
Beberapa bulan kemudian.
Hari ini adalah hari kelulusan semua anak kelas XII. Semua anak bersorak gembira karna mereka akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik. Setelah menjalani kegiatan pembelajaran dan ujian selama 3tahun ini, akhirnya semua itu bisa terbayarkan dengan kelulusan yang mereka terima.
Hari itu entah kenapa Vandra tak melihat sosok Randy. Kemana Randy? apa dia tak berniat menemui dirinya lagi? Vandra mencoba mencari Randy kesegala arah.
Dari kejauhan tanpa dilihat Vandra, Randy dan Vino berdiri memperhatikan Vandra yang tengah berbincang dengan temannya didepan kelas. Vino dengan refleks menepuk bahu Randy sebagai tanda untuk menguatkan.
"Lo yakin ga mau pamit sama Vandra?" tanya Vino.
Flashback On.
Randy bersiap pergi kesekolah sembari memegang helmnya, namun saat Randy hendak keluar Papa Marko memanggilnya untuk berbicara. Dengan terpaksa Randy menuruti apa yang Papa Marko pinta.
"Ada apa Pah?" tanya Marko.
"Papa hanya mengingatkan kamu, jauhi anak perempuan yang bernama Vandra itu"
"Aku ga bisa menuruti keinginan Papa itu. Vandra cinta pertama aku Pah, aku mau menjadikan Vandra milik aku" kekeh Randy.
"Dengar Papa Randy, kita ini keluarga terhormat. Perempuan seperti Vandra itu ga cocok dengan kamu, mau dikemanakan wajah keluarga kita nanti kalau kamu bersama dia?"
"Apapun yang Papa bilang aku ga bisa menuruti itu. Aku pergi dulu Pah" Randy beranjak pergi, namun langkah Randy terhenti mendengar ucapan Papa Marko.
"Kalau kamu tidak mau menuruti Papa, tidak ada cara lain. Papa akan buat kehidupan dan keluarganya menjadi berantakan" Ancam Papa Marko.
Randy mengepalkan tangannya. Rasanya ingin sekali marah dan memberotak. Randy membalikan tubuhnya menghadap Papa Marko, Randy benar-benar kecewa. Hal yang menurutnya bisa membuat Randy bahagia kenapa harus ditolak kasar dengan cara seperti ini.
__ADS_1
Randy tak menganggap ucapan Papa Marko dengan sepele, Randy tau bagaimana sifat Papa Marko. Setiap ucapannya tak pernah main-main, apalagi Papa Marko bisa melakukan apapun tanpa terduga.
"Jangan pernah menyentuh dan mengusik keluarga Vandra" ucap Randy serius.
"Apa sebegitu cintanya kamu sama dia? Hah, Randy Randy. Baru merasa jatuh cinta kamu sudah seperti ini. Baiklah, Papa tidak akan mengusik keluarga perempuan itu. Tapi dengan syarat, kamu harus meneruskan pendidikan kamu diluar negri dan menjalankan perusahan. Kalau kamu berhasil, Papa akan mempertimbangkan kamu untuk bersama perempuan itu"
Randy tak berkutik, Randy memang tak tertarik dengan perusahan keluarganya. Alasan apapun Randy diminta untuk memimpin perusahaan nantinya selalu dengan tegas Randy tolak, tapi sekarang? permintaan itu menyangkut dengan Vandra.
"Baik Pah. Aku akan turuti keinginan Papa, tapi jangan pernah Papa ingkar janji soal ucapan Papa"
"Baik. Mulai sekarang, kamu harus bisa jauhi perempuan itu. Papa ga mau, semakin kamu dekat dengan dia semakin susah untuk kamu memenuhi janji kamu" pinta Papa Marko.
"Setelah kamu menerima kelulusan, kamu bersiap untuk berangkat. Kamu ga perlu persiapkan apapun, Papa akan menyiapkan segalanya"
"Baik Pah"
Randy mempercepat laju motornya, rasa amarah dan kekecewaan seakan menyatu dalam dirinya. Tiba disekolah Randy tak duduk didepan kursi kelas untuk menyapa Vandra seperti biasa. Randy berlalu pergi menuju taman sekolah untuk menenangkan amarahnya.
Flashback Off.
"Kayanya ga perlu Vin, gue ga mau Vandra nantinya sedih liat kepergian gue. Gue harus balik Vin, keberangkatan gue siang ini"
"Gue ikut antar lo ke bandara"
"Hhm"
Randy sejujurnya merasa berat pergi tanpa memberitahu Vandra, tapi mau bagaimana lagi. Randy tak ingin Vandra merasa bersedih hati karna harus pergi secepat ini. Vino yang melihat raut sedih Randy seakan merasa iba karna harus melihat sahabatnya merasa sedih karna harus berpisah dengan Vandra.
__ADS_1
***
Dibandara.
Randy sudah bersiap untuk pergi. Randy melihat sekeliling untuk memastikan kehadiran Vandra. Tapi Randy segera menepis harapan itu, bagaimana bisa Vandra ada disini jika Randy tak memberitahu kepergiannya. Perlahan Randy pergi sembari melambaikan tangan pada kedua orangtuanya dan juga Vino.
Vandra bergegas keluar mobil saat tiba dibandara, tanpa berpikir Vandra berlari masuk mencari sosok Randy. Namun sayang, Vandra tak menemukannya. Akhirnya Vandra memutuskan untuk menanyakan kepada petugas untuk menanyakan penerbangan yang Randy tuju.
Vandra tertunduk lemas mendengar jawaban petugas bandara, ternyata Randy sudah pergi. Pesawat yang Randy naiki baru saja terbang 10 menit yang lalu. Sedih, ya itu yang Vandra rasakan. Vandra mengujat sikap Randy dalam hatinya, bagaimana bisa Randy setega ini padanya? apa artinya petemanan yang mereka jalani selama ini jika Randy tak memberitahu tentang kepergiannya, apa sebenci itu Randy padanya?.
Vandra berjalan tertatih keluar dari bandara, rasanya amat sakit dirasa. Kenapa rasanya Vandra begitu kehilangan sosok Randy, apa sebenarnya yang Vandra rasakan sesungguhnya pada Randy. Apa Vandra mulai jatuh cinta pada Randy?.
Vino berlari menghampiri saat melihat Vandra berjalan seorang diri. Ya, Vino yang memberitahu tentang kepergian Randy pada Vandra, Vino segaja melakukan itu agar bisa mempertemukan Vandra dan Randy untuk terakhir kalinya. Namun sayang, Vandra dan Randy tak betemu. Vino sangat menyesali hal itu, andai saja Vino memberitahu Vandra lebih cepat mungkin Randy dan Vandra masih sempat untuk bertemu dan saling mengucapkan perpisahan.
"Vandra" panggil Vino.
"Vino"
"Maaf ya, lo jadi ga sempat ketemu Randy karna gue" Vino menyesali.
"Ini bukan salah kamu Vin, aku aja yang terlambat datang. Tadi dijalan lumanyan macet jadi aku terlambat datang. Sekarang Randy udah pergi jauh dan aku jadi ngerasa amat bersalah. Aku belum sempat ucapin kata maaf dan terimakasih sama Randy, aku ga tau bisa ketemu sama dia lagi atau engga. Tapi, makasih ya Vin. Kamu udah kasih tau soal kepergian Randy sama aku. Aku pulang dulu ya, Dah Vino" pamit Vandra.
Vino menatap kepergian Vandra. Rasanya Vino ikut bersalah karna terlambat mempertemukan Vandra dan Randy. Semoga saja, suatu hari nanti mereka bisa bertemu lagi dan juga bisa bersama. Harap Vino.
Seperti sudah menjadi keharusan, Vandra pergi ketaman untuk meluapkan kesedihannya. Vandra menangis sejadinya seorang diri dikursi taman, kenapa rasanya sesedih ini? kenapa rasanya sulit membiarkan Randy pergi begitu saja. Dan kenapa Randy sejahat ini? ini benar-benar tak adil. Apa salahnya mengucapkan salam perpisahan? Jika Randy tak ingin Vandra tau tentang kepergiannya, seharusnya Randy tak perlu menjadi teman ataupun menjadi sosok yang selalu mengungkapkan perasaanya tanpa henti.
Vandra benar-benar kecewa, rasanya ingin sekali memaki Randy tanpa henti. Tapi semua itu tak bisa Vandra lakukan. Semoga saja seiring berjalannya waktu, Vandra bisa menerima kepergian Randy dan mampu melupakannya.
__ADS_1
***