Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Cemburu tapi gengsi.


__ADS_3

Hembusan angin sepoi-sepoi menyentuh tubuh Kheano yang kini tengah berdiri di tepi danau buatan, yang berada di belakang SMA Nusa bangsa.


Kheano yang tengah berdiri di tepi danau dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya tersebut, segera menoleh saat mendengar kedatangan Al.


"Ada apa Abang meminta Al datang kesini??." ucap Al, saat melihat raut wajah Kheano tak seperti biasanya sesaat sebelum kembali memandang ke danau membelakangi dirinya.


"Abang sudah tahu semuanya." ucapan Kheano membuat Al mengernyit tidak paham.


"Apa maksud Abang, Al tidak mengerti." sahut Al yang memang tidak mengerti kemana arah kalimat Abang sepupunya.


Usai menarik napas berat, Kheano kembali melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa kamu tidak jujur saja pada Abang, kalau gadis yang kamu temui di Mall tempo hari itu adalah Alisya." lanjut ucap Kheano sembari berbalik ke arah Al Rasyad.


Tidak bisa di pungkiri Al merasa sangat terkejut saat mendengar ucapan Kheano, sampai ia sendiri bingung harus menjawab apa.


Untuk sesaat keheningan tercipta di antara kedua pria yang masih berhubungan darah tersebut, sampai Al mengeluarkan kembali berujar.


"Untuk itu Al sungguh minta maaf pada Abang, tapi jujur saat itu Al sama sekali tidak tahu jika Alisya adalah calon istri abang." ucap Al jujur.


Hembusan angin di pinggir danau tersebut terasa begitu dingin, sedingin tatapan Kheano pada Al Rasyad.


"Lalu saat kamu sudah tahu jika calon istriku merupakan gadis yang sama dengan gadis yang kamu maksud, mengapa kamu tidak berterus terang saja padaku??." cecar Kheano dengan tatapan dingin.


"Bang Sungguh, Al tidak mengatakan yang sebenarnya pada Abang,hanya karena Al tidak ingin Abang salah paham dan berpikir yang tidak tidak tentang Al." Ucap Al yang kini melangkah mendekati Kheano.


"Semakin Abang bersikap seperti ini, Al semakin yakin jika Abang sangat mencintai Alisya, hanya saja abang terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaan abang pada gadis itu." mendengar ucapan Al membuat Kheano semakin meradang.


"Tahu apa kamu tentang perasaan saya, jangan sok tahu kamu." ujar Kheano dengan tatapan tak sehangat biasa.


Namun hal itu tidak membuat Al Rasyad gentar menyadarkan abang sepupunya tersebut akan perasaannya pada sang istri.


"Jika abang tidak mencintai Alisya, tidak mungkin abang akan semarah ini saat tahu ada seseorang yang menaruh hati pada istri abang, walau abang sendiri tahu jika Al tidak akan pernah berniat merebutnya dari sisi abang." lanjut Al sebelum melangkah berlalu meninggalkan Kheano yang masih mencerna ucapannya.


Sejenak Al menghentikan langkahnya.


"Satu hal yang harus abang ingat baik baik, Al bukanlah seorang baj*ngan yang berniat merebut istri orang, apalagi istri dari abang sepupu Al sendiri."lanjut Al tanpa menoleh pada Kheano, sebelum benar benar berlalu dari tempat itu.


Ini merupakan kali pertama terjadi kesalahpahaman di antara Al Rasyad dengan Abang sepupunya itu, sehingga Al sendiri tidak menyangka jika Abang sepupunya akan Semarah itu saat mengetahui kebenaran tentang gadis yang pernah di ceritakan Al padanya yang tak lain adalah istrinya, Alisya.


Namun Al juga tidak ingin abangnya tersebut mempersalahkan dirinya sepenuhnya, sebab kejadian itu terjadi saat Kheano belum menikah dengan Alisya, terlebih lagi Al sama sekali tidak tahu menahu, jika calon istri Abang sepupunya dengan gadis yang di temuinya di Mall tempo hari adalah orang yang sama.


"Kenapa aku bisa semarah ini pada Al, sedangkan aku sendiri tahu jika kejadian itu terjadi saat aku belum menikah dengan Alisya, apalagi Al sama sekali tidak tahu jika gadis yang di temuinya di Mall saat itu adalah calon istriku."Kheano bermonolog sendiri sejak kepergian Al.

__ADS_1


Kheano kembali teringat ucapan adik sepupunya itu, yang mengatakan jika saat ini ia tengah cemburu.


"Tidak, tidak mungkin aku sedang cemburu, jika aku sedang cemburu itu artinya benar yang di ucapkan Al, bahwa aku sudah jatuh cinta pada gadis itu. hanya saja terlalu gengsi untuk mengakuinya." gumam Kheano lalu mengacak rambutnya frustrasi.


Belum usai dengan seribu pemikiran yang membuat kepalanya mumet, kini Kheano menerima sebuah pesan dari Al yang mengatakan jika saat ini Alisya pingsan dan di larikan ke ruang UKS.


"Alisya pingsan saat di kelas dan sekarang sudah di larikan ke ruang UKS." pesan dari Al masuk ke aplikasi hijau milik Kheano.


Tanpa berpikir dua kali Kheano segera berlalu menuju ruang UKS.


"Di mana Alisya??" tanya Kheano pada Indah yang baru saja mengantarkan Alisya ke ruang UKS dan hendak kembali ke kelasnya.


"Alisya di ruang UKS kak, tadi dia sempat pingsan, tapi sekarang udah baikan Alisya sedang beristirahat." Ucap Indah menjawab pertanyaan Kheano.


"Thanks ya." jawab Kheano, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang UKS, begitupun dengan Indah yang kembali melanjutkan langkah menuju kelasnya.


Karena khawatir Kheano lupa mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk, sehingga salah satu siswi kelas 12 yang saat ini tengah bertugas di ruangan tersebut menatap heran padanya.


"Sorie,,, gue cuma mau memastikan keadaan Alisya, takut kenapa Napa Soalnya dia anak dari sahabat nyokap." ucap Kheano saat menyadari kesalahannya, yang masuk tanpa permisi.


"Oh....Alhamdulillah Alisya udah baikan kok, tadi Alisya lagi sakit perut makanya pingsan, biasa wanita kalau lagi datang bulan emang sering sakit perut." terang siswi bernama Siska tersebut.


"Oh iya kebetulan Lo di sini, gue titip Alisya bentar ya, soalnya tadi gue di panggil sama pak Baroto." lanjut ucap Siska sebelum berlalu meninggalkan ruang UKS menuju ruang staf guru.


Kheano melangkah mendekati ranjang, kemudian menarik sebuah kursi lalu duduk di samping ranjang yang tengah di tiduri Alisya.


Sementara Alisya hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sebaiknya saya antar kamu pulang sekarang." melihat Alisya sudah baikan Kheano malah ingin mengantar gadis itu kembali ke rumah.


"Tapi kak, inikan belum waktunya pulang sekolah, lagian Alisya juga udah baikan kok." sahut Alisya.


"Tapi tidak mungkin juga kan kamu lanjut belajar dengan kondisi seperti ini." lanjut ucap Kheano yang tadi tidak sengaja melihat bercak darah ha*d istrinya tembus mengenai roknya.


Kheano membuka Hoodie yang di kenakannya lalu meminta Alisya untuk berdiri sejenak, kemudian menutupi rok bagian belakang Alisya dengan Hoodie miliknya, dengan mengikatkan kedua sisi tangan dari Hoodie tersebut.


"Rok kamu terkena bercak dar*h." ucap Kheano sembari membuang pandangan ke sembarang arah, takut gadis itu malu.


Sementara Alisya yang mendengar ucapan Kheano jika saat ini roknya yang terkena bercak dar*h tersebut, segera memastikan dengan mencoba menoleh ke arah roknya.


Setelah lebih dulu meminta izin pulang lebih awal, Kheano segera mengantar Alisya kembali ke rumah.


Namun pada saat di perjalanan Alisya meminta Kheano untuk mampir sejenak ke Mini market.

__ADS_1


"Mau kemana kamu??" tanya Kheano saat Alisya hendak membuka pintu mobil.


"Mau beli sesuatu kak." jawab Alisya tanpa menjelaskan apa yang akan di belinya.


"Kamu tunggu di mobil saja, biar saya yang turun membelinya." ujar Kheano seraya mengambil dompetnya di atas dasboard lalu turun dari mobil.


"Tapi kak." Alisya sungguh merasa tidak enak jika harus meminta suaminya yang membelikan barang Kramat milik wanita itu untuknya.


"Ya ampun bego banget sih gue udah main jalan aja, tadi Alisya kan belum ngomong mau di belikan apa" gumam Kheano sembari kembali berjalan menemui Alisya di mobil.


"Kamu minta di belikan apa tadi???" tanya Kheano saat Alisya menurunkan setengah kaca mobil.


"P-e-m-b-a-l-u-t kak." karena merasa tidak enak Alisya hampir mengeja saat mengucapkan kata pembalut pada Kheano.


"Haaah??" Kheano kaget bukan kepalang saat mendengar jika barang yang di minta istrinya tersebut adalah pembalut wanita.


"Alisya kan udah bilang biar Alisya aja yang beli sendiri." ucap Alisya ketika melihat perubahan di wajah Kheano saat mendengar kata pembalut.


"Biar saya saja, kamu tunggu saja di mobil!!" sahut Kheano akhirnya.


Kheano pun akhirnya kembali memasuki mini market tersebut.


Karena ini pengalaman pertama baginya, Kheano pun bertanya pada salah seorang pegawai di sana.


Setelah mengetahui letak Kheano pun melangkah ke deretan rak yang menyediakan berbagai macam pembalut wanita dengan merk yang berbeda beda. karena bingung harus memilih merk apa, Kheano pun mengambil masing masing satu dari merk yang berbeda beda. sehingga beberapa orang wanita yang juga hendak mengambil barang yang sama dengannya, tersenyum saat melihat keranjang yang di tenteng Kheano di penuhi dengan berbagai macam merk pembalut wanita.


"Banyak amat belinya mas, emangnya buat persiapan berapa tahun mas??" ucap gadis salah seorang pengunjung lainnya, yang sengaja meledek Kheano.


Kheano yang merasa risih dengan ledekan gadis itu segera berlalu menuju kasir.


Saat meletakan belanjaan di meja kasir, ibu ibu yang juga hendak melakukan pembayaran di kasir tersebut seakan tengah menahan senyum melihat Kheano.


"Buruan mbak!!." seru Kheano yang semakin merasa risih karena menjadi pusat perhatian.


"Semua Empat ratus dua puluh ribu mas." ucap pegawai kasir tersebut usai merincikan belanjaan Kheano.


Usia memberi lima lembar uang seratus ribuan pada kasir tersebut, Kheano segera berlalu tanpa mengambil kembaliannya, walau pegawai kasir tersebut terus memanggil manggil namun Kheano tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Mas kembaliannya." ucap pegawai kasir tersebut sedikit berteriak karena Kheano hampir berada di ambang pintu.


"Buat mbaknya aja." sahut Kheano sembari melanjutkan langkahnya.


Setelah masuk ke mobil dan meletakkan satu kantong besar pembalut tersebut di atas dasboard mobil, Kheano segera menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan sebelum menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Maaf ya kak, Alisya sudah bikin kakak malu." ucap Alisya saat melihat raut wajah suaminya.


"It's ok." sahut Kheano sembari melajukan mobilnya menuju rumah.


__ADS_2