Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Villa 2.


__ADS_3

"Sayang apa aku boleh melakukannya sekarang,aku sudah tidak sanggup lagi menahannya." ucap Arya dengan suara berat menahan hasr*t, Mirna pun mengangguk kemudian mengangguk yakin untuk menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya untuk lelaki yang kini telah sah menjadi imam dalam rumah tangganya.


Mendapat lampu hijau dari sang istri, perlahan Arya menanggalkan satu persatu kain yang kini masih membalut tubuh istrinya lalu membuangnya ke sembarang arah, sebelum ia ikut menanggalkan handuk yang kini melilit di pinggangnya. kini keduanya pun tak lagi mengenakan sehelai benangpun, hanya sebuah selimut putih yang menjadi saksi bisu terjadinya malam pertama yang sempat tertunda sekian lama.


"Aku takut." ucap Mirna, sementara Arya segera mengusap lembut wajah cantik itu dengan ibu jarinya.


"Aku janji akan melakukannya dengan lembut sayang." Arya nampak berusaha meyakinkan istrinya yang masih nampak ketakutan.


Dengan lembut dan hati hati Arya mulai mencoba melakukan penyatuan, meski harus beberapa kali gagal mengingat landasan masih tersegel rapi. setelah beberapa kali mencoba barulah pria itu benar benar berhasil melakukan penyatuan dengan sang istri.


Mirna merasakan sakit yang begitu hebat di bagian sensitifnya saat sang suami berhasil melakukan penyatuan di antara keduanya, bahkan buku buku tangan wanita itu nampak memutih saat mencengkeram sprei tempat tidur.


Sejujurnya Arya tidak tega melihat istrinya saat menahan rasa sakit, namun ia pun tak sanggup lagi untuk menahan hasr*t lelakinya yang kini mulai memuncak.


"Maaf sayang." hanya itu yang bisa keluar dari bibir Arya, saat melihat istrinya yang nampak menahan rasa sakit saat miliknya mulai memenuhi Liang kenikmat*n milik sang istri.


Perlahan Arya mulai menghentakkan tubuhnya dengan lembut, sehingga rasa sakit luar biasa yang tadi di rasakan Mirna berubah menjadi sebuah kenikmatan, yang belum pernah di dirasakan wanita itu sebelumnya.


Malam ini rintihan serta erangan silih berganti terdengar di antara dua insan yang di mabuk cinta, jika saja kamar tersebut tidak di fasilitasi kedap suara, mungkin suara keduanya akan terdengar sampai keluar kamar.


Bagi seorang pria yang baru pertama kali merasakan nikmatnya bercinta, Arya tak merasa lelah sama sekali. hingga sampai dengan satu jam berkeringat bersama, akhirnya benih pria itu memenuhi rahim sang istri.


Untuk beberapa saat Arya nampak terkulai lemas di atas tubuh istrinya, usai menuntaskan hasr*t yang sekian lama terpendam.


"Terima kasih sayang." ucap Arya seraya mengecup kening Mirna, sebelum pria itu ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Sementara Mirna yang kini nampak kelelahan melayani permainan suaminya, hanya bisa mengangguk karena lemas.


Arya yang kini berbaring telentang, menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Sini sayang!!." dengan lembut Arya menidurkan istrinya itu di dekapannya dengan merebahkan kepala Mirna pada lengannya.


Nampak jelas dari Raut wajahnya jika wanitanya tersebut begitu kelelahan, akibat permainkan mereka tadi. Arya tersenyum saat melihat istrinya tersebut mulai terlelap karena kelelahan.


"Maaf sayang sudah membuatmu kelelahan." gumam Arya lirih sembari memainkan dagu Mirna dengan gemasnya.


"Hemt." Mirna nampak menggeliat saat merasa tidurnya terusik.


"Tidurlah sayang!." dengan lembut Arya mengelus elus lengan istrinya, sampai wanita itu kembali terlelap dalam mimpi indahnya.


Baru juga beberapa jam menikmati tidurnya, Mirna mengerjakan matanya, ketika menyadari tangan kekar suaminya mulai kembali aktif menggerayangi setiap inci bagian tubuhnya.


"Mas aku ngantuk banget." tanpa sadar wanita itu memanggil suaminya dengan sebutan mas, sehingga membuat sebuah senyum terbit di wajah Arya.


"Kamu manggil aku apa barusan??." tanya Arya memastikan jika ia tidak salah dengar.


Seketika kesadaran Mirna terkumpul sepenuhnya, saat menyadari jika tadi ia memang tak sadar memanggil suaminya dengan panggilan mas.


"Enggak bukan itu, kamu manggil aku apa tadi??" Arya masih kekeh mencecar dengan nada menggoda.


"Mas??." lanjut Arya, sontak membuat Mirna kehilangan rasa mengantuk yang tadi begitu merajainya.


Mirna yang jadi salah tingkah akibat panggilannya tadi, mencoba memutar otak untuk mencari alasan, sampai melintas di pikiran wanita itu ucapan ayahnya beberapa Minggu lalu.


"Kata ayah tidak sopan memanggil suami dengan panggilan nama, meski kamu tiga tahun lebih muda dariku." jawab Mirna tanpa kikuk menatap ke arah suaminya, yang kini tengah menatap lekat ke arahnya.


"Terima kasih istriku sayang, terima kasih karena menghormatiku sebagai seorang suami. maaf jika selama menjadi suami kamu mas belum sanggup melakukan yang terbaik untukmu." mendengar kalimat yang begitu menyentuh dari Arya, Mirna pun segera beralih menatap bola mata pria itu yang nampak teduh bagi setiap yang menatapnya.


Mirna mengatupkan kedua tangannya di wajah suaminya, seraya menatap lekat manik mata pria itu.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang minta maaf, meski usiaku tiga tahun di atas usia mas, tapi aku masih bersifat ke kanak Kanakan. maafkan aku jika selama menjadi istri aku belum bisa melayani mas dengan baik." Arya tersenyum mendengar ungkapan hati istrinya yang terdengar begitu tulus, sebelum meraih tubuh Mirna ke dalam dekapannya.


"Aku juga minta maaf karena membuat mas menunggu terlalu lama, untuk mendapatkan hak mas sebagai seorang suami." lanjut Mirna tanpa terasa buliran bening menetes dari sudut matanya.


Sementara Arya yang menyadari bahunya basah, segera melepas pelukannya untuk memberi jarak di antara keduanya.


"Kenapa kamu menangis sayang??." tanya Arya sembari mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Mirna yang nampak putih bersih tersebut.


Bukannya berhenti, Tangis wanita itu malah semakin pecah, sehingga membuat Arya jadi bingung sendiri.


"Sayang jangan kayak gini dong, sebenarnya kamu kenapa, apa kamu masih merasa kesakitan??." tanya Arya yang menyangka jika istrinya menangis karena masih merasa kesakitan di **** *************.


Mirna menggeleng sebelum kembali berucap.


"Aku hanya nggak nyangka, ternyata mantan mahasiswa ku yang paling nyebelin bisa mengatakan hal sebijak itu." ucap Mirna di sela tangisnya, sementara mata Arya langsung membulat sempurna saat mendengar alasan mengapa sampai istrinya tersebut menangis seperti saat ini.


"Jadi kamu nangis karena itu sayang??." ucap Arya lalu di jawab anggukan oleh sang istri.


"Astaga, mas pikir kamu nangis karena hal yang lain." sahut Arya seraya menepuk jidatnya.


"Memangnya mas pikir aku nangis sebab apa??." tanya wanita itu dengan wajah polosnya.


Mendengar pertanyaan istrinya membuat Arya mengusap lembut puncak kepala Mirna seraya mengulum senyum di bibirnya.


"Mas pikir karena milik kamu masih terasa sakit, makanya kamu nangis." sahut Arya dengan santainya seraya menunjuk ke arah sensitif milik istrinya.


Mirna langsung memicingkan matanya saat mendengar kalimat suaminya.


"Mesum banget sih kamu mas." Ucap Mirna merasa malu saat suaminya tersebut dengan santainya berkata demikian, apalagi pria itu juga menunjuk ke arah sensitifnya, yang sebenarnya masih terasa perih.

__ADS_1


Meski masih merasakan perih di bagian kewanitaannya namun Mirna tidak tega untuk menolak, saat pria itu memintanya untuk kembali mengulang kejadian panas di antara keduanya. hingga malam ini menjadi malam panjang bagi sepasang suami istri, yang baru saja menikmati indahnya ranjang pengantin.


Entah berapa kali sudah Arya melakukannya, yang jelas Mirna baru bisa kembali memejamkan matanya pukul empat subuh, hanya tidur selama satu jam, sebelum keduanya kembali terjaga untuk melakukan kewajiban sebagai seorang muslim.


__ADS_2