Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Datang melamar.


__ADS_3

"Sebagai sahabat gue juga turut mendoakan semoga niat Lo melamar adiknya Kheano di terima sama Om Reza dan Tante Tasya." ucapan tulus terdengar dari mulut Arya, saat Kheano nampak memberikan lampu hijau untuk Andi.


"Thank you bro." sahut Andi.


***


Malam harinya sepasang suami istri nampak telah siap hendak mendampingi putra mereka satu satunya untuk bersilaturahmi ke rumah calon mertua.


"Bunda jadi penasaran yah sama calon istri anak kita, bunda jadi nggak sabar pengen ketemu." seorang wanita paruh baya nampak antusias ingin berjumpa calon menantu, sementara putra, Andi belum juga turun dari kamarnya.


"Andi kenapa lama banget sih yah." baru saja berucap demikian, Andi pun sudah nampak berjalan menuruni anak tangga dengan mengenakan stelan tuksedo berwarna navi, di padukan dengan pantofel berwarna hitam semakin menambah kesan penuh wibawa pada pria itu.


"Anak bunda benar benar sudah dewasa sekarang." jawaban bundanya membuat Andi tersenyum seraya meraih kunci mobil yang di letakan di atas meja ruang keluarga.


"Ayo nak, sebaiknya kita berangkat sekarang, tidak enak jika membuat keluarga calon besan kelamaan nunggu." ajak bundanya Andi dengan raut wajah berseri seri. bagaimana tidak, sejak lama wanita itu meminta putranya agar segera menikah Namun seribu satu alasan yang di berikan Andi pada Bundanya tersebut.


Sampai akhirnya siang tadi wanita paruh baya tersebut tersenyum bahagia saat putranya meminta ia dan suaminya untuk melamar gadis pujaan hati.


Siang tadi sebelum kedatangan Kheano ke ruangan kerjanya, Andi sempat menghubungi kedua orangtuanya untuk mengabarkan tentang niatnya melamar Rania. seperti dugaan Andi sebelumnya, nada suara bundanya terdengar sangat bahagia mendengar berita tersebut, sampai sampai wanita itu berteriak memanggil sang suami yang saat itu tengah berada di ruang kerjanya.


Dengan tergesa gesa ayahnya Andi berjalan menghampiri sang istri sebelum bicara dengan putranya melalui sambungan telepon.


Setelah mendengar semua cerita dari putranya, pria itu pun mengiyakan permintaan Andi, untuk bertemu dengan kedua orang tua Rania.


***


Sementara di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Rania nampak mondar mandir di kamarnya. sehingga membuat Alisya yang kini menemani wanita itu nampak pusing di buatnya.


"Kamu ngapain sih Ran mondar mandir kayak setrikaan??." pertanyaan Alisya membuat Rania menghela napas dalam lalu menghembusnya kasar.


"Gue lagi stres Alisya." jawab Rania dengan wajah tegang.


"Gimana sih kamu, mau di lamar seorang pria malah stres kayak gini, harusnya kamu itu seneng kali Ran!!." ujar Alisya heran.


"Jika pria yang akan melamarku adalah pria yang menjalin hubungan asmara denganku pastinya aku akan sangat bahagia kakak iparku sayang, tapi ini malah sebaliknya. kami tidak pernah pacaran bahkan tidak pernah dekat tiba tiba pria itu ingin menikah denganku." sahut Rania dengan wajah dongkol, tidak habis pikir dengan kakak iparnya tersebut. bagaimana tidak, seenaknya saja wanita itu mengatakan seharusnya ia bahagia karena sebentar lagi akan di nikahi seorang pria, tanpa memikirkan bagaimana Nasib Rania nantinya kala menjalani hidup bersama Andi. begitulah pemikiran Rania saat ini terhadap kakak iparnya tercinta.

__ADS_1


"Jangan khawatir tentang cinta Ran, karena cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. aku yakin Andi menaruh hati padamu, hanya saja belum mengungkapkannya padamu." Alisya nampak memberi kata kata bijak pada gadis itu.


"Jujur Alisya, bukannya aku tidak ingin menikah dengan Andi, hanya saja aku takut, takut jika pria itu hanya menjadikan aku pelarian semata." jawaban Rania membuat Alisya kemudian tersenyum manis seraya menepuk pelan pindah Rania.


"Percayalah Ran, Andi bukan tipe pria seperti yang kamu pikirkan. kakak kamu tidak mungkin memberi lampu hijau jika Andi memiliki sikap seperti yang kamu pikirkan." lanjut Alisya. nampaknya kata kata Alisya mampu meyakinkan gadis itu, terbukti sejak mendengar kata kata Alisya, Gadis itu nampak diam seperti sedang mencerna nasehat Kakak iparnya.


Sampai dengan beberapa saat kemudian Rania yang berdiri didekat jendela kamarnya, tidak sengaja melihat mobil yang baru saja memasuki gerbang rumahnya. dari plat nomor kendaraan Rania bisa menebak jika itu adalah mobil Andi.


Wajah Rania kini nampak semakin menegang saat menyadari pria itu tak datang seorang diri, sesuai dengan janjinya siang tadi pria itu datang bersama kedua orang tuanya.


"Ternyata dia bersungguh sungguh dengan ucapannya siang tadi, aku pikir dia hanya akan menakut nakutiku saja." dalam hati Rania dengan raut wajah tegang, sementara Alisya yang kini berdiri di samping Rania dan ikut memandangi mobil Andi hanya bisa menghela napas dalam lalu menghembusnya perlahan.


"Sebaiknya kita turun sekarang, tidak baik jika kamu tidak hadir di sana. apapun keputusan yang akan kamu ambil, aku akan tetap mendukungmu." kata Alisya dengan seulas senyum di wajahnya, seolah tengah memberikan dukungan sepenuhnya pada gadis itu. dan Rania pun mengangguk sebelum keduanya turun untuk menghampiri Andi serta kedua orangtuanya.


Sejak Rania menuruni anak tangga pandangan Andi terus tertuju pada gadis itu. bagaimana tidak, malam ini gadis itu nampak begitu berbeda dari biasanya. Rania yang sehari hari terbiasa mengenakan baju kaos atau kemeja wanita yang di padukan dengan celana jins kini tampil berbeda dengan balutan dres berlengan dengan panjang di bawah lutut. apalagi warna dres yang saat ini di kenakan Rania juga berwarna senada dengan tuksedo yang di kenakan Andi, padahal pada kenyataannya keduanya tidak janjian sebelumnya.


Kesan cantik dan elegan begitu terlihat pada penampilan gadis itu, apalagi rambut lurus sebahunya di biarkan terurai rapi, dengan di selipkan ke belakang telinga gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut.


Tanpa sadar Andi mengukir senyum tipis di wajahnya saat melihat penampilan feminim gadis yang hendak dilamar olehnya tersebut. Rania yang menyadari itu nampak semakin gugup, sehingga tak sengaja ia menabrak sudut meja saat hendak bersalaman pada kedua orang tua Andi.


Seketika tubuh Rania mematung saat semua mata memandang ke arahnya termasuk kedua calon mertua serta kedua orangtuanya sendiri.


"Maaf." hanya itu yang bisa keluar dari mulut gadis itu.


"Tidak apa apa sayang." sahut bundanya Andi dengan lembutnya, berbeda dengan mamanya yang tersenyum malu kepada calon besan akibat tingkah putrinya.


Kini Rania duduk di tengah Kedua orang tuanya yang berhadapan langsung dengan Andi serta kedua orangtuanya.


Sampai dengan beberapa saat kemudian, Andi membuka obrolan di tengah kedua belah pihak.


"Begini om,,,Tante,,,, maksud saya datang kesini dengan mengajak kedua orang tua saya adalah untuk melamar anak gadis om dan Tante. bismillah atas izin Allah saya ingin mempersunting Rania sebagai istri serta calon ibu dari anak anak saya." ucapan Andi membuat tuan Reza kagum akan sosoknya yang berani melamar secara langsung putrinya.


"Seperti kata anak kami, kami datang bersilaturahmi ke rumah tuan ingin menjadikan putri anda sebagai menantu kami, itu pun jika tuan dan nyonya Admaja tidak keberatan." timpal Ayahnya Andi seolah membenarkan ucapan putranya barusan.


"Alhamdulillah,,, sebagai orang tua tentunya kami merasa senang saat ada seorang pria yang datang melamar putri kami, namun begitu kami juga harus meminta pendapat putri kami terlebih dahulu, apakah putri kami bersedia menerima lamaran dari nak andi. kalau saya sendiri sudah mengenal nak Andi cukup lama karena nak Andi merupakan sahabat dari putra kami Kheano, mengingat yang menikah bukanlah kami melainkan putri bungsu kami, maka semua serahkan semua keputusan di tangan putri kami, Rania." mendengar kata kata bijak ayahnya membuat Rania menatap wajah pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut.

__ADS_1


"Ayah serahkan semua keputusan padamu nak!!." kata tuan Reza saat putrinya tersebut memandang ke arahnya.


"Ayah saja yang memutuskan, apapun keputusan ayah Rania akan menurut." jawab gadis itu seraya menunduk, bukannya karena malu hingga gadis itu menunduk namun karena tidak ingin ia salah mengambil keputusan. itu sebabnya ia memberikan kesempatan untuk ayahnya untuk mengambil keputusan.


"Bagaimana jika ayah bilang ayah menerima lamaran dari nak Andi, apakah kamu bersedia menikah dengannya??." mendengar pertanyaan dari ayahnya membuat Rania hanya bisa mengangguk, sebab ia tidak ingin mengambil keputusan sendiri, keputusan yang akan di sesali suatu saat nanti apabila ia menolak lamaran pria itu.


Melihat putrinya mengangguk membuat tuan Reza paham akan keputusan yang akan di ambilnya.


"Kalau mama sendiri gimana??" kini giliran nyonya Tasya sebagai ibu dari Rania yang mendapat pertanyaan dari sang suami.


"Kalau mama sih tidak masalah jika nak Andi menikah dengan Rania, lagi pula selama yang mama kenal nak Andi orangnya baik." jawaban istrinya membuat tuan Reza semakin yakin dengan keputusannya, dengan menerima lamaran dari Andi.


"Baiklah jika begitu, atas izin Allah saya menerima lamaran dari nak Andi." jawaban tuan Reza mampu membuat senyum yang tak pernah di tampilkan Andi sebelumnya, kini menghiasi wajah tampan pria itu.


"Terima kasih Om Tante karena sudah menerima lamaran saya, sebagai hantaran saya akan memberikan calon istri saya uang tunai sebesar dua puluh milyar serta lengkap dengan aksesoris wanita termasuk satu set perhiasan dengan berat seratus gram." mendengar ucapan pria itu membuat Rania langsung menengadahkan kepalanya memandang ke arah Andi, yang kini tengah serius berbicara pada sang ayah.


"Sebelumnya saya minta maaf karena hanya bisa memberikan hantaran sebesar itu, tapi percayalah jika uang itu saya dapatkan dari hasil keringat saya sendiri." mendengar itu tuan Reza pun terharu.


"Tidak masalah nak, itu sudah lebih dari cukup untuk putri bungsu om yang masih jauh dari kata sempurna. justru om yang minta maaf, jika nanti setelah menjadi seorang istri Rania belum bisa melakukan tugasnya dengan baik." ucap Tuan Reza.


"Untuk itu saya pun tidak masalah om, karena saya ingin mencari istri serta calon ibu dari anak anak saya kelak bukannya mencari pembantu." jawaban jujur dari Andi membuat tuan Reza kembali tersenyum.


"Di saat memutuskan menikah dengan putri om mulai saat itu pula saya akan berusaha menerima kelebihan dan kekurangan Rania, saya juga berharap Rania akan melakukan hal yang sama." lanjut Andi.


Setelah pembicaraan usai Andi dan kedua orang tuanya pun pamit, kini tinggallah Rania dan keluarganya.


"Kalau kakak sih nggak mau buang buang duit Segede gitu buat cewek bar bar kayak kamu." ucap Kheano sengaja mengejek adiknya.


"Enak aja kakak ngomong, lagian dulu juga kakak ngeluarin duit gede buat hantaran pernikahan." sahut Rania dongkol dengan ejekan kakaknya.


"Kakak ngeluarin duit hantaran gede pun nggak masalah, orang istri kakak lemah lembut nggak bar bar kayak kamu." mendengar kalimat kakaknya yang berbau ejekan membuat Rania semakin dongkol.


"Lihat aja ya kak, entar kalau Rania udah jadi istri dari teman kakak itu Rania juga pasti bisa bersikap lemah lembut, iya kan mah." ucap Rania seolah meminta dukungan dari sang mama.


"Iya iya,,,lagian kamu Khe, jangan kayak gitu dong sama adik kamu!!." timpal bundanya melerai perdebatan tak berfaedah di antara keduanya buah hatinya.

__ADS_1


__ADS_2