
Selepas bertemu Vina, Vandra menenangkan diri disebuah taman. Perlakuan Oma Mira yang mempermalukannya dan juga sikap Andra yang hanya berdiam diri tanpa membelanya seakan menjadi sebuah kesedihan bersama yang ia rasakan.
Apa keputusannya benar jika Vandra tetap mempertahan pernikahannya bersama Andra? Vandra hanya menyadari, jika ia tetap seperti ini sampai kapapun keberadaanya sebagai istri Andra tak akan diketahui siapapun. Apalagi, sikap Oma Mira yang juga semakin menunjukan rasa tak sukanya pada Vandra. Semua itu seakan membuat Vandra menjadi goyah dan ragu pada perasaan Andra.
Vandra tak melepaskan tatapannya melihat orang-orang yang tengah berbincang dan juga bersuka cita dihadapannya. Tak lama, sebuah dering telpon Andra masuk dihandphone Vandra. Vandra mengabaikan telpon dari Andra, saat ini Vandra sedang tak ingin tergangu oleh siapapun.
Dikantor Andra terus sibuk menghubungi Vandra, namun Vandra tak mengangkat telponnya. Rasa khawatir dan juga bersalah seakan menghantui perasaan Andra yang tak terkendali.
Dimana kamu sayang? kenapa kamu ga angkat telpon Aku?. Aku khawatir sama kamu.
Andra berharap semoga Vandra akan membaca pesan yang ia kirim lalu mengabarinya. Hampir 1 jam Vandra tak kunjung membalas pesan Andra, hal itu membuat Andra frustasi. Andra menyakini jika Vandra merasa terluka karna sikapnya juga yang tak membelanya disaat Oma Mira mempermalukannya.
Tak lama Sekertaris Riko memberikan informasi tentang keberadaan Vandra. Dengan cepat Andra pergi menuju tempat Vandra berada. Andra yang mengendarai mobil seorang diri dengan cepat menambah kecepatan agar sampai ditaman. Ia hanya takut jika terlambat Vandra akan pergi begitu saja.
Sampai ditaman Andra berlari kecil mencari sosok Vandra. Namun sayangnya Andra tak menemukannya. Hampir 30menit terus mencari akhirnya Andra memutuskan untuk pulang ke apartemen, mungkin saja Vandra sudah berada disana.
Tiba diapartemen Andra merasa lega karna ternyata Vandra tengah bersantai duduk didepan tv. Merasa cukup lelah mencari Vandra ditaman membuat Andra perlahan menghampiri dan duduk disamping Vandra.
"Sayang" sapa Andra.
"Mas kenapa udah pulang? bukannya ini masih jam kantor?" tanya Vandra datar.
"Aku segaja pulang cepat, Aku khawatir sama kamu"
"Khawatir? memang Mas khawatir soal apa sama aku?" sindir Vandra.
Andra menggengam kedua tangan Vandra.
"Maafin aku ya" sesal Andra.
__ADS_1
Vandra melepas genggaman tangan Andra padanya. Vandra merasa masih terluka dengan apa yang sudah terjadi.
"Mas, apa benar kamu cinta sama aku?" Vandra memastikan kembali. Ucapan Vina kala itu membuat Vandra ingin memastikan lagi hal itu pada Andra.
"Apa kamu ragu sama perasaan aku?" tanya Andra.
"Aku ga bisa jawab itu Mas. Tapi setelah aku pikir lagi, aku memang ga pantas dan sepadan untuk kamu. Ucapan, perlakuan bahkan kebencian Oma Mira sama aku seolah semakin menyadarkan siapa diri aku sebenarnya. Apalagi sikap Mas yang membiarkan aku dipermalukan seperti itu dihadapan semua karyawan kantor. Aku malu Mas, bahkan aku merasa hina dihadapan semua orang"
"Aku ngerasa Keberadaan aku saat itu juga seakan ga dianggap apapun sama kamu dan keluarga kamu. Aku bener-bener terluka Mas, maaf kalau aku menyerah untuk berjuang mendapatkan restu Oma Mira" lirih Vandra.
"Sayang, aku tau sikap aku salah. Tapi tolong jangan begini. Aku sayang sama kamu Van, aku akan memperjuangkan semuanya untuk kamu. Tapi aku minta kamu jangan menyerah seperti ini dan tetap disamping aku. Aku mohon" Andra memelas.
"Maaf Mas, saat ini pikiran dan perasaan aku belum bisa memahami perasaan kamu dan keadaan kita sekarang. Perlu Mas tau, aku cuma perempuan biasa Mas. Perempuan yang hanya ingin dianggap ada dan diakui sebagai istri kamu. Aku juga mau tetap berjuang sama kamu, tapi semakin aku bertahan semakin menyakitkan hal yang aku terima. Mas paham kan?" Vandra meminta pengertian.
"Aku paham. Tapi Kasih aku waktu lagi untuk membuat kamu diakui. Aku akan berusaha keras untuk itu, aku mohon Van. Dan tolong juga kamu ingat keluarga kita dan juga aku. Aku tau kamu perempuan baik, aku percaya kamu ga akan setega itu menyakiti perasaan orang-orang yang kamu sayangi. Aku mohon ya, jangan menyerah dan tinggalin aku" Andra terus berusaha memohon pada Vandra.
Disaat Vandra dan Andra saling membicarakan tentang semua yang mereka rasakan, dering bel pintu berbunyi. Menyadari ada seseorang yang datang Vandra segera mengapus airmatanya yang dia tahan sejak tadi.
Andra tersenyum melihat kedua orangtuanya datang, tanpa memperlihatkan dengan apa yang terjadi bersama Vandra, Andra meminta kedua orangtuanya masuk. Melihat Vandra tengah duduk disofa, Mama Arumi berjalan menghampiri lalu memeluk erat Vandra. Vandra cukup terkejut dengan sikap Mama Amira.
"Gimana kabar kamu? baik kan? Kamu sabar ya, Mama tau ini pasti sulit untuk kamu hadapi" ucap Mama Amira sambil melepas pelukan.
"Iya Ma"
"Maaf Mama dan Papa baru kesini menjenguk kamu. Kamu kuat ya, jangan percaya sama pemberitaan diluar sana. Percaya sama Mama, Andra lelaki setia. Jadi dia ga mungkin mengkhianati kamu" Mama Amira menenangkan.
"Iya Ma. Mama tenang aja, aku baik-baik aja Ma. Walau pemberitaan diluar sana buat aku kurang nyaman, tapi aku percaya sama Mas Andra" ucap Vandra membuat pengakuan untuk membuat orangtua Andra tenang.
"Kamu istri yang baik" puji Papa Tomy.
__ADS_1
"Vandra memang istri yang baik Pah. Aku beruntung bisa miliki dia" ucap syukur Andra sembari menrangkul bahu Vandra.
Vandra hanya menatap Andra tanpa senyuman.
"Van, Papa minta kamu jangan terlalu memikirkan berita diluaran sana ya. Papa yakin sebenar lagi berita itu akan hilang" ucap Papa Tomy.
"Iya Pah"
"Oh iya, Papa sama Mama kesini juga mau makan malam sama kalian. Kebetulan Arumi lagi ada acara sekolah dan menginap selama 2hari, jadi Mama dan Papa berencana juga menginap malam ini, boleh kan?" tanya Papa Tomy.
"Boleh Pah, ini juga rumah Papa dan Mama. Kalau gitu aku siapin makan malam dulu ya, Mama sama Papa ngorbrol sama Mas Andra ya" ucap Vandra.
"Mama bantu ya"
"Ga perlu Ma, Mama duduk manis aja ya sama Papa dan Mas Andra. Aku kedapur dulu ya"
Selagi Vandra menyiapkan makan malam, sesekali Andra memandangi Vandra yang tengah memasak didapur, karna jarak ruang keluarga dan dapur yang searah membuat Andra leluasa melihat Vandra.
"Apa kamu sebegitu cintanya sama istri kamu? sampai diliatin segitunya" goda Mama Amira pada Andra.
"Iya Mah. Aku sayang banget sama dia" jujur Andra.
"Papa bersyukur kamu bisa mencintai Vandra. Papa merasa keputusan Papa menikahan kamu dengan Vandra adalah keputusan yang tepat. Vandra itu paket lengkap sebagai seorang perempuan, dan Papa merasa lega karna kamu bisa mempertahankan pernikahan kamu dan Vandra sampai sekarang, Papa harap kedepannya kalian bisa memberikan kami seorang malaikat kecil" harap Papa Tomy.
"Papa doakan ya, semoga keinginan Papa itu bisa kami kabulkan"
"Iya Dra, Papa akan selalu mendoakan itu"
Andra menatap kembali Vandra. Apa mungkin Vandra bersedia menghadirkan seorang malaikat kecil? permasalahan yang terjadi saat ini pun belum mampu Andra selesaikan, bagaimana bisa Andra meminta Vandra untuk menghadirkan seorang malaikat kecil dikeluarganya.
__ADS_1
***