Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
berakhirnya salah paham.


__ADS_3

"Suara siapa itu??".Arya segera beranjak dari kamar, mata Arya terbelalak tidak percaya dengan siapa yang baru saja di lihatnya,saat ia menatap ke bawah.


Kamar Arya dan Mirna berada di lantai atas.


"Berani sekali dia datang kesini, apa dia tidak tahu wanita pujaannya sudah menikah??." Arya kini menggerutu kesal.


Arya berniat menghampiri pria itu, namun Arya menghentikan langkahnya saat melihat ayah mertuanya keluar dari ruang kerjanya menghampiri pria itu.


"Tumben kamu ada waktu main ke sini??.".Arya terkejut saat melihat ayah mertuanya malah bersikap hangat, pada pria yang selama ini menjadi pusat kecemburuannya pada sang istri.


"Kebetulan hari ini jadwal Ferdi sedang kosong, lagi pula sudah lama sekali Ferdi tidak berkunjung ke sini. btw kemana baby girl, sejak tadi Ferdi belum melihatnya??." ucap Ferdi yang kini telah duduk di sofa ruang keluarga bersama dengan ayahnya Mirna yang tak lain adalah pamannya, adik kandung dari ayahnya.


Sementara Arya yang sejak tadi terus memperhatikan keduanya, nampak kecewa, pria itu mulai berpikir yang tidak tidak tentang ayah mertuanya.


"Mungkin dia sudah berangkat ke kampus." sahut ayahnya Mirna, yang pandangan tiba tiba ke arah Arya yang tengah berdiri di lantai atas sembari menatap keduanya.


"Kenapa masih berdiri di sana nak Arya, kemarilah nak!!." mau tidak mau Arya pun menurut, dengan terpaksa ia mulai menuruni anak tangga. meski kesal namun Arya tetap menunjukkan raut wajah biasa, ia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan pria itu.


Meski terpaksa Arya tetap mengulum sebuah senyum, saat bersitatap dengan pria yang diduganya pebinor Alias perebut bini orang.


Dengan ramah dokter Ferdi tersenyum pada Arya.


"Oh Iya,ayah sampai lupa, Ferdi kenalkan ini Arya suaminya Mirna" kata Ayahnya Mirna memperkenalkan menantunya.


Sementara Arya segera mengulurkan tangannya dengan bangga ke arah Ferdi, saat ayah mertuanya itu memperkenalkan dirinya sebagai menantu.


"Arya." ucap Arya seraya mengulurkan tangannya pada Ferdi. Ferdi pun segera menyambut uluran tangan Arya.


"Ferdi." ucap Ferdi dengan senyum ramah, saat menyambut uluran tangan Arya.


"Nak Arya mungkin kamu belum kenal dengan dokter Ferdi, dokter Ferdi ini adalah keponakan ayah, ayahnya Ferdi adik kandung ayah." seketika Arya tersentak saat mendengar ucapan ayah mertuanya, ketika mengakui pria yang selama ini menjadi pusat kecemburuannya pada sang istri, sebagai keponakan.


"Dokter Ferdi keponakan ayah??." ucap Arya memastikan jika tadi ia tidak salah dengar.


"iya nak, apa kamu sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya??." tebak ayah mertuanya saat melihat raut wajah Arya.


"Be_lum ayah, hanya saja Arya tidak melihat dokter Ferdi di hari pernikahan kami saat itu." ucap Arya sedikit terbata, Arya meralat ucapannya agar tidak nampak mencurigakan. karena jika kedua pria berbeda generasi tersebut sampai mengetahui jika ia pernah cemburu pada pria yang ternyata adalah sepupu dari istrinya, bisa di pastikan Arya tidak punya muka lagi di depan kedua pria itu.

__ADS_1


"Oh iya, maaf ya di hari pernikahan kalian saya tidak bisa hadir, karena saya harus melakukan operasi." jawab Ferdi jujur, Arya pun mengangguk paham.


"Iya dok, tidak apa apa." ucap Arya, sementara Ferdi memicing.


"Kok manggilnya dokter sih, mulai sekarang kamu panggilnya Abang saja, sama seperti istri kamu!!." kata Ferdi ramah.


"Iya dok,,, maksudnya iya bang." kata Arya terbata karena belum terbiasa.


Arya ikut duduk di sofa bersama dengan Dokter Ferdi dan ayah mertuanya. saat ini raga Arya memang berada di tempat itu, namun tidak dengan hati dan pikirannya. hati dan pikiran Arya terus tertuju pada sang istri, rasa penyesalan mulai merajai hati Arya, kala teringat istrinya yang terus menangis semalaman karena sikap dinginnya.


Semalam Arya hanya berpura pura tidur, itu sebabnya ia merasa bersalah karena ia terus melihat bahu Mirna sesekali bergerak, dan Arya bisa menebak jika wanitanya itu sedang menangis.


Saat itu ingin sekali rasanya Arya menghampiri Mirna dan memeluknya erat, namun semua itu urung di lakukan pria itu saat cemburu masih merajai relung hati dan pikirannya.


"Ada apa nak Arya??." tegur ayah mertuanya saat melihat Arya seperti sedang gelisah.


"Apa ada masalah??." lanjut tanya Ayah mertuanya saat Arya masih diam.


"Sebenarnya Arya harus segera ke kampus ayah, soalnya jam sembilan nanti Arya ada mata kuliah." jawab Arya menjadikan mata kuliah sebagai alasan agar bisa segera beranjak dari sana.


"Kalau begitu berangkat lah!!." titah ayah mertuanya, sama seperti ayahnya Mirna, Ferdi ikut menimpali.


Tanpa menunggu lama Arya pun segera berdiri dari duduknya dan bergegas menuju kampus, setelah lebih dulu pamit pada ayah mertuanya serta dokter Ferdi.


***


Sementara di kampus, nampak Mirna tengah memberi materi pada mahasiswanya.


Di tengah kegiatannya tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu, membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara.


"Tok,,, tok,,, tok " Meski pintu terbuka lebar, namun demi menjaga sopan santun mahasiswa itu tetap mengetuk pintu sebelum hendak masuk, apalagi mengingat saat ini ia sudah telat beberapa waktu.


Semua menoleh ke arah pintu, termasuk Mirna yang tengah memberi materi.


"Maaf saya telat Bu, apa saya boleh masuk mata kuliah ibu??." ucap mahasiswa yang ternyata adalah Arya.


Mirna sempat terkejut melihat kedatangan Arya di kampus, sebab saat di rumah tadi Arya sama sekali tidak terlihat hendak ke kampus.

__ADS_1


"Silahkan masuk, lain kali jangan sampai telat lagi!!." titah Mirna penuh wibawa. Arya pun segera masuk dan duduk di bangkunya.


Kembali seperti saat Mirna masuk ke kelas itu beberapa saat yang lalu, nampak beberapa mahasiswa saling berbisik, membuat Mirna sebagai dosen yang memberi materi di depan merasa risih dengan tingkah beberapa mahasiswanya itu.


"Jika ingin ngobrol sebaiknya di luar, jangan di sini!!." Mirna sengaja menyindir beberapa mahasiswa yang duduk paling ujung ruangan tersebut, namun seperti tidak peka tiga orang mahasiswa itu tetap mengobrol lirih. sampai Mirna melangkah mendekati tiga mahasiswa tersebut.


"Sebenarnya apa yang sedang kalian obrolkan, sampai tidak fokus pada materi??." tegur Mirna penuh ketegasan, seraya meraih ponsel dari tangan salah seorang mahasiswa tersebut. betapa terkejutnya Mirna saat menatap layar ponsel, menunjukkan foto dirinya dan juga Dokter Ferdi, jika di lihat dari foto itu mungkin orang akan menyangka keduanya adalah sepasang kekasih.


"Dari mana kamu mendapatkan foto ini??." nada suara Mirna mulai tak bersahabat, hingga semua mahasiswa yang berada di kelas itu mendengar suaranya, tak terkecuali Arya.


Karena ketakutan, pemilik ponsel yang saat ini berada di tangan Mirna pun menjawab.


"Saya dapat dari group kampus Bu, ada yang sengaja mengirim foto ibu di group mahasiswa sekampus."jawab Mahasiswa itu dengan suara terbata karena takut kena amukan dari dosennya itu.


Mirna menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, sebelum membuka group kampus yang berada di aplikasi hijau di ponsel itu.


Mata Mirna membulat sempurna, saat membuka group tersebut di mana para mahasiswa asyik membicarakan tentang dirinya, bahkan sejak kemarin.


Mirna yakin suaminya pasti juga termasuk salah satu penghuni group tersebut, mengingat suaminya juga termasuk mahasiswa di sana.


"Pasti foto ini yang membuat sikap Arya berubah dingin padaku." tebak wanita itu seraya melirik ke arah Arya, yang kini tengah menatapnya, hingga untuk beberapa saat tatapan keduanya bertemu. sebelum Mirna kembali ke depan.


Dengan langkah penuh wibawa Mirna kembali ke berjalan dan berdiri menghadap para mahasiswanya.


"Agar tidak terjadi kesalahpahaman, ibu ingin menjelaskan pada kalian. foto ini tidak seperti yang kalian pikirkan, kami tidak memiliki hubungan seperti yang kalian pikirkan. ibu memang sangat dekat dengan pria yang ada di dalam foto ini, karena beliau adalah Abang sepupu ibu." meski kesal saat tahu dirinya menjadi topik perbincangan hangat di group kampus,, namun Mirna tetap menjelaskan dengan tenang serta penuh wibawa.


"Satu lagi ibu tekankan pada kalian jangan lagi membuat asumsi sebelum mengetahui kebenaran yang terjadi, terutama pada ibu, karena ibu tidak ingin ada seseorang salah paham dengan itu semua!!" lanjut terang Mirna seraya melirik ke arah Arya, sementara Arya pun langsung menatap intens wajah wanita itu.


"Maaf sebelumnya Bu, jika di perkenankan apa boleh kali bertanya??." ucap salah satu mahasiswi, mengingat salah seorang mahasiswi itu bertanya dengan ramah Mirna pun mengizinkannya untuk bertanya.


"Memangnya apa yang ingin di tanyakan pada ibu??." ucap Mirna.


"Apakah saat ini Bu dosen cantik sudah punya pacar??." karena penasaran mahasiswa tersebut memberanikan diri bertanya tentang kehidupan pribadi dosennya itu.


Sebelumnya Mirna menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan sebelum memberi jawaban.


"Nampaknya kalian sangat penasaran dengan kehidupan pribadi ibu." Mirna tersenyum tipis, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Saat ini ibu tidak lagi sendiri, karena beberapa Minggu yang lalu ibu telah menikah dengan seorang pria. jadi kesimpulannya ibu tidak memiliki pacar tapi kalau suami ada." jawaban Mirna membuat seseorang yang duduk di salah satu bangku mahasiswa merasa terharu, karena secara tidak langsung wanita itu telah mengakui dirinya sebagai suami.


__ADS_2