Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Rumah Baru


__ADS_3

Sebelum kembali ke kantor, Andra terlebih dulu mengantar Vandra pulang. Sembari mengemudi mobil, Andra tiba-tiba memberitahu Vandra jika ia mempunyai kejutan yang sudah disiapkan untuk Vandra.


"Kejutan apa Mas?" Vandra penasaran.


"Nanti juga kamu tau, sekarang kita ketempat kejutan untuk kamu ya"


"Iya Mas" pasrah Vandra menerima jawaban Andra.


Vandra terheran melihat rumah dihadapannya yang tampak begitu mewah. Rumah siapa ini? tanya Vandra.


"Mas, ini rumah siapa? kenapa kita kesini? harusnya kan area komplek rumah Ayah bukan disini" ucap Vandra.


"Aku tau. Ayo masuk" ajak Andra meraih tangan Vandra.


Vandra semakin dibuat takjub dengan kondisi rumah yang begitu terlihat rapi dipenuhi barang-barang yang sudah tersedia. Sambil mengarahkan pandangannya keberbagai arah Vandra pun menanyakan keberadaan pemilik rumah pada Andra.


"Mas, pemilik rumahnya mana?" tanya Vandra.


"Kamu ini pura-pura gak ngerti atau memang gak peka sih" komentar Andra.


"Mas ko bilang gitu. Lagian Mas gak bilang apa-apa juga kan soal rumah ini"


Andra tersenyum dengan ucapan Vandra.


"Sayang, ini rumah milik kamu" Andra memberitahu sembari merangkul bahu Vandra.


Vandra menatap ke arah Andra.


"Rumah aku?" Vandra tak percaya.


"Iya. Rumah ini aku siapkan untuk tempat tinggal kita. Gimana kamu suka?"


"Mas serius?"


"Iya sayang"


"Ini rumah bagus dan mewah Mas, apa ini gak terlalu berlebihan untuk aku?"


"Aku mau yang terbaik untuk kamu. Aku mau kamu nyaman tinggal dirumah ini, aku bukannya gak suka tinggal dirumah Ayah. Tapi, sekarang ini kita udah menikah. Makanya aku mencari rumah untuk kamu tinggalin dan jarak rumah ini yang masih bisa kamu jangkau dari rumah keluarga kamu"

__ADS_1


"Aku menghargai niatan dan maksud kamu Mas. Makasih ya, kamu selalu memberi yang terbaik untuk aku" ucap Vandra syukur.


"Iya sayang. Kamu suka?"


"Suka Mas. Tapi apa gak terlalu besar Mas untuk kita?"


"Memang kenapa? lagian kalau rumah ini luas kan bagus juga untuk anak-anak kita nanti main, mereka jadi leluasa main kesana kemari"


"Emangnya kita mau punya anak banyak apa sampai pemikiran Mas begitu?"


"Iya. Aku pengen punya banyak anak dari kamu. Ya, kalau bisa aku pengen punya anak 5 atau lebih mungkin" goda Andra.


"Ih Mas ya, emangnya rumah ini playgroup apa banyak anak? lagian, anak didalam perut aku aja belum lahir Mas, Mas udah punya niatan punya anak banyak aja. Emang Mas tau rasanya ngurus anak? engga kan, Mas mana pernah ngurus anak kecil" ledek Vandra.


"Lha kamu sendiri aja juga belum pernah ngurus anak kan?"


"Aku pernah lah. Dari kecil aku kan udah bantu Ka Vina jaga Adit, jadi aku tau gimana rasanya ngurus anak. Gak gampang tau Mas"


"Iya deh yang lebih dulu pernah ngurus anak, aku ngaku kalah. Ya udah, sekarang kita liat-liat yuk" ajak Andra.


"Ayo"


Disela melihat kamar utama, tiba-tiba Vandra menanyakan tentang kepindahan mereka kerumah baru. Jujur, Vandra sebenarnya juga merasa tak sabar ingin menempati rumah itu, ditambah pula Vandra kadang merasa tak enak melihat Andra yang kurang nyaman ketika ingin melakukan apapun dirumah Ayah Hadi.


"Terserah kamu. Rumah ini juga udah siap untuk kita tempatin"


"Gimana kalau besok Mas?" saran Vandra.


"Besok?"


"Iya. Mas gak mau?"


"Ya udah kalau kamu mau besok. Tapi nanti sesampainya dirumah Ayah, kita bicarain dan ijin soal ini ya"


"Iya Mas"


Sebelum makan malam dimulai, Ayah Hadi yang tengah menonton tv dihampiri oleh Vandra dan Andra. Mereka berdua ingin membahas soal rumah baru yang akan mereka tinggali besok.


"Ibu, Ka Vina sama Adit kemana Yah?" tanya Andra berbasa-basi.

__ADS_1


"Vina sama Ibu lagi siapin makan malam, kalau Adit lagi main dikamarnya. Memangnya kenapa?"


"Ada yang mau saya dan Vandra bahas Yah"


"Memangnya apa yang mau kalian bicarakan?" tanya Ayah Hadi.


"Begini Yah. Maaf saya belum sempat bilang, sebenarnya saya sudah membeli rumah dikomplek sekitar sini. Dan tadi siang saya mengajak Vandra untuk mengunjungi rumah baru kami, dan Vandra menginginkan jika kami pindah besok hari. Untuk itu, saya dan Vandra ingin meminta ijin pada Ayah dan keluarga untuk kepindahan kamu besok hari"


"Ayah menghargai soal ijin Nak Andra pada kami, tapi Nak Andra tak perlu harus sampai ijin seperti ini. Vandra itu hak Nak Andra sekarang, dimanapun dan kapanpun Nak Andra membawa Vandra pergi itu sudah sewajarnya"


"Tapi Ayah jangan tersinggung ya sama keinginan aku untuk pindah dari rumah Ayah. Aku cuma berpikir untuk lebih mandiri dengan rumah tangga aku" ucap Vandra.


"Iya Van, Ayah mengerti. Ayah, Ibu dan Ka Vina akan mendukung rencana kalian ini"


"Makasih ya Yah" ucap Vandra.


"Iya"


Disela makan malam, Vandra dan Andra pun membahas kembali tentang kepindahan mereka esok hari pada Ibu dan Vina. Mereka pun ikut senang dan mendukung rencana Vandra dan Andra, karna sudah seharusnya rumah tangga dijalani dalam satu rumah yang berbeda.


Selesai makan malam, Vina mengajak Ibu Hani dan Ayah Hadi berbicara bertiga diruang keluarga. Saat itu Vandra, Andra dan Adit tengah berada dikamar. Saat itu sejujurnya Vina merasa takut, ia takut akan penolakan Ayah Hadi pada sosok Dino.


"Kamu mau bicara apa Vin?" tanya Ibu Hani.


"Begini Bu, Ayah. Aku mau bicara soal Dino"


"Dino? Maksud kamu Nak Dino teman Nak Andra?" Ayah Hadi memastikan.


"Iya Ayah"


"Memangnya kenapa dengan Nak Dino?"


"Dino mengajak aku dan Adit pergi Yah. Jadi aku mau minta saran Ibu dan Ayah, apa aku harus menerima ajakan itu atau aku menolaknya"


Ayah Hadi dan Ibu Hani saling menatap.


"Vina. Ibu maupun Ayah tidak pernah melarang kamu untuk dekat dengan siapapun termasuk soal ajakan pergi dari seorang laki-laki. Ibu tau, luka trauma kamu masih terasa sampai sekarang. Tapi ada baiknya kamu kenapa tidak mencoba membuka hati kamu? apalagi Nak Dino juga anak yang baik. Jujur, sejak awal Nak Dino melihat kamu Ibu sudah bisa mengerti tentang arti tatapan suka Nak Dino. Cuma, Ibu gak mau mendahuli pendapat Ibu ke kamu" ucap Ibu Hani.


"Ayah dan Ibu juga mendukung jika memang Nak Dino berniat untuk mendekati kamu. Apalagi Nak Dino juga sudah mengetahui status dan kehidupan kamu seperti apa. Ayah juga yakin, sebelum Nak Dino mengajak kamu dan Adit pergi pasti Nak Dino sudah memikirkan segalanya. Jadi tentang ajakan Nak Dino, Ayah dan Ibu akan serahkan semuanya sama kamu" Ayah Hadi menambahkan.

__ADS_1


Vina dilanda kebingungan luar biasa, apa arti dukungan Ayah dan Ibu adalah tanda bqhwa Vina menerima ajakan Dino? tapi bagaimana caranya menerina ajakan Dino? apa Vina harus menghubungi Dino terlebih dulu? mengingat Dino pernah memita untuk menghubunginya jika Vina menerima ajakannya.


***


__ADS_2