Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Apa ini Takdir?


__ADS_3

"Syukur Alhamdulilah, Kondisi Tuan Tomy baik dan sudah melawati masa kritisnya. Sekarang, kita menunggu beliau sadar dan nanti Beliau akan kami pindah keruang perawatan" jawab Dokter.


"Terima kasih Dok"


"Iya. Saya permisi dulu"


"Iya Dok. Arumi, Papa baik-baik aja. Mama tenang sekarang" peluk Mama Amira pada Arumi.


"Iya Ma"


Ayah Hadi, Vandra, Ibu Hani dan Sekertaris Andy merasa senang dengan kabar itu. Tak lama, Vandra, Ibu Hani dan Ayah Hadi berpamitan pulang karna malam sudah semakin larut, apalagi besok pagi Vandra harus pergi kesekolah. Tante Amira dan Arumi pun mengijinkan, mereka bahkan meminta Vandra untuk kerumah menemui mereka. Vandra memberi senyuman dan Anggukan tanda setuju.


Diperjalanan pulang, Vandra teringat ucapan hatinya. Ia berjanji akan menerima permintaan Tuan Tomy, jika Tuan Tomy baik-baik saja. Vandra mengela nafas pelan, apa maksudnya ini? apa ini tanda jika memang keadaan ini adalah bagian dari takdirnya? pikir Vandra.


Ayah Hadi penasaran dengan apa yang Vandra pikirkan, Ayah Hadi hafal betul jika Vandra sedang memikirkan sesuatu dia akan sering menghela nafasnya.


"Apa ada yang kamu pikirin?" tanya Ayah Hadi.


"Ayah kenapa bisa tau?"


"Kamu kan anak Ayah, Ayah tau betul itu. Kamu pikirkan apa?"


Vandra menceritakan saat ia menemui Tuan Tomy tadi siang, rasa bersalah bahkan ucapan hatinya semua ia ceritakan pada Ayah Hadi dan Ibu Hani. Ayah Hadi memberi semua keputusan pada Vandra, Ayah Hadi hanya berharap Vandra bisa memutuskan dengan baik.


"Lalu kamu mau bagaimana?" tanya Ibu Hani.


"Ayah tidak akan memaksa jika kamu menolak, Ayah dan Ka Vina akan berusaha untuk mengembalikan uang yang sudah digunakan Tuan Tomy untuk membayar hutang dan juga rumah kita. Hanya saja Ayah membutuhkan waktu untuk itu" ucap Ayah Hadi.


"Ayah sama Ibu jangan terlalu khawatir ya, aku akan memikirkan itu semua" ucap Vandra.


"Baiklah, tapi jangan memaksakan diri hanya karna kamu kasihan pada Ayah, Ibu dan juga Ka Vina" pinta Ayah Hadi.


"Iya Van. Kebahagiaan dan masadepan kamu adalah yang terpenting" Ibu Hani menambahkan.


"Iya Bu, Ayah"


***


Pagi itu lagi-lagi Vandra berangkat menuju sekolah menggunakan Bus. Entah kenapa Vandra merasa nyaman dan bisa leluasa menikmati waktu sendiri. Saat menunggu Bus datang, Vandra duduk termenung sendirian. Tak lama seseorang menyadarkan lamunan Vandra untuk segera naik, karna Bus yang ditunggu sudah datang dengan cepat Vandra menaiki Bus agar tak terlambat masuk sekolah.


Tiba disekolah, Vandra berjalan menuju kelas tanpa menghiraukan apapun. Tiba-tiba sebuah bola terlempar kearah Vandra yang tengah berjalan, spontan Vandra terjatuh pingsan. Anak-anak yang melihat segera menghampiri dan seseorang membawa Vandra ke ruang Uks sekolah.

__ADS_1


Vandra mulai tersadar dari pingsannya, ia memegang kepalanya yang masih sakit karna lemparan bola tadi. Seorang Dokter yang berjaga menghampiri Vandra untuk menanyakan keadaannya.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Dokter Rita.


"Baik Dok, cuma kepala aku masih sakit"


"Vandra" panggil Seseorang itu yang tak lain Randy.


"Randy, ngapain kamu disini?" tanya Vandra heran.


"Randy ini yang bawa kamu kesini. Tadi dia keliatan panik banget waktu kamu pingsan" Dokter Rita mewakili.


"Oh, makasih ya Rand"


"Iya Van. Gimana kondisi kamu?"


"Aku udah ga apa-apa ko"


"Vandra, kalau kamu masih ngerasa sakit lebih baik ijin pulang aja" saran Dokter Rita.


"Ga perlu Dok. Saya udah baik-baik aja"


"Ya sudah, Dokter pergi dulu ya. Kamu istirahat dulu aja disini"


Dokter Rita berlalu pergi keluar UKS, mungkin beliau tak ingin menganggu istirahat Vandra. Pikir Vandra.


"Kamu ada masalah Van?" tanya Randy tiba-tiba.


"Maksud kamu?" Vandra terkejut Randy bisa mengetahui kondisinya.


"Ya tadi tuh aku heran aja sama kamu, padahal aku udah teriak sambil lari lho untuk minta kamu hindarin lemparan bola kearah kamu, tapi kamu malah ga denger dan jalan lurus aja. Apa kamu punya masalah yang serius?"


"Bukan urusan kamu Rand. Lagian kamu ngapain disini? ini kan udah jam kegiatan pembelajaran, kamu ga masuk kelas?" tanya Vandra.


"Aku ijin untuk temenin kamu, kebetulan pagi ini guru yang ngajar ijin ga masuk jadi aku bisa jagain kamu"


"Aku ini bukan sakit parah Rand, ga perlu kamu jagain"


"Aku tau, aku cuma mau memastikan kondisi kamu"


"Makasih untuk rasa peduli kamu, tapi aku ga nyaman Rand dengan kondisi kaya gini. Aku ga tau niat kamu deketin aku itu apa, tapi yang pasti aku ngerasa kamu cuma cari perhatian aku aja"

__ADS_1


Randy menghembuskan nafas pelan.


"Kamu itu paham atau pura-pura sih? Coba kamu pikir, apa selama ini aku ada dideket kamu itu karna sebuah kebetulan? bukan Van, aku memang selalu mengikuti kamu dan juga selalu melihat kamu. Memang, perkenalan kita terhitung singkat. Tapi aku jatuh cinta Van sama kamu. Terserah apapun pemikiran kamu tentang aku, yang pasti aku beneran suka sama kamu" ungkap Randy.


Vandra terdiam. Sejujurnya ia sering mendapatkan pernyataan cinta dari seorang lelaki, tapi berbeda dengan Randy. Mengapa Vandra menangkap sebuah rasa bersalah dan kasihan pada Randy, Vandra yakin dia tak menyukai Randy bahkan sedikitpun.


Randy dan Vandra saling terdiam. Tiba-tiba Dinda datang memecah keheningan, tanpa berpamitan Randy berlalu pergi meninggalkan Vandra dan juga Dinda. Randy berlari kencang menuju taman sekolah, saat ini perasaannya benar-benar sulit dipahami. Randy lega karna berhasil mengungkapkan rasa sukanya pada Vandra, tapi disisi lain Randy merasa terluka karna Vandra tak menggangap usaha untuk mendapatkan hatinya.


Dinda merasa heran dengan sikap Randy, tak biasanya Randy seperti itu. Apa Randy sedang patah hati? dilihat dari ekspresi wajahnya menunjukan hal itu.


"Gimana keadaan kamu Van?" tanya Dinda.


"Aku udah baik-baik aja Din"


"Kamu kenapa bisa kena lemparan bola? aku sampe kaget tau denger kabar kamu pingsan dari Pa Galih (guru sosiologi)"


"Mungkin aku melamun" ucap Vandra tersenyum kecil.


"Lain kali hati-hati ya" Dinda mengingatkan.


"Iya"


"Terus kenapa tuh si Randy? aku liat dari ekspresinya kaya yang lagi patah hati. Kamu tolak cinta dia?" tebak Dinda.


"Ga. Randy ga nyatain cintanya ko"


"Terus kenapa?"


"Mungkin dia marah karna aku mengacuhkan kehadirannya. Aku cuma ga mau aja Din, memberi harapan apapun. Aku ngerasa Randy itu cuma mendekati aku karna alasan popularitasnya aja sebagai cowo populer, jadi aku ga mau menggangap perasaan dia itu beneran ada untuk aku"


"Oh.."


"Ya udah masuk kelas yuk, bentar lagi pelajaran ekonomi pasti dimulai"


"Kamu emang yakin udah baikan?"


"Udah Din, udah ayo nanti keburu gurunya masuk kelas duluan"


"Iya, ayo"


Vandra dan Dinda bergegas berjalan menuju kelas. Tapi sepanjang menuju kelas, Vandra teringat wajah sedih Randy, apa Randy benar-benar menyukainya?.

__ADS_1


***


__ADS_2