Menikah Di Usia Remaja.

Menikah Di Usia Remaja.
Rania.


__ADS_3

Tuan Marcelino mengajukan protes pada perusahaan Kheano atas dua unit rumah mewah yang dua bulan yang lalu di belinya, dengan alasan yang menurut Andi tidak masuk akal.


Andi yang merasa tuan Marcelino melakukan itu dengan alasan tidak masuk akal tersebut segera menemui Kheano di rumahnya.


Karena sedang berbicara melalui telepon genggamnya, Andi tidak fokus sampai dirinya tidak sengaja menabrak tubuh Rania.


"Aduh." Andi kalang kabut saat suara cempreng gadis itu menggema.


"Maaf saya tidak sengaja." ucap Andi beberapa saat sebelum membantu memungut buku buku Rania yang berserakan di lantai teras depan.


"Kalau jalan pake mata!!." cetus Rania sinis.


"Maaf." entah sudah berapa kali mengucapkan kata maaf, namun Rania masih nyerocos, sampai Kheano yang baru saja menuruni anak tangga bersama Alisya serta putrinya tersebut segera menegur adiknya karena merasa tidak enak dengan sahabatnya.


"Sudah Rania, Andi kan sudah minta maaf, lagi pula dia juga tidak sengaja." Timpal Kheano yang kini sudah berada di tengah tengah keduanya.


Kheano beralih menatap Andi.


"Ada apa, tumben kamu mampir sepagi ini??." Kheano tahu betul sahabat sekaligus asisten pribadinya tersebut tidak mungkin mampir sepagi ini jika tidak ada hal penting.


"Maaf saya mengganggu sepagi ini, tapi ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Andi dengan tatapan serius.


"Tiga puluh menit lagi kita bertemu di kantor, setelah mengantar istri serta putriku aku akan segera ke sana." mendengar ucapan Kheano membuat Rania mengeryit.


"Terus aku ke kampusnya gimana kak??." Rania menimpali obrolan keduanya.


"Astaga kakak sampai lupa, kamu berangkat bareng Andi, kebetulan kampus kamu searah dengan kantor kakak!!." sahut Kheano yang hampir lupa jika tadi saat sarapan Rania meminta di antar ke kampus, karena mobilnya masih di bengkel.


"Tapi kak_"Rania tak berani lagi protes saat tatapan kakaknya tak ingin di bantah.


"Andi, tolong antarkan Rania ke kampusnya, kebetulan kalian searah." Andi mengangguk saat Kheano memintanya berangkat bersama adiknya,Rania.

__ADS_1


Kheano pun segera melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang sudah disiapkan sebelumnya oleh mang Deden.


Kheano segera menghidupkan mesin mobilnya lalu perlahan menginjak pedal gas, sampai dengan mobil yang di kendarai Kheano membelah padatnya jalanan ibu kota. begitupun dengan Andi yang juga segera meninggalkan kediaman orang tua Kheano untuk mengantarkan Rania ke kampusnya, sebelum selanjutnya menuju perusahaan.


Di perjalanannya yang hendak mengantar Rania ke kampusnya, Andi terlihat lebih banyak diam ia lebih memilih fokus menatap padatnya jalanan ibu kota, di banding harus membuka obrolan dengan gadis yang menurutnya cukup menyebalkan itu. namun tidak begitu dengan Rania, ia malah bermonolog atau lebih tepatnya mengumpat, saat mobil yang di kendarai Andi terjebak di tengah kemacetan jalanan ibu kota.


"Bisa cepat sedikit nggak, kalau kamu bawa mobilnya kayak siput begini bisa besok aku sampai kampusnya." cetus Rania sinis.


"Kalau bukan karena kak Khe yang minta gue berangkat bareng kamu, ogah gue semobil sama cowok siput kayak Lo." lanjut cetus Rania.


"Apa kamu nggak lihat ini lagi macet, kalau bukan karena Khe, kamu pikir saya mau semobil dengan gadis judes seperti kamu." akhirnya habis juga kesabaran Andi menghadapi gadis itu, sehingga Andi pun menjawab ocehan Rania dengan nada datarnya, namun mampu menusuk relung hati lawan bicaranya.


Setelah beberapa menit berjuang melawan kemacetan,Andi pun berhasil menyalip dan keluar dari kemacetan jalanan ibu kota yang sudah menjadi santapan sehari-hari.


"Jadi kamu nggak ikhlas nganterin aku gitu, ya udah kalau kamu nggak ikhlas turunkan aku di sini." niatnya yang hanya ingin mengancam, tiba tiba Andi benar benar menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti??." Rania kembali beralih menatap Andi dengan tatapan menyelidik.


"Bukannya kamu bilang mau turun." ucapan datar dari Andi, membuat Rania mendengus kesal sebelum ia terpaksa turun dari mobil Andi.


"Sialan banget sih tuh cowok, nggak tahu apa tadi gua cuma ngancem doang." gerutu Rania kesal.


"Awas aja tuh cowok, bakal gue aduin sama kak khe." lanjut gerutu Rania yang kini mulai berjalan kaki sembari mencoba memesan taksi online dari aplikasi yang ada pada ponselnya. tapi bagai jatuh tertimpa tangga, baru saja hendak menekan pesan pada aplikasi tersebut ponsel Rania yang tadi baterainya hanya tersisa satu persen itu pun langsung mati total.


"Sialan nih hp, kenapa harus mati di saat di butuhkan sih." umpat Rania yang kini benar-benar kesal.


"Ya tuhan...naas banget sih nasib gue, mana nggak ada satu pun taksi yang lewat. masa iya gue harus jalan kaki sampai kampus." tidak henti hentinya Rania menggerutu di sepanjang jalan.


Setelah berjalan kaki sekitar dua ratus meter akhirnya ada taksi yang melintas, dan herannya taksi tersebut sengaja menghampiri Rania yang kini tengah berjalan kaki. bagai pepatah yang mengatakan pucuk di cinta ulam pun tiba, begitulah perasaan Rania saat ada sebuah taksi yang tidak tahu dari mana asalnya menghampiri dirinya yang tengah berjalan kaki.


Andi yang tadi meninggalkan Rania di tepi jalan ternyata tidak benar benar pergi meninggalkan Rania, Andi kembali menepikan mobilnya agak jauh dari pandangan gadis itu. sehingga Andi dapat melihat bagaimana kesalnya gadis itu saat Andi benar benar menepikan mobilnya sesuai permintaannya tadi.

__ADS_1


Biar bagaimanapun Andi tidak mungkin tega melihat adik dari sahabatnya tersebut harus berjalan kaki menuju kampus, maka dari itu Andi sengaja memesan taksi online. pada saat taksi online tersebut tiba, Andi meminta untuk mengikuti Rania setelah lebih dulu membayar ongkosnya.


"Aku pikir setelah tiga tahun berlalu gadis itu akan berubah menjadi lebih dewasa ternyata gadis itu masih sama seperti tiga tahun lalu, masih sama judesnya." gumam Andi tanpa sadar menarik sudut bibirnya, saat melihat dari kejauhan Rania telah menaiki taksi Online yang tadi di pesannya.


Tiba tiba senyum kembali terukir jelas di wajah Andi, saat ingatannya kembali pada kejadian tiga tahun yang lalu.


"Astaga, apa yang aku pikirkan." Andi bermonolog, saat ingatannya kembali teringat akan kejadian tiga tahun lalu, di mana ia sengaja ingin menggoda Rania dengan mengecup kening gadis itu. dan Andi masih ingat betul niatnya ingin menggoda Rania tersebut bagai senjata makan tuan, sebab malah dirinya sendiri yang sulit memejamkan mata karena bayangan wajah Rania terus menari nari dalam pikirannya.


Sesaat setelah menetralisir pikirannya tentang Rania.


Andi pun kembali menghidupkan mesin mobil sebelum melajukan mobilnya, dengan kecepatan sedang menuju perusahaan Kheano yang di beri nama Kheano putra group.


Empat puluh lima menit berkendara kini Andi tiba di perusahaan Kheano putra group, di mana Kheano telah tiba lebih dulu darinya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu." ucap Andi saat baru saja tiba di ruangan Kheano.


"It's ok,,,,Btw hal penting apa yang ingin kamu bicarakan padaku??." Ucap Kheano langsung tanpa basa basi.


"Tadi ketika aku hendak berangkat ke kantor tuan Marcelino menghubungiku, beliau protes dengan dua unit rumah elite yang baru saja di belinya dari perusahaan kita seminggu kemarin." mendengar penjelasan Andi membuat Kheano mengeryit heran.


"Beliau ingin pengembalian Dana dua kali lipat. saat saya bertanya alasannya, tuan Marcelino hanya bilang jika perumahan yang di belinya dari perusahaan kita tidak sesuai dengan ekspektasi beliau." lanjut terang Andi.


Mendengar penjelasan Andi membuat Kheano tersenyum getir, tidak percaya jika pelanggannya yang sudah hampir dua tahun di layani oleh perusahaannya tersebut memberi alasan yang tidak rasional. bagaimana tidak, selama ini tuan Marcelino bahkan meminta kesempatan untuk dirinya agar bisa mendesign sendiri setiap rumah yang akan di belinya. jadi bagaimana bisa pria paruh baya tersebut mengatakan jika perumahan yang di belinya dari perusahaan Kheano yang terletak di kawasan elite tersebut tidak sesuai ekspektasinya.


"Cari tahu latar belakang tuan Marcelino secepatnya, aku yakin ada sesuatu di balik ini semua!!." Andi terkejut dengan kepandaian Kheano, jujur ia saja tidak berpikir sejauh itu mengingat tuan Marcelino adalah klien tetap perusahaan mereka.


"Baik, saya akan menghubungi beberapa anak buah kita untuk mencari tahu latar belakang tuan Marcelino." jawab Andi sebelum berlalu meninggalkan ruangan Kheano.


"Apa sebenarnya tujuan anda melakukan semua ini??." Kheano yang kini tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya terus berpikir, dan sesekali mengetuk-ngetukan pulpennya ke meja.


Satu jam kemudian Andi kembali ke ruangan Kheano dengan memberi kabar, jika anak buah mereka sudah mendapat informasi tentang latar belakang tuan Marcelino. setelah mendengar semua cerita Andi tentang latar belakang salah satu pelanggannya tersebut, Kheano pun meminta Andi segera mengatur janji untuk pertemuannya dengan pria yang bernama Marcelino agan tersebut.

__ADS_1


My reader jangan lupa mampir di karya Author yang lain ya,,,,karya yang menceritakan tentang kisah sebelum lahirnya novel MENIKAH DI USIA REMAJA.



__ADS_2