
Kheano meminta dokter Ferdi untuk menghentikan mobilnya lima ratus meter dari rumah, ia sengaja sebab tidak ingin Alisya melihat dirinya di antar oleh Tiara dan suami. karena itu akan menyebabkan begitu banyak pertanyaan dari istrinya.
"Kamu yakin turun di sini??." tanya Tiara meyakinkan.
"Iya, sebaiknya aku turun di sini." Sahut Kheano sebelum membuka pintu mobil.
Tiara menyaksikan dari kejauhan sampai Kheano masuk ke gerbang rumah, sebelum mereka berlalu menuju rumah orang tua Tiara. malam ini keduanya sepakat untuk menginap di rumah orang tua Tiara.
Kheano masuk tanpa mengetuk pintu sebab setiap anggota keluarga memiliki satu buah kunci cadangan, termasuk Kheano.
Baru saja masuk Kheano sudah di suguhkan pemandangan memilukan baginya, bagaimana tidak, ia melihat istrinya yang tengah tertidur di sofa ruang keluarga, bisa di pastikan istrinya tersebut ketiduran saat menunggu kepulangannya.
Kheano mematikan Televisi, Kheano sengaja bergerak perlahan agar tidak menggangu tidur Alisya, namun nyatanya wanita itu nampak mengerjapkan matanya saat mendengar langkah kaki.
"Kakak sudah pulang??" tanya Alisya dengan suara berat khas Bangun tidur. Kheano melangkah mendekati istrinya.
"Iya sayang, apa kamu nungguin kakak sampai ketiduran di sini??." ucap Kheano seraya mengelus puncak kepala istrinya, dan wanita itu pun mengangguk, sebelum beralih menatap jam dinding.
"Apa pekerjaan kakak banyak banget ya, sampai harus pulang semalam ini??." Kheano menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan, sebelum terpaksa berbohong agar tidak membuat istrinya khawatir atau bahkan berpikir yang tidak tidak, sebab sekarang waktu telah menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Iya sayang, maaf sudah membuat kamu menunggu sampai ketiduran di sini." ucap Kheano, sementara Alisya mengangguk percaya dengan ucapan suaminya.
Seketika saat kesadaran Alisya terkumpul sempurna, ia mengeryit heran saat melihat penampilan suaminya yang rambutnya acak acakan, bahkan kini jaket yang tadi di pakai Kheano kini tak lagi nampak di kenakan pria itu saat kembali. namun Alisya memilih diam dan tak menanyakan perihal kejanggalan tersebut pada suaminya, karena tidak ingin Kheano beranggapan jika dirinya tidak percaya pada ucapan suaminya.
"Kamu kenapa sayang??." tanya Kheano saat melihat istrinya itu terus menatap ke arahnya.
"Nggak papa kok kak." sahut Alisya sebelum kemudian berdiri, karena suaminya telah menggenggam tangannya hendak mengajak menuju kamar.
"Maaf Sayang, kakak tidak bermaksud membohongi kamu, tapi kakak juga tidak ingin kamu berpikir yang tidak tidak, jika kakak mengatakan yang sebenarnya padamu." dalam hati Kheano saat kedua berjalan menapaki anak tangga menuju kamar.
__ADS_1
Keduanya mulai berbaring, Alisya perlahan terlelap di dalam dekapan Kheano, sementara pria itu belum juga bisa memejamkan matanya ia terus memikirkan siapa sebenarnya yang sudah menyuruh para pria tadi untuk menculiknya. satu jam kemudian Kheano baru bisa memejamkan matanya, meski baru saja tertidur selama satu jam namun Kheano tetap bangun lebih awal untuk melaksanakan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Seperti biasa keduanya sholat berjamaah.
Pagi harinya Alisya meminta izin pada suaminya untuk ke rumah orangtuanya.
"Kak Alisya kangen ayah sama bunda, boleh nggak hari ini Alisya membawa Kesya main ke rumah ayah??."tanya Alisya yang kini tengah merapikan tempat tidur, meski memiliki banyak ART namun tidak membuat wanita itu serta merta bergantung pada ART, jadi kalau hanya merapikan tempat tidur di pagi hari, Alisya akan melakukannya sendiri.
"Tentu saja sayang, lagi pula sudah lama Kakak tidak main ke rumah ayah." jawab Kheano seraya merapikan rambutnya di depan cermin, usai mengenakan pakaian santai, karena hari ini libur ia tidak kerja.
"Memangnya kakak mau ikut ke rumah ayah??." Alisya melangkah mendekat ke arah suaminya, untuk memastikan ucapan pria itu.
"Kenapa, emangnya nggak boleh kakak main ke rumah mertua??." ucap Kheano sembari mengatupkan Kedua tangannya di wajah cantik Alisya.
"Boleh sih, Alisya cuma memastikan aja." jawab wanita itu dengan wajah menggemaskan.
"Ya jelas sayang lah, kalau nggak sayang nggak mungkin ada Kesya. lagian kakak kenapa sih pagi pagi nanyanya aneh gitu??." sahut Alisya masih dengan wajah heran.
"Nggak papa sayang, kakak cuma lagi pengen nanya aja." ucap Kheano kemudian membelai lembut wajah Alisya.
"Kalau kakak, sayang nggak sama Alisya??." Kheano tersenyum saat wanita itu balik bertanya pertanyaan yang sama padanya.
"Sayang banget, Kakak sayang banget sama kamu dan Kesya.Sayang, kakak ingin kamu percaya, tidak ada wanita lain di hati kakak selain kamu." untuk kesekian kalinya pria itu mengutarakan isi hatinya pada wanita pujaan hati yang kini telah memberinya seorang putri cantik.
"Iy iya Alisya percaya, kalau kakak nggak sayang sama Alisya, pasti kakak sudah tergoda sama bule bule di luar negeri sana." sahut Alisya lalu mengulum sebuah senyuman, senyuman yang selalu di rindukan oleh pria yang kini ada di hadapannya itu, saat keduanya berada di belahan dunia yang jauh.
"Udah dong kak, kalau melow kayak gini terus bisa tahun depan nih ke rumah ayah." ucap Alisya kemudian hendak beranjak, ia ingin melihat putri kecilnya, apakah bidadari kecilnya tersebut sudah selesai bersiap, sebab gadis kecil itu sangat bersemangat saat kemarin bundanya mengajak dirinya ke rumah kakek dan neneknya.
Alisya beranjak keluar kamar dengan Kheano yang mengekor di belakangnya. saat berada di ambang pintu kamar putrinya, nampak seorang gadis kecil yang di kuncir dua, sehingga membuat gadis kecil tersebut terlihat begitu menggemaskan.
__ADS_1
"Cantiknya anak bunda." Kesya menoleh saat mendengar suara yang setiap hari di dengarnya.
Gadis kecil itu berlari kecil menghampiri bundanya, yang kini merentangkan tangannya untuk menyambut gadis kecilnya ke dalam gendongan, namun dengan cepat Kheano yang tengah berada di belakang Alisya, meraih tubuh kecil putrinya.
"Ayah, Kesya ingin di gendong sama bunda yah." protes gadis kecil itu dengan wajah di buat merajuk.
"Kesya di gendong sama ayah aja ya, soalnya Kesya kan udah gede sekarang, kasian kalau bunda yang harus menggendong putri cantiknya ayah." nampak Kheano tengah memberi pengertian pada putrinya, sementara Alisya hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah keduanya.
"Emangnya Kesya berat ya Bun??." dengan wajah menggemaskan gadis kecil itu bertanya pada bundanya.
Belum sempat sang bunda menjawab, ayahnya terlebih dulu memberikan jawaban yang membuat gadis kecil itu menggangguk paham.
"Kesya mau adik nggak, kalau Kesya mau adik dari bunda, bunda nggak boleh ngangkat yang berat berat biar dedek bayinya cepat hadir di perutnya bunda." ucap Kheano yang kini menggendong putrinya sembari mengelus lembut perut rata milik Alisya.
Sementara Alisya langsung menatap lekat wajah suaminya.
"Sebesar itu kah keinginan kamu untuk punya anak lagi darimu mas?."dalam hati Alisya yang terus menatap wajah suaminya.
Setelah memberi pengertian pada putri kecil, Kheano dan Alisya segera beranjak menuju kediaman orang tua Alisya, setelah lebih dulu pamit pada mamah.
Ketika di mobil tiba tiba Kheano yang tengah fokus menyetir bertanya pada Alisya.
"Sayang, bukannya seharusnya tanggal segini kamu sudah kedatangan tamu bulanan ya??." Alisya memicing saat suaminya bertanya seperti itu, bagaimana tidak,ia saja tidak berpikir sejauh itu. namun seketika kalimat suaminya, mengingatkan Alisya tentang siklus haidnya.
"Iya juga sih kak." sahut Alisya saat mengingat seharusnya siklus haidnya tersebut datang tiga hari yang lalu.
Mendengar Jawaban Istrinya membuat Kheano beralih Menatap istrinya.
"Semoga jagoan kakak sudah hadir di sini." ucap pria itu sembari mengelus perut rata Alisya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih stay memegang stir mobil.
__ADS_1