
Sebelum Andi pamit menuju kasir, Rania nampak berpamitan pada pria itu pergi ke toilet.
Saat hendak membayar sepatu yang kini telah di kenakan Rania, seketika Andi menoleh saat mendengar ribut ribut.
"Ada apa ya mbak, saya dengar seperti ribut ribut dari arah sana??." tanya Andi pada salah satu pengunjung toko yang baru saja memasuki toko tersebut.
"Itu loh mas, ada cowok yang di tampar sama cewek." jawaban ibu ibu tersebut membuat Andi penasaran.
"Emangnya kenapa cewek itu sampai menampar pacarnya??." tanya Andi yang menyangka jika yang menyebabkan keributan di mall tersebut adalah sepasang kekasih.
"Gimana nggak di gampar coba mas, orang kata cewek itu mereka nggak pacaran, jelas aja tuh cewek nggak terima saat cowok itu akan memegang tangannya." lanjut terang pengunjung toko sepatu tersebut, sementara Andi yang mendengar Jawaban ibu tersebut langsung teringat akan Rania yang tadi pamit ke toilet.
Sehingga membuat pria kembali ke meja kasir seraya berkata.
"Boleh saya di layani lebih dulu, soalnya saya buru buru." ucap Andi lalu di iyakan oleh pegawai kasir.
Usai membayar di kasir Andi segera keluar dari toko sepatu tersebut untuk mencari keberadaan Rania yang tadinya pamit ke Toilet.
"Bapak gimana sih, seharusnya bapak ngebelain saya dong, orang cowok itu udah kurang ajar Ama saya. coba kalau saya termasuk cewek lemah, mungkin dia akan melakukan hal yang lebih dari memegang tangan saya." lengkingan suara yang tak asing di telinganya itu lantas membuat Andi yang hendak menuju toilet wanita untuk mencari keberadaan Rania, menghampiri kerumunan tersebut.
"Mohon tenang Nona, karena sikap emosional anda sudah mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya." pria dengan seragam security nampak menenangkan gadis yang kini masih nampak bar bar akibat kesal pada pria tadi.
"Saya nggak kenal dengan pria itu, Lagi pula saya ke sini bersama dengan calon suami saya." sekali lagi suara lengkingan itu membuat Andi yakin jika itu benar benar suara dari calon istrinya, Rania.
"Sudahlah Nona, apapun alasan Anda, anda harus tetap ikut kami ke ruangan security, karena anda sudah membuat keributan yang membuat pengunjung mall merasa terganggu." ucap Pria dengan seragam security sambil menahan Rania yang seperti ingin menelan mentah-mentah pria tadi yang hendak melakukan perbuatan kurang menyenangkan padanya.
__ADS_1
"Ada apa ini pak??." ucap Andi saat menghampiri kerumunan.
"Pak Andi." ucap pak security yang mengenal sosok Andi sebagai asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan dari pemilik lima puluh persen saham di Mall tersebut.
"Mas." panggil Rania seraya berjalan menghampiri Andi setelah menepis tangan pria yang mengenakan seragam security Tersebut, sehingga membuat pria itu menatap bingung ke arah Andi serta Rania bergantian.
"Ada apa ini, apa yang terjadi kamu nggak papa kan??." tanya Andi sembari memastikan jika tidak ada tubuh Rania yang terluka saat tadi tangannya sempat di cekal oleh pria berseragam security tersebut.
"Nggak papa mas." jawab gadis itu, jujur Andi juga terkejut saat gadis itu mulai memanggilnya dengan sebutan mas.
"Coba jelaskan pada saya pak, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa anda sampai memperlakukan calon istri saya seperti tadi??." Kini Andi nampak bertanya pada Security itu dengan nada bicara yang penuh Wibawa, serta tatapan tak bersahabat.
"Maafkan saya pak, saya benar-benar tidak tahu jika nona ini adalah calon istri pak Andi. sebenarnya pangkal permasalahannya Adalah pria itu, dia yang hendak berbuat kurang menyenangkan pada calon istri anda, kami hanya ingin melerai agar tidak terjadi keributan yang akan menggangu pengunjung mall lainnya." jawab pria itu seraya menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Andi.
"Apa benar yang di katakan security tadi??." tanya Andi dengan nada berat seperti sedang menahan emosi.
"Maaf tuan, saya tidak menyangka jika Rania calon istri anda, jujur tadi aku tidak berniat kurang ajar padanya, aku hanya terlalu bahagia saat tak sengaja berjumpa dengan gadis pujaan hati di sini." saking takutnya pria itu sampai tak sadar mengakui perasaan yang selama ini dipendamnya untuk Rania.
"Sebentar, kamu bilang apa tadi, gadis pujaan hati??." mendengar kalimat Rania membuat pria itu memberanikan diri mengangguk mengakui perasaannya selama ini pada Rania.
"Dari mana kamu tahu namaku, dan bagaimana kamu bisa mengatakan hal semacam itu, sementara aku sama sekali tidak mengenal kamu." ujar Rania tak habis pikir dengan pria tersebut.
Sementara Andi yang ada di antara keduanya hanya bisa menarik napas panjang lalu menghembusnya perlahan seraya memijat pelipisnya. jujur hati Andi juga merasa tak terima saat ada seorang pria, yang terang terangan mengakui perasaannya pada calon istrinya. namun bagaimana pun Andi harus bersikap realistis, setiap manusia berhak mencintai siapapun yang di kehendaki hatinya, namun setiap orang pun tak bisa memaksakan seseorang untuk bisa membalas cintanya.
"Lepaskan dia, biarkan dia pergi dari sini!!." titah Andi pada Security yang kini mencekal kebelakang tangan pria itu.
__ADS_1
"Baik pak." jawab security seraya melakukan perintah Andi.
"Maafkan saya tuan, sungguh aku tak berniat kurang ajar pada Rania, aku juga minta maaf jika pengakuanku tadi sudah menyinggung perasaan anda." ucap pria tersebut dengan wajah memelas.
"Pergilah sebelum saya berubah pikiran, dan jangan pernah menampakan wajah kamu lagi di hadapan saya dan calon istri saya, jika kamu masih ingin menghirup udara segar!!." titah Andi dengan penuh penekanan. jujur kali ini Rania dapat melihat sesuatu yang begitu berbeda dari calon suaminya tersebut. sebuah sikap tegas meski tak menggunakan kekuatan fisik sudah membuat lawannya nampak ketakutan.
Pria itu nampak berlaku meninggalkan mall tersebut dengan menggunakan motornya, sementara Andi segera melangkah dengan mengandeng tangan Rania.
"Makasih mas." ucapan gadis itu sontak membuat Andi menghentikan langkahnya sejenak lalu beralih menatap wajah Rania.
"Kamu panggil aku dengan sebutan apa tadi??." pertanyaan Andi lantas menyadarkan gadis itu akan panggilan pada pria itu, sehingga membuatnya malu tak berani membalas tatapan mata Andi.
"Kenapa kamu nggak suka ya kalau aku panggil dengan sebutan mas??." tanya Rania dengan posisi menunduk tak berani menatap mata calon suaminya,. sehingga membuat Andi mengangkat lembut dagu Rania dengan telunjuknya hingga pandangan Keduanya bertemu.
"Suka sayang, suka banget malah." jawab Andi seraya menatap lembut manik mata Rania.
"Jalan yuk, kalau kemalaman dalam posisi seperti ini takutnya mas nggak tahan lagi." ucap Andi seraya melanjutkan langkahnya seraya menggenggam tangan Rania akan mengikuti langkahnya.
Mendengar kalimat pria itu membuat Rania yang merasa tak paham nampak bertanya.
"Memangnya mas nggak tahan mau ngapain sih??." pertanyaan polos gadis itu bukannya membuat Andi menjawab, pria itu malah nampak tersenyum sembari sesekali menggelengkan kepalanya.
"Jawab dong mas!!." karena Rania terus mencecarnya, akhirnya Andi pun bersuara.
"Udah, entar kalau udah nikah kamu juga bakal tahu sayang." ucap pria itu di sela langkah keduanya menuju restoran yang masih berada di mall tersebut.
__ADS_1