
"Saya tanya lagi sama kamu, apa kamu mempengarui dan memanfaatkan Papa saya?" Andra bertanya.
"Maaf Tuan, saya tidak pernah mempengaruhi pemikiran bahkan argumen apapun pada Om Tomy. Soal permintaan Beliau, itu murni keinginan pribadi Beliau. Jangan merasa Anda korban karna permintaan itu, saya pun disini korban. Saya menghargai beliau karna beliau sudah baik pada keluarga saya. Lagipula, tanpa permintaan itu pun saya tak akan pernah mau menikah dengan Tuan" balas cetus Vandra.
"Dan perlu Anda tau Tuan, saya tidak pernah ada niatan untuk mendekati atau bahkan memanfaatkan apa yang Om Tomy punya. Terserah Anda mau menggangap kebaikan yang saya lakukan seperti apa, yang pasti saya selalu diajarkan untuk tau balas budi dan baik pada siapapun" Vandra menambahkan.
Vandra bukannya bermaksud tak sopan berbicara pada Andra yang usianya cukup jauh darinya, hanya saja nada bicara dan sikap Andra yang dingin dan semena-mena membuat Vandra tak bisa diam saja. Vandra segaja mengeluarkan pendapatnya agar Andra tak salah menilainya.
"Ok, saya hargai dan saya anggap ucapan kamu benar. Dan saya juga akan anggap kamu juga menolak permintaan itu. Tapi Dengarkan saya, saya minta kamu menolak ketika Papa meminta jawaban kamu. Saya akan bayar berapapun itu kalau kamu mengikuti apa yang saya pinta. Kamu juga ga perlu khawatir, karna Masadepan bahkan pilihan pasangan hidup kamu maupun saya akan tetap aman" pinta Andra.
Vandra tersenyum licik mendengar ucapan Andra.
"Saya kasihan pada Om Tomy, anak yang dijamin beliau anak baik ternyata seperti ini. Anda menemui saya hanya untuk meminta saya menolak permintaan beliau dengan membayar berapapun yang saya minta, begitu? Hah, Anda benar-benar licik Tuan" ledek Vandra.
"Apa maksud kamu? jangan menilai saya seperti itu" Andra tak terima.
"Maaf Tuan, saya bukannya tak butuh uang. Uang bisa dicari dengan keringat saya sendiri, tapi soal mengingat bahkan membalas kebaikan orang dan juga kebahagiaan orangtua itu adalah hal paling penting melebihi uang. Saya ga mengerti dengan jalan pemikiran Anda, tadinya saya ingin mengajukan kesepakatan dengan Anda. Tapi melihat Anda bersikap seperti ini membuat saya meragukan kedewasaan Anda"
"Kamu ini masih sekolah, berani-beraninya kamu berbicara seperti itu pada saya" kesal Andra.
"Cukup Tuan, Anda pasti sedang merasa tertekan dan terdesak kan? dari pada Anda sibuk membicarakan hal ini lebih baik Anda mencari solusi untuk permintaan Om Tomy agar kita berdua tak merasa bersalah walau kita berdua menolaknya"
Benar yang diucapkan Vandra. Andra tiba-tiba terdiam, lalu dia mengajukan sebuah kesepakatan.
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Andra.
"Saya setuju. Tapi saya pun akan mengajukan beberapa hal pada Anda"
"Baik, saya beri kamu waktu untuk mengajukan kesepakatan itu. Satu hal lagi, jangan pernah ada satu orang pun yang tau tentang pertemuan dan pembahasan kita ini" Andra memperingati.
"Baik. Kalau gitu saya pamit, sampai ketemu dilain waktu Tuan Muda" ejek Vandra tersenyum kecil.
"Bisa-bisanya gue berhadapan sama bocah sekolah yang berani kaya dia, untung Arumi ga kaya dia" gumam Andra saat Vandra berlalu pergi.
***
Vandra mengumam seorang diri sembari berjalan pulang. Karna jarak jalan besar menuju komplek rumah yang tak terlalu jauh membuat Vandra memutuskan untuk berjalan. Vandra memikirkan obrolannya dengan Andra, Tapi apa benar yang ia akan lakukan itu tak akan bermasalah nantinya?.
"Vandra" panggil Ibu Hani.
"Ibu" Vandra menghampiri Ibu Hani yang tengah menjaga kedai sembari merapihkan meja yang sudah dipakai pelanggan.
__ADS_1
"Kamu baru pulang? kenapa pulangnya terlambat?" tanya Ibu Hani. Maklum saja, Vandra pulang diluar jam sekolah dan saat itu hari mulai sore.
"Tadi ada tugas kelompok dulu Bu, jadi pulang terlambat. Maaf lupa kasih kabar" bohong Vandra.
"Ya sudah kamu masuk sana, istirahat dan ganti pakaian kamu" suruh Ibu Hani.
"Iya Bu, aku masuk dulu ya Bu"
"Iya"
Vandra menaruh tas dikasur lalu menidurkan tubuhnya. Sejujurnya Vandra merasa lelah karna pemikirannya, Vandra benar-benar merasa bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa kebaikan yang ia lakukan harus menjadi sebuah masalah saat ini.
Flashback On.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan diantara kita. Saya maupun kamu pasti akan sulit menolak permintaan Papa Tomy" ucap Andra.
"Memang apa rencana Anda?"
"Bagaimana kalau kita menerima dan menjalankan pernikahan nanti tapi dengan syarat pernikahan itu berjalan 1tahun. Kita bisa membuat perjanjian satu sama lain, tapi jangan sampai perjanjian ini bocor kesiapa pun"
"Apa itu tidak terlalu kejam, membohongi orang-orang dengan cara seperti itu?" Vandra sedikit menentang.
"Apa rencana itu ga akan menjadi masalah nantinya? Dan juga saya mana mau menjadi single parent diusia saya yang masih muda, walaupun kita tidak akan pernah menjalankan pernikahan kita layaknya pernikahan umumnya" Tolak Vandra.
"Kamu tenang aja, kita cari cara lain nantinya. Yang pasti saya hanya bisa mengajukan cara itu agar masadepan bahkan pilihan pasangan hidup kita bisa tetap aman"
"Bagaimana menurut kamu?" tanya Andra.
Flashback Off.
Handphone Vandra berdering, Vandra mengecek handphonenya lalu melihat siapa yang menelponnya. Nomor itu tanpa nama, awalnya Vandra tak ingin mengangkatnya. Tapi merasa takut seseorang mengenalnya menggunakan nomor lain Vandra pun mengangkatnya.
"Halo"
"Apa benar ini dengan Nona Vandra?" tanya seseorang dari sebrang sana.
"Iya. Ini dengan siapa?"
"Saya Sekertaris Andy, Nona mengenal saya kan?"
Ya, Vandra sangat mengenal Sekertaris Andy, bahkan Vandra sudah sangat menghafal wajahnya walaupun baru beberapa kali bertemu.
__ADS_1
"Iya, ada apa ya?"
"Saya ingin menyampaikan sesuatu, besok Nona diminta datang untuk menemui Tuan Tomy dan juga Nyonya Amira"
"Ada apa lagi ini? pasti mereka meminta jawaban" batin Vandra.
"Baik Pak, saya besok akan menemui beliau berdua" ucap Vandra.
"Saya menunggu kedatangan Nona. Terima kasih Nona sudah meluangkan waktunya"
"Iya"
Vandra menutup telponnya. Tiba-tiba Ibu Hani masuk kedalam kamar Vandra untuk memberikan cemilan. Ibu Hani menatap Vandra yang seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Ini cemilan untuk kamu" Ibu Hani menyimpan cemilan itu diatas nakas.
"Iya Bu makasih"
"Kamu keliatan lagi memikirkan sesuatu. Apa kamu masih memikirkan tentang permintaan Tuan Tomy?"
"Ga Bu, aku cuma lagi pikirin tugas yang banyak" bohong Vandra. "Ayah mana Bu?"
"Ayah ada dikamarnya, katanya lagi kurang sehat"
"Apa Ayah juga makin kepirikiran soal Tuan Tomy ya?" batin vandra.
"Van, kamu kenapa jadi melamun?" tanya Ibu Hani.
"Ga melamum Bu. Oh iya Bu, besok kan libur sekolah. Aku boleh ijin pergi ga Bu besok?"
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Kerumah Dinda Bu, ada tugas yang harus aku selesaiin sama Dinda. Boleh kan Bu?" Vandra berbohong.
"Iya boleh. Ya sudah Ibu keluar dulu ya mau siapin makan malam"
"Iya Bu"
Vandra merasa bersalah karna harus berbohong pada Ibu Hani, tapi Vandra tak ingin dulu memberitahu tentang jawaban dan permintaan Tuan Tomy yang ingin menemuinya.
***
__ADS_1