
Alisya mondar mandir di kamar mandi usai menyelesaikan misi kebeletnya yang tertunda.
Mondar mandir di dalam kamar mandi, dengan harapan saat ia keluar nanti suaminya itu sudah terlelap dalam mimpi indahnya, hingga ia tidak lagi melihat Alisya dengan pakaian kurang bahan tersebut.
Namun harapan Alisya seakan sia sia saat suara bariton Kheano menggema di balik pintu.
"Alisya kamu nggak papa kan sayang, kamu sudah setengah jam Loh di kamar mandi." suara bariton Milik Kheano membuat Alisya memejamkan mata sembari menepuk jidatnya.
"Mati aku, kenapa kakak belum tidur juga sih." Alisya bermonolog.
Kheano semakin khawatir takut terjadi apa apa di dalam, sebab tak ada sama sekali sahutan dari istrinya.
Kheano mencoba membuka handle pintu namun sayang, Alisya sengaja menguncinya dari dalam, hingga Kheano akhirnya berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar mandi tersebut.
"Apa sebaiknya pintunya aku dobrak saja." Kheano yang bermonolog di balik pintu masih terdengar oleh Alisya.
"Mending aku keluar deh... daripada kakak ngedobrak kamar mandi, bisa rame nih seisi rumah." gumam Alisya sebelum membuka pintu dengan perlahan, sehingga menampilkan dirinya yang kini tengah mengenakan sebuah lingerie maroon yang terbuat dari bahan satin.
Raut wajah Kheano yang awalnya khawatir kini berubah drastis saat melihat istrinya yang mengenakan baju dinas malam.
"Aku terpaksa mengenakan ini, sudah terlanjur janji pada mama." ucap Alisya tidak ingin Kheano berpikir jika ia sengaja ingin menggodanya dengan mengenakan lingerie seksi tersebut.
Bukannya menimpali atau merespon kalimat Alisya, Kheano malah memandangi Alisya dari ujung kaki sampai pandangan Kheano berhenti pada kedua bukit kembar nan berisi milik istrinya.
Alisya segera menyilangkan kedua tangannya ke dada, saat menyadari pandangan suaminya ke arah sana, sebelum ia memutuskan keluar dari kamar mandi.
Namun saat ia hendak melewati Kheano yang masih berdiri di ambang pintu, suaminya tersebut malah merangkul pinggangnya. hingga Alisya bisa merasakan bagian tubuh Kheano begitupun sebaliknya.
"Cantik dan juga wangi." itu yang kini ada dalam benak Kheano saat ia mengendus harum tubuh Alisya.
Tangan Kheano mulai menarik tengkuk Alisya lembut sebelum mendaratkan sebuah ciuman.
Alisya yang merasa mulai terpancing mulai membalas ciuman Kheano, sehingga cium*n panas berubah menjadi ******n. merasa mendapat lampu hijau Kheano mulai mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, lalu merebahkan tubuh Alisya ke ranjang sebelum menindih Tubuh istrinya dengan lengan kokohnya sebagai penyangga.
"Mungkin jika Alisya kembali mengandung anakku, dia tidak akan pernah lagi meminta berpisah dariku." dalam hati Kheano yang kini menatap lekat manik mata Alisya, saat menyudahi sementara tautan di antara keduanya.
Sampai adegan dewasa kembali berlanjut di antara dua insan yang sebenarnya begitu saling merindukan. hanya saja karena Alisya masih ragu untuk benar benar membuka diri dan hatinya untuk sang suami, sampai ia belum kembali menyerahkan dirinya sepenuhnya pada sang suami. sampai akhirnya malam ini pertahanan Alisya runtuh, ia kembali membuka hati dan menerima sentuhan hangat dari sang suami tercinta.
Akhirnya malam ini Kheano berhasil menerjang dinding penghalang di antara keduanya sebagai sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan agama. malam ini Kheano bisa kembali merasakan kenikm*tan yang pernah di dirasakannya tiga tahun silam.
"Terima kasih sayang." ucap Kheano seraya mengecup lembut kening Alisya, usai menyalurkan hasrat yang selama ini terus ditahannya, pada wanita yang sangat dicintai.
Kheano merasa bersalah saat istrinya tersebut bukannya menjawab ucapannya, tapi Alisya malah menitihkan air mata.
"Apa kamu menyesal??." Pertanyaan Kheano yang disertai raut wajah sendu tersebut mendapat gelengan dari Alisya
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu menangis??." tanya Kheano yang semakin merasa bersalah.
"Aku takut." akhirnya Alisya menjawab pertanyaan Kheano.
"Apa yang membuatmu takut??." kembali tanya Kheano dengan nada lembut.
"Aku takut jika suatu saat nanti kakak akan kembali meninggalkan Alisya sendirian, setelah kakak berhasil mendapatkan apa yang Kakak inginkan" Akhirnya tangis Alisya pecah teringat tiga tahun lalu saat Kheano berhasil merebut mahkotanya, lalu pergi meninggalkan dirinya untuk waktu yang tidak sebentar.
Melihat wajah istrinya yang terlihat begitu ketakutan membuat Kheano kembali merasakan rasa bersalah yang begitu besar, karena meninggalkan istrinya saat berhasil mendapatkan sesuatu yang paling berharga dari seorang wanita. meski niat Kheano pergi untuk menimba ilmu, bukan untuk hal yang tidak tidak.
Kheano menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya.
"Kakak akan terus di sini bersamamu dan anak kita, kakak janji tidak akan meninggalkan kamu lagi sayang." Kheano berusaha meyakinkan Alisya yang kini berada di dekapannya, jika ia tidak pernah meninggalkan istrinya tersebut apapun yang terjadi.
"Jangan menangis lagi sayang, karena melihat air mata kamu membuat hati kakak nyeri." kakak minta maat atas kesalahan Kakak sebelumnya, kakak mohon maafkan kakak, Alisya ku sayang." ucap Kheano sembari mengusap lembut pipi Alisya yang di basahi air mata dengan ibu jarinya.
Mungkin karena lelah menangis atau lelah melayani suami, Alisya pun terlelap di dalam dekapan Kheano. malam ini kedua insan yang tak mengenakan sehelai benang itupun terlelap di bawah selimut yang sama.
Sampai jam lima pagi Kheano yang bangun lebih dulu, membangunkan Alisya untuk segera membersihkan diri kemudian melaksanakan tugas sebagai hamba Allah.
Selesai sholat subuh Alisya beranjak menuju dapur, sementara Kheano masih memeriksa beberapa laporan di laptopnya.
"Pagi ma." Alisya menyapa ibu mertuanya yang kini tengah sibuk memasak dengan di bantu oleh beberapa ART.
"Pagi sayang." sahut mama mertua di sela kesibukannya dengan penggorengan.
"Ada yang bisa Ica bantu mah??." tanya Alisya yang kini berdiri tepat di samping mama mertua.
Bukannya menjawab mamanya Kheano malah balik bertanya.
"Gimana sayang, apa Khe suka saat kamu menggunakan hadiah dari mama??." pertanyaan mama mertua membuat Alisya sulit menelan salivanya, karena bingung harus menjawab apa. karena tidak mungkin juga ia akan mengatakan, jika hadiah dari mama mertuanya tersebut bahkan sudah menemani malam panjang keduanya.
Melihat raut wajah Alisya yang tiba tiba merah merona, membuat nyonya Tasya yakin jika keputusannya memberikan sebuah hadiah lingerie seksi pada menantunya tersebut tidak sia-sia.
Nyonya Tasya mengulum senyum, saat membayangkan mungkin tidak lama lagi ia akan menimang adiknya Kesya.
"Lagi ngomongin apa sih, kelihatannya serius amat." timpal Rania yang baru saja tiba di dapur, ia hendak mengambil minum.
"Mau tau aja kamu soal orang dewasa." sahut mamanya Kheano masih dengan senyum terukir di wajahnya.
"Mamah gimana sih, Rania udah dewasa kali mah. Rania bahkan setahun lebih tua di banding Alisya, ia kan Alisya." ucap Rania dengan wajah di buat buat cemberut.
"Iya iya,,,kamu memang lebih tua setahun dari Alisya, tapi untuk kedewasaan kamu jauh di bawah Alisya." cetus mamanya yang kadang kadang mulutnya kurang di filter jika mengahadapi putrinya yang terbilang cukup bandel tersebut, meski sudah duduk di bangku kuliah.
"Mama kalau ngomong suka semena menah sama anak sendiri." ucap Rania seraya mencomot masakan mamanya.
__ADS_1
"Alisya, hari ini gue nebeng Ama Lo ya, soalnya mobil gue lagi di bengkel." ucap Rania yang kini tengah mengambil sebotol air mineral di kulkas.
"Iya, nanti aku bilang sama Kakak buat nganterin kamu sekalian, soalnya hari ini aku nggak bawa mobil sendiri." sahut Alisya seraya menata sarapan di meja makan.
"Thanks ya Ca',Lo emang ipar gue yang paling pengertian." sahut Rania cengengesan.
"Iya sama sama." ucap Alisya mengulum senyum pada adik iparnya itu.
Usia membantu menata sarapan di meja, Alisya kembali ke kamar untuk bersiap ke kantor setelah sebelumnya memandikan Kesya lebih dulu.
Kini Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, hampir semua anggota keluarga kini berada di meja makan untuk sarapan bersama sebelum melakukan aktivitas masing masing.
Kheano duduk di samping kursi istrinya sementara Rania duduk di kursi yang berada di samping ponakannya Kesya, yang posisinya berhadapan dengan Kheano dan Alisya. papanya duduk di kursi utama berdampingan dengan istri tercinta.
"Kak hari ini Rania nebeng kakak ya, soalnya mobil Rania lagi di bengkel." ucap Rania pada Kheano.
Belum sempat Kheano menjawab, ponakan yang selalu menjadi musuh bebuyutan Rania menyahut lebih dulu.
"Gimana sih Tante, ayahkan harus nganterin Kesya ke sekolah." ucap Kesya dengan nada bicara masih sedikit cadel.
"Nih bocah masih pagi pagi udah ngajak ribut kayaknya." ucap Rania yang tahu betul jika ponakan cerewetnya tersebut sengaja berkata seperti itu.
"Emang bener kata orang, cucu pertama pasti bakal melengserkan posisi anak bungsu sebagai kesayangan keluarga." lanjut ucap Rania, dan sontak kalimat Rania memancing tawa semua.
"Rania...Rania..." ucap papanya menggeleng seraya tersenyum melihat tingkah anak bungsunya tersebut.
"Tante kan bisa di anterin sama opa ke kampus." ucap Kesya yang setiap hari hampir selalu ribut ribut kecil dengan adik dari ayahnya tersebut.
"Ponakan Tante yang paling cantik, boleh nggak hari ini kita damai dulu!!." Rania terlihat sedang membujuk ponakannya tercinta.
Kesya semakin menggemaskan saat terlihat sedang menimbang nimbang permintaan tantenya tersebut.
"Boleh deh Tante, tapi Tante harus janji kalau Tante nggak bakal ganguin Kesya lagi!!."" sahut Kesya akhirnya.
"Gitu dong, itu baru namanya ponakan cantik Tante." puji Rania sembari mengelus puncak kepala ponakannya.
"Tapi Tante janji dulu!!." lagi lagi bocah itu meminta adik dari ayahnya tersebut berjanji untuk tidak lagi menggodanya.
"Iya... iya...Tante janji deh." akhirnya Rania mengalah dari ponakan cantiknya.
Sementara Kheano hanya mengulum senyum tidak menimpali obrolan adiknya dengan putri kesayangannya tersebut. begitu juga dengan Alisya, sebab ini bukan kali pertama anak bungsu dan cucu pertama itu berdebat manja di tengah keluarga.
Karena gemas dengan keponakannya tersebut hampir setiap hari Rania menggoda Kesya, terkadang Kesya sampai di buat kesal lalu mengadu pada Oma dan opanya jika tantenya tersebut acap kali menggodanya. Rania suka sekali menggoda keponakannya tersebut tidak jarang Rania sengaja merebut mainan bocah itu untuk sekedar melihat keponakannya tersebut merengek manja. itu sebabnya keduanya di sebut musuh bebuyutan oleh anggota keluarga yang lain.
Usai sarapan Rania segera menuju mobil Kheano yang sudah di siapkan oleh sopir di depan, namun saat berjalan Rania yang tengah fokus pada layar ponselnya mengetik pesan, sampai tidak sengaja menabrak seseorang. sehingga album serta beberapa buku di tangan Rania berserakan.
__ADS_1
"Aduh." ringis Rania.
"Maaf saya tidak sengaja." ucap pria itu sembari membantu Rania memungut buku bukunya yang berserakan.