tanya Kheano yang mulai khawatir.
"Iya....eh enggak kok kak." sahut Alisya, namun jawaban yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan raut wajahnya yang mulai terlihat pucat, mungkin karena kelamaan menahan ingin buang air kecil.
Kheano yang semakin khawatir saat melihat wajah istrinya yang mulai pucat serta keringat yang mulai membasahi dahinya itu pun hendak membuka selimut yang menutupi tubuh Alisya.
"Jangan kak!!." Alisya menolak saat Kheano hendak menyingkap selimutnya, sehingga terjadi pergerakan berlebihan yang semakin membuatnya tak lagi mampu menahan.
__ADS_1
"Bodoh amat, kepalang basah mandi sekalian." dalam hati Alisya sebelum menyingkap selimutnya lalu berlari ke kamar mandi.
Dengan susah payah Kheano menelan salivanya, saat melihat Alisya yang kini berlari menuju kamar mandi.