
Mirna yang sejak tiba dengan ayahnya tadi duduk di kursi yang bersebelahan dengan suaminya, sehingga memancing tatapan tak suka dari seseorang padanya. apalagi saat Arya malah semakin merapatkan kursinya pada kursi yang tengah di duduki Mirna. mata Anita membulat sempurna saat Arya mulai menautkan jemarinya pada jemari sang istri.
Meski tak berkata kata namun sentuhan Arya begitu lembut, ketika jemari keduanya mulia bertautan mesra. sampai dengan ijab qobul selesai keduanya tetap dengan posisi yang sama, karena Mirna sama sekali tidak menolak.
"Siapa gadis itu, apa hubungannya dengan pak Arya, berani beraninya dia mendekati pujaan hati gue." dalam hati Anita menatap sengit ke arah Mirna, untung saja Mirna tidak sampai bersitatap dengan gadis centil itu.
Setelah ijab qobul selesai semua warga kembali ke rumah masing masing, sementara Arya memutuskan untuk mencari penginapan di sekitar tempat itu, berhubung waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Selain waktu telah mulai larut, Arya juga tidak ingin istrinya kelelahan apalagi Mirna baru saja tiba bersama ayahnya Beberapa saat yang lalu, sudah pasti wanita itu masih sangat lelah.
"Sayang, malam ini kita cari penginapan di dekat sini, kamu pasti masih sangat lelah!!." mendengar suaminya kembali bicara dengan intonasi yang begitu lembut seperti biasanya, membuat Mirna heran, namun di depan Arya ia tetap bersikap seperti tidak terjadi apa apa sebelumnya di antara mereka berdua.
"Hemt." jawab Mirna singkat.
Arya berdiri dari duduknya mengingat kini pengantin dadakan sudah beranjak dari duduknya, hendak keluar dari kantor perangkat desa.
Namun baru beberapa langkah, seseorang menghalau tepat di depan keduanya.
"Anda mau pergi kemana pak Arya??." dengan nada di buat buat manja, Anita yang kini menghalau langkah keduanya pun bertanya.
"Sekarang sudah jam sepuluh malam, jadi saya akan mencari penginapan di sekitar sini." sahut Arya seadanya, namun dengan tidak tahu malunya gadis itu malah kembali bertanya.
"Lalu bagaimana dengan saya pak Arya??." pertanyaan gadis itu memancing Mirna ikut bersuara, karena mulai merasa risih dengan tingkah gadis itu.
"Maaf nona, jika anda ingin menginap di sini, anda juga bisa mencari penginapan sendiri, tetapi jika anda ingin segera kembali malam ini, maka anda boleh pergi sekarang!! karena malam ini suami saya akan mencari penginapan di sekitar sini, karena kami malam ini akan menginap di sini." Timpalan dari wanita itu membuat Arya melirik penuh arti padanya. Arya bahkan menarik sudut bibirnya ke atas, karena secara tidak sadar wanita itu tengah terbakar api cemburu.
"Ayo sayang!!." Arya semakin merasa di atas angin, saat wanitanya itu nampak jelas tengah cemburu pada sosok Anita.
Mirna melanjutkan langkahnya seraya bergelayut manja di lengan suaminya.
"Ternyata nggak rugi rugi amat, melakukan perjalanan tugas dengan gadis centil itu." dalam hati Arya saat yakin bahwa istrinya itu memang tengah terbakar api cemburu saat melihat sosok Anita, meski wanita itu tidak mengakuinya secara gamblang jika ia tengah merasakan cemburu.
"Apa suami??." ucap Anita tidak percaya saat Mirna mengakui Arya sebagai suami.
__ADS_1
Anita berbalik badan lalu menatap Arya dan Mirna yang kini melangkah meninggalkannya.
"Bagaimana nona, apakah kita juga akan mencari penginapan di sekitar sini, atau kita akan kembali malam ini juga??." pertanyaan pak Joko membuat Anita semakin dongkol.
"Tahu ah." sahut Anita sembari mengikuti langkah Arya dan Mirna dengan tidak malunya, harus ikut mencari penginapan, karena mau tidak mau dia juga tidak mungkin pulang hanya berdua dengan pak Joko.
Setelah mendapat informasi di mana ada penginapan di sekitar tempat itu, Arya pun mengajak serta ayah mertuanya menuju penginapan tersebut. begitu pun dengan Anita dan pak Joko yang mengikuti mobil di depannya. yang di tumpangi Arya, Mirna, serta ayah Mirna yang di kemudikan oleh driver pribadi tuan Handoko.
Sementara sepasang pengantin dadakan tadi telah kembali ke sebuah rumah, yang sudah beberapa hari di tempati Tiara, semenjak di tugaskan di sana.
Arya segera turun saat mobil mereka tiba di sebuah penginapan sederhana, mengingat saat ini mereka tengah berada di perkampungan, jadi sudah pasti tidak ada penginapan bintang lima seperti di kota.
"Sayang, nggak papa kan kalau malam ini kita menginap di sini??.".ucap Arya bertanya pada sang istri.
"Nggak masalah, dari pada harus tidur di mobil, setidaknya di sini bisa tidur di kasur." jawab Mirna.
Arya pun segera mengambil dua buah kunci kamar, satunya untuk mereka berdua dan satunya lagi untuk ayah mertuanya. begitupun dengan Anita yang juga ikut memesan satu kamar untuk dirinya, sementara pak Joko memutuskan untuk tidur di mobil saja.
Mungkin secara kebetulan atau memang karena mereka memesan dengan waktu yang hampir bersamaan, kamar Arya serta istrinya bersebelahan dengan kamar yang di pesan Anita. sehingga gadis itu nampak semakin kesal saat melihat Arya mengandeng mesra tangan istrinya saat memasuki kamar tersebut.
Sementara Mirna yang baru saja masuk ke dalam kamar itu, menatap seksama ke arah tempat tidur yang ukurannya jauh lebih kecil di banding tempat tidur miliknya. bukannya tidak suka dengan tempat tidur yang lebih kecil, namun Mirna kepikiran, jika tempat tidur sekecil ini di tiduri berdua sudah pasti mereka akan tidur dengan posisi yang sangat dekat bahkan bisa di bilang rapat.
Seolah bisa menebak isi kepala istrinya,Arya pun berucap.
"Jika tidak nyaman, aku bisa tidur di lantai." ucap Arya mengingat tidak ada kursi apalagi sofa di kamar tersebut.
"Bu_bukan begitu, aku hanya kaget saja saat melihat ranjangnya." jawab Mirna dengan polosnya.
"Sebaiknya kamu segera istirahat besok kita harus segera kembali pagi pagi, karena aku ada meeting untuk membahas pertemuan tadi dengan pimpinan." ujar Arya yang hendak menggelar selimut di lantai untuk menjadi alas tidurnya, namun dengan segera Mirna mencegahnya.
"Kamu mau ngapain??." tanya wanita itu.
"Aku lelah seharian bekerja, aku mau istirahat." jawab Arya jujur.
__ADS_1
"Iya aku tahu, tapi ngapain kamu tidur di situ??." pertanyaan wanitanya itu membuat Arya tersenyum tipis.
"Memangnya aku harus tidur di mana, masa iya aku harus tidur di kamar mandi." cetus Arya dengan seulas senyum diwajahnya.
"Lagian siapa juga yang nyuruh kamu tidur di kamar mandi??." jawaban Mirna semakin membuat Arya tersenyum penuh kemenangan, sepertinya triknya berhasil. ia sengaja memilih kamar yang singel bad.
"Jadi aku boleh tidur di atas nih??." tanya Arya memastikan, dan istrinya itu pun mengangguk malu.
"Yes, akhirnya bisa rapet nih." dalam hati Arya kegirangan.
Sebelum naik ke tempat tidur Arya membuka kemejanya hingga nampak tubuh bagian atasnya yang hanya mengenakan kaos gantung berwarna putih, yang memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya.
Arya pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan merentangkan tangannya.
"Ayo sini." titah Arya pada Mirna yang masih berdiri, seraya menepuk lengannya pertanda lengan kokoh itu siap menjadi bantal untuk sang istri. dengan perasaan malu malu Mirna pun ikut berbaring dengan berbantalkan lengan kokoh suaminya.
Mirna merebahkan tubuhnya menyamping sehingga dengan mudahnya Arya memeluk tubuhnya dari belakang.
Arya menyandarkan wajahnya pada tengkuk Mirna, sehingga bulu kuduk wanita itu mulai remang saat merasakan hembusan napas suaminya, Sampai membuat wanita itu mengelus tengkuknya.
"Kamu kenapa??." tanya Arya sewaktu Mirna mengelus tengkuknya.
"Nggak papa kok." jawab Mirna dengan nada terbata, berusaha menguasai diri dari kegugupannya.
"Sayang..." dengan intonasi yang begitu lembut Arya berucap.
"Hemt." sahut Mirna singkat, sebab jantungnya saat ini sudah tak beraturan.
"Bagaimana jika malam ini aku sudah siap melakukannya??" ucap Arya sebab saat malam itu Arya beralasan belum siap, sementara Mirna yang paham betul kemana arah kalimat suaminya segera menjawab dengan polosnya.
"Selama dua puluh tiga tahun aku selalu menjaga kehormatanku sampai akhirnya menikah dengan kamu, masa iya sih aku harus kehilangan k*peraw*nan di sini??." dengan polosnya wanita itu menjawab suaminya, sehingga membuat seulas senyum terbit di bibir pria tampan yang kini memeluknya dari belakang.
"Jadi, kalau di tempat spesial artinya boleh??." akhirnya Arya sengaja mengutarakan kalimat itu untuk memancing jawaban istrinya.
__ADS_1
"Hemt" kembali Mirna memberikan jawaban singkat.
"Baiklah....Kalau begitu,anggap saja ini pemanasan." ucap Arya dengan senyum khasnya, saat mulai mengecup lembut tengkuk istrinya.