Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Kesya Anandita.


__ADS_3

Tiga tahun kemudian.


Di bandara internasional Soekarno Hatta, seorang pria dengan mengenakan stelan torpedo berwarna biru langit terlihat begitu gagah, di tambah lagi dengan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya semakin menambah ketampanan di wajahnya.


Setelah menyelesaikan pendidikannya, hari ini Kheano kembali ke tanah air.


Saat keluar dari bandara sebuah mobil telah stay menunggu kedatangan tuan mudanya.


"Selamat datang kembali di tanah air tuan muda." ucap mang Deden sembari membuka pintu mobil untuk Kheano.


"Terima kasih mang....di mana istri saya, apa dia mengetahui kepulangan saya hari ini??." tanya Kheano yang kini telah duduk di jok belakang.


"Seperti biasa Tuan, non Alisya sedang sibuk dengan pekerjaan barunya di perusahaan tuan besar." jawab Mang Deden.


"Kita langsung ke rumah atau mampir ke kantor tuan besar dulu tuan Muda??." tanya mang Deden saat sudah mengemudikan mobil membelah padatnya jalanan ibu kota.


"Kita mampir ke kantor papa dulu mang!!." seru Kheano sembari menatap sebuah foto lama Alisya di layar ponselnya.


Saat baru saja tiba di perusahaan Admaja group, Kheano menjadi pusat perhatian mulai dari loby sampai ia memasuki lift khusus petinggi perusahaan.


"Ya Tuhan pagi pagi gini udah bisa cuci mata." ucap salah satu pegawai wanita ketika melihat Kheano melintas di lobi.


"Hust ....jangan macam macam kamu, dia itu putra dari pemilik perusahaan ini, apa kamu mau di pecat." sahut salah satu pegawai lainnya, yang sudah lima tahun bekerja di perusahaan Admaja group.


Kheano menekan tombol lift menuju lantai tujuh belas di mana letak ruangan papanya sebagai pimpinan perusahaan.


Saat baru saja keluar dari lift Kheano terkejut ketika seorang anak perempuan tidak sengaja menabrak dirinya, hingga hampir saja terpental kalau saja Kheano tidak cepat meraih tubuh bocah tersebut.


"Hati hati nak!!." ucap Kheano.


"Bagaimana bisa ada bocah berlarian di kantor papa, kemana ibu anak ini??" gumam Kheano kemudian menggendong tubuh mungil gadis kecil yang kini berusia sekitar dua tahunan tersebut.


"Di mana ibu kamu nak??" tanya Kheano saat gadis itu berada di genggamannya.


Tapi entah kenapa jantung Kheano berdebar kencang saat bocah tersebut bukannya menjawab malah menatap lekat wajahnya.


Jantung Kheano semakin bergetar saat bocah tersebut mengusap wajahnya dengan jemari kecilnya lalu berucap.

__ADS_1


"Ayah." panggilan gadis kecil itu padanya membuat darah Kheano mengalir lebih cepat.


"Kenapa kamu memanggilku ayah nak, siapa nama kamu??." ucap Kheano lalu mencium pipi bocah yang kini masih berada di gendongannya.


"Namaku Kesya, wajah om sangat mirip dengan wajah ayahnya Kesya." sahut bocah itu dengan nada yang masih cadel.


Kesya Anandita, itu adalah nama pemberian bundanya.


"Ya Tuhan kenapa wajah bocah ini mengingatkan aku akan seseorang." batin Kheano.


"Di mana ibu kamu nak??." baru saja Kheano bertanya di mana keberadaan ibu dari bocah tersebut, seorang pegawai menghampiri Kheano.


"Maaf tuan jika gadis kecil ini sudah menganggu waktu tuan muda, gadis cantik ini anak dari salah satu pegawai di sini tuan." ucap salah satu karyawati yang merupakan teman Alisya semenjak dua bulan terakhir bergabung di Admaja group.


Karyawati bernama Sonya tersebut lalu mengambil alih Kesya dari gendongan Kheano.


"Om pergi dulu ya cantik, lain kali kita ketemu lagi." ucap Kheano gemas dengan pipi bocah itu.


Baru beberapa langkah berlalu tiba tiba Kheano mendengar suara yang tidak asing baginya dari arah belakang sehingga membuatnya menoleh.


"Kesya, bunda kan sudah bilang nak jangan kemana mana tunggu di ruangan bunda, kenapa kamu malah main kesini sih sayang" wanita yang merupakan ibu dari bocah tersebut terlihat begitu panik, karena sudah beberapa menit ia kesana kemari mencari keberadaan putrinya.


Bagai di sambar petir saat Kheano mendengar bocah itu, memanggil wanita yang tak lain adalah istrinya dengan sebutan bunda.


"Alisya." ucap Kheano, saat Alisya memeluk erat bocah tersebut.


Alisya segera menoleh saat mendengar seseorang menyebut namanya.


Alisya pun tak kalah terkejutnya saat melihat keberadaan Kheano di sana.


Perlahan Kheano melangkah mendekati Alisya serta bocah itu, pandangan Kheano fokus pada Alisya dan bocah itu bergantian.


Melihat Kheano semakin mendekat, Alisya pun meminta Sonya untuk membawa Kesya bersamanya.


"Kesya ikut Tante Sonya sebentar ya!!." ucap Alisya sebelum Sonya meraih tubuh bocah itu lalu berlalu meninggalkan keduanya.


Alisya menunjukkan raut wajah datar pada suaminya.

__ADS_1


"Siapa anak perempuan itu Alisya, kenapa anak itu memanggilmu dengan sebutan bunda?? apa dia anak kamu, jika dia anak kamu, itu artinya dia juga anakku??." cecar Kheano dengan raut wajah tak bisa di artikan.


"Kenapa saat itu kamu tidak memberi tahu padaku, kalau kamu mengandung anakku??." cecar Kheano lagi.


"Jawab Alisya!!."nada suara Kheano mulai meninggi.


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Alisya, Kheano pun mencoba menggenggam tangan Alisya, namun dengan cepat Alisya menepisnya.


"Kenapa baru sekarang kamu menanyakan itu, kemana kamu selama tiga tahun ini?? apa kamu sesibuk itu sampai memberi kabar pun tak bisa." sahut Alisya dengan nada sinis sebelum hendak beranjak pergi.


Kheano tak mampu mengelak dengan semua ucapan Alisya, sebab apa yang di katakan Alisya semua benar adanya. selama tiga tahun ia bahkan tak sekalipun memberi kabar pada istrinya, atau bahkan untuk sekedar mengirim pesan pun juga tidak.


Namun Kheano melakukan semua itu karena ada alasannya.


Karena tidak mau menjadi pusat perhatian para pegawai di sana, Kheano meraih tangan Alisya menuju balkon. walaupun sempat menolak Alisya terpaksa ikut bersama suaminya, karena saat ini sudah banyak mata yang mengarah pada keduanya.bahkan tidak sedikit yang mulai bergunjing tentang Alisya.


Setelah sampai di balkon Alisya segera menepis tangan Kheano.


"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan??." ucap Alisya sinis. entah kenapa hati Kheano rasa di cubit ketika mendengar Alisya tak lagi memanggilnya dengan sebutan hangat seperti dulu.


"Biar bagaimanapun aku adalah ayah kandung Kesya, jadi aku juga punya hak atas anak kandungku." Mendengar kalimat yang baru saja di ucapakan Kheano membuat Alisya tersenyum getir.


"Hak kamu bilang, dimana kamu saat aku harus di keluarkan dari sekolah karena ketahuan sedang hamil?? di mana kamu di saat aku harus melewati waktu waktu terberat saat mengandung Kesya, dan di mana kamu saat aku harus bertaruh nyawa melahirkan anakku??." Walaupun ingin sekali air mata itu tumpah ruah membasahi pipi, Namun Alisya berusaha menahannya. ia tetap berusaha tenang saat berucap demikian, walau sebenarnya ingin sekali ia meluapkan kekesalannya pada pria itu.


Kheano sadar jika ia memang bersalah dan apa yang di katakan Alisya memang benar sehingga ia tak mampu menjawab kata kata Alisya, namun jika saja saat itu Alisya mengabarkan padanya jika ia sedang mengandung buah hati mereka, mungkin Kheano akan lebih memilih kembali ke tanah air dari pada meneruskan pendidikannya.


"Seperti perjanjian di awal pernikahan kita, aku ingin kamu segera menunaikannya, ceraikan aku!!." ucap Alisya saat teringat perjanjian yang telah di buat Kheano tiga tahun lalu saat keduanya menikah.


Bagai di hujam ribuan jarum hati Kheano nyeri saat mendengar kata kata cerai yang di ucapkan istrinya.


Jauh sebelum meninggalkan tanah air Kheano bahkan sudah melupakan perjanjian di antara keduanya, ia bahkan berharap bisa melanjutkan pernikahan mereka layaknya pernikahan pada umumnya, dan tidak ingin lagi membahas tentang itu, namun ia tidak menyangka justru Alisya yang menginginkan perceraian di antara mereka.


"Aku tahu kamu pasti sangat marah padaku, aku benar-benar minta maaf, walaupun aku tahu maaf saja tak cukup mengobati rasa sakit di hatimu. tapi satu yang harus kamu tahu sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikanmu. bahkan jika harus kehilangan nyawa sekali pun aku rela, dari pada harus berpisah lagi dari anak dan istriku." tegas Kheano.


"Jika kamu tidak mau menceraikan aku, maka aku sendiri yang akan menggugat cerai darimu." sahut Alisya sebelum berlalu meninggalkan Kheano yang masih diam menatap kepergiannya.


Sementara Kheano hanya bisa menghela napas berat setelah kepergian Alisya.

__ADS_1


Ia tidak menyangka niatnya yang tidak menghubungi sang istri selama di luar negeri karena tak ingin di pisahkan, setibanya di tanah air malah sang istrilah yang meminta berpisah.


__ADS_2