
Dua hari kemudian
Seorang gadis nampak begitu cantik dengan balutan kebaya modern yang berwarna putih tulang.
Mirna yang duduk di kursi meja rias nampak memperhatikan wajahnya yang kini di poles make up pengantin dari pantulan cermin kaca rias.
Tidak terbayangkan sebelumnya ia akan menikah dengan seorang pria yang lebih muda tiga tahun darinya.
Bagaimana ia harus bersikap, bagaimana ia harus menjalani rumah tangga bersama pria itu, pertanyaan itu terus melintas di pikiran Mirna. sampai ayahnya yang baru saja tiba di kamarnya membuyarkan lamunan Mirna.
"Ayah." Mirna menoleh saat menyadari kedatangan ayahnya.
Sebuah senyum terukir di sudut bibir pria paruh baya tersebut, sebelum melanjutkan langkahnya menghampiri putri tercinta.
"Ayah tahu jika saat ini kamu belum mencintai nak Arya, tapi ayah yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa menerima dan mencintai nak Arya sebagai suami kamu." tukas ayahnya seolah tahu isi hati putrinya.
Sementara Mirna hanya bergeming tidak bisa berkata kata, karena menurutnya apa pun yang akan keluar dari mulutnya,tidak akan merubah keadaan. sebab sebentar lagi, bahkan dalam hitungan menit ke depan mau tidak mau ia tetap akan menyandang status barunya sebagai nyonya Arya, pria yang tak lain adalah mahasiswanya di kampus.
"Pernikahan yang awali dengan Cinta belum tentu bisa menjadi tolak ukur langgengnya rumah tangga sebuah pasangan, begitu pun sebaliknya. Dulu ayah dan Almarhumah ibumu juga menikah karena di jodohkan kedua orang tua kami, tapi rumah tangga kami berjalan langgeng dan bahagia, hingga menghadirkan Malaikat kecil dalam rumah tangga kami yaitu kamu nak. bahkan di saat ibumu harus meninggalkan ayah untuk selamanya, ayah sama sekali tidak berniat untuk mencari pengganti ibumu." sorot mata pria paruh baya tersebut nampak berkaca kaca, saat bercerita. sampai membuat Mirna tidak tega melihat ayahnya.
"Iya ayah." Mirna berdiri dari duduknya lalu memeluk erat tubuh ayahnya.
Setelah beberapa saat kemudian ayahnya melepaskan pelukan, sebelum meninggalkan kamar putrinya karena sebentar lagi akad nikah akan segera di laksanakan.
"Ayah akan segera turun, sebentar lagi akad nikah akan segera di mulai." pamit ayah sebelum beranjak meninggalkan kamar putrinya.
"Deg." jantung Mirna bagai di hantam batu besar saat mendengar ayahnya mengucapkan kata akad nikah.
"Ya tuhan...jika memang pria yang lebih muda dariku itu adalah pria yang telah engkau tetapkan sebagai jodoh hamba, maka bukalah pintu hati ini agar bisa menerimanya sebagai seorang suami." batin Mirna dengan mata berkaca kaca.
Sementara di ruang keluarga kediaman tuan Handoko di mana akad nikah akad segera di laksanakan, Arya terlihat gagah dengan stelan jas berwarna senada dengan kebaya yang kini di kenakan mempelai wanita.
Arya duduk dengan di dampingi ayahnya berhadapan dengan pak penghulu, yang sebentar lagi akan menjadi saksi dirinya yang akan mempersunting seorang wanita cantik.
__ADS_1
Jantung Arya berdetak lebih kencang dari biasanya, itu nampak jelas dari raut wajahnya yang beberapa kali mengusap keringat di wajahnya.
"Apa ijab qobul bisa kita mulai sekarang??." tukas pak penghulu usai meletakan beberapa berkas kelengkapan pernikahan keduanya.
"Tentu saja pak." Dengan penuh keyakinan Arya menjawab pertanyaan dari pak penghulu.
"Baik." ucap pak penghulu, sebelum mendampingi tuan Handoko untuk menikahkan putri semata wayangnya.
"Bismillahirrahmanirrahim....wahai nak Arya Kurniawan Bin Hartono wahadi saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Mirna Natalia binti Handoko Sastrawan dengan mahar darimu seperangkat alat sholat, emas murni seberat seratus gram serta satu unit rumah di bayar tunai." Dengan sorot mata yang mulia berkaca kaca tuan Handoko menikahkan putri semata wayangnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Mirna Natalia binti Handoko Sastrawan dengan mahar tersebut tunai." dengan lantang Arya mengucapkan kalimat sakral tersebut di depan penghulu dan saksi.
"Sah."
"Sah."
"Sah" ucap penghulu, Saksi serta beberapa tamu yang sengaja di undang untuk menghadiri acara akad nikah mereka. ketiga sahabat Arya pun nampak hadir dalam acara tersebut, termasuk Kheano yang mengajak istri serta putrinya.
Sementara Mirna, segera turun dari kamar dengan di apit oleh dua orang tantenya, adik sepupu dari ayahnya.
Mata Arya sama sekali tidak beralih dari sosok wanita yang beberapa saat yang lalu telah sah menjadi istrinya.
"Masya Allah." dalam hati Arya saat melihat sosok wanita yang kini di balut kebaya modern yang berwarna putih tulang.
"Masya Allah...mbak Mirna cantik banget." Alisya nampak terkagum kagum saat melihat kecantikan Mirna yang kini hendak melangkah ke arah suaminya, begitupun Sisil serta Indah mengangguk membenarkan ucapan Alisya.
"Nggak takut lepas tuh mata." ledek Kheano, sengaja mengecilkan suaranya saat melihat tatapan Arya terus tertuju pada istrinya yang tengah berjalan ke arahnya. hari ini Kheano menjadi salah satu saksi di pernikahan sahabatnya.
Kheano mengulum senyum saat melihat wajah sahabatnya itu salah tingkah.
Langkah Mirna terhenti saat sudah berada di hadapan pria yang telah resmi mempersuntingnya.
Arya membantu istrinya untuk duduk di kursi ijab qobul berdampingan dengannya. usai menanda tangani berkas kelengkapan pernikahan, tiba sesi penyematan cincin yang akan di sematkan ke jari pasangan. Mirna menyematkan cincin di jari manis Arya begitu pun sebaliknya.
__ADS_1
Usai menyematkan cincin di jari manis istrinya, pembawa acara mempersilahkan mempelai wanita untuk mencium tangan suaminya, sebagai penghormatan istri terhadap suami.
Setelah prosesi cium tangan pembawa acara kemudian mempersilahkan mempelai pria untuk memberi kecupan di kening istrinya.
"Untuk mempelai pria di persilahkan mencium kening mempelai wanita!!." ucap pembawa acara.
"Cup." dengan sedikit canggung Arya mendaratkan kecupan di kening istrinya, hal itu sontak membuat Mirna sedikit menundukkan kepalanya, karena bukan hanya Arya yang canggung,ia pun merasakan hal yang sama.
"Sweet banget sih, kalau ngeliat yang kayak gini, gue jadi pengen cepat cepat kawin deh." timpalan Sisil dapat di dengar oleh sahabat Kheano yang kini duduk di deretan kursi Sisil.
"Buruan cari!!, kebetulan di sini masih banyak jomlo ngenes!!." Andi yang sengaja menunjuk ke arah Bobi dengan sorot mata.
"Pake ngatain gue segala lagi Lo, kayak Lo udah punya pacar aja." sahut Bobi saat menyadari Andi sengaja menyindir dirinya.
"Gue beda kali Ama Lo, kalau gue udah punya kandidat cuma belum terealisasi aja." sahut Andi mengulum senyum.
Sementara dari kejauhan Kheano hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat kedua sahabatnya yang tengah mendebatkan sesuatu yang tak berfaedah. meski tidak dapat mendengar apa yang kini menjadi topik pembicaraan kedua sahabatnya, namun Kheano bisa menebak kedua sahabatnya itu tengah mendebatkan sesuatu yang tidak berfaedah. sebab Kheano kenal betul dengan watak kedua sahabatnya.
Kini tiba prosesi sungkeman yang akan di lakukan oleh kedua mempelai kepada orang tua serta mertua.
Mirna sudah kehilangan ibunya sejak ia masih kecil, itu sebabnya posisi ibunya di gantikan oleh Tantenya, saudari ayahnya, begitupun dengan Arya yang ibunya juga telah pergi untuk selamanya.
"Ayah maaf jika selama ini Mirna belum bisa menjadi anak yang baik untuk ayah." hanya itu yang bisa keluar dari bibir Mirna saat melakukan sungkem pada ayahnya.
"Kamu anak Sholehah bagi ayah nak, maka sekarang jadilah istri yang Sholehah untuk suami kamu!! senantiasa lah jadi amal jariyah bagi ayah kelak, di saat ayah sudah tidak bisa menemani mu lagi di dunia ini." air mata yang sejak tadi berusaha di tahannya kini meluncur begitu saja membasahi wajah cantiknya, ketika mendengar wejangan dari ayahnya.
Kini bergantian Mirna sungkem pada ayah mertuanya, sedangkan Arya sungkem pada mertuanya yaitu ayahnya Mirna.
"Terima kasih sudah ikhlas menikahkan putri kesayangan ayah pada pria biasa seperti saya." kalimat Arya begitu menyentuh hati ayah mertuanya, sehingga pria paruh baya tersebut nampak mengusap wajahnya yang kini di basahi air mata haru.
"Nak Arya, ayah titipkan putri ayah padamu, sayangilah putri ayah cintai dia dengan sepenuh hati. bimbinglah dia ke jalan yang di ridhoi Allah SWT, dan tegurlah dia saat melakukan kesalahan!! jika mungkin suatu hari nanti kamu tak lagi mencintainya, kembalikanlah dia pada ayah, jangan kamu sakiti dia!!. karena dia harta ayah satu satunya." Mendengar wejangan dari ayah mertuanya membuat Arya menyadari begitu besar kasih sayang seorang ayah pada putrinya. jika suatu saat ia pun memiliki seorang putri, Arya mungkin akan melakukan hal yang sama dengan yang ayah mertuanya lakukan saat ini.
"Insya Allah ayah, Arya akan selalu menjaga istri Arya dengan sepenuh hati." jawab Arya penuh keyakinan.
__ADS_1
Setelah sungkeman, keduanya menghampiri para sahabat yang datang, atau lebih tepatnya keduanya menghampiri sahabat sahabat Arya. sebab tak satupun teman atau rekan kerja Mirna yang di undang dalam acara pernikahannya hari ini.
Bukan karena malu menikah dengan pria yang lebih muda darinya, namun Mirna sengaja tidak mengundang rekan kerjanya karena tidak ingin ada gosip tidak sedap di tentang Arya di kampus, mengingat saat ini Arya adalah mahasiswa di kampusnya.