
Setelah mendapat penolakan dari sang istri, Kheano berjalan keluar pintu yang juga berada di kamarnya yang menghubungkan ke balkon.di sana Kheano berdiri di pinggir balkon, berharap hembusan angin bisa sedikit menyegarkan pikiran dan suasana hatinya saat ini.
Kheano kembali teringat salah satu kalimat papanya tadi saat ia hendak meluapkan kekesalannya, karena kedua orangtuanya sengaja menyembunyikan perihal kehamilan Alisya darinya.
"Terkadang sebagai pria kita berpikir mengungkapkan perasaan dengan perlakuan saja sudah cukup, tapi tidak demikian dengan wanita, mereka juga membutuhkan ungkapan secara lisan. papa rasa kamu paham betul dengan maksud ucapan papa, ungkapkan sesuatu yang sesuai dengan isi hati kamu, sebelum kamu akan menyesalinya." kalimat ayahnya itu terus melintas di pikiran Kheano.
Flashback On.
Saat baru saja tiba di rumah tadi Kheano segera menemui ayahnya di ruang kerjanya.
Kheano sengaja menemui ayahnya hendak protes mengapa dengan sengaja menyembunyikan kabar kehamilan Alisya darinya, Namun Kheano belum menuntaskan kalimatnya papanya sudah menyela.
"Untuk apa papa memberi kabar padamu, sedangkan kamu sendiri tidak mencintai istrimu. dan jika kamu tidak mencintainya, itu artinya kamu juga tidak mengharapkan anak itu bukan." ucap ayahnya sengaja memancing reaksi putranya.
"Mana ada seorang pria yang sudah menikah tidak mengharapkan kehadiran anak dalam pernikahannya pah??" mendengar kalimat Kheano membuat papanya tersenyum sinis, sebelum memberi jawaban telak pada putranya itu.
"Jika memang kamu mengharapkan kehadiran seorang anak dalam pernikahanmu, lalu mengapa harus ada surat perjanjian pernikahan di antara kamu dan Alisya??." mata Kheano membulat sempurna, saat tahu jika papanya sudah mengetahui tentang surat perjanjian pernikahan yang di buatnya tiga tahun yang lalu tersebut.
Untuk sejenak Kheano diam sebelum kembali bertutur.
"Tapi pa, dulu Khe lakukan semua itu karena Khe sama sekali tidak mencintai Alisya, dan Khe anggap surat perjanjian itu tidak lagi berlaku pah, saat Khe merasa perasaan Khe berubah pada Alisya ." sahut Kheano.
Papanya menarik tipis sudut bibirnya saat mendengar jawaban putranya, dari situ papanya yakin jika Kheano memang telah jatuh cinta pada istri yang telah melahirkan seorang putri cantik untuknya.
Sampai keluar sebuah kalimat dari papanya, yang membuat Kheano terus kepikiran.
"Terkadang sebagai seorang pria kita berpikir jika mengungkapkan perasaan dengan perlakuan saja sudah cukup, tetapi tidak demikian dengan wanita. mereka juga membutuhkan ungkapan secara lisan.papa rasa kamu paham betul dengan maksud ucapan papa, ungkapan sesuatu yang sesuai dengan isi hati kamu, sebelum kamu akan menyesalinya!!!" ucap papa pada Kheano.
Flashback of.
Kheano masih berdiri merenung di balkon rumah.
"Aku memang harus mengucapkan perasaanku pada Alisya, aku tidak mau dia berpikir kalau aku hanya ingin terus bersamanya karena hadirnya Kesya di antara kami." gumam Kheano sebelum beranjak kembali ke kamar, namun saat sudah di kamar Kheano tidak melihat keberadaan Alisya di sana.
Kheano keluar dari kamar, berniat mencari keberadaan Alisya.
"Bi, Alisya kemana??." saat menuruni anak tangga Kheano bertanya pada Bi Sumi yang tengah bersih bersih di ruang keluarga.
Bi Sumi menoleh ketika mendengar suara Kheano, sementara Kheano melanjutkan langkahnya menuju kamar putrinya.
"Mbak Alisya tadi pergi bersama non Kesya, Mas Khe." mendengar ucapan bi Sumi membuat Kheano tak melanjutkan langkahnya menuju kamar putrinya.
Sebagai ART sebenarnya bi Sumi tidak enak hati kalau harus memanggil Alisya dengan sebutan mbak begitu pun dengan Kheano bi Sumi memanggil dengan sebutan Mas Khe, itu permintaan dari keduanya. karena mereka sudah menganggap bi Sumi yang merupakan saudara sepupu dari bi Inah, mantan ART yang dulu bekerja di kediaman Oma nya.
***
__ADS_1
"Bun, kenapa ayah nggak boleh ikut??." tanya bocah berusia dua tahun lima bulan itu pada Bundanya yang kini tengah fokus menyetir.
"Bukan nggak boleh sayang, tapi ayah lagi sibuk jadi ayah nggak bisa ikut bareng kita." Alisya beralasan pada putrinya jika ayahnya tidak ikut karena sibuk, sebab tidak mungkin juga ia harus jujur jika tidak ingin jalan bersama dengan ayah dari putrinya tersebut.
Alisya mengemudikan mobilnya sampai memasuki pelataran sebuah cafe di mana ia janjian dengan ke empat Sahabatnya,Sisil, Indah, Ranti, serta Dani.
Alisya memarkirkan mobilnya kemudian masuk menemui ke empat Sahabatnya yang telah tiba lebih dulu di sana.
"Wah... ponakan Tante makin cantik aja nih." ucap Sisil yang kini meraih tubuh mungil Kesya ke pangkuannya.
"Iya dong Tante." sahut Kesya dengan gaya manjanya.
"Sorie ya gue lambat." ucap Alisya kemudian menarik sebuah kursi lalu duduk.
"Nggak papa, santai Aja lagi Ca'." sahut Indah.
Baru beberapa saat berada di cafe bahkan minuman pesanan mereka belum juga tiba.Kesya yang duduk di pangkuan Sisil yang menghadap ke arah pintu masuk cafe, tiba tiba berteriak memanggil seseorang yang masih berdiri di ambang pintu, sembari menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruangan cafe, seperti sedang mencari keberadaan seseorang.
"Ayah." Kesya turun dari pangkuan Sisil lalu berlari ke arah Kheano.
"Bagaimana kak Khe bisa tahu aku dan Kesya di sini??." dalam hati Alisya ketika melihat putrinya berlari menghampiri Ayahnya.
Sementara Kheano segera melanjutkan langkahnya ketika mendengar suara putrinya.
Kheano meraih tubuh putrinya ke gendongannya, lalu kembali melangkah menghampiri meja Alisya serta ke empat Sahabatnya.
"Siapa bilang ayah sedang sibuk cantik?? sekalipun ayah sedang sibuk ayah akan tetap meluangkan waktu ayah untuk putri cantik ayah ini." Kheano mencubit gemas pipi putrinya.
"Tadi bunda yang bilang, kalau ayah nggak bisa ikut karena ayah lagi sibuk." sahut bocah yang kini berada di gendongan ayahnya tersebut.
"Jadi Alisya sengaja menghindari aku, dan mengatakan pada Kesya kalau aku tidak bisa ikut karena sibuk." batin Kheano.
"Kita lihat istriku sayang, sejauh mana kamu bisa menghindari suamimu ini." dalam hati Kheano tersenyum.
"Kak Khe kapan kembali dari Amerika??." Tanya Sisil saat Kheano sudah tiba di depan meja mereka.
"Lo kok nggak Ngomong ngomong sih Ca' kalau ayahnya Kesya udah balik." kini giliran Alisya yang di cecar pertanyaan oleh Sisil, si gadis bawel plus gadis paling demen keceplosan.
"Tadi juga baru mau ngomong keburu orangnya datang." sahut Alisya, sebelum dengan terpaksa mempersilakan Kheano duduk.
"Silahkan duduk kak!!." Kheano menatap lekat wajah istrinya, saat Alisya kembali memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Terima kasih sayang." ucap Kheano lalu dengan sengaja mengecup puncak kepala Alisya, sebelum menarik sebuah kursi lalu mendudukinya.
Kheano duduk di samping Alisya.
__ADS_1
Meski terkejut dengan serangan tiba tiba dari suaminya, Alisya tidak memberi penolakan ataupun protes mengingat saat ini ada ke empat Sahabatnya.
Entah siapa yang membuka obrolan, yang jelas saat ini mereka sudah mengobrol santai.
Meski persahabatan mereka terbilang sangat dekat, namun Alisya tidak pernah menceritakan pada sahabatnya, jika selama berada di luar negeri suaminya sama sekali tidak pernah memberi kabar padanya, itu sebabnya ke empatnya sangat welcome pada Kheano.
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul empat sore, sudah hampir satu jam mereka berada di cafe tersebut. Kesya pun sudah tertidur di gendongan Kheano.
"Sayang sebaiknya kita pulang sekarang, kasian Kesya sudah ketiduran dia pasti sangat kelelahan." ucap Kheano mengajak Alisya untuk segera kembali ke rumah.
"Iya." sahut Alisya singkat.
Mereka pun berjalan keluar dari cafe menuju parkiran, setelah berpamitan pada ke empat sahabat Alisya.
"Mari sini!!" Kheano menengadahkan tangannya pada Alisya
"Apa??." ucap Alisya bingung.
"Kunci mobil kamu." ucap Kheano.
"Tidak perlu aku bisa nyetir sendiri, lagian mobil kamu gimana kalau kamu mau nyetirin mobil aku??." kata Alisya.
"Tenang saja, aku sengaja naik taksi Online saat kesini tadi." Alisya mengeryit tidak habis pikir dengan tingkah suaminya itu.
Kheano meraih kunci di tangan Alisya.
Kheano merebahkan tubuh putrinya di jok belakang, sementara Alisya duduk di samping kemudi.
Untuk beberapa saat suasana hening tercipta Sampai Kheano membuka suara, saat tidak sengaja melihat seorang ibu ibu hamil yang tengah di bonceng motor bebek oleh suaminya.
"Maaf, karena dulu aku tidak bisa mendampingimu saat mengandung Kesya ." ucapan Kheano memecah keheningan di antara keduanya.
Kheano pun meraih tangan Alisya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih stay memegang stir mobil.
Awalnya Alisya Hendak menolak, namun Kheano dengan kekeh meraih tangan itu lalu mengecupnya dengan lembut.
"Terima kasih." ucap Kheano usai mengecup lembut tangan Alisya.
"Terima kasih untuk apa??." tanya Alisya dengan nada sedikit sinis.
"Terima kasih karena telah Sudi mengandung putriku serta membesarkannya sampai dengan saat ini." ucap Kheano yang kini sesekali menoleh ke arah Alisya dengan tatapan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, dia juga putriku jadi sudah menjadi kewajibanku untuk merawatnya." sahut Alisya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Percaya atau tidak, kaulah satu satunya wanita yang mampu membuka hatiku, kamulah satu satunya wanita yang mengajarkan aku apa itu cinta. I Love you Alisya putri." Akhirnya dengan lantang Kheano mengungkapkan perasaannya pada Alisya.
__ADS_1
Walaupun hatinya juga merasa bergetar saat mendengar ungkapan perasaan suaminya, namun Alisya tetap mencoba bersikap biasa di depan Kheano.
"Mengapa baru sekarang kamu mengucapkan itu semua kak? jika semua ucapan kakak benar, lalu apa alasan kakak tak pernah menghubungi Alisya selama tiga tahun ini??." batin Alisya menangis, kala teringat selama tiga tahun ia selalu menantikan kabar dari suaminya tersebut.