Menikah Karna Terpaksa

Menikah Karna Terpaksa
Kembalinya Randy


__ADS_3

Vania dan Dinda menikmati jalan berdua disebuah mall. Vandra tak ikut bersama mereka, karna Vandra sedang ingin beristirahat dirumah. Mereka berjalan sembari berbincang, walau ada kalanya momen dimana mereka saling berdebat tapi itu tak membuat mereka saling merasa senang saat itu.


"Kita makan yuk, laper nih" keluh Vania.


"Ayo. Makan junkfood ya, lagi kepengen" rengek Dinda.


"Ok lets go" setuju Vania sembari merangkul lengan Dinda.


Beberapa makan yang dipesan sudah siap diatas meja. Tanpa berlama Dinda dan Vania melahap makanan mereka sembari berbincang. Ditengah obrolan, Dinda tak segaja melihat sosok yang dikenalnya. Dinda menyakini orang itu adalah sosok yang begitu ia kenal.


"Vani, aku pergi dulu ya" Ucap Dinda mengarahkan matanya ke arah lain.


"Mau kemana?"


"Toilet. Udah ah aku pergi dulu" gegas Dinda pergi.


"Heboh amat sih ke toilet aja, Kaya udah mau lansia aja sih buru-buru ke toilet" gumam Vania.


Dinda mengikuti sosok itu dengan diam-diam. Dan ketika sosok itu masuk kedalam sebuah toko sepatu, Dinda mengamati sosok itu dengan fokus. Dan benar saja sosok itu adalah Randy. Randy yang sangat dirindukan oleh Vandra. Dinda benar-benar sangat terkejut melihat Randy sudah kembali. Bagaimana jika Vandra tau? sedangkan Vandra sudah memberitahu dirinya dan Vania bahwa dia akan menikah bulan depan dengan Andra.


Dinda berbalik arah kembali menghampiri Vania yang masih asyik dengan makanannya. Dinda duduk termenung memikirkan apa yang ia lihat. Bagaimana ini? Apa Vandra harus tau? atau Vandra tak perlu tau? mengingat Vandra ingin sekali bertemu dengan Randy. Sungguh, ini benar-benar membingungkan. Seandainyapun Vandra tau, Dinda takut itu akan merubah keputusannya yang menyangkut dengan pernikahannya bersama Andra.


"Din, kenapa sih lo? kesambet?" Ucap Vania seenaknya melihat Dinda melamun.


"Vani, sekarang aku harus gimana?" tanya Dinda yang membuat bingung Vania.


"Lo tanya apa sih? ga ngerti deh gue. Lo ga beneran kesambet kan? jadi ngeri deh gue deket sama lo" Vania berpindah duduk menjadi dihadapan Dinda.


"Kamu ini ya, aku serius tanya nih" kesal Dinda.


"Gue juga serius, kalau lo kesambet beneran gimana? kalau sampai itu terjadi pasti bakal bikin heboh seisi mall? Ga kebayang aja sih, bisa-bisa karna lo begitu kita bakal diusir paksa dari sini" celoteh Vania.


"Ngomong kamu ga jelas banget sih. Terlalu halu tau ga?"


"Lha terus lo kenapa?" Vania bertanya lagi.


"Aku ketemu dia Vani"


"Ketemu dia? siapa?" Vania makin terheran.

__ADS_1


"Orang yang dulu pergi, sekarang dia kembali"


"Bener-bener ya lo Dinda. Omongan lo itu kaya teka-teki tau ga? sekalian aja lo bikin buku TTS biar bisa bikin orang bingung berjamaah" kesal Vania.


"Kamu ya, masa ga paham maksud aku" Dinda berbalik kesal.


"Ya gue ga pahamlah, lo ngomong dari tadi aja bikin gue bingung"


"Randy. Dia kembali Vania" ucap Dinda serius.


"Randy? maksud lo Randy yang selalu Vandra harapin kedatangannya?" Vania memastikan.


"Iya"


"Serius lo? lo ga salah liat?"


"Ga. Aku tadi pergi untuk pastiin yang aku liat. Dan ternyata bener, itu Randy. Sekarang Randy ada disini"


"Terus sekarang gimana? apa perlu Vandra tau ini?" tanya Vania.


"Itu yang bikin aku bingung. Aku ga tau harus gimana. Kalau sampai Vandra tau soal ini, aku takut nantinya bakal bikin Vandra goyah. Kamu tau sendiri kan, bulan depan dia bakal nikah"


"Kamu bener Vania. Ya udah cepet habisin makan kamu, kita pulang. Aku ga mau sampai ketemu Randy disini"


"Iya Bawel. Bentar, dikit lagi nih"


"Dasar tukang makan" gumam Dinda.


"Gue denger ya omongan lo"


"Peka banget sih tuh kuping. Udah cepet habisin" desak Dinda.


"Iya"


***


Andra turun dari mobil sesampainya dirumah jam 8malam. Didalam rumah, Mama Amira dan Papa Tomy sudah menunggu kedatangan Andra malam itu, ada hal yang ingin mereka sampaikan. Tapi sebelum berbincang Mama Hani meminta Andra untuk membersihkan diri terlebih dulu.


Andra mendudukan dirinya berhadapan dengan Mama Amira dan Papa Tomy setelah selesai membersihkan dirinya. Andra menatap sebuah keseriusan yang akan dibahas oleh Mama Amira dan Papa Tomy.

__ADS_1


"Ada apa Mah Pah, kenapa kalian belum tidur?"


"Ada yang Mama dan Papa bicarakan jadi kami berdua menunggu kamu. Kamu udah makan malam?" ucap Mama Amira.


"Udah Mah. Jadi Mama sama Papa mau bicara apa?" tanya Andra.


"Ini soal Oma Mira Dra. Apa pendapat kamu soal syarat Oma untuk menyembunyikan pernikahan kamu dan Vandra?" Papa Tomy bertanya.


"Menurut aku Kita ikuti aja Pah. Yang terpenting itu kan Oma sudah mengijinkan, masalah publik dan rekan bisnis biar urusan nanti. Seiring berjalan waktu pasti Oma juga akan luluh dan pernikahan itu akan diketahui banyak orang" jawab Andra.


"Kamu benar Dra. Tapi apa Vandra dan keluarganya bersedia kalau pernikahan kita lakukan secara diam-diam dan disembunyikan? Papa takutnya itu akan menimbulkan kesalahpaham dan keluarga Vandra tak terima sama hal itu" cemas Papa Tomy.


"Papa ga perlu khawatir soal itu, biar aku yang hadapi. Sekarang Papa fokus untuk kesehatan Papa, aku yakin keluarga Vandra akan mengerti kalau aku kasih mereka penjelasan"


"Tapi kamu yakin? Mama agak khawatir Dra, takutnya nanti keluarga Vandra tak terima" khawatir Mama Amira.


"Mama sama Papa ga perlu khawatir. Serahkan sama aku, aku akan berusaha untuk menyakinkan mereka. Ini udah malam, Mama dan Papa istirahat ya. Besok selesai rapat aku akan temui keluarga Vandra" ucap Andra.


"Baiklah. Papa akan tunggu kabar dari kamu"


"Iya Pah"


"Mama dan Papa istirahat dulu ya Dra" pamit Mama Amira.


"Iya Mah"


Andra tak bergegas masuk seperti Mama Amira dan Papa Tomy untuk beristirahat. Andra memutuskan untuk pergi keluar menemui Dino sahabatnya yang sedang berada dikafe miliknya.


Tiba disana Andra disambut hangat oleh Dino, Dino bahkan meminta pegawainya untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk Andra nikmati.


"Tumben lo kesini? ada apa? gue yakin lo kesini pasti karna ada yang mau lo obrolin sama gue, bener kan?" tebak Dino.


"Lo tau gue lah. Gue lagi bingung Din, Apa yang harus gue lakuin? gue tetep maju atau gue harus berhenti dengan menuruti permintaan Papa? Pernikahan gue dan perempuan itu bakal diadain bulan depan, tapi pernikahan itu harus disembunyikan"


"Kenapa harus sembunyiin?" Vino terheran.


"Oma yang minta. Oma ga setuju gue menikah sama dia, tapi gue bingung. Gue terlanjur janji dan pengen ngebuat Papa seneng dengan mengabulkan permintaannya, tapi disisi lain gue juga ga mau menikah sama dia. Bukan soal status atau latar belakang hidup dia, cuma gue ga cinta sama dia. Ga mungkin kan gue menjalani pernikahan tanpa rasa cinta?" Andra menjelaskan.


"Menurut lo gue harus gimana?"

__ADS_1


***


__ADS_2