Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Kebutuhan biologis


__ADS_3

Sebelum Andra pergi bekerja, Vandra meminta ijin pada Andra untuk pergi keacara pertunangan teman kampusnya. Andra dengan senang hati mengijinkan Vandra, karna tak ada alasan untuk melarang hal itu.


"Kamu pergi sama Vania dan Dinda kan?" tanya Andra memastikan.


"Iya Mas, nanti malam Vania jemput aku disini"


"Ok. Nanti malam juga aku ada acara datang ke pertunangan anaknya kolega bisnis aku , jadi aku pasti pulang terlambat" Andra memberitahu.


"Iya Mas. Sini aku pasangin dasinya" Vandra merauh dasi ditangan Andra lalu memasangkannya


Seperti biasa Andra selalu menyukai momen hal itu, dengan begitu Andra bisa memandang wajah Vandra dengan begitu dekat. Karna beberapa hari ini Andra tak menyentuh bibir Vandra, dengan refleks Andra menerkam bibir Vandra dengan buasnya.


Sadar Andra merindukan hal itu, Vandra berusaha pasrah dan mengimbangi Andra. Mereka berciuman cukup lama, sampai membuat Vandra begitu kewalahan dengan gairah Andra.


"Mas, cukup" Vandra memprotes dan berusaha melepaskan diri.


Andra tersenyum menatap Vandra, memang sedikit kasar melakukan hal itu dengan membuat Vandra kewalahan, tapi bagaimana lagi Andra hanya seorang lelaki yang membutuhkan hal seperti itu sebagai kebutuhan biologisnya.


"Maaf ya, Aku kangen aja sama bibir manis kamu. Selama beberapa hari ini aku cuma cium bibir kamu lewat foto dihandphone, jadi aku ga tahan lagi waktu liat bibir kamu dihadapan aku" goda Andra.


"Dasar ya, Mas mesum nih. Jadi selama ini yang dikangenin itu bibir aku aja?" ledek Vandra.


"Gaklah sayang. Aku kangen sama semua yang ada sama diri kamu"


"Masa sih?" Vandra balik mengoda.


"Minta pembuktian nih ya kamu"


"Stop Mas, kamu mau kerja jadi jangan lakuin yang aneh-aneh" Vandra memperingati.


"Bisa ya kamu penolakan halusnya"


"Udah rapi Mas, Mas sarapan dulu ya. Kebetulan tadi aku udah buat sandwich buat Mas"


"Iya sayang"


Selesai menikmati sarapan, Andra bergegas pergi menuju kantor dengan menggunakan mobil yang digunakan sebelumnya. Sepanjang jalan sejujurnya masih tersimpan sisa kerinduaan sebagai kebutuhan biologis lelaki dipikiran Andra, tapi Andra harus bisa menahannya itu terlebih dulu. Andra hanya takut jika ia meminta hal itu pada Vandra itu akan memperngaruhi pada kehamilan Vandra.


Selagi mengurus berkas, Andra sesekali memegang kepalanya yang cukup terasa pusing. Padahal sebelumnya Andra merasa baik-baik saja pada dirinya, apa ini ada pengaruhnya dengan kebutuhan biologisnya yang tak tersalurkan? duga Andra.


Sekertaris Riko masuk bersama dengan Dino yang datang untuk menemui Andra. Melihat kedua lelaki yang paling dekat dengannya, membuat Andra memint mereka berdua untuk duduk bersama membahas apa yang Andra rasakan.


"Ada apa Tuan? apa ada sesuatu yang Tuan butuhkan?" tanya Sekertaris Riko.


"Iya Dra, ada apa?" Dino ikut bertanya.

__ADS_1


"Percuma juga kalau tanya sama kalian" keluh Andra melihat Dino dan Sekertaris Riko dihadapannya.


"Emang lo mau tanya soal apa? pasti ada sangkutpautnya sama jatah nih" tebak Dino. Walau Dino belum menikah, tapi Dino bisa menebak apa yang terlihat dari kegelisan Andra, karna sebagian dari teman Dino yang sudah menikah selalu gelisah saat mereka tak mendapatkan hal yang mereka inginkan dari pasangannya.


"Kenapa lo bisa tau?" Andra terheran.


"Temen-temen kita yang udah nikah itu selalu pasang wajah gelisah kaya lo gitu kalau gak dapat jatah. Lagian kenapa lo ga minta langsung aja sih sama Vandra, daripada nyusahin diri sendiri kaya gitu"


"Benar Tuan. Bukannya saya ikut campur, hanya saja ada baiknya Tuan meminta hal itu pada Nona Vandra. Karna yang saya tau dari teman yang sudah menikah, dia akan merasa tak tenang dan juga merasa pusing jika tak mendapatkan hal yang diinginkan sebagai kebutuhan biologisnya" Sekertaris Riko menambahkan.


"Saya juga maunya seperti itu Rik. Tapi, Vandra sekarang lagi hamil. Saya takut kalau saya meminta itu saya akan melukai kandungan Vandra" ucap Andra.


"Keliatan banget sih lo baru kawinnya. Kalau lo ngerasa bingung, kenapa gak lo tanya sama Lita. Dia dokter yang periksa kehamilan Vandra kan?" saran Dino.


"Iya juga. Tapi apa itu gak buat malu?" tanya Andra.


Dino tertawa mendengar ucapan Andra. Tak disangka, Andra yang terkenal angkuh bisa merasa malu jika berhubungan dengan kebutuhan biologisnya.


"Malah ketawa ya lo. Rik, kamu boleh keluar" perintah Andra.


"Baik Tuan" Sekertaris Riko beranjak pergi.


"Ketawa lo bikin berisik" protes Andra.


"Sorry. Gue ngerasa lucu aja sama tingkah lo, lo kaya berasa lagi ngelawak tau ga"


"Sensitif amat sih. Gini nih kelakuan laki, gak dikasih jatah bawaannya emosian" ledek Dino.


"Udah tau gue lagi sensi lo malah ngeledek"


"Sorry"


"Terus ada apa lo kesini? lo gak ke kafe?" tanya Andra.


"Paling siangan"


"Terus apa tujuan lo kesini?"


"Gue mau tanya pendapat lo"


"Pendapat gue? soal apaan?"


"Gue mau nelamar Vina. Menurut lo gimana?" Dino bertanya serius.


"Lo seserius itu sama perasaan lo sama Ka Vina?"

__ADS_1


"Gue serius Dra. Udah saatnya gue menentukan pendamping hidup"


"Tapi Din, apa lo udah siap dengan semua konsekuensinya? lo tau, Ka Vina punya Adit. Selain lo mencintai Ka Vina lo juga harus mencintai Adit. Apalagi, lo juga harus bisa kuat hati, kalau sampai kapanpun mantan suaminya Ka Vina akan tetap ada dihidup Adit"


"Gue udah pikirin itu baik-baik Dra. Tapi loe duku gue kan?"


"Gue dukung Din. Apapun yang buat loe bahagia gue ikut bahagia"


"Thanks ya"


"Iya"


***


Selesai jam kantor, Andra memberanikan diri menghubungi Lita sesuai saran Dino. Kali ini Andra benar-benar tak bisa menahan dan juga penasaran ingin mendengar penjelasan dari Lita tentang kebutuhan biologisnya.


"Halo Lit"


"Halo Dra, ada apa nih?"


"Kamu lagi sibuk ga?" tanya Andra.


"Gak. Jam praktek aku udah selesai ko. Ada apa emang?"


"Aku mau tanya sesuatu"


"Soal apa? biar aku tebak, ini soal kebutuhan biologis kamu sebagai suami kan" tebak Lita.


"Iya Lit, kamu bener. Menurut kamu apa gak masalah kalau aku minta hal itu sama Vandra? soalnya kan sekarang Vandra lagi hamil, aku ga berani untuk minta itu. Aku takut kenapa-kenapa sama kehamilan Vandra"


"Gini ya Dra. Kehamilan itu bukan artinya suami-istri tidak bisa melakukan hubungan. Cuma, gue saranin kalau kamu meminta hal itu kamu harus melakukannya perlahan. Kehamilan Vandra itu masih sangat muda, tapi semua kita kembalikan lagi pada Vandra. Kalau seandainya Vandra merasa baik dan kandungannya juga baik, ya itu diperbolehkan. Yang dikhawatirkan setiap pasangan baru terutama suami pasti soal ini, tapi kamu gak perlu khawatir Dra. Selagi kamu melakukan dengan baik dan gak berlebihan ya semua akan baik-baik aja" Lita menjelaskan.


"Aku lega dengernya, aku pikir aku bakal puasa jatah selama kehamilan Vandra"


Lita tertawa mendengar ucapan Andra.


"Kamu ada-ada aja sih Dra. Bahaya dong kalau sampai suami dilarang berhubungan saat istrinya hamil, itu akan menyebabkan hal-hal yang gak baik"


"Gitu ya. Makasih ya informasinya, maaf udah ganggu waktu kamu. Lain kali kita ketemu ya buat makan malam bareng sama Vandra"


"Iya Dra. Aku tungg ya undangan makan malamnya ya"


"Iya, bye"


"Bye"

__ADS_1


Andra tersenyum bahagia mendengar penjelasan Lita, dengan senyuman penuh arti Andra berencana akan menerkam Vandra nanti malam selesai acara yang akan Andra datangi.


***


__ADS_2