
"Ini dia makanan spesial untuk Nak Randy, chiken steak masakan andalan Om dikedai ini " Ayah Hadi menyerahkan pada Randy dengan bangga.
"Keliatan enak nih Om" puji Randy.
"Ayo dimakan"
"Iya Om"
"Om pamit dulu kedalam ya, mau bantu Tante siapkan makanan untuk pelanggan lain"
"Iya Om"
"Nikmatin ya makanannya"
"Siap Om"
Randy merasa bersyukur bisa mengenal Vandra dan keluarganya, rasanya terasa hangat dan nyaman.
"Aku makan ya" Randy seakan tak sabar ingin menyantap makanan dihadapannya.
"Silakan"
Vandra tersenyum kecil melihat Randy yang begitu lahap memakan makanannya, apa sesuka itu? atau hanya karna merasa lapar Randy jadi fokus menyantap makanannya. Terlalu menikmati tak diduga Randy tersedak, dengan cepat Vandra memberi segelas air.
"Ini minum"
"Makasih ya"
"Makan itu pelan-pelan aja, kamu ini suka atau emang kelaperan banget sih?" komentar Vandra.
"Dua-duanya"
"Dasar ya kamu"
"Makanannya enak Van, ga nyangka Ayah kamu pinter masak ya"
"Iya, maka dari itu Ayah sama Ibu buka kedai ini. Sebenernya sebelum pindah, Ayah itu bekerja. Tapi karna ada masalah dikeluarga dan perkerjaan Ka Vina jadi Ayah memilih keluar dan ikut pindah kesini"
"Oh.. Kayanya aku bakal jadi pelanggan setia deh disini" ucap Randy.
"Kenapa?"
"Aku jatuh cinta sama rasa makanannya, enak banget. Apalagi...."
"Apalagi apa?" Vandra penasaran.
"Apalagi sama anak pemilik kedainya, aku jatuh cinta banget" goda Randy.
"Ih kamu nih ngegombal aja" ejek Vandra.
"Suka ya?"
__ADS_1
"Apa sih, udah ah lanjutin makan kamu"
Randy begitu senang mengoda Vandra, baginya melihat Vandra tersenyum membuatnya terlihat semakin cantik. Semoga pertemanan yang terjadi saat ini menjadi awal yang baik Randy untuk merubah perasan Vandra padanya.
Selesai menikmati makan siangnya yang terlambat, Randy berpamitan pulang pada Ibu dan Ayah. Mereka terkejut saat Randy membayar makanannya berkali-kali lipat dari harga yang tertera.
"Nak Randy ga perlu membayar" tolak Ayah Hadi.
"Om ga boleh seperti itu, walaupun saya teman Vandra tapi berbeda lagi dengan makanan yang saya makan dikedai Om. Om kan buka kedai ini bukan untuk berbagi makanan sama saya, jadi Om terima ya" paksa Randy menyerahkan uang pada Ayah Hadi.
"Om merasa ga enak, tapi terimakasih ya. Sejujurnya uang yang diterima ini berlebihan"
"Berarti ini ada rejeki Om yang lebih. Kalau gitu, saya pamit ya Om Tante. Van, aku pamit pulang ya" pamit Randy.
"Iya, hati-hati ya Nak Randy" ucap Ibu Hani.
"Iya Tante"
"Hati-hati Ran" Vandra melambaikan tangan.
"Iya"
Setelah Randy berlalu pergi, Ibu hani dengan senang memuji kesopanan dan kebaikan Randy. Bu Hani begitu mengharapkan jika Vandra suatu saat mendapat sosok lelaki seperti Randy.
"Semoga suatu hari kamu dapat laki-laki baik kaya Nak Randy ya Van" ucap Ibu Hani.
"Ibu bilang apa sih" protes Vandra.
"Maksud Ibu bilang gitu apa?" tanya Ayah Hadi.
"Ya semoga nanti Vandra bisa dapat pacar sebaik Nak Randy"
"Ibu ini ya, udah ah aku masuk dulu mau ganti baju" Vandra berlalu pergi menuju rumah.
"Ibu ini memuji Nak Randy didepan Vandra biar apa? berharap Nak Randy jadi pacar Vandra?" tebak Ayah Hadi.
"Ayah tau aja pemikiran Ibu"
"Udau ah, ada pelanggan datang tuh" tunjuk Ayah Hadi.
"Selamat datang" sapa Ibu Hani pada pelanggan yang baru datang.
***
Papa Tomy, Mama Amira dan Andra duduk dihalaman belakang sembari menikmati secangkir teh bersama. Papa Tomy menanyakan kesan Andra saat bertemu dengan Vandra, Andra sebenarnya sudah bertemu dengan Vandra sebelum Papa Tomy mempertemukan mereka, hanya saja demi menutupi pertemuan sebelumnya Andra pun berbohong pada Papa Tomy.
"Gimana Dra menurut kamu? Vandra cantik kan? selain cantik dia juga anak yang baik" puji Papa Tomy.
"Iya Pah. Tapi apa Papa ga berlebihan, mau menjadikan Vandra pendamping aku? dia masih sekolah Pah, dan umurnya juga baru belasan. Aku ga mungkin Pah menikah sekarang"
"Dra, Papa ga meminta kalian menikah sekarang. Kita tunggu saat Vandra sudah kuliah nanti. lagipula Papa juga tau, Vandra saat ini pasti masih ingin menikmati masa sekolahnya. Papa hanya minta mulai sekarang cobalah kamu berkenalan baik dengan Vandra, Papa yakin kamu dan Vandra pasangan yang cocok"
__ADS_1
"Iya Pah, aku akan coba itu" pasrah Andra.
"Aku masuk kedalam dulu Pah, Mah" pamit Andra.
"Apa kita terlalu memaksakan kehendak Pah, Andra maupun Vandra pasti butuh waktu cukup lama untuk saling mengenal" ucap Mama Amira.
"Kita lihat aja Mah, kalau mereka berjodoh pasti akan berjalan dengan semestinya"
"Semoga ya Pah"
"Hai Pah, Mah" sapa Arumi datang menghampiri.
"Hai sayang"
"Ka Andra mana Mah?"
"Dikamarnya"
"Oh iya Pah, Papa seserius ini mau jadiin Ka Vandra istri Ka Andra?" tanya Arumi memberanikan diri.
"Tumben kamu sekarang tanyain Kaka kamu? biasanya kamu cuek sama Ka Andra" Heran Papa Tomy.
"Aku bukan cuek Pah, cuma jarang ngobrol aja sama Ka Andra. Semenjak Ka Andra sibuk dikantor aku jadi ga punya waktu bareng-bareng. Sejujurnya aku ngerasa aneh Pah, kenapa Ka Andra harus menikah dengan pilihan Papa. Padahal banyak lho yang usianya lebih siap dibanding Ka Vandra"
"Tapi kebanyakan yang usianya siap itu hanya memanfaatkan Kaka kamu. Papa sebagai orangtua ga mau kalau Ka Andra salah pilih, apalagi Ka Andra itu punya trauma masalalu"
"Iya Rumi, kita percaya sama Papa ya. Papa pasti ga akan salah dengan pilihannya, apapun nanti yang terjadi kalau memang Ka Andra dan Ka Vandra berjodoh pasti akan menjadi hal yang baik buat keluarga kita" Mama Amira menambahkan.
"Tapi Mah, apa rencana Papa ini akan disetujui sama Oma? Papa tau kan Oma gimana?" Arumi mengingatkan.
"Itu urusan Papa, biar Papa yang hadapi Oma" Papa Tomy menyakinkan.
Arumi dan Mama Amira saling memandang, semoga Oma dan Opa bahkan keluarga lain bisa menyetujui rencana Papa Tomy.
***
Vandra menyandarkan tubuhnya disandaran kasur sembari membaca novel. Tiba-tiba seseorang menelpon tanpa nama, Vandra terheran dengan nomor yang tak dikenalnya bisa mengetahui nomornya, karna seingat Vandra ia baru menganti nomor handphonenya dan juga hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomornya. Merasa penasaran Vandra pun mengangkat telpon itu.
"Halo"
"Simpan nomor saya, karna kita akan terikat penjanjian kita harus saling tukar komunikasi" pinta seseorang dari sebrang sana dengan tegas.
"Ini siapa sih" tanya Vandra bingung.
"Saya Andra Wijaya, anak Tuan Tomy" jawab dingin Andra.
"Oh, Tuan Muda? baik, saya akan simpan nomor Tuan" singkat Vandra.
Tanpa ucapan apapun lagi Andra dengan cepat mematikan handphonenya. Vandra merasa kesal dengan sikap tak sopan Andra, rasanya ingin sekali memaki Tuan Muda menyebalkan itu.
"Dasar Tuan Muda rese, telpon ga pake salam sekarang main tutup telpon seenaknya aja. Rasanya pengen aku caci maki tuh orang" gumam Vandra kesal.
__ADS_1
***