
Usai makan siang, Andi kembali melanjutkan perjalanan menuju perusahaan Kheano group, di Mana Kheano dan Alisya tengah menunggu kedatangan buah hati mereka.
Kheano sempat memicingkan matanya heran, saat melihat adiknya ada di antara Andi dan putrinya.
"Rania." Sapa Kheano dengan raut wajah bingung, sementara Alisya terlihat lebih santai di banding suaminya, sebab ia sudah tahu jika ibu mertuanya meminta Rania untuk menjemput Kesya.
Tadi saat Alisya belum mengangkat telepon genggamnya, ibu mertuanya menyangka Alisya tengah sibuk dengan pekerjaan di kantor, maka dari itu ibu mertuanya sengaja mengirim sebuah pesan pada Alisya agar tidak perlu khawatir pada putrinya, sebab Rania yang akan menjemput gadis kecil itu di sekolahnya.
Andi seakan bisa menebak pikiran Kheano dari tatapannya memberi penjelasan, Andi tidak ingin sahabatnya itu berpikir yang tidak tidak padanya.
"Sebenarnya Rania juga tadi ingin menjemput Kesya, tapi aku yang lebih dulu tiba makanya Kesya ikut bersamaku. " Andi mengelus tengkuknya beberapa kali guna menguasai diri dari kecanggungan, sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tadi Rania menjemput Kesya dengan menggunakan taksi Online karena ban mobilnya bocor, itu sebabnya aku mengajak Rania untuk ikut bersama denganku dan kesya." mendengar penjelasan sahabatnya yang panjang kali lebar itu membuat Kheano mengulum senyum.
"Nggak usah di jelaskan secara detail juga kali An. sekalipun Lo jalan berdua, gue juga nggak masalah.Tapi yang jadi masalah, Lo mampu nggak menjinakkan macam betina." ucap Kheano tersenyum, teringat sikap jutek adiknya pada lawan jenis.apalagi adiknya itu sama sekali belum pernah dekat dengan pria manapun, meski usianya sudah dua puluh satu tahun.
"Kakak." Rania mendelik kesal saat mendengar kalimat Kheano.
"Sini sayang, bunda sudah pesankan ayam goreng kesukaan Kesya." Alisya memanggil putrinya agar semakin mendekat padanya.
"Tapi Kesya sudah makan tadi Bun, sama om Andi dan Tante Rania. bahkan Tante pelayan mengira kalau om Andi dan Tante Rania orang tua Kesya loh Bun..." mata Rania membulat sempurna, tidak menyangka keponakan kecilnya itu akan mengatakan kejadian di restoran tadi pada kedua orangtuanya. sementara Andi hanya diam seraya kembali mengusap tengkuknya, agar tak terlihat salah tingkah. sementara Alisya dan Kheano langsung bersitatap, kemudian keduanya pun tersenyum kecil melihat kedua orang dewasa itu, salah tingkah akibat ocehan seorang bocah.
"Oh jadi gitu ceritanya." dari nada bicara Kheano, Andi tahu betul jika Sahabatnya itu sedang meledeknya, hingga membuat pria itu pun pamit kembali ke ruangannya. sebab jika ia masih terus berdiri di sana, maka sahabatnya itu tidak akan berhenti menggoda bahkan meledeknya, dengan kata kata yang membuat Andi mati kutu.
"Saya harus kembali ke ruangan saya, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." ucap Andi sebelum meninggalkan ruangan atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Hemt." sahut Kheano singkat, sembari terus menatap Andi, sampai pria itu benar benar menghilang di balik pintu.
Kheano tersenyum tipis.
"Lo itu sahabat gue An, gue tahu betul kalau Lo naksir Ama adik gue." batin Kheano.
Kheano menggelengkan kepala, sembari tersenyum mengingat tingkah sahabatnya.
Andi merupakan satu satunya sahabat Kheano yang tidak pernah dekat dengan gadis manapun, bahkan sejak mereka masih duduk di bangku SMA sampai dengan sekarang, meski tak sedikit gadis yang menaruh hati padanya.
__ADS_1
Dari tatapan dan tingkah Andi setiap kali melihat atau berpapasan dengan Rania, Kheano bisa menebak, jika salah satu Sahabatnya itu menaruh rasa pada adik perempuannya. salah satu bukti yang menguatkan dugaan Kheano adalah, saat Rania harus mengerjakan tugas kampus yang menumpuk, Andi rela mengerjakannya bahkan Andi sampai tidak tidur semalaman. terlebih Andi tidak ingin Rania tahu, jika yang telah mengerjakan semua tugas kampusnya adalah dirinya.
Jadi sampai dengan detik ini setahu Rania yang membantunya mengerjakan semua tugas tugas kampusnya adalah kakaknya , Kheano, karena waktu itu Rania meminta bantuan Kheano.
"Kakak sudah lama bersahabat dengan Andi, dia adalah pria yang baik." ucapan kakaknya membuat Rania menatap pria itu dengan tatapan tak percaya.
"Terus kalau dia baik apa hubungannya dengan Rania??." cetus Rania yang kini duduk di sofa Double, bersebelahan dengan Alisya serta keponakannya tercinta.
"Nggak ada sih, kakak cuma mau bilang aja sama kamu, kalau Andi itu pria yang baik." lanjut ucap Kheano kemudian membuka laptopnya, sementara Rania hanya memutar bola matanya malas.
"Baik dari Hongkong." sahut Rania lirih, tidak terima saat kakaknya itu memuji sosok pria yang pernah menurunkannya di tepi jalan tempo hari.
"Tidak baik terlalu benci pada seseorang, karena benci dan cinta itu bedanya tipis loh Ran." Alisya ikut menimpali obrolan kakak adik itu.
"Mana tahu orang yang paling kamu benci, malah dia yang telah Tuhan takdirkan menjadi ayah dari anak anak kamu kelak" lanjut ucap Alisya dengan wajah sungguh sungguh.
"Idih ..ogah gue punya anak dari pria kejam kayak dia." sahut Rania yang lagi lagi teringat akan perlakuan Andi saat menurunkan dirinya di tepi jalan.
Sementara Kheano yang sibuk dengan laptopnya hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya saat mendengar kedua wanita itu yang nampak saling menasehati.
Sementara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, seorang dosen nampak memberikan materi pada mahasiswanya.
Hari ini Mirna mendapat jam terakhir untuk memberi materi di kelas Arya.
Mirna terlihat begitu serius menjelaskan materinya dengan penuh wibawa, namun salah satu dari mahasiswanya tersebut memperhatikannya dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya. Mahasiswa itu tak lain dan tak bukan adalah Arya, pria yang kini berstatus suaminya sendiri.
"Arya,,,Arya,,," Mirna nampak menegur Arya, namun butuh beberapa kali baru pria itu menyadarinya.
"Iya sayang." pria yang baru saja sadar dari lamunannya itu tiba tiba menyebut kata sayang, hingga membuat hampir seisi kelas geger mendengarnya.
Mirna langsung menatap tajam ke arah pria itu, sampai pria itu menyadari ucapannya barusan.
"Maksud saya, sayang sekali saya belum terlalu paham dengan materi yang ibu terangkan." Arya segera meralat ucapannya.
Mirna menarik napas lega, saat pria itu meralat ucapannya.
__ADS_1
"Baiklah, jika kamu belum paham, saya akan kembali menjelaskan, tapi ingat ini untuk yang terakhir kali, jadi saya harap kamu perhatikan dengan seksama!!." titah Mirna sebelum kembali menjelaskan materi yang sebenarnya Arya sudah mengerti, namun karena tidak ingin rekan sekelasnya salah paham dengan ucapannya tadi terpaksa Arya berkata demikian.
Tiga puluh menit kemudian Mirna usai menjelaskan bagian yang di maksud Arya tadi, hingga waktu kini telah menunjukkan pukul satu siang, bersamaan dengan berakhirnya jam untuk Mirna mengajar di kelas Arya.
"Sampai di sini dulu untuk pertemuan kita kali ini, ibu harap kalian bisa segera mengulang skripsi kalian yang di tolak tahun kemarin!! ibu juga berharap kalian bisa segera lulus dengan nilai terbaik." Ucap Mirna sebelum benar benar beranjak meninggalkan kelas tersebut.
Arya segera menuju parkiran, di sana Arya duduk di dalam mobil menanti kedatangan seseorang. sepuluh menit kemudian yang di nanti Arya pun tiba, dengan mengendap ngendap masuk ke mobil pria itu.
"Apa tidak bisa mulai besok aku bawa mobil sendiri saja, aku rasanya seperti mau gila kalau terus mengendap ngendap seperti maling begini." protes Mirna, saat baru saja masuk ke mobil suaminya.
Pria itu tak menjawab, ia malah mendekatkan tubuhnya ke arah Mirna.
"Mau apa kamu, ingat ini di mobil, jangan macem macem" Mirna menyilangkan tangannya menutupi bagian dadanya, saat melihat tubuh Arya semakin mendekat.
"Jangan berpikir yang aneh aneh, aku hanya tidak ingin menjadi duda di usia muda!!." jawab Arya dengan santainya sambil memasangkan site belt pada tubuh istrinya, sementara Mirna yang tadi sudah berpikir macam macam segera mengalihkan pandangan ke arah jendela. jangan di tanya bagaimana malunya ia saat ini, wajah Mirna bahkan sudah memerah bagaikan tomat masak, saking malunya karena sudah berpikir jika pria itu akan berbuat macam macam padanya.
"Lagian kalau saya mau, bukan di sini juga tempatnya" lanjut sahut Arya yang kini mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata.
Mirna hanya diam seraya menatap keluar jendela tidak menimpali ucapan suaminya, sampai ia tersentak saat pria itu mulai menggenggam tangannya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan pria itu masih stay pada kemudi.
"Duh, jantung gue kenapa sih nih, apa gue sakit jantung sekarang??." dalam hati Mirna saat merasakan jantungnya semakin berdegup tak beraturan, kala Arya memainkan jemarinya dengan lembut.
"Kita mampir ke masjid dekat sini dulu, kamu juga belum sholat kan??." Ajak Arya mengingat tidak baik jika menunda melaksanakan sholat.
"Iya." sahut Mirna singkat, namun pandangannya masih terus ke arah pria yang tengah fokus menatap jalanan tersebut.
Mobil yang di kendarai Arya memasuki area masjid, keduanya pun segera turun dari mobil untuk melaksanakan kewajiban sebagai hamba Tuhan. saat selesai melaksanakan sholat Mirna yang keluar lebih dulu, melihat suaminya yang tengah memasang sepatunya nampak kagum pada pria yang acap kali dikatainya bocah itu.
"Ya tuhan aku selalu mengatainya bocah, padahal sikapnya jauh lebih dewasa di banding aku." batin Mirna yang kini malah melamun.
Saking sibuk dengan lamunannya,Mirna sampai tidak menyadari jika pria yang dilamunkannya itu telah berada tepat di depannya.
"Lagi ngelamun apa sih, kayaknya serius banget??." Arya memberi cubitan manja pada hidung Mirna, hingga membuat lamunan wanita itu buyar begitu saja.
"Hah... nggak.. nggak papa kok." sahut Mirna terbata, layaknya seorang maling yang kedapatan.
__ADS_1
"Kita makan siang dulu, kamu pasti sudah lapar." ucap Arya seraya menautkan jemari di antara keduanya, sebelum mulai melangkah.