Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Kecupan pertama.


__ADS_3

Sudah kurang lebih dua puluh menit Rania berjalan di area kompleks perumahan, berharap ada taksi yang lewat namun sampai letih betis berjalan tak ada satupun taksi yang melewati kompleks tersebut. mengingat kompleks tersebut terletak di kawasan perumahan elite, maka sangat mustahil menemukan taksi melintas kecuali jika ada seseorang yang sengaja memesannya.


Bukannya Rania tidak mau memesan melalui aplikasi di ponsel miliknya, namun saat di rumah Arya tadi ia terus memainkan game di ponselnya sehingga saat ini ponselnya pun kehabisan baterai (lowbat), sehingga ia hanya berdengus kesal akibat kebodohannya tersebut. bahkan untuk sekedar memberi kabar pada kakaknya ia tidak bisa, akibat ponselnya mati total.


"Pip....pip...pip.." suara klakson motor dari arah belakang mengejutkan Rania.


"Lo lagi....Ngapain sih Lo ngikutin gue??" ucap Rania, saat tahu klakson tersebut berasal dari motor Andi.


"Siapa yang ngikutin kamu, saya juga mau balik kali." sahut Andi namun sengaja memperlambat laju motornya mengikuti langkah gadis itu.


"Arah rumah kita searah, nggak numpang sekalian??" Ucap Andi sengaja menawarkan tumpangan pada gadis itu, namun bukan Rania namanya kalau tak sama seperti Kheano yang memiliki gengsi setinggi gunung Everest.


"Nggak perlu." Jawab Rania sebelum mempercepat langkahnya meninggalkan Andi yang sengaja menghentikan motornya sejenak.


Namun benar benar sial, baru beberapa langkah berlalu meninggalkan Andi yang masih diam di atas motornya, sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan lumayan kencang tanpa sengaja menginjak genangan air sehingga cipratan air tersebut mengotori seragam Sekolah Rania.


"Aaaarrrggggt sialan." umpat Rania saat cipratan air mengenai dirinya.


Sementara Andi yang melihat pakaian Rania mulai kotor akibat cipratan air tersebut, segera menjalankan motornya mendekati gadis itu, yang terus mengumpat pada pengemudi mobil tersebut.


"Maaf mbak saya tidak sengaja." ucap seorang pria berkacamata tebal, yang baru saja turun dari mobilnya.


"Gampang banget anda minta maaf setelah mengotori pakaian saya." ucap Rania sembari mencoba membersihkan pakaiannya, sementara Andi yang saat ini sudah berada di belakang Rania, hanya bisa menahan senyum saat melihat gadis itu tengah kesal.


"Saya akan bertanggung jawab Nona, saya akan memberikan ganti rugi karena telah mengotori pakaian anda." ucap pria yang terlihat seperti pegawai kantoran tersebut, sembari mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya.

__ADS_1


"Saya tidak butuh uang anda." Rania menolak saat pria itu menyerahkan beberapa lembar uang merah padanya.


"Lalu bagaimana saya bisa mengganti rugi, jika anda saja tidak mau menerima uang dari saya nona" ujar pria tersebut bingung dengan sikap Rania.


"Ini bukan masalah menolak uang pak, tapi sepertinya kali ini aku lebih membutuhkan bantuan anda ketimbang uang anda." batin Rania tersenyum, seolah mendapat angin segar agar ia bisa segera sampai rumah.


"Saya tidak butuh uang anda pak, tapi saya ingin anda mengantarkan saya sampai rumah." mendengar permintaan Rania membuat pria tersebut beralih menatap Andi yang saat ini berada di belakang Rania.


"Nona... bukannya saya mau ikut campur atau tidak bersedia mengantar anda, tapi sebaiknya jika sedang ada masalah dengan pacarnya segera di selesaikan!!!!. karena jika memilih mengantar pacar orang lain atau masuk penjara akibat kejadian ini, saya lebih memilih masuk penjara nona. karena saya tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain." Mendengar kalimat dramatis dari pria berkacamata tebal tersebut membuat Andi dan Rania langsung saling melempar pandangan.


Bedanya, Rania segera menampik tudingan pria itu yang menganggap ia dan Andi adalah sepasang kekasih, namun Andi sama sekali tidak menampik ia hanya diam dan sesekali tersenyum saat pria itu menatap ke arahnya.


"Dia bukan pacar saya pak, dia hanya _"seketika Rania menghentikan kalimatnya, saat Andi tiba tiba mendaratkan kecupan hangat di keningnya.


"Sebaiknya kita segera pulang sayang, takut nanti mama kamu khawatir!!." ucap Andi kepalang basah mandi sekalian, sementara Rania yang melihat sikap Andi hanya bisa menahan kesal yang hampir meledakan dadanya.


"Anda boleh pergi pak, biar pacar saya menjadi urusan saya." ucap Andi seperti seorang aktor, yang tengah mendalami karakternya menjadi seorang kekasih.


"Semangat mas, wanita memang selalu mencari perhatian seperti itu jika ingin di manja mas."ucap pria itu lirih pada Andi namun masih terdengar sayup oleh Rania, sebelum berlalu menuju mobilnya kemudian meninggalkan keduanya.


"Dasar laki laki gila." Rania memukul mukul lengan serta dada Andi, Karena kesal akan kecupan pria tersebut tadi.


"Ngapain tadi Lo pake nyium Gue segala??" cetus Rania yang masih terlihat kesal.


"Lagi pengen aja." jawab Andi santai.

__ADS_1


"Tapi gue nggak suka." sahut Rania yang semakin kesal,saat melihat Andi dengan santainya menjawab pertanyaan darinya.


"Siapa suruh Lo nggak bilang kalau Lo nggak suka." jawaban Andi mengingatkan Rania akan jawabannya pada Andi tempo hari.


"Jangan bilang nih cowok mau balas dendam ke gue." batin Rania sembari menatap curiga ke arah Andi.


"Jadi, mau pulang bareng sama aku nggak??" ucap Andi setelah kembali menghidupkan mesin motornya.


"Kalau gue ikut bareng dia entar gue kelihatan murahan banget lagi di mata nih cowok, tapi kalau gue nggak ikut bareng dia, masa iya sih gue harus jalan keluar komplek Ampe gempor." batin Rania bagaikan buah simalakama.


"Ya udah, kalau kamu tetap kekeh mau jalan kaki, jangan marah kalau ada yang nyangka kamu gembel, soalnya pakaian kamu udah kayak gitu." lanjut ucap Andi yang menunjuk ke arah pakaian Rania yang kotor akibat percikan air, membuyarkan lamunan gadis itu.


"Gue ikut deh." ucapan gadis itu membuat Andi yang kini menatapnya dari arah spion pun tersenyum.


Andi pun melajukan motornya untuk mengantarkan Rania kembali ke rumah, sebelum ia pun kembali ke rumah orangtuanya.


Tadi saat sebelum meninggalkan rumah Arya untuk membuntuti Rania, Andi sempat mengirimkan pesan pada Kheano jika adiknya memutuskan untuk pulang.namun Andi mengatakan pada sahabatnya itu agar tidak perlu khawatir pada Rania, karena ia akan mengantarkan Rania sampai rumah. awalnya Andi ragu saat mengirim pesan pada Kheano, karena ia sendiri tidak yakin jika gadis itu mau di antar olehnya. untung saja kejadian tak mengenakan tadi justru membawa keberuntungan bagi Andi, hingga dirinya bisa mengantar Rania sampai rumah.


Malam harinya


Berbeda dengan biasanya, Andi yang selalu mudah memejamkan mata saat kantuk mulai merajai diri, Namun tidak dengan malam ini. Meski sudah merasa sangat mengantuk tapi Andi sulit memejamkan mata, bayangan Rania selalu menari nari di benak dan pikirannya. apalagi Rania lah gadis pertama yang mendapat kecupan darinya, walau hanya di kening. tanpa sepengetahuan Andi kecupan darinya adalah kecupan pertama pula bagi gadis itu dari seorang pria, selain papa serta kakaknya Kheano.


"Aduh gue kenapa sih ini, kenapa mau tidur aja kok susah banget??." gumam Andi sembari terus berguling ke kanan dan ke kiri hingga hampir saja tubuhnya jatuh dari ranjang, kalau saja dirinya tidak segera sigap menyeimbangkan tubuhnya.


Andi sungguh tidak menyangka niat ingin mengerjai Rania saat mengecup kening gadis itu, malah dirinya sendirilah yang tidak bisa tidur karena ulahnya siang tadi.

__ADS_1


__ADS_2