Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Teringat.


__ADS_3

Di balkon kamarnya Andi nampak berdiri menatap bintang bintang yang menghiasi indahnya malam. sesekali pria itu nampak tersenyum kala teringat beberapa tahun silam. di mana saat itu ia juga melakukan hal yang sama seperti malam ini menikmati indahnya bintang, saat pria itu tak dapat memejamkan matanya.


Beberapa tahun yang lalu saat Andi untuk pertama kalinya mengecup kening seorang gadis yang tak lain adalah adik dari Sahabatnya sendiri yaitu Rania, pria yang malam ini menerima lamarannya.


Saat tak dapat memejamkan matanya Andi lantas berdiri di balkon kamarnya di saksikan bintang bintang Andi mengucapkan satu kalimat yang malam ini telah terwujud.


"Suatu hari nanti aku pasti akan menjadikanmu milikku, kau pasti akan menjadi milikku Rania. sungguh malam ini aku tak mampu memejamkan mataku sedetik pun, di pikiranku hanya ada wajahmu. aku akan melamarmu dari hasil jerih payahku sendiri, aku akan membuktikan itu." kiranya seperti itu gumaman Andi malam itu.


Itulah yang membuat malam ini pria itu nampak tersenyum seraya memandangi bintang bintang, sampai dengan suara ibunya membuyarkan lamunan Andi.


"Sepertinya anak bunda senang Banget malam ini." ucapan bundanya menyadarkan pria itu dari lamunannya.


"Bunda." kata Andi saat menoleh ke arah datangnya wanita itu.


"Saat pertama kali berjumpa Rania, bunda seakan melihat diri bunda dua puluh empat tahun yang lalu. di mana saat ayah datang melamar bunda, saat itu sikap bunda tidak jauh berbeda dengan Rania, saat itu bunda termasuk gadis yang cuek dengan lawan jenis, sampai dengan ayahmu datang melamar bunda pada kakek dan nenek kamu dulu." terang bundanya Andi sembari mengingat kenangan dulu saat sang suami melamar dirinya.


"Sama sepertimu nak, ayah dan bunda sama sekali tidak pernah pacaran, saat itu secara tidak sengaja bunda menantang ayah kamu untuk melamar bunda. tetapi saat itu bunda benar benar tidak menyangka jika ayah kamu akan menerima tantangan dari bunda, malam harinya ayah kamu datang bersama kakek dan nenek kamu untuk melamar bunda kepada kedua orang tua bunda." Andi nampak mendengar dengan seksama cerita bundanya, sampai wanita itu melanjutkan cerita masa lalunya.


"Jujur saat itu bunda merasa berat menerima lamaran dari ayah kamu, mengingat kami tak pernah akur saat di kampus dulu. tapi bunda tetap menikah dengan ayah kamu saat beliau berhasil meyakinkan kedua orang tua bunda jika beliau akan selalu berusaha menjadi suami yang setia serta bertanggung jawab dan itu berhasil ayah kamu buktikan sampai dengan saat ini. dan sampai saat detik ini juga ayah kamu membuktikan jika beliau selalu bertanggung jawab dan setia pada bunda. sebagai seorang wanita sekaligus ibu, bunda berharap kelak kamu bisa memperlakukan istri kamu dengan baik. jangan pernah menyakiti hati wanita karena sesungguhnya pria sejati itu tak akan pernah tega melihat wanitanya menangis dalam hal apapun itu." terang bundanya pada Andi yang secara tidak langsung mengajarkan putranya berlaku baik pada istrinya kelak.


"Insya Allah Bun, Andi akan selalu berusaha menjadi laki laki yang setia bertanggung jawab serta pandai menjaga perasaan pasangan." jawaban putranya membuat wanita paruh baya tersebut tersenyum seraya mengelus pundak putranya.


"Jadilah laki laki yang baik, karena sikap seorang laki laki akan mencerminkan dari wanita seperti apa dia lahir!!." lanjut terang bundanya, sebelum pamit dari kamar putranya.


"Baik Bun." sahut Andi yakin.

__ADS_1


"Sebaiknya sekarang kamu segera istirahat, angin malam tidak baik untuk kesehatan!! baiklah kalau begitu bunda balik ke kamar dulu, sekarang ayah Pasti lagi nyariin bunda." ucap Wanita itu sebelum berlalu meninggalkan kamar putra semata wayangnya.


"Baik Bun."~Andi.


Usai melakukan pertemuan di Antara dua keluarga tadi, Andi yang tengah menyetir mobil untuk kembali ke kediaman mereka bercerita pada kedua orang tuanya tentang semuanya, kecuali tentang dirinya yang telah berani mencium anak gadis orang sebelum tiba saatnya.


Andi mengaku kepada kedua orang tuanya jika sebenarnya Ia dan Rania sama sekali tidak pernah menjalin hubungan asmara namun dengan tekat penuh Andi melamar gadis itu. mendengar pengakuan putranya sempat membuat bundanya terkejut bukan main, sebelum wanita itu menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan lalu berkata.


"Untung saja lamaran kita di terima coba kalau di tolak mau di taruh di mana muka kita An." ucap Ayahnya Andi saat mendengar pengakuan dari putranya. berbeda dengan sang ayah, bundanya Andi lebih memikirkan bagaimana nanti siap Andi dan Rania dalam menjalani rumah tangga, mengingat keduanya tidak pernah menjalin hubungan spesial sebelumnya dan itu artinya keduanya belum begitu dekat satu sama lain. namun di relung hati terdalam wanita itu juga yakin jika putranya pasti bisa bersikap seperti sang ayah, seorang laki laki sejati berani menikahi seorang gadis yang sama sekali tidak mengerti dalam urusan rumah tangga. yang lebih parahnya lagi, tidak jauh berbeda dengan cerita putranya, kedua orang tuanya juga pernah mengalami hal yang hampir sama.


***


Di tempat yang berbeda, Dokter Ferdi yang kini duduk di sofa kamar nampak memperhatikan istrinya yang tengah terlelap dalam tidurnya.


Pria itu nampak menarik sudut bibirnya ke atas kala teringat permainan panas mereka yang berakhir beberapa saat sebelum wanita itu terlelap dalam tidurnya.


Flashback on.


Malam itu Dokter Ferdi sengaja menjadikan kedua mertuanya sebagai alasan. mertuanya yang sangat menginginkan cucu dari sang istri, sehingga Dokter Ferdi beralasan pada sang istri.


Saat itu dokter Ferdi yang baru saja kembali ke kamar sengaja menampakkan wajah sedih yang sengaja di buat buat oleh pria itu, sehingga membuat Tiara bertanya.


"Mas kenapa, sejak kembali ke kamar mas nampak murung, apa mas sedang ada masalah?? jika ada masalah ceritakan saja, aku siap mendengarkan cerita mas Ferdi." mendengar ucapan istrinya membuat pria itu nampak tersenyum penuh kemenangan dalam hati.


"Tidak ada masalah, mas hanya merasa bersalah pada ayah dan bunda karena belum bisa mengabulkan permintaan beliau." mendengar jawaban suaminya membuat Tiara mengeryit Bingung, karena tidak paham sepenuhnya dengan kalimat yang baru saja di lontarkan suaminya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Ferdi melanjutkan kalimatnya.


"Sebagai menantu mas merasa bersalah pada ayah dan bunda kamu, sebab belum bisa memberikan mereka seorang cucu seperti yang mereka impikan." Tiara nampak mengelus lembut punggung pria yang kini tengah duduk di sofa kamar.


Mungkin karena polosnya Tiara sampai tidak menyadari konsekuensi akan ucapannya.


"Mas jangan bicara seperti itu, aku yakin kita pasti bisa segera memberikan seorang cucu untuk ayah dan bunda." jawaban polos dari Tiara sontak membuat pria itu menatap lekat manik mata istrinya.


"Apa kamu tidak keberatan segera mengabulkan permintaan ayah dan bunda kamu??" tanya Ferdi seraya menatap lekat manik mata Tiara, lalu Dengan polosnya gadis itu mengangguk, sehingga membuat Ferdi kembali tersenyum penuh kemenangan di dalam hati.


"Jika kamu tidak keberatan, mengapa kita tidak berusaha melakukannya sekarang??." Tiara yang akhirnya paham dengan maksud ucapan suaminya, nampak menunduk malu sebelum menjawab.


"Sebenarnya aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu, tapi aku takut??." ucapan Tiara sontak membuat Ferdi menengadahkan wajah Tiara dengan telunjuknya sehingga keduanya kini bersitatap.


"Kenapa kamu harus takut, bukankah cepat atau lambat kita juga pasti akan melakukannya. karena sudah menjadi kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya baik lahir maupun batin." Dokter Ferdi kini nampak serius dengan ucapannya, sehingga membuat Tiara yakin jika cepat atau lambat mereka pasti akan melakukan hubungan suami istri jadi untuk apa terus mengulur waktu. terus mengulur waktu hanya akan membuatnya terus berdosa, karena secara tidak langsung ia sudah menyiksa batin suaminya tersebut.


Untuk beberapa saat suasana nampak hening, sampai Tiara mengeluarkan kalimat yang membuat Suaminya tersebut merasa jika istrinya terpaksa mengatakan demikian.


"Jika memang mas ingin melakukannya sekarang aku siap." ucap Tiara.


"Mas tidak ingin memperkosa istri mas sendiri, karena jika melakukannya di saat istri merasa tak ikhlas sama halnya mas memperkosa istri mas sendiri." jawab Dokter Ferdi seraya memalingkan pandangannya dari Tiara.


"Aku ikhlas mas, aku ikhlas menunaikan kewajibanku sebagai istri mas malam ini." lanjut ucap Tiara sembari mencekal lengan suaminya yang hendak beranjak, sehingga membuat pria itu kembali menatap lekat manik mata Tiara seraya berkata.


"Apa kamu yakin?? melihat pertanyaannya mendapatkan anggukan serta senyum dari sang istri membuat Dokter Ferdi yakin jika wanita itu memang telah siap menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri seutuhnya.

__ADS_1


Sehingga terjadilah malam pertama. malam pertama yang awalnya begitu menegangkan berubah menjadi malam panjang yang di penuhi dengan gair*h satu sama lain. malam panjang yang hampir membuat wanitanya tak punya waktu untuk memejamkan matanya, akibat ulah sang suami.


__ADS_2