
"Makanan buatan Ayah kamu selalu enak. Sangat disayangkan kalau bakat memasaknya harus digunakan ditempat kedai kecil seperti ini" komentar Andra.
"Maksud Anda apa? Anda menghina kedai milik keluarga saya?" sinis Vandra.
"Pemikiran kamu terlalu sensitif. Saat kita menikah nanti, saya akan siapkan sebuah restoran untuk Ayah dan Ibu kamu kelola. Saya yakin, restorannya pasti akan sukses"
"Menikah? hah, andai bisa aku hapus takdir itu, aku akan hapus sekarang juga dari hidup aku" batin Vandra.
"Oh iya, kamu bisa panggilkan Ayah dan Ibu kamu? Ada yang harus saya katakan pada mereka" pinta Andra.
"Baik Tuan, tunggu sebentar"
Ayah dan Ibu sudah duduk bersama dengan Andra dan Vandra, untungnya kedai saat itu sedang tak ada pelanggan jadi Ayah Hadi dan Ibu Hani bisa berbicara leluasa dengan Andra.
"Ada hal apa yang mau Nak Andra bicarakan?" tanya Ayah Hadi.
"Begini Om, Tante. Saya mau memberitahu jika besok malam saya berserta keluarga akan datang kemari" jawab Andra.
"Begitu ya, dengan senang hati Om sekeluarga akan menunggu kedatangan Nak Andra sekeluarga"
"Dan juga, Makanan buatan Om sangat enak. Saya berterima kasih karna Om sudah menyiapkan makanan seenak ini" puji Andra.
"Tak perlu berterima kasih, Om senang membuatkan makanan untuk Nak Andra"
"Kalau begitu saya pamit dulu Om Tante, masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dikantor"
"Iya Nak Andra, terimakasih sudah datang kemari" ucap Ibu Hani.
"Iya Om Tante, maaf kalau saya merepotkan"
"Tidak sama sekali"
"Vandra, saya pamit pergi dulu. Permisi Om Tante" pamit Andra.
"Iya, hati-hati Nak Andra"
__ADS_1
"Iya Om"
Merasa lelah Vandra berpamitan pada Ayah Hadi dan Ibu Hani untuk beristirahat. Vandra merasa tak enak hati mendengar Andra dan keluarganya akan datang besok malam, Vandra sudah menduga pasti kedatangan Andra dan keluarganya akan membahas tentang pernikahan.
Vandra duduk termenung ditepi kasur, sudah saatnya kah Vandra menikah untuk membalas kebaikan Tuan Tomy? rasanya masih tak percaya Vandra menyetujui permintaan Tuan Tomy untuk menikah dengan Andra.
***
Malam hampir larut, Andra yang baru saja tiba dirumah dikejutkan oleh Papa Tomy yang sedang duduk disofa sambil menonton tv. Andra menghampiri Papa Tomy untuk menyapa dan sekedar berbincang kecil.
"Papa belum tidur?" tanya Andra.
"Belum, kamu kenapa pulang malam banget Dra?"
"Tadi ada kerjaan yang harus aku selesaiin Pah"
"Oh, kalau bisa kamu jangan terlalu sering pulang larut kaya gini, kamu harus jaga kesehatan kamu"
"Iya, Papa juga. Udah malam begini Papa belum tidur"
"Papa nunggu kamu"
"Tadi siang kamu sudah menjenguk Vandra?"
"Sudah Pah, Vandra dan keluarganya terlihat sehat. Aku juga udah sampaikan pesan Papa kalau besok kita sekeluarga mau berkunjung kerumah Vandra"
"Bagus kalau begitu. Papa hanya ingin cepat-cepat melihat kamu menikah, sekarang usia Vandra sudah 20 tahun dan dia juga sudah kuliah. Sudah saatnya sekarang kita membicarakan tentang pernikahan kalian"
"Iya Pah"
"Dan juga, rencananya setelah kita menentukan tanggal kalian menikah, Papa akan membicarakan hal itu dengan Oma. Papa tau, pasti akan sulit menghadapi itu. Tapi Papa mohon sama kamu, apapun reaksi Oma nanti kamu harus tetap menikahi Vandra, kamu harus ingat itu"
"Iya Pah. Sudah malam Pah, kita bahas ini nanti lagi ya. Papa harus banyak istirahat, aku juga capek Pah mau istirahat"
"Iya, Papa ke kamar ya"
__ADS_1
"Iya Pah"
Andra tak bergegas menuju kamar, ia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Andra duduk dikursi meja makan sembari meminum segelas air yang ia ambil. Rasanya sangat menyedihkan, apa harus dia menikahi seorang wanita yang tak pernah ia cintai? bahkan saat bertemu pun mereka saling membenci dan bersikap dingin satu sama lain.
Walau ada perjanjian pernikahan yang berjalan selama satu tahun diantara mereka, tapi tetap saja. Ini adalah pernikahan Andra maupun Vandra untuk pertama kalinya. Sejujurnya Andra ingin menunda pernikahan itu, tapi semua keputusan ada pada Papa Tomy.
***
Vandra tak bisa memejamkan matanya. Bagaimana jika pernikahan itu akan terjadi dalam waktu dekat ini ? sungguh Vandra tak bisa membayangkan itu. Vandra merubah posisi tidurnya kesana kemari namun tetap ia tak bisa tertidur lelap. Ia hanya tak bisa percaya jika akan menikah dengan seseorang yang tak dicintainya.
Sebuah notif masuk kehandphone Vandra, Vandra bergegas membaca notif yang masuk. Sungguh mengejutkan, isi notif itu tentang jumlah uang yang masuk kerekeningnya. Vandra membaca notif itu dengan teliti, bisa saja seseorang salah transfer pada dirinya. Namun, yang tak kalah mengejutkan adalah pengirim itu bernama Andra. Apa mungkin Andra si Tuan Muda rese itu? tapi untuk apa dia mengirim uang yang bisa dikatakan cukup banyak pada Vandra?.
Menjelang pagi Vandra sudah rapi dan membantu Ibu Hani menyiapkan makanan. Walau semalam Vandra kurang cukup tidur, tapi ia berusaha untuk tetap bangun pagi. Semua keluarga berkumpul untuk sarapan, saat itu Vina tiba-tiba membahas soal kedatangan lelaki yang bernama Andra. Memang sampai saat ini Vina belum bertemu langsung dengan Andra, selama ini Andra hanya mengunjungi Vandra disaat Vina tengah bekerja.
Vina hanya mengira jika sosok Andra itu oranglain, bukan atasanya yang angkuh dan dingin. Karna menurut Vina nama Andra itu tidak hanya satu pemilik didunia ini, dan bagaimana mungkin juga jika Andra yang ia pikirkan adalah bosnya dikantor. Itu sungguh tak mungkin dan mustahil.
"Memang Andra dan keluarganya mau datang jam berapa Bu kesini?" tanya Vina.
"Malam nanti, kamu sempat kan untuk pulang sebelum keluarga Andra kesini?"
"Iya Bu, Vina akan usahakan untuk pulang cepat"
"Van, sepulang kuliah nanti kamu tolong belikan beberapa bahan disupermarket ya" pinta Ibu Hani pada Vandra.
"Iya Bu" jawab Vandra.
"Ada apa ya Bu keluarga Nak Andra mau datang nanti malam kerumah kita" tanya Ayah Hadi pada Ibu Hani.
"Ibu ga tau Yah, mungkin mereka mau bersilaturahmi sama keluarga kita" jawab Ibu Hani.
"Apa mungkin kalau kedatangan mereka itu untuk membicarakan soal pernikahan Nak Andra dan Vandra?" Ayah Hadi bertanya.
"Ibu kurang tau Yah, lebih baik sekarang kita selesaikan makan dulu, ayo kalian habiskan makanan kalian nanti kalian terlambat" ucap Ibu Hani pada keluarganya.
"Iya Bu" ucap Vandra dan Vina bersamaan.
__ADS_1
Sepanjang menunggu Bus dihalte, Vandra masih saja menatap saldo rekeningnya. Rasanya sungguh aneh Andra mengirimkan sejumlah uang cukup banyak padanya. Untuk apa uang itu? apa harus Vandra mengirim lagi uang itu pada Andra. Merasa penasaran dengan maksud dari apa yang Andra lakukan, Vandra berinisiatif menghubungi Andra. Tapi apa Andra akan menganggap Vandra merindukannya jika sepagi ini Vandra menghubunginya?.
***