
Sore harinya Mirna mendapat pesan dari Abang sepupunya, Dokter Ferdi, untuk sekedar menikmati secangkir teh di cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat dokter Ferdi bertugas.
Sebelum berangkat Mirna berinisiatif mengirim pesan pada suaminya, namun ketika hendak mengirim pesan, Mirna menepuk jidatnya saat teringat jika ia tidak memiliki kontak pria itu.
"Bagaimana mau kirim pesan kalau nomor kontaknya saja aku tidak punya." gumam Mirna menyesali kebodohannya.
Setelah menimbang nimbang Akhirnya wanita itu memutuskan akan memberi tahu pria yang kini berstatus suaminya tersebut, jika sudah kembali ke rumah nanti.
Mirna pun segera meraih kunci mobilnya yang di letakan di atas nakas, lalu berjalan menuju mobilnya yang di parkir di garasi.
Dengan kecepatan rata rata mobil yang di kendarai Mirna membelah padatnya jalanan ibu kota. karena perjalanan Mirna di suguhkan dengan kemacetan, butuh waktu empat puluh lima menit untuk tiba di cafe tempatnya janjian dengan dokter Ferdi.
Setibanya di cafe,Mirna segera masuk, langkahnya terhenti di ambang pintu utama cafe untuk mencari keberadaan Abang sepupunya. Mirna kemudian kembali melanjutkan langkahnya ketika melihat seorang pria yang tengah duduk seorang diri, di meja paling sudut cafe tersebut.
"Maaf Mirna terlambat, soalnya jalanan tadi macet banget. apa Abang sudah lama nunggu??."Ucap Mirna saat menghampiri dokter Ferdi.
"Enggak kok, Abang juga baru saja tiba. silahkan duduk pengantin baru!!." sahut Ferdi tersenyum, sebelum mempersilahkan Mirna untuk duduk.
Sementara Mirna menanggapi ucapan Ferdi dengan senyum tipis.
"Maaf, Abang tidak bisa hadir di acara pernikahan kamu tempo hari." ucap Ferdi.
"Tidak masalah bang, lagi pula Abang kan bukan sengaja, tapi ada tanggung jawab yang tidak bisa Abang abaikan begitu saja." sahut Mirna yang kini telah duduk berhadapan dengan dokter Ferdi.
"Ngomong ngomong tumben Abang ngajak ketemuan di cafe, biasanya juga Abang ngajak Mirna ngeteh di kantin rumah sakit." ucap Mirna terkekeh, teringat akan abangnya yang selalu saja sibuk, bahkan jika ingin sekedar bercerita mereka hanya bisa di suguhkan teh buatan kantin rumah sakit.
__ADS_1
"Kamu paling bisa kalau meledek Abang." Ferdi pun ikut terkekeh.
"Abang hanya ingin memberikan hadiah pernikahan untuk adik kesayangan Abang, kemarin kan Abang tidak sempat datang ke pernikahan kalian." lanjut ucap Ferdi sembari memberikan sebuah kotak kado yang tadi di letakan di tasnya pada adik sepupunya.
"Wah,,,apa nih isinya, jadi penasaran. kalau kotak kadonya Segede gini, pasti cuannya banyak nih." sahut Mirna sengaja bergurau.
"Kamu ini ya, yang ada di pikiran kamu selalu saja mau morotin Abang kamu." Ferdi mengulum senyum sembari mengusak ngusak rambut Mirna.
"Sekarang Abang bersyukur karena adik Abang sudah menikah jadi mulai sekarang sudah ada yang membahagiakan dan menjaga adik kesayangan Abang." Senyum indah perlahan pudar dari wajah cantik Mirna saat mendengar kalimat Abang sepupunya.
"Ada apa??." tanya Ferdi ketika melihat senyum perlahan pudar dari wajah Mirna.
"Apa pernikahan yang tidak di awali dengan cinta juga akan bahagia??." wajah Mirna berubah sendu ketika mulai bercerita.
"Kalau Abang boleh tanya, bagaimana perasaan kamu saat ini sama suami kamu?? dan bagaimana perlakuannya terhadap kamu??." Dengan raut wajah serius dokter Ferdi mulia memberi pertanyaan pada Mirna.
"Sekalipun dia tidak pernah memaksa, tapi sebagai istri kamu wajib memberikan sesuatu yang sudah menjadi haknya sebagai seorang suami." Ferdi memberi Jawaban bijak pada adik sepupunya yang baru saja menjalani bahtera rumah tangga.
"Tapi bagaimana jika sebagai seorang suami, dia saja belum siap melakukannya??." dengan polosnya Mirna kembali mempertahankan pertanyaan yang tidak mungkin bagi kaum Adam.
"Adikku sayang, tidak ada seorang suami yang belum ingin melakukan sesuatu yang sudah menjadi haknya sebagai suami, hanya saja mungkin dia terpaksa berkata demikian karena melihat kamu yang belum siap." dengan sabarnya Ferdi memberi pengertian pada adik sepupunya, yang sama sekali belum pernah dekat dengan pria manapun sebelum menikah.
"Sekalipun Abang belum menikah, tapi Abang tahu sayang, kalau suami kamu itu terpaksa mengatakan kalau dia belum siap, karena melihat istrinya yang belum siap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. mendengar cerita kamu, Abang bisa menebak jika suami kamu itu sebenarnya sudah mulai jatuh cinta padamu, buktinya dia tidak memaksakan kehendaknya padamu. padahal dia bisa saja memaksamu kalau dia mau, karena bagi seorang pria itu kebutuhan biologis." mendengar penjelasan Abang sepupunya membuat Mirna teringat akan suaminya, yang kerap mandi tengah malam selama pernikahan mereka.
"Jadilah istri yang bisa menjadi tempat berlabuhnya hati suami, meski kamu belum yakin dengan perasaan kamu padanya!!." lagi lagi saat mendengar wejangan dari Abang sepupunya, Mirna teringat akan penyakitnya yang kerap kambuh saat berdekatan dengan Arya.
__ADS_1
Mata Mirna mulai berkaca kaca kala teringat debaran yang di sangkanya adalah sebuah penyakit.
"Bang, sepertinya saat ini kesehatanku sedang tidak baik baik saja." kata Mirna dengan wajah sendu.
"Apa maksud kamu, apa kamu sedang sakit??." Mirna mengangguk saat Dokter Ferdi melontarkan pertanyaan padanya.
"Memangnya apa yang kamu rasakan??." tanya Dokter Ferdi yang mulia khawatir dengan kondisi adik sepupu kesayangannya itu.
"Akhir akhir ini jantung Mirna kerap berdetak tak beraturan, apalagi jika berdekatan dengannya." mendengar jawaban Mirna membuat gelak tawa Ferdi pecah.
"Haaahaaaahaaaa." tak ada lagi raut wajah khawatir, yang ada gelak tawa dokter Ferdi langsung pecah, saat mendengar penjelasan adik sepupunya, sementara Mirna memicing heran dengan perubahan sikap Abang sepupunya tersebut.
"Abang kenapa malah tertawa, apa Abang sudah tidak sayang lagi sama Mirna??." tebak wanita itu dengan raut wajah bingung.
"Adikku sayang, itu bukanlah penyakit, tapi itu tandanya kamu juga sudah mulai memiliki perasaan sama suami kamu." dengan hati hati Ferdi memberikan pengertian pada Mirna, kini ia nampak serius tak ada lagi gelak tawa yang tadi sempat terukir di wajah tampannya.
Sementara Mirna hanya bisa menganga, seakan tidak percaya dengan jawaban dokter Ferdi.
"Masa iya sih aku mulai suka sama tuh bocah??." dalam hati Mirna yang kembali menyematkan kata bocah pada Arya.
"Sekarang sebaiknya kamu segera pulang,tidak baik terlalu lama keluar rumah tanpa suami!!." titah dokter Ferdi.
"Tapi minuman Mirna saja belum habis bang, sudah di suruh balik aja." sahut Mirna cemberut.
"Nanti kamu bisa lanjut ngeteh berdua sama suami kamu!!." ucap dokter Ferdi sembari mengelus puncak kepala Mirna, berharap rumah tangga yang baru saja di jalani adik sepupunya itu berjalan sakinah mawadah warahmah.
__ADS_1
"Ya udah deh kalau gitu, Mirna balik dulu." meski sedikit bete namun Mirna tetap menurut pada Abang sepupunya.
Namun tanpa di sadari Mirna maupun dokter Ferdi ada sepasang mata yang tak sengaja melihat kebersamaan keduanya, orang itu pun iseng mengabadikan kebersamaan saat dokter Ferdi mengelus puncak kepala Mirna.