Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Siapa yang dilamar?


__ADS_3

Seperti biasa kedatangan Andra dikantor selalu mendapat sambutan dan juga pujian. Tapi pagi itu mood Andra benar-benar sedang kacau, ucapan Papa Tomy yang sudah menyiapkan seseorang untuknya membuat Andra sedikit frustasi. Seperti apa wanita itu? itu yang Andra pikirkan.


Selain merasa kacau, beberapa karyawan pagi itu mendapat amarah dari Andra. Mereka merasa aneh, ada apa dengan Andra? kesalahan apapun yang mereka buat pasti hanya akan mendapat teguran, tapi ini mereka mendapat surat peringatan. Entah apa yang Andra pikirkan, semakin hari sikap Andra semakin tak dimengerti.


Riko, sekertaris Andra mencoba menenangkan dan mencoba mengajak bicara Andra. Saat ini Andra pasti sedang merasa tak baik dengan pikiran dan juga perasaannya.


"Maaf Tuan, bukan saya bersikap lancang. Ada apa dengan Tuan pagi ini, tak biasanya Tuan bersikap berlebihan pada kesalahan karyawan kita" tanya halus sekertaris Riko.


"Perasaan saya sedang kacau Rik, saya akan dinikahkan dengan seseorang yang ga pernah saya tau dan kenal. Itu semua rencana Papa, saya bingung kenapa jalan hidup saya harus diatur seperti ini. Dari mengelola perusahaan bahkan jodoh pun sudah diatur tanpa tau apa yang saya inginkan" jawab Andra.


"Bukan saya mencampuri pihak manapun Tuan, hanya saja Tuan besar Tomy pasti ingin Tuan mendapatkan pendamping yang baik"


"Semakin saya pikirkan semakin buat saya frustasi. Lalu, jadwal saya apa hari ini ?" Andra mengalihkan pembicaraan agar ia tak terlalu memikirkan.


"Nanti siang Tuan dijadwalkan bertemu dengan kline disebuah restoran di Mall X"


"Baiklah, kita datang lebih awal saja sekalian kita makan siang disana"


"Baik Tuan. Saya pamit undur diri"


"Iya"


***


Sepulang sekolah Vanda dan Dinda memutuskan untuk pergi ke mall untuk sekedar melepas rasa lelah. Mereka bercengkrama satu sama lain, tapi tiba-tiba Dinda menabrak seseorang lalu tak segaja menumpahkan minuman yang ia bawa ke baju seseorang itu.


"Ya ampun, maaf..." sesal Dinda.


"Tuan tidak apa-apa" tanya Sekertaris Riko. Ya, orang yang ditabrak oleh Dinda adalah Andra.


Andra menepuk baju yang terkena tumpahan minuman Dinda. Refleks Andra menatap dingin ke arah Dinda.

__ADS_1


"Maaf Tuan saya tidak segaja" ucap Dinda.


"Seharusnya kamu itu jalan dengan hati-hati. Sebentar lagi saya harus ketemu kline, dan akan membuang waktu untuk menganti pakaian saya. Sikap kamu ini benar-benar merugikan waktu saya" cetus Andra.


"Lagipula anak sekolah kenapa harus disini? harusnya selesai sekolah kalian pulang kerumah bukannya main, mau jadi apa kalian nanti. Masih sekolah sudah rugi oranglain, gimana kedepannya nanti" Oceh Andra menambahkan. Hari itu mood Andra memang benar-benar sedang kacau, Dinda pun terkena dampak itu.


"Tuan, teman saya sudah meminta maaf. Anda sebagai orang terhormat tak seharusnya berkata seperti itu, kejadian barusan itu pun juga ga disegaja" bela Vandra.


"Van udah, kita pergi aja yuk. Jangan berurusan sama mereka" bisik Dinda sembari memegang lengan Vandra.


"Saya maafkan dan saya biarkan kalian pergi. Beruntung kalian. Kalau saya sedang tidak ada urusan penting, saya tidak akan melepaskan kalian semudah ini" kesal Andra berlalu berlalu pergi diikuti oleh Sekertatis Riko.


"Kenapa semua orang hari ini benar-benar menyebalkan" ucap Andra sembari berjalan.


"Tuan, Saya sudah meminta seorang karyawan untuk menyiapkan pakaian ganti Anda"


"Hm.. masih ada waktu kan untuk menganti pakaian saya?"


"Baiklah, kita tidak punya banyak waktu. Cepat"


"Baik Tuan"


Andra dan Sekertaris Riko berjalan cepat untuk menganti pakian Andra yang sudah disiapkan disebuah toko pakaian ternama. Vandra yang masih saja melihat kepergian Andra benar-benar masih merasa kesal, bagaimana bisa ada orang menyebalkan seperti itu.


"Tuh orang bener-bener nyebelin abis" kesal Vandra.


"Tenang Van, lagian kamu kenapa berani banget sih lawan mereka. Mereka orang terpandang lho"


"Din, aku ga terima aja sama sikap dia. Aku tau mereka itu kaya, tapi ga seharusnya dia berkata seenaknya gitu. Hal kecil yang ga segaja dilakuin aja diprotes berlebihan sama dia, gimana hal besar. Orang kaya gitu ga pantes buat kita maklumi" oceh Vandra kesal.


"Kasian yang jadi pacar atau istrinya menghadapi orang kaya gitu. Semoga aja aku dijauhin dari cowo yang sikapnya begitu" lanjut Vandra.

__ADS_1


"Udah Van, pergi aja yuk. Orangnya udah pergi, ayo" ajak Dinda menarik lengan Vandra.


***


Tiba dirumah, Vandra yang baru saja tiba dikejutkan dengan obrolan Mama Hani, Ayah Hadi dan Vina yang saat itu sudah tiba dirumah. Vandra yang mendengar dari balik pintu rumah tak menyangka dengan apa yang ia dengar. Apa maksudnya ini? siapa yang dilamar? Apa Ka Vina? tapi itu tak mungkin, Ka Vina masih trauma menjalani hubungan dengan lelaki. Lalu siapa? apa dirinya? Vandra menduga-duga sendiri.


Tak ingin mengejutkan kehadirannya, Vandra berpura-pura tiba dirumah sambil mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Entah kenapa, Ayah hadi bahkan Mama Hani dan Vina tak melanjutkan obrolan mereka. Tak ingin ikut campur dan bertanya, Vandra pun berpamitan masuk kedalam kamar.


"Kenapa Ibu, Ayah sama Ka Vina tiba-tiba berhenti bahas obrolan mereka ya? sebenernya apa yang mereka bahas? siapa yang mau dilamar?" gumam Vandra sembari duduk ditepi kasur.


Ibu Hani memanggil Vandra untuk makan malam, dengan senyuman Vandra mengikuti Ibu Hani untuk makan malam. Vandra menatap satu persatu keluarganya, Vandra sejujurnya merasa penasaran dengan apa yang ia dengar. Tapi apa mereka akan menjawabnya jika Vandra bertanya?.


"Ka Vina ada yang mau melamar ya?" Tanya Vandra mengawali rasa penasarannya.


"Maksud kamu? Ga ada yang mau melamar Kaka ko" tegas Vina.


"Terus yang mau dilamar siapa dong? tadi waktu aku pulang, aku ga segaja denger obrolan Ibu, Ayah sama Ka Vina tentang seseorang yang mau dilamar. Terus kalau bukan Ka Vina siapa?" tanya Vandra meminta jawaban.


"Kenapa ga ada yang mau jawab pertanyaan aku?" Vandra terheran dengan sikap diam keluarganya.


"Kamu habiskan dulu makanan kamu, nanti kita bicarakan lagi" ucap Ayah Hadi.


"Iya Yah"


"Sebenernya apa yang dirahasiakan? kenapa aku seolah ga boleh tau dulu? apa ini ada hubungannya sama aku?" duga Vandra dalam hati.


Vandra menatap satu persatu Ayah Hadi, Ibu Hani, dan Vina. Mereka semua berkumpul diruang tengah, Mungkin sudah seharusnya Vandra mengetahui hal ini dari awal. Hasil apapun nanti tentang reaksi Vandra akan dihadapi dengan tenang oleh Ayah Hadi.


Ayau Hadi mengela nafas pelan, sejujurnya Ayah Hadi merasa bingung dan tak tau harus memulai darimana. Tapi Ayah Hadi harus bisa memberitahu Vandra agar tak menjadi permasalahan besar nantinya. Tapi bagaimana reaksi Vandra nanti? apa dia akan marah atau bersikap biasa saja? itu yang terpikirkan oleh Ayah Hadi.


***

__ADS_1


__ADS_2