
Seperti biasa Vandra datang kesekolah diantar oleh Ayah Hadi. Sampai disekolah Vandra melambaikan tangan berpamitan pada Ayah Hadi lalu masuk kedalam area sekolah. Pagi itu Vandra merasa ada yang beda, biasanya setiap pagi Randy selalu menyapanya. Namun pagi itu Randy tak ada didepan kelasnya, tak ingin sibuk dengan kehadiran Randy yang tak ada pagi itu membuat Vandra berjalan terus menuju kelasnya yang bersebelahan dengan Randy.
"Hai Din" sapa Vandra pada Dinda yang tengah duduk seorang diri.
"Hai"
Vandra mengeluarkan buku didalam tasnya, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Vandra. Orang itu adalah Vino, sahabat Randy. Vandra diminta Vino untuk mendatangi Randy yang sedang berada ditaman. Entah alasan apa Vino meminta Vandra mnghampiri Randy, tanpa pikir panjang Vandra berpamitan pergi pada Dinda.
"Din, aku pergi ketaman sekolah dulu ya"
"Iya Van"
Vandra melihat Randy tengah duduk sendiri dikursi taman sekolah, perlahan Vandra melangkah menghampiri Randy dan duduk disampingnya. Randy cukup terkejut dengan kehadiran Vandra, bagaimana bisa Vandra mengetahui keberadaannya?.
"Hai" sapa Vandra membuat Randy seketika menatapnya.
"Vandra"
"Kamu ngapain duduk disini sendiri?" tanya Vandra.
"Lagi cari udara segar aja, kamu kenapa tau aku disini?"
"Tau aja. Kamu kenapa? apa kejadian kemarin buat kamu jadi dalam masalah?"
"Maksud kamu?"
"Dinda udah cerita semuanya tentang siapa kamu. Jujur aku ngerasa ga pantas Rand jadi teman kamu, maaf ya. Aku dan Dinda udah buat kamu dalam masalah sama Papa kamu"
"Kamu ngomong apa sih. Ga ada yang salah Van, kemarin memang aku aja yang salah makanya Papa minta aku untuk pulang" bohong Randy.
Vandra tau Randy sedang berbohong, mungkin saja Randy tak menyapanya pagi ini karna permintaan Papanya untuk menjauhi Vandra.
"Kamu udah sarapan?" tanya Vandra mengalihkan pembicaraan, hal itu segaja Vandra lakukan untuk membuat Randy tak terlalu bersedih.
"Belum, tadi pagi aku buru-buru pergi. Kenapa?"
Vandra menyerahkan sebuah paper bag yang berisi sebuah kotak makan.
"Aku bawa sarapan untuk kamu, ini spesial buatan Ayah aku untuk kamu. Aku diminta kasih ini untuk kamu. Kamu makan ya" pinta Vandra.
"Tolong sampaiin terima kasih aku untuk Om Hadi ya"
"Iya"
"Aku makan ya"
"Silakan"
__ADS_1
Randy memakan lahap makanan yang dibuatkan Ayah Hadi untuknya, rasanya sangat enak dan juga membuat Randy semakin menyukai masakan Ayah Hadi. Disela makan, Randy membahas sesuatu pada Vandra.
"Van"
"Iya Rand"
"Aku cuma mau bilang sama kamu"
"Bilang apa?"
"Kalau nanti aku berubah, kamu jangan pernah benci apalagi lupain aku ya. Tolong kamu percaya sama aku" ucap Randy yang membuat Vandra tak mengerti.
Vandra mencerna ucapan Randy, apa maksud dari ucapan Randy? Saat Vandra ingin meminta penjelasan tentang ucapan Randy, Bel pertanda masuk berbunyi.
"Bel masuk udah bunyi, aku pergi kekelas dulu ya. Makasih untuk makanannya. Aku duluan ya, lain kali kita ngobrol lagi" pamit Randy berlalu pergi.
Vandra menatap kepergian Randy, ada apa dengan Randy? kenapa sikapnya berubah dalam semalam? apa ini ada sangkutpautnya dengan Papanya? duga Vandra.
Dikelas Vandra memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi. Tiba-tiba Vandra teringat kembali dengan ucapan Randy, Vandra benar-benar penasaran. Pelajaran pertama usai, Vandra dan Dinda bersiap pergi untuk mengganti baju karna pelajaran selanjutnya adalah pelajaran olahraga.
Semua anak kelas 12ips2 melakukan pemanasan untuk menghadapi pelajaran olahraga. Pelajaran hari itu tentang olahraga basket, semua anak memperhatikan Pak Andri guru olahraga yang tengah menjelaskan. Selesai menjelaskan materi,Pak Andri meminta para murid untuk berpasangan dan memprakterkan untuk saling melempar bola.
Saat Vandra saling melempar bola dengan Dinda, tak segaja pandangan Vandra mengarah pada sosok Randy yang tengah berjalan bersama Vino sambil membawa buku. Vandra melihat Randy menatapnya sekilas namun Randy segera mengalihkan pandangannya saat Vandra melihatnya. Sebenarnya ada apa dengan Randy?.
Vandra tak segaja terkena lemparan bola oleh Dinda, Dinda bergegas menghampiri Vandra yang tengah memengang kepalanya. Vandra tak menyalahkan Dinda, ini semuanya salahnya. Kalau saja Vandra fokus pada lemparan Dinda pasti hal itu tak akan terjadi.
"Aku ga apa-apa Din. Aku yang minta maaf, aku ga fokus"
"Kamu kenapa sih? apa ada yang kamu pikirin?"
"Ga ada Din, ya udah lanjutin lagi yuk"
Dinda merasa ada yang berbeda dengan Vandra, apa ini ada hubungannya dengan Randy? batin Dinda.
***
Semakin hari semakin berbeda sikap Randy pada Vandra. Bahkan beberapa bulan ini sikap itu pun berbeda. Vandra selama ini memang tak mencari tau ataupun meminta penjelasan Randy, karna menurut Vandra Randy menjauhinya pasti karna permintaan Papanya. Vandra mencoba menghargai itu, tapi kenapa rasanya tak nyaman? Sebenarnya ada apa ini? ada rasa kehilangan dan terluka tapi Vandra tak bisa memastikan perasaan itu.
Minggu depan adalah waktu dimana ujian terakhir sekolah diadakan, Vandra merasa menjalani hari-harinya tanpa adanya kekuatan saat ini. Entah ini perasaan kehilangan sosok Randy yang selalu ada atau perasaan sedih karna harus berpisah dengan teman-teman yang lainya, Vandra tak bisa menebak itu.
Vandra bersiap pulang untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian yang akan ia hadapi beberapa hari kemudian. Namun langkah Vandra terhenti saat Vino datang menghampiri Vandra dengan memberikannya sesuatu.
"Ini apa Vin?" tanya Vandra.
"Ini hadiah buat lo, ini dari Randy"
"Randy?"
__ADS_1
"Iya"
"Kenapa dia ga kasih langsung sama aku?"
"Gue yakin lo tau alasannya. Gue pergi ya, bye"
Vandra menatap sebuah kotak yang dihiasi pita ditangannya. Kenapa Randy memberikannya ini? apa isi hadiah ini? apa ini bentuk kenangan dari Randy? Vandra penuh tanya dalam hati.
Tiba dirumah Vandra segera meletakan tasnya lalu duduk dikursi meja belajarnya, Vandra benar-benar penasaran dengan isi kotak yang diberikan oleh Randy lewat Vino. Dengan penuh rasa penasaran perlahan Vandra membuka kotak itu.
Sebuah kotak berisi tentang foto Vandra yang diambil tanpa sepengetahuan Vandra membuat Vandra sedikit terkejut, selain foto kotak itu juga berisi sebuah boneka beruang kecil berwarna pink yang tertulis nama Vandra dan juga sebuah surat. Vandra membuka surat itu lalu membacanya dengan perlahan.
Vandra,
Selama aku mengenal kamu, aku mampu menjadi sosok lelaki yang bisa memahami apa artinya itu mencinta.
Aku tau aku bukan lelaki impian kamu, tapi selama ini aku selalu mencoba berusaha menjadi sosok pilihan hati kamu.
Maaf, jika selama ini aku membuat kamu tak nyaman dengan sikap bahkan ucapan yang selalu aku utarakan sama kamu.
Aku sadar,
cinta memang tak bisa dipaksa apalagi jika aku memaksa kamu untuk mencintai aku.
Perlu kamu tau Van,
Perasaan aku tulus melebihi apapun,
Bahkan aku rela melakukan apapun untuk mendapatkan cinta dan menjalani hidup bersama kamu.
Aku akan menggangap isi surat ini sebagai bukti kesungguhan perasaan aku untuk kamu.
Jika memang waktu menjawab perasaan kamu untuk aku, aku harap kamu akan datang suatu saat nanti.
Maaf, jika aku harus mengungkapkan lewat surat ini. Aku harap kamu bisa terus mengingat aku.
Andai waktu itu tiba, aku akan datang lagi untuk menemui kamu. Bukan sebagai Randy pencundang, tapi sebagai Randy yang benar-benar ingin menjadikan kamu milik aku sepenuhnya.
Terimakasih untuk semuanya, aku bahagia bisa mengenal kamu. Walau waktu singkat kita bersama tapi aku benar-benar bahagia akan itu. Aku harap kamu akan menunggu aku sampai waktu itu tiba.
Salam perpisahan dan perjumpaan lagi untuk waktu yang belum bisa terjawab.
Aku sayang kamu Vandra.
Vandra menutup surat itu. Apa maksud Randy? apa dia akan pergi?.
***
__ADS_1