
Randy menatap ponselnya berharap Vandra membalas pesannya. Hampir 1jam Vandra tetap tak membalasnya, Randy semakin khawatir. Tanpa berpikir panjang Randy mengambil kunci mobilnya untuk pergi menuju rumahnya tapi saat Randy menuruni tangga, suara Papa Marko mengentikan langkah Randy.
"Mau kemana kamu?" tanya Papa Marko.
"Aku mau keluar Pah"
"Kemana? ketemu dengan perempuan itu lagi? ingat Ran, Papa membiarkan kamu dekat dengan dia bukan berarti Papa menyetujui hubungan kamu dengan dia. Kamu harus sadar, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Yasmin"
Ya, menikah. Randy memang akan menikah dengan Yasmin, anak pemilik hotel ternama dikota B. Sejujurnya Randy ingin sekali menolak, tapi Randy tak bisa berbuat apapun. Jika ia menolak kehidupan Vandra akan menjadi taruhannya. Sebagai balasan Randy menerima perjodohan itu, Randy meminta pada Papa Marko untuk memberinya kesempatan dekat dengan Vandra lagi.
Randy segaja meminta itu. Randy berencana jika seandainya Vandra bersedia menerimanya, Randy akan berusaha berjuang untuk menolak adanya pernikahan itu.
"Aku ingat itu Pah. Tapi Papa harus ingat juga, kalau seandainya Vandra menerima aku, aku akan berjuang keras untuk hidup bersama dia. Dan soal pernikahan yang Papa rencanakan, Papa jangan harap lebih aku akan menerimanya"
"Silakan kamu sombongkan percaya diri kamu itu. Papa yakin, semakin kamu bersih keras mendapatkan dia semakin besar rasa kecewa yang akan kamu dapat nantinya" Yakin Papa Marko.
Randy menatap dingin Papa Marko. Apa salahnya mencintai pilihan sendiri?.
"Sekarang kamu kembali kekamar kamu" perintah Papa Marko.
Dengan kesal Randy kembali masuk kedalam kamarnya lagi. Randy membanting pintu dengan kasarnya, amarahnya benar-benar tengah memuncak. Seandainya Randy tak menghormati Papa Marko, rasanya ingin sekali Randy melawan dengan kasar.
***
Beberapa bulan kemudian.
__ADS_1
Hari ini tepat berjalannya pernikahan Vandra dan Andra ke 6 bulan. Hari-hari masih dijalani Vandra dan Andra dengan biasanya, namun rasa saling membutukan dan saling menyadari keberadaan masing-masing mulai mereka rasakan terutama Andra.
Andra yang merasa mulai tertarik pada Vandra hanya mampu menyembunyikannya, namun lain hal dengan Vandra. Vandra masih berselisih hati dengan perasaannya. Antara mulai menyukai Andra dan masih mencintai Randy, dua hal itu membuat Vandra diambang pilihan hati.
Pagi itu Vandra pergi menuju kampus tanpa berpamitan dengan Andra. Dan sebelum pergi Vandra sudah menyiapkan sarapan untuk Andra, Vandra segaja tak berpamitan dengan Andra, ia hanya mencoba menghindari Andra agar perasaannya tak tumbuh berlarut pada Andra.
Diperjalanan menuju kampus, Vandra asyik memandangi jalan lewat jendela Bus. Andra sebenarnya sudah melarang Vandra untuk menaiki angkutan umum bahkan Andra sudah menyiapkan mobil sekaligus supir untuk mengantar kemana pun Vandra pergi. Namun hari itu Vandra ingin menaiki bus menuju kampus.
Vandra merasa cukup sedih jika mengingat ucapan Andra beberapa bulan lalu Saat Andra mengatakan bahwa pernikahannya ini akan berakhir. Sejujurnya Vandra merasa senang saat itu, tapi seriring berjalannya waktu setiap mengingat perkataan itu hati Vandra seolah tak terima.
Padahal selama ini ia hanya menjalani pernikahan Andra dengan biasa saja tanpa menjalani pernikahan manis dan penuh cinta pada pernikahan umumnya. Lalu apa maksud perasaan ini?.
Vandra berjalan seorang diri menuju kelas, tak disangka Randy datang dari arah yang berlawanan. Vandra tak bisa menghindar, ia hanya menatap biasa Randy yang semakin dekat dengannya.
Vandra dan Randy duduk berdua dibangku taman kampus. Mereka berdua terdiam beberapa saat menatap pemandangan lalu lalang orang dihadapan mereka. Semenjak Randy mengutarakan perasaannya, Randy dan Vandra memang jarang berkomunikasi seperti biasa. Vandra yang seringkali menghindari Randy hanya mencoba mengulur waktu agar Randy tak membahas soal jawaban atas perasaanya.
"Kenapa semakin hari kamu semakin menjauh dari aku? apa ungkapan perasan aku waktu itu buat kamu ga nyaman? Apalagi sekarang sikap kamu jadi berbeda sama aku. Aku bersabar menunggu kamu, tapi kenyataannya menjelaskan kalau ternyata dugaan aku benar. Perasaan kamu memang berubah untuk aku. Tolong kasih aku kejelasan, sebenernya perasaan kamu saat ini seperti apa? apa rasa cinta itu masih ada untuk aku?" Randy mengawali obrolan.
"Rand, aku pernah bilang sama kamu. Sejak kita berdua kembali bertemu lagi untuk pertama kalinya, aku belum bisa memberi kamu kesempatan, ada hal yang ga bisa aku kasih tau kamu. Dan itu artinya, aku belum bisa menerima kamu Rand. Aku tau, aku terlalu jahat membiarkan kamu terus terikat karna perasaan kamu sama aku. Tapi aku bener-bener ga bisa Rand. Dan pertanyaan kamu tentang perasaan kamu waktu itu, aku minta maaf Rand. Aku ga bisa menerima kamu"
"Dan juga soal perasaan aku yang mulai berubah, itu memang bener Rand. Aku ga bisa kasih tau kamu dia siapa dan kenapa perasaan aku bisa goyah karna dia. Jujur, aku masih menyukai kamu tapi aku juga mulai menyukai dia. Maaf kalau aku ga bisa memegang janji aku untuk tetap mencintai kamu, aku cuma berusaha jujur sama kamu Rand" jujur Vandra.
Randy tak menyangka ternyata dugaanya benar, selama ini Randy selalu berusaha menepis dugaan itu. Randy mengela nafas kasar, rasanya amat menyakitkan. Kenapa takdir harus membuatnya seperti ini? kenapa disaat Randy benar-benar ingin memperjuangkan Vandra harus ada hati lain masuk dalam hidup Vandra.
"Tuhan, apa maksudnya semua ini? apa artinya pernikahan dengan Yasmin harus benar-benar terjadi? sekarang Vandra menolak karna ada hati lain yang tengah mendekap hatinya, lalu apa yang harus aku lakukan? memperjuangkan cinta yang masih tersisa dalam hati Vandra atau merelakan Vandra bersama yang lain?" batin Randy.
__ADS_1
Tanpa berkata apapun, Randy berdiri dari duduknya lalu pergi berlalu begitu saja meninggalkan Vandra. Vandra menyadari Randy pasti merasa kecewa dan terluka hatinya, tapi mau bagaimana lagi. Lebih baik berkata jujur daripada harus terus menghindari Randy dan membuatnya terus menanti jawaban yang tak pasti.
Dering ponsel Vandra memecah pemikiran Vandra tentang Randy. Vandra meraih ponsel ditasnya lalu mengangkat panggilan telpon itu.
"Halo Mas"
"Kamu udah pergi ke kampus?" tanya Andra tanpa basa-basi.
"Iya Mas, maaf aku ga pamit. Tapi aku udah siapin sarapan untuk Mas" pelan Vandra menjawab.
"Kamu pergi naik apa? jangan bilang kamu naik Bus lagi?" tebak Andra.
"Iya Mas"
"Kenapa kamu ga nurut sama Mas? Mas kan udah sediakan kamu mobil dan supir"
"Iya Mas maaf ya. Hari ini aku lagi kepengen naik Bus aja Mas, besok aku ga akan ulangi ini lagi ko"
"Mas maafin kamu kali ini, ya udah Mas mau siap-siap pergi kekantor dulu"
"Iya Mas"
Vandra menatap foto profil whatsapp Andra di handphonennya, entah mengapa Vandra harus mulai menyukai Vandra. Vandra menyadari, ia sangat tak pantas untuk Andra. Tapi mau bagaimana lagi, perasaanya tak bisa diatur oleh pikirannya sendiri. Tapi apa salah jika Vandra mulai menyukai Andra?.
***
__ADS_1