
Setibanya di kediaman orang tua Alisya, ketiganya di sambut hangat. sang kakek nampak begitu bersemangat menyambut kedatangan cucunya tersebut, begitu juga dengan sang nenek.
"Assalamualaikum kek...nek..." baru saja ayahnya membantunya turun dari mobil, gadis itu langsung berlari kecil menghampiri kedua orang tua dari ibunya, yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
"Waallaikumsalam cucu cantiknya kakek." pria tersebut langsung meraih tubuh kecil cucunya ke dalam gendongannya.
"Nggak terasa cucu kakek sekarang udah gede." ucap pria yang telah bergelar kakek di usianya kepala empat. meski sudah berusia kepala empat namun tuan Rendi masih nampak gagah, begitu juga dengan sang istri yang masih nampak awet muda.
"Iya dong, Kesya kan nggak sabar pengen punya adek, jadi Kesya harus cepat gede dong, biar nanti bisa jagain adiknya Kesya " Kheano dan Alisya langsung bersitatap saat mendengar kalimat putri mereka, sebelum tersenyum melihat tingkah buah hati.
Begitu pun dengan ayah serta bundanya Alisya, langsung tersenyum kala mendengar kalimat cucu mereka, sebelum menatap ke arah putri serta menantunya.
"Memangnya kamu lagi isi Ca??." tebak bundanya seraya mengukir senyum, berharap tebakannya benar.
"Nggak tahu Bun, cuma kayaknya Alisya udah terlambat datang bulan." jawab Alisya jujur, meski di sana ada ayahnya ia tidak malu mengakui jika saat ini ia tengah terlambat datang bulan, berbeda dengan Kheano yang wajahnya mulai merona saat pandangan ayah mertuanya tertuju padanya.
"Ternyata mantu ayah tokcer juga, jika kamu beneran hamil lagi nak." wajah Kheano semakin merah karena malu, saat mendengar ucapan ayah mertuanya yang sengaja menggoda dirinya dengan kalimat tersebut.
"Sudah dong yah, nggak lihat tuh wajah mantunya udah merah kayak gitu, malah di godain terus." ucap nyonya Sarah sembari menyenggol lengan suaminya, pertanda agar suaminya tersebut berhenti menggoda menantunya.
Sementara Kheano Langsung tersenyum tipis mendengar kalimat ibu mertuanya, sebelum mereka semua masuk ke dalam rumah.
"Wah...ada bidadari Tante nih." Tiara yang baru saja turun dari kamarnya, menghampiri keponakan tercinta yang kini tengah berada di gendongan kakeknya.
Sementara Dokter Ferdi melangkah di belakang istrinya.
__ADS_1
"Tante Ara." gadis itu pun segera meluncur dari gendongan kakeknya, kemudian bergelayut manja di lengan kakak dari Bundanya tersebut.
Tiara yang begitu merindukan keponakannya itu langsung meriah tubuh kecil itu, namun di saat Tiara hendak menggendongnya, gadis itu malah menolak.
"Kenapa Kesya nggak mau di gendong sama Tante, Kesya nggak kangen ya sama Tante Ara??." bibir Ara di buat buat cemberut seolah sedang ngambek karena gadis kecil itu menolak di gendong olehnya.
Sementara Kheano, Alisya serta kedua orangtuanya asyik menyaksikan drama Tante dan keponakan tersebut dengan duduk di sofa yang berada di ruang keluarga, begitu pun dengan Dokter Ferdi yang kini masih berdiri di belakang istrinya.
"Bukannya Kesya nggak sayang sama Tante Ara, Kesya sayang banget sama Tante Ara, Kesya juga kangen banget sama Tante Ara, tapi kata ayah jika ingin cepat punya dedek bayi perempuan dewasa nggak boleh angkat yang berat berat, sama kayak bundanya Kesya." mendengar putrinya yang berucap bak orang dewasa tersebut membuat Kheano yang tengah menyesap segelas teh langsung tersedak, ia sungguh tidak menyangka jika kalimatnya tadi saat hendak berangkat, masih teringat jelas di ingatan gadis kecil itu.
"Uhuk ..uhuk...uhukk...." Kheano tersedak, sementara Tiara langsung menganga saat mendengar kalimat keponakan kesayangannya tersebut.
"Kakak nggak papa??." Tanya Alisya sembari mengelus punggung suaminya.
"Nggak papa sayang." sahut Kheano beberapa saat kemudian,saat batuknya mulai reda.
"Ternyata selain tambah gede, cucu kakek tambah pintar ya sekarang." timpal ayahnya, masih dengan sisa tawanya.
"Iya dong kek, kalau Tante Ara punya dedek bayi, berarti Kesya ada teman mainnya kalau ke sini." mendengar jawaban gadis kecil itu membuat dokter Ferdi dan Tiara langsung saling pandang, sebelum Tiara kembali beralih pada gadis kecil yang kini ada di hadapannya.
"Tante, teman Kesya juga pernah bilang, katanya mamanya pernah bilang jika orang dewasa yang sudah menikah akan lebih saling menyayangi jika memiliki dedek bayi. Kesya percaya sama teman Kesya, karena buktinya ayah, ayah semakin sayang sama bunda karena adanya Kesya." kini giliran Alisya yang melongo mendengar kalimat putrinya, ia tidak menyangka pemikiran putrinya bisa sedewasa itu di usianya yang baru menginjak dua tahun lebih.
"Kesya masih kecil sayang, nggak boleh ngomongin masalah orang dewasa!!." dengan lembutnya Tiara berujar sembari sedikit menunduk agar sejajar dengan gadis kecil itu.
"Iya deh Tante." sahut gadis itu dengan nada terpaksa.
__ADS_1
"Sayang, dulu kamu ngidam apa sih waktu hamil anak kita??".tanya Kheano dengan nada lirih, saat mendengar putrinya bicara bak orang dewasa, sementara Alisya hanya bisa menggeleng pasrah sebelum ikut tersenyum.
Kini Bundanya mengajak kedua putrinya serta cucunya untuk ikut bersamanya ke dapur sementara ayahnya serta kedua menantunya masih setia ngobrol di ruang keluarga dengan di temani secangkir teh serta camilan buatan sang istri.
Di sela obrolan,tiba tiba tuan Rendi membahas tentang putri dari salah satu rekan bisnisnya yang mengalami musibah, di perkosa oleh beberapa pria tak di kenal. berita tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan pengusaha, apalagi berita tentang pemerkosaan tersebut di muat di salah satu media cetak.
"Ayah ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa putri dari salah satu rekan bisnis ayah ini." ucap tuan Rendi seraya membaca sebuah berita melalui media cetak.
"Ayah khawatir kejadian yang menimpa putrinya akan berpengaruh pada reputasi tuan Marcelino di bidang bisnis." Kheano yang mendengar ayah mertuanya menyebut nama seseorang yang tidak asing di telinganya tersebut coba melihat isi berita yang hari ini menjadi berita hangat di media cetak.
"Regina." nama itu keluar dari mulut Kheano saat melihat foto Regina di muat di media cetak.
"Apa kamu kenal dengan gadis ini??." pertanyaan itu yang pertama keluar dari mulut ayah mertuanya.
"Iya ayah, Khe kenal dengan gadis ini, gadis ini rekan satu sekolah Khe waktu SMA." jawab Kheano sebelum melanjutkan membaca berita tentang kejadian yang menimpa gadis itu.
Betapa terkejutnya Kheano saat melihat tempat yang di muat di media cetak yang menjadi tempat kejadian perkara. tempat itu tak lain adalah tempat semalam ia di sekap oleh beberapa pria tak di kenal.
"Tempat ini adalah tempat aku di sekap semalam, itu artinya orang yang menjadi dalang penculikanku semalam adalah Regina??." setelah membaca semua berita tentang Regina, Kheano bisa menyimpulkan jika gadis itulah yang telah menjadi dalang kejadian penculikan dirinya semalam.
Sebagai sesama manusia, Kheano merasa menyesal karena secara tidak langsung ia sudah mengizinkan para pria tersebut berbuat sesuatu yang merugikan gadis itu, namun di sisi lain, Kheano mengatakan jika para penculik itu bebas melakukan apa saja pada orang Yang telah menyuruh mereka, sebab Kheano sama sekali tidak menyangka jika Regina berada di balik semua itu.
"Ya Tuhan, apa aku juga berdosa, tapi aku sama sekali tidak menyangka jika yang menyuruh para pria itu adalah Regina??. apa sudah waktunya Regina menuai hasil dari perbuatannya selama ini, dia selalu berusaha melakukan apapun untuk mendapatkan aku padahal sudah jelas jelas aku selalu menolaknya." dalam hati Kheano, sampai suara ayah mertuanya membuyarkan lamunan Kheano.
"Ada apa Khe, apa ada masalah di kantor??." tanya ayah mertuanya yang mengira Kheano sedang ada masalah di perusahaannya, sebab melihat menantunya tersebut terus melamun.
__ADS_1
"Tidak ayah, tidak ada masalah, Khe hanya kasian melihat gadis ini." sahut Kheano, yang tidak memungkinkan jika mengatakan yang sebenarnya pada ayah mertuanya.